Heart of Borneo

Posted on January 17, 2011

3



 

Sebuah Solusi atau Sebatas Deklarasi Tanpa Arti

 

Hutan Borneo adalah salah satu dari pusat keragaman hayati yang berpengaruh di dunia. Keanekaragaman hayati yang tinggi tersebut ditunjukkan dengan flora dan fauna Borneo yang menjadi salah satu karakteristik tersendiri dan pembeda dengan daerah lain di dunia. Mengenai faunanya, di dalam hutan Borneo terdapat sekira 150 reptil dan amfibi, 13 primata, 15.000 spesies tumbuhan, dan 350 spesies burung. Penghuni hutan terus bermunculan setelah ditemukan 50 lebih spesies baru pada tahun 2006 silam. Sedangkan, jika dilihat dari varietas floranya, terdapat sekira 3.000 pohon, termasuk di antaranya 267 jenis Dipterocapaceae, 2.000 jenis anggrek, lebih dari 1.000 jenis pakis, 146 jenis rotan, dan sebagai pusat distribusi karnivora kantung semar (Nepenthes sp) (WWF Indonesia, 2003).

Keragaman hayati Borneo tersebut didukung juga oleh keberadaan beragam ekosistem—yang saat ini sudah mulai terancam. Ekosistem tersebut antara lain: Ekosistem Karst, Ekosistem Hutan Kerangas, Ekosistem Mangrove, Ekosistem Rawa Gambut, Ekosistem Dipterocarp Dataran Rendah, dan Ekosistem Hutan Berkabut (WWF Indonesia, 2003). Jika dibandingkan dengan kawasan hutan lainnya, maka Borneo dapat digolongkan ke dalam daerah dengan ekosistem yang seimbang dan beragam. Belum lagi, daerah ini dilengkapi dengan sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai salah satu sistem hidrologi yang utuh. Lengkap sudah Borneo sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati nan tinggi. Namun, ada sisi lain yang nampaknya harus menjadi perhatian bersama.

Potensi yang tinggi tersebut sayangnya tidak dibarengi dengan kondisi kesehatan alamnya. Berdasarkan data yang ada, menurunnya kapasitas lingkungan hidup akibat pola-pola pembangunan yang eksploitatif membuat salah satu kawasan di Borneo saat ini mengalami degradasi lingkungan hidup disektor kehutanan dengan angka 300.000 ha kawasan hutan hilang setiap tahunnya dan disektor pesisir dan laut. Bayangkan saja jika hal tersebut terjadi di seluruh Borneo. Barangkali memang Borneo tengah berada di ujung tanduk sekarang. Degradasi lingkungan hidup yang terjadi di pulau tersebut semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Hal tersebut diperparah dengan aktivitas pembalakan liar (illegal loging) dan kegiatan penambangan dari beberapa perusahaan yang tidak sadar dan terkesan enggan untuk memelihara lingkungan hidup.

Menyoal Heart of Borneo (HoB)

Tertanggal 12 Februari 2007 tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia resmi menandatangani Deklarasi Heart of Borneo (HoB). Indonesia diwakili oleh Menteri Kehutanan RI dalam penandatanganan tersebut, Brunei Darussalam oleh Menteri Perindustrian dan Sumberdaya Utamanya, dan Malaysia oleh Menteri Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Deklarasi tersebut dimaksudkan sebagai suatu sinyal yang menjanjikan untuk melindungi hutan dan sumber daya alam serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Ketiga negara tersebut berkolaborasi dan saling bersinergi dalam upayanya melindungi sekira 220.000 km² hutan di wilayah ekuator.

Mengacu pada deklarasi tersebut, ketiga negara memiliki kepentingan yang sama dalam usahanya mempromosikan pembangunan berkelanjutan, serta melindungi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati dunia khususnya yang berada di wilayah hutan di ekuator dengan luas sekira 220.000 km² tersebut. Selain itu, pengurangan angka kemiskinan warga masyarakat setempat pun tak luput dari sasaran Deklarasi HoB. Inisiatif dari program ini adalah untuk memberikan masukan kebijakan dalam merumuskan pengelolaan perbatasan dengan mempertimbangkan tipologi sumber daya alam, pengembangan wilayah dan masyarakat, serta lingkungan hidupnya.

Pada tahapan awal dilakukan melalui pembangunan komitmen politik bersama sekaligus menjaring kegiatan-kegiatan prioritas untuk diimplementasikan. Tujuannya sendiri adalah tercapainya suatu konektivitas kawasan konservasi dengan mendorong pengelolaan yang bertanggung jawab di kawasan budi daya kehutanan dan non kehutanan, semisal perkebunan. Sekali lagi, program Heart of Borneo (HoB) mengandung maksud memberikan input kebijakan dalam merumuskan pengelolaan perbatasan dengan mempertimbangkan tipologi Sumber Daya Alam, pengembangan wilayah dan masyarakat serta lingkungan. Oleh sebab itu, Heart of Borneo (HoB) dapat pula menjadi alternatif bagi program pembangunan di perbatasan yang mengintegrasikan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Bagi Indonesia sendiri, sinergi dan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak dalam pengembangan perbatasan diharapkan dapat mewujudkan daerah perbatasan sebagai ‘beranda depan’. Kerjasama lintas batas menjadi sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan berbagai masalah lintas batas di Borneo, seperti illegal logging, perdagangan ilegal satwa liar, dan kebakaran hutan. Bahkan kerjasama lintas batas pengelolaan 3 Taman Nasional Betung Kerihun (Indonesia), Batang Ai dan Lanjak Entimau (Sarawak-Malaysia) menjadi World Heritage Site pada saat ini sedang dirintis. Untuk itu, diharapkan dengan adanya program HoB tersebut, permasalahan-permasalahan yang menyangkut mengenai lingkungan hidup perlahan dapat diatasi bersama. Sehingga mimpi akan lingkungan hidup yang sehat dan bersih dapat terwujud.

Kerjasama dari seluruh stakholders agar permasalahan mengenai hutan ini segera terselesaikan. Terpenting dan menjadi harapan adalah sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta dalam bekerja sama membangun kawasan Borneo yang hijau dan asri. Kerjasama dan sinergisitas secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan bersama (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, impian Heart of Borneo yang hijau benar-benar terwujud.

Kita tunggu saja episode selanjutnya dari deklarasi 3 negara ini. Akankah HoB menjadi solusi berarti di tengah kerusakan hutan yang kian massif. Ataukah hanya sebatas deklarasi tanpa arti yang hanya buang-buang waktu? Butuh waktu yang tidak sekejap tentunya jika melihat bahwa deklarasi tersebut sarat kepentingan.

Daftar Referensi

Buku

  • Atmawidjaja, Rubini. 1986. Pelestarian Pemanfaatan Hutan Tanaman Industri. Pros. Sem. Nas. Ancaman terhadap Hutan Tanaman Industri. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI dan Departemen Kehutanan.
  • Davis, A.J., 2000. Does Reduced-Impact Logging Help Preserve Biodiversity in Tropocal Rainforests ? A Case Study from Borneo Using Dung Beetles (Coleoptera: Scarabaeoidae) as Indicators. Environmental Entomology.
  • Krauskopf, K.B. 1979. Introduction to Geochemistry. Second Ed. Mc-Graw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo.

Data Internet

Share