Indonesia dan Korupsi (Part. 2)

Posted on December 19, 2011

0



Akar Korupsi

Tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa. Karena kejahatan ini dilakukan oleh banyak orang dan merugikan masyarakat luas dengan dampak yang ditimbulkan tidak sedikit pula. Sangatlah pantas jika korupsi disebut sebagai kejahatan luar biasa jika dilihat dari aspek tersebut. Upaya yang dilakukan pemerintah pun nampaknya belum maksimal, terbukti dengan makin maraknya kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. Sangatlah dilematis memang, ketika negeri yang notabene tingkat religiusnya cukup tinggi menjadi negara terkorup di Asia Tenggara.

Seperti diketahui bahwa kasus korupsi bukan merupakan kasus yang sepele yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Kasus korupsi ini dinilai sangat unik mengingat pelakunya bukanlah orang seorang, melainkan secara berjamaah dan dengan dampak yang begitu luasnya bagi masyarakat. Jika dilihat dari pelakunya, kejahatan korupsi merupakan kejahatan dengan pelaku terlengkap, mulai dari masyarakat biasa sampai para pegawai pemerintahan. Sangatlah tragis mengingat pemerintah selalu menggembar-gemborkan adanya pemberantasan korupsi yang terjadi, tapi malah pemerintahlah sebagai aktor utama di balik korupsi itu sendiri.

Sebenarnya ada banyak penyebab korupsi terjadi. Di antaranya adalah pola hidup materialisme dan konsumerisme, rendahnya moral masyarakat, lemahnya hukum yang ada dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, di sini yang akan dibahas pola hidup materialisme dan konsumerisme. Karena kedua hal tersebut sangatlah menarik jika ditelusuri keberadaannya. Pola hidup materialisme dan konsumerisme menjadi sangat menjamur di masyarakat. Fenomena ini menjadi menarik karena Indonesia sekarang sedang dilanda krisis moneter. Dengan kondisi keuangan negara yang carut marut seperti itu, tingkat konsumsi dari masyarakat malah semakin menggila. Dan anehnya lagi adalah bahwa sebagian besar dari masyarakat tidak menyadari akan hal itu. Tentunya hal ini menjadi sangatlah dilematis di kalangan masyarakat kita.

Tingginya kasus korupsi di Indonesia nampaknya dilatarbelakangi oleh kedua aspek tersebut. Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat maka akan menimbulkan niat untuk dapat memenuhinya. Salah satu caranya adalah dengan memperkaya diri, yaitu dengan jalan korupsi. Mereka akan menghalalkan segala cara selama itu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka tidak memikirkan akibat apa yang nantinya ditimbulkan dari korupsi, yang ada hanyalah egoisme dari masing-masing pelakunya. Mereka juga tidak meikirkan proses mereka mendapatkan itu, mereka hanya berfokus pada hasil akhir yang akan mereka capai. Asas finalisme lah yang selalu mereka pakai, yang memandang bahwa hasil akhir lebih penting dan menentukan dari pada prosesnya.

Dampak yang ditimbulkan dari adanya kejahatan tersebut pun tidak sedikit, mulai dari rusaknya tatanan kehidupan dalam bermasyarakat sampai pada kemiskinan masyarakat.Kemiskinan menjadi sesuatau hal yang menurut saya paling menarik untuk dibahas. Karena sebenarnya masyarakat tidak sadar bahwa hal tersebut adalah dampak yang sangat merugikan. Kemiskinan yang menggerogoti masyarakat ternyata penyebab utamanya adalah korupsi. Berdasarkan data dari pemerintah tahun 2005, bahwa jumlah orang miskin mencapai 35,1 juta, sementara jumlah pengangguran mencapai angka 11,9 juta orang. Sangatlah mencengangkan mengingat kejahatan yang hanya dilakukan oleh segelintir orang dapat menyebabkan kerugian dan dampak yang begitu besar bagi masyarakat.

Lemahnya hukum disinyalir menjadi penyebab kejahatan ini sangat susah untuk dibasmi. Bayangkan saja, dari banyak kasus korupsi yang terjadi hanya sedikit yang terungkap. Ini merupakan indikasi lemahnya hukum yang ada di negeri kita ini. Itulah bukti bahwa Indonesia masih dibayangi dengan lemahnya hukum untuk mengatur hal itu. Kasus yang masuk dan ditangani tidak sebanding dengan yang berhasil ditangani. Sangatlah ironis mengingat Indonesia adalah negara hukum dan dengan banyaknya badan yang menangani kasus korupsi. Pihak pemerintah nampaknya tidak serius untuk mengatasi kejahatan yang sudah semakin meresahkan masyarakat ini. Dengan banyaknya antisipasi yang dilakukan pemerintah terbukti tidak mampu untuk memberangus korupsi. Terbukti dengan tidak beranjaknya tingkat kemiskinan masyarakat ke arah yang lebih baik, malah angka kemiskinan masyarakat semakin naik dan tidak tahu sampai kapan angka itu akan menunjukan penurunan.

Posted in: Article, Bureaucrazy