Menipu Adalah Candu

Posted on July 16, 2017

0



image

Ini cerita agak panjang. Tapi, baca saja. Siapa tahu jadi ngantuk?


“Adek, maaf ibu mengganggu. Adek punya uang lima ribu tidak? Ibu mau pulang tapi kehabisan ongkos. Rumah Ibu jauh, uang Ibu habis. Ibu tidak ada bekal buat pulang. Ibu.. bla… bla.. ” Ucap seorang ibu yang tak jua kukenal.

“Punya, Bu.” Kalimatnya panjang betul jika saja tak kucegat.

Posisiku tengah berada di jalanan, tapi tidak di tengah-tengah jalan. Aku menghentikan sepeda motorku dan mematikan mesinnya. Menunggu kereta lewat di perlintasan kereta yang palang pintunya tertutup itu. Sedangkan ia bersepeda, bersandal, dan berpakaian layaknya ia tentu saja. Ia menghentikan sepedanya tepat di sampingku.

“Kalau boleh, Ibu.. bla.. bla.. bla..” Lanjutnya kemudian.

“Ini,” kusodorkan uang lima ribu rupiah kepada ibu itu, sekali lagi langsung kupotong kalimatnya, “apa tidak kurang, Bu? Rumah Ibu bukannya jauh ya? Bagaimana nanti kalau di jalan kehabisan ongkos lagi? Bagaimana.. bla.. bla.. bla.. ”

“Ya pasti kurang lah,” kini giliran ia yang memotong cepat kalimatku (sial!), “kalau Adek punya sepuluh ribu ya Ibu terima. Tapi Ibu tidak memaksa. Itu seandainya Adek punya. Kalau tidak.. bla.. bla. bla.. ”

“Ini. Saya kasih lima ribu lagi.” Kusodorkan lagi lima ribu kepadanya. Dan aku puas benar. Sebab aku kembali berhasil memotong kalimatnya, kini kedudukan jadi 2-1 untuk keunggulanku dalam hal potong-memotong.

“Makasih, Dek. Semoga kebaikan Adek dibalas oleh Gusti Allah,” Ia menundukkan kepalanya selayaknya seorang hamba yang tengah berdoa. Lalu melanjutkan, “tapi ini, Dek. Maaf sekali lagi. Nampaknya uang sepuluh ribu ini cuma cukup untuk beli makan. Ibu belum makan dari sore. Jadi, bla.. bla.. bla.. ” Keluhnya lagi.

“Uang saya tersisa sepuluh ribu lagi di saku. Itu juga untuk minum motor saya, Bu. Begini saja.. ” Terpotong lagi kalimatku.

“Ya sudah. Makasih.” Ia kembali membalas, memotong kalimatku dan melenggang pergi dengan kepuasan tiada tara, pertama sebab berhasil berkali-kali memotong kalimatku dan kedua berhasil membawa serta sepuluh ribu rupiah pecahan baru itu.


Dan itu adalah rekaman percakapan kecil antara aku dan Si Ibu, yang entah siapa namanya. Aku belum sempat kenalan dengannya. Dan rasanya ia juga tak butuh mengenalku. Jadi, sekuat apapun rasa ingin tahuku akan namanya, nyatanya ia cuma butuh uangku?

Kisahku itu tidak romantis sama sekali, bukan? Dan memang aku tidak sedang memadukasih dengannya. Aku cuma sedang beromantisme dengan momen itu ketika aku menuliskannya. Rasanya aku perlu untuk menulis. Untuk apa? Untuk mengobati kerinduanku pada menulis. Kau sudi membacanya atau tidak, itu urusanmu. Sedangkan urusanku sendiri adalah menulis.

Sudah ya, tak usah protes. Biar kulanjutkan dulu cerita ini.

Kejadian serupa tak cuma sekali ini saja. Sudah berulang kali terjadi olehku (dengan Ibu itu sudah kedua kali ini). Dan kali kedua ini terjadi beberapa malam lalu. Aku yang sedang menunggu kereta lewat dan ibu itu juga demikian. Kita bertemu dalam satu kesempatan. Tuhan menjodohkan kita disana, ternyata. Sebetulnya aku tidak sedang menunggu kereta, toh aku tidak sedang mau kemana-mana. Ibu itu juga demikian. Aku sedang mengendarai sepeda motorku dan lalu tiba-tiba palang pintu perlintasan kereta tertutup. Aku tak mungkin menerobosnya, bukan? Ibu itu pun sama.

