Indonesia dan Korupsi

Posted on December 10, 2011

1



Tanggal 9 Desember lalu dunia memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia, tak terkecuali Indonesia. Tiap tahun diperingati dan tiap tahun kian masif. Itulah korupsi yang bisa jadi telah menjadi budaya di Indonesia. Argumen tadi bukannya tanpa sebab. Dahulu korupsi dilakukan hanya oleh generasi gaek saja. Tetapi, kini politikus muda pun seperti sudah hapal dengan korupsi. Nampaknya generasi muda kita, terutama politikus mudanya gampang belajar dari generasi pendahulunya, yakni politikus jaman Orde Lama.

Maraknya kasus korupsi akhir-akhir ini bukan menjadi hal yang aneh lagi di negeri ini. Banyaknya badan atau lembaga untuk menanganinya, sebut saja Polisi, KPK, Timtas Tipikor, BPK, Bawasda, dan masih banyak lagi badan lainnya tidak menjadi sebuah solusi untuk mengatasinya. Bagaimana tidak, banyaknya lembaga tersebut malah menjadi sesuatu yang sia-sia, di mana kasus korupsi tetap saja merajalela di negeri ini. Memang, kasus korupsi bukan hal yang mudah untuk diberantas. Butuh kerja keras dan partisipasi dari semua pihak.

Pola hidup materialisme dan konsumerisme dinilai sebagai penyebab utama dari adanya aktivitas tersebut. Pola hidup materialisme membuat orang berusaha untuk memperkaya dirinya sendiri, karena seiring dengan kebutuhan yang meningkat seseorang dituntut untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Fakta yang sangat mencengangkan adalah bahwa Indonesia menjadi negara terkorup nomor 4 di dunia dengan indeks 7.1% setelah Rusia (6.1%), China (6.5%), dan Meksiko (7.0%) (BPI Transparency International, 2011).

Fakta tersebut sangatlah mengherankan mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim tertinggi di dunia—jika ditinjau dari sudut pandang religiusitas. Masalah tersebut nampaknya menjadi masalah yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Karena dampak yang ditimbulkan dari kasus tersebut tidak sedikit. Sebut saja kemiskinan. Faktor utama penyebab kemiskinan adalah adanya praktek korupsi itu sendiri. Menurut Jeffrey D Sachs, ekonom lulusan Universitas Harvard, bahwa kasus korupsi di Asia sudah menjadi penghalang dalam upaya memerangi kemiskinan. Pernyataan tersebut menjadi bukti bahwa korupsilah akar permasalahan dari adanya kemiskinan.

Kualitas tindak pidana korupsi makin sistematis yang merasuk ke seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga membawa bencana terhadap kehidupan perekonomian nasional, kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya kasus korupsi yang terjadi tidak dilakukan oleh satu orang, melainkan dilakukan oleh banyak orang. Karena korupsi adalah kejahatan ‘berjamaah’, kejahatan yang dilakukan secara bersama-sama. Korupsi dilakukan secara sistematis, sehingga susah sekali untuk ditelusuri keberadaannya. Kejahatan tersebut dapat merusak tatanan kehidupan dalam masyarakat.

Tingkat konsumsi dalam masyarakat akan semakin menggila seiring dengan adanya aktivitas tersebut. Korupsi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. Bagaimana tidak, kasus korupsi akan merampas apa yang seharusnya menjadi hak dari masyarakat untuk menikmatinya. Hak sosial dan ekonomi mereka akan direnggut dengan adanya korupsi. Apa yang seharusnya mereka dapatkan akan hilang.

Advertisements
Posted in: Article, Bureaucrazy