Bait Asmaraloka

Posted on May 20, 2013

0



Asmaraloka (dok. klosetide)

Teruntuk napas rindu yang kerap menyergap malam

Sebenderang pijar bintang-bintang

 

Kau,

yang terkasih

Selintas datang lewat kalem mimpi

Lantas sirna,

saat ketika embun perdana jatuh menetes sesaat malam lampaui batas dini hari

 

Angin sentimental mengembara berpayung tipis mega

Derak gusar dedaunan pelan usik embun dipucuk emosi

Beku bisu merajai

Terusirku, disergap matahari salju

 

Irama rintik hujan terdengar sendu

Sayup sayu rambati sore

Kalahkan lolongan jerit hati

 

Benderang kilat acap kali pecah sunyi di barat sana

Sisakan segurat kemilau patah-patah

Segaris cahaya senja bergelayut lukis petang

Sandikala jelang mendistorsi pandang

 

Ah, aku benci malam

Sebab ia hadir bawa sepi

Lalu, mengunci pesona parasmu rapat-rapat

Menusuk tembus rusuk imaji

Menyandera waktu

Menghempaskanku dalam kosong

Tandas

 

Aku,

yang karena kebodohannya membiarkanmu berlalu

 

Termenungku bersama sunyi

Menunggu diatas tinggi bukit penantian

Terpasung khayal

Terkunci gerak

Mendekam di penjara memorabilia dalam-dalam

 

Kita,

yang sama dalam diam

Terpaku saling tunggu

Biarkan hati meracau sendiri-sendiri

 

Segurat gelora harap temu kembali

Disuatu masa

Didalam ramainya mesra

 

Hey, cantik

Bilakah kau kembali?

Semesta usung kirana untuk kita

 

Posted in: Poem