Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI: Mewirausahakan Indonesia

Posted on December 7, 2011

0



Wirausaha (entrepreneurship) dirasa masih asing ditelinga Indonesia. Tengok saja wirausaha yang ada di negeri ini yang jumlahnya belum genap 2%. Data terakhir menyebutkan baru sekira 0,24% jumlah wirausahawan yang berkembang di negeri yang katanya berlimbah sumber daya alam ini (Kemenkop dan UKM, 2011). Dengan itu, asumsi yang dibangun adalah bahwa Indonesia belum sepenuhnya mengoptimalisasi potensi sumber daya alamnya melalui wirausaha.

Sulit dibantah jika kemajuan ekonomi suatu negara salah satunya dapat dipengaruhi dari kemajuan entrepreneurship-nya. Lihat saja contoh berikut : Amerika Serikat 11,5%, Singapura 7,2%, Thailand 4,1%, Korea Selatan 4,0%, Malaysia 2,1% (Kemenkop dan UKM, 2011). Negara-negara seperti Amerika dan Singapura menduduki peringkat teratas dalam hal wirausaha. Dan, tak dapat disangkal lagi bahwa tingginya prosentase wirausaha itu ikut menyokong perekonomian negara-negara tersebut. negara maju adalah negara yang wirausahanya maju pula.

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

Sejatinya perhatian pemerintah mengenai wirausaha sudah muncul belakangan ini. Mulai dari pergantian pos Kementrian Budaya dan Pariwisata menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dibentuknya Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN), sampai pada dipermudahnya akses peminjaman modal bagi para usaha kecil adalah bukti concern-nya pemerintah terhadap wirausaha. Barangkali ini memang menjadi awal yang bagus dalam menopang perekonomian nasional dari segi wirausaha.

Meski begitu, menurut saya itu saja belum cukup. Andai saya menjadi anggota DPD RI, maka saya akan melakukan lebih. Adanya semacam stigma yang berkembang di masyarakat bahwa dunia wirausaha tidaklah menjanjikan dan kurang kepastian ikut mempengaruhi masih rendahnya minat ke arah itu. Paradigma masyarakat ini tentunya harus segera dirubah jika pemerintah masih menganggap bahwa wirausaha menjadi pilar pembangunan ekonomi yang patut diperhitungkan.

Kementerian Koperasi dan UKM bahkan punya estimasi jika jumlah 2% wirausaha, yang dirasa ideal, baru tercapai pada tahun 2030. Artinya adalah bahwa negeri ini masih butuh 30 tahun lagi untuk mencapai fase ideal pembangunan ekonomi. Padahal tingginya jumlah wirausaha dapat menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Lalu, apakah masa ini dapat dipercepat? Jika kita sadar akan luar biasanya potensi yang dimiliki negeri ini, maka kita bisa optimis berkata tidak butuh waktu selama itu untuk bisa memajukan bangsa.

Sekali lagi, andai saya menjadi Anggota DPD RI, maka saya akan mengoptimalkan peran DPD yang merupakan perwakilan daerah dengan mengakselerasi pembangunan wirausaha, terutama yang berbasis pada potensi lokal. Dengan sebelumnya melakukan kampanye yang gencar tentang wirausaha, yakni bagaimana memandirikan masyarakat dengan berwirausaha adalah kunci kesuksesan pembangunan ekonomi bangsa. Selain itu, nampaknya dibutuhkan langkah-langkah inovatif dan kreatif untuk memperkecil tingkat kegagalan wirausaha sehingga ketakutan masyarakat untuk menyelami dunia ini perlahan dapat dikikis. Semoga.