Kok kita banyak kesamaan ya, Bu? Amin.

Dan kesamaan kita pun berlanjut sejak malam itu hingga kini. Aku masih sama menjalani profesiku sebagai pedagang kopi. Sedangkan ia menjalankan pekerjaannya yang demikian itu. Hmm.. Kecocokan yang tak direncanakan sama sekali.

Perihal itu, entah kenapa sampai sekarang aku enggan sekali menggunakan kata atau profesi “Penipu”. Rasanya tak etis. Pun tak elok betul. Aku lebih suka menamainya “aktor/aktris” atau “sutradara”. Sutradara dan aktor sekaligus sebab mampu membuat skenario dan piawai memainkan skenario yang dibuatnya. Hebat bukan? Penipu biasa takkan mampu melakukannya. Ini perpaduan seni peran dan inteligensi sekaligus.

Dan untuk memainkannya, butuh bakat, keteguhan, dan keberanian menghadapi kemungkinan dipermalukan. Ketiganya diartikulasikan dengan sangat baik sehingga menjadi sajian artistik yang menarik. Begitu bahasa Ahmad Tohari dalam cerpen “Penipu yang Keempat”.

Artinya, tatkala memainkan perannya sangat mungkin ibu itu dipermalukan olehku atau olehmu (kau mungkin pernah mengalaminya?), sebab sudah menebak modus operandinya dan toh ini kedua kalinya aku dengannya. Tapi, aku lebih memilih mengikuti alur skenarionya dan masuk ke dalam permainannya.

Jika itu buatmu adalah perbuatan sia-sia ataupun tindakan “bodoh” (sudah tahu ditipu kok mau saja memberi uang), maka buatku tidak demikian. Bahwasanya aku lebih memilih manut sang “sutradara” yang sudah capek-capek membikin cerita menjadi semenawan mungkin. Dan parahnya lagi aku sungguh-sungguh menikmatinya.

Bukankah hanya penipu sejati yang bisa sangat menikmati tindakan penipuan? Sebab menikmati akting seorang penipu melakukan adegan penipuan adalah seni penipuan paling tinggi. Tapi, ingatlah bahwa menipu adalah candu. Sekali kau berhasil memainkannya, maka akan ada kedua kali, ketiga kali, dan kali berikutnya. Hingga pada akhirnya kau menikmati peran sebagai penipu.

Lalu, bagaimana indikasi seseorang telah sampai pada level menikmatinya?

Begini, itu terjadi jika sudah tak ada lagi rasa cemas, tak ada beban, sesantai mungkin, memperlihatkan mata yang tulus, mengalir begitu saja memainkan penipuan (aku pernah menghadapi orang yang sepiawai itu). Jika sudah begitu, selamat! Kau telah menjadi seorang profesional yang terlatih.

Demikianlah aku yang seperti itu, sungguh-sungguh menikmati suguhan akting seorang yang sungguh menikmati aksi penipuannya. Aku malas melibatkan Gusti Allah dalam kejadian itu. Menurutku Tuhan terlalu Maha Besar untuk dilibatkan dalam urusan seremeh itu. Jika pun perlu dilibatkan, ia lah yang sepatutnya melakukannya, dan bukan aku. Sebab aku tak lebih dari sekadar pemain figuran yang berperan untuk memuluskan cerita. Sedangkan ia adalah sutradara yang bertanggungjawab atas skenario yang dirangkainya.

Tapi, bagaimana mungkin ia sudi melibatkan Tuhan dalam perannya sedangkan nuraninya saja ia khianati?

 

*Post Scriptum: Saat menulis ini aku tidak sedang berkeluh, membenci, apalagi mendendam. Aku baik-baik saja dan dalam kondisi yang sangat nyaman, untuk tidur. Bahkan aku sedang menikmati hidup dengan cara menyesap secangkir kopi Single Origin “Yellow Caturra” yang sensasi rasanya genit mencubit-cubit lidahku.

Advertisements
Posted in: Article, Short Story