Mimpi Tak Kunjung Basah

Posted on July 11, 2016

0



image

Tidurku kini cuma hitungan jam sehari. Aku gelisah tiap kali mendengar jarum jam berdetak. Memikirkan mimpiku yang tak kunjung basah.

Disaatku terjaga aku intens mengunjungi diri sendiri. Bersilaturahmi dengan hati. Bermonolog dengan akal. Membisiki imajinasi bahwasanya diri ini masih bodoh, masih kerdil, masih dangkal, masih banal. Kemana saja aku ini kenapa baru tersadar sekarang?

Dulu sempatku merasa pintar, mengaku tinggi, berlagak dalam, bergaya sok tahu. Padahal, kosong melompong. Jelaslah, jika demikian akalku kalah telak atas nafsuku. Pantas, mimpiku susah untuk basah.

Sudahlah, lebih baik terlambat tersadar daripada tidak sama sekali. Kini aku harus berlari untuk menata kembali diri. Membereskan apa-apa yang belum tuntas. Terpenting, mengisi kekosongan akal dengan ilmu biar tak lagi dikalahkan oleh nafsu. Ya, aku wajib berlari sekencang mungkin.

Bagaimana nanti setelah akalku terisi aku menjadi lebih percaya diri. Aku berusaha mengatasi kegersangan ini dengan menimba air pengetahuan sebanyak mungkin. Karena hanya dengan air lah yang gersang kembali bersemi.

Seiring selesainya aku bermonolog mau kembali kulanjutkan mimpi. Semoga lekas mimpiku itu menjadi basah. Sebab sekarang terjaga bukan jaminan aku dapat membasahi mimpiku itu. Mimpiku menjadi basah justru ketika aku tertidur.

Semua akan nikmat pada waktunya. Pada waktu Tuhan menyirami kegersangan mimpi-mimpi dengan air suci-Nya. Sehingga nanti aku tahu jika mimpi basah itu adalah cara Tuhan dalam membahagiakanku tanpa sepengetahuan akalku, di bawah sadarku. Dan aku harus akui itu sebagai suatu nikmat yang nikmat, sebagai berkah yang berbekas.

Bagaimana mekanisme Tuhan dalam membasahi mimpi? Aku tak perlu tahu, setidaknya tak usah sok tahu seperti Sigmund Freud, itu urusan-Nya. Aku cukup nikmati saja dengan kembali bermonolog dengan akal lewat mimpi.