Kesalehan Seni Tato

Posted on September 3, 2016

0



image

Suatu ketika seorang bertato bertanya kepada seorang kawannya,
“Orang seperti saya (bertato) solatnya sah ndak, ya?”
“Ya ndak sah lah. Badanmu ‘kan penuh tato.” Jawabnya.
“Bagaimana mau sah solatmu, wong wudlunya saja jelas ndak sah.” Jawab kawan yang satunya lagi.
Si Pria Bertato itu berpikir sejenak, lalu berucap, “Ya sudahlah, saya ndak usah solat saja. Wong wudlunya juga sudah ndak sah.”

Nah loh! Bagaimana jika seandainya kamu yang ditanya oleh Si Pria Bertato itu, apa pula jawabanmu. Apakah bakal sama dengan jawaban tersebut di atas? Kalo iya, apakah kamu sudi menanggung dosa ia yang urung solat? Aku sih tak sudi. Wong dosaku saja sudah banyak kok.

Beberapa waktu lalu aku datang ke pengajian Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lalu, Cak Nun sempat nyeletuk begini,
“Orang yang batal wudlunya karena kentut, lalu dia wudlu lagi, yang dibasuh oleh air kenapa mukanya, tangannya, kakinya? Kenapa bukan pantatnya?”

Lalu aku jadi berpikir keras tentang makna lebih dalam dari celetukan itu. Hingga sampai pada pemaknaanku yang demikian, “Sebab wudlu itu adalah cara manusia untuk membersihkan ruh dan batin yang kotor. Air cuma sebagai media pembersihan untuk membasuh bau duniawi–Tuhan tak bisa dijangkau lewat bau itu. Wudlu adalah manifestasi dari pembersihan jiwa yang kotor, lewat raga dan air sebagai simbolisasi pembersihannya.”

“Lalu, orang yang bertato solatnya sah tidak, Cak?” Tanya seorang jamaah.

“Sah!” Jawab Cak Nun dengan mantap. Lalu melanjutkan, “kalau jawabannya tidak (sah), lalu dia bilang, yasudah ndak usah solat saja wong ndak sah kok! Lah trus piye? Apa mau kamu nanggung dosa dia?”

Urusan dosa atau pahala, sah atau batal, itu murni prerogatif Tuhan. Tapi, aku sepakat dengan ‘pengambilalihan’ tugas Tuhan oleh Cak Nun dalam konteks di atas itu. Dengan dia menjawab sah, maka si penanya (yang mungkin bertato) akan berniat dan berminat untuk solat. Khusnudzon-ku demikian. Kalau jawabannya tidak sah, ya tak jadi solat, “wong ndak sah kok!”

Jangan halangi orang yang mau berbuat baik, bertobat, berubah baik, dan menuju jalan kebaikan. Apapun alasannya, jika ada orang yang menghalangi orang lain yang mau menempuh jalan kebaikan, maka itu adalah kejahatan dan melanggar hak asasi orang tersebut. Bukankah manusia itu secara fitrah baik? Jadi, apa urusanmu menghadang mereka yang mau menuju fitrahnya kembali.

Aku menulis ini sebab teringat akan seorang Bob Sick Yuditha Agung yang ditolak 9 biro perjalanan ketika ia hendak menunaikan ibadah umroh beberapa tahun silam. Hingga akhirnya biro perjalanan ke-10 lah yang sudi menerimanya berhijrah dan membawanya ke Tanah Suci. Alasannya, apalagi kalau bukan soal fisik Bob Sick yang dipenuhi oleh rajah.

Sangat sulit memang melihat celah di tubuh Bob Sick yang tak dirajah. Bahkan, konon tato itu telah sampai ke kelopak mata, alis dan bokongnya. Sungguh bagian-bagian yang sangat sulit dijangkau oleh jarum nalar untuk digambar. Dan, Bob melakukan itu!

Memang, Bob Sick adalah seorang seniman yang istiqomah. Sebab bukan hanya media kanvas atau tembok saja yang dicat, raganya pun tak lepas dari ekspresi seninya. Mungkin benar juga kata Pidi Baiq, “Seni adalah totalitas, jika kau tak bisa total, lebih baik tidak.”

Menurut Puthut EA, Bob terkenal justru bukan karena karya-karyanya, melainkan karena pernah telanjang bulat dan nyemplung ke dalam bak penampungan air milik kampusnya, dan parahnya lagi mengencinginya. Sehingga menjadikan penghuni seisi kampus enggan menggunakan air di kampus pasca kejadian itu. Seniman yang satu itu juga terkenal lewat grup musik yang dibentuknya bersama ketiga kawannya yang diberi nama, ‘Steak Daging Kacang Ijo’, yang parahnya masing-masing personilnya tak jago main alat musik apalagi bernyanyi. Tak mengapa, sebab ternyata band itu sukses meraup banyak fans. Edan!

Hmm.. Bob Sick benar-benar total. Konon, kini ia telah hijrah dan menempuh jalan Tuhan, dengan berumroh dan rajin solat. Sehingga tak ada lagi ruang bagi kita untuk mencela apalagi menghalangi orang yang berbuat kebaikan, meski ia penuh tato dan urakan.

Bukankah kualitas seorang hamba itu di mata Tuhannya ada pada ketakwaannya?

“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan! Rakyat bertato tak bisa disalahkan!” Bob Sick

Bob Sick Quotes

Bob Sick Quotes (dok google image)


Bob Sick Image 1 (dok google image)

Bob Sick Image 1 (dok google image)

Bob Sick Art

Bob Sick Art (dok google image)