Untukmu Jodohmu, Untukku Mana?

Posted on July 4, 2016

0



Untukmu Jodohmu, Untukku Mana?

Suami ideal orang Tegal

Peringatan Penulis!
Tulisan ini bicara soal jodoh. Ditulis oleh seorang yang belum juga menemukan jodohnya. Meskipun, di saat yang sama, banyak di antara teman-temannya tengah bersenang-senang dengan jodohnya. Kasihan, memang.

Beberapa hari lalu aku kedatangan dua orang kawan lama yang lama tak saling bertemu. Kebayang olehmu bukan betapa rindunya kita masing-masing. Sayangnya, keduanya adalah laki-laki. Dan, kamu pasti tahu jika hubungan sesama laki-laki adalah tidak boleh. Hubungan sesama jenis itu dilarang! Untungnya kami tidak melakukannya. Hubungan kami bertiga adalah sebatas hubungan pertemanan. Jelas, ya?

Biasalah yang namanya obrolan pasti selalu kesana kemari. Orangnya sih cuma duduk di situ-situ saja, di teras rumahku. Tapi, temanya yang beraneka. Mulai dari hal-hal yang tidak serius sampai ke tema yang sangat tidak serius. Intinya sebenarnya tak ada yang serius kok. Lagian aku juga tak mau membina keseriusan dengan laki-laki. Dih.

*Maka, kamu yang membaca tulisan inipun tak usah terlalu serius lah. Khawatir kebawa hanyut oleh perasaan nanti. Jadi, rileks saja sambil minum kopi, ya.

Sampai akhirnya kami bicara soal jodoh. Kupotong saja ya sampai tema ini. Soalnya bakal panjang kalau semua hasil obrolannya kutuliskan di sini. Lagian tak penting kok. Kamu bakalan kecewa membacanya nanti. Akunya juga malas menuliskannya, capek. Sekali lagi, ini bukan notulensi rapat, jadi tak usah ditulis semuanya. Tuh kan aku malah kesana kemari.

Kali ini mah serius masuk ke topik langsung. Begini, mencari jodoh ternyata mudah. Mudah bagi yang sudah (menemukan jodoh) tentu saja. Tapi, perkara itu tidak berlaku buatku, Awang, dan Nandar. Buktinya kami bertiga masih single, belum juga bermain ganda campuran. Sedangkan usia kami masing-masing sudah mencapai 21 tahun, 9 tahun lalu. Duh, kebayang kan bagaimana kerennya kami di umur yang segitu dan masih melajang. Itu artinya kami punya sikap, kan. Sikap berani ikhlas untuk diledek orang lain. Keren!

“Jadi, kapan kamu kawin?” Tanya Awang. Pertanyaan itu jelas ditujukan kepadaku dan Nandar.

“Dih! Kita, ya. KITA!”

Lalu, kami pun sama-sama menundukkan kepala. Merenung. Mendadak langit menjadi mendung. Dan, tak lama kemudian langitpun menangis deras. Serius, ini benar-benar terjadi. Nampaknya langit berempati kepada hati.

“Jadi, mau kapan?” Lagi-lagi pertanyaan yang membosankan itu terulang kembali.

Sebentar lagi lebaran, kalau anak kecil punya baju baru, yang dewasa sudah punya pasangan baru dong. Idealnya sih begitu. Meskipun kami nyatanya memang tidak seidealis itu. Tak apa kami terima kondisi ini dengan lapang dada dan topang dagu. Sudah.. Sudah.

Pertanyaan itu biar dijawab oleh sang waktu. Pertanyaan yang krusial sekarang adalah,
“Bagaimana kriteria jodohmu?”

“Pokoknya doi harus rajin bangun pagi.” Celetuk Awang.

“Alasannya?” Tanyaku pengin tahu. Sebenarnya, Awang ini ingin mencari pasangan hidup atau pasangan lari pagi sih?

“Perempuan yang rajin bangun pagi itu keren. Setidaknya doi salat subuh.”

“Kalau lagi gak salat?” Pungkas Nandar.

“Ya berarti lagi berhalangan.” Jawabku asal.

“Benar. Mungkin doi lagi berhalangan. Tapi, alasan bangun pagi bukan cuma buat salat tok. Lagi gak salat bukan alasan untuk bangun siang, kan?” Lanjut Awang.

Jadi, intinya kalau doi mau dan rajin bangun pagi berarti doi punya kebiasaan yang oke. Bayangan kami, jika iya menikah dengan perempuan yang punya kebiasaan tersebut pagi kami bakal dihiasi dengan menu-menu yang indah: rumah terawat, anak termandikan, dan suami terladeni.

Kesimpulannya perempuan yang bangun pagi itu keren. Meskipun aku sendiri memilih untuk tidur pagi. Haha..

“Terus kriteria apa lagi?”

“Aku sendiri bakal mencari perempuan yang dekat dengan keluarganya, terutama dengan ibunya.” Urunku.

“Alasannya?”

“Simpel. Buatku kalau doi dekat dengan ibunya berarti doi juga nurut dengan petuahnya, mewarisi keibuannya, dan biasanya jarang macam-macam doi.” Lanjutku.

Kriteria ini lebih menjurus kepada karakter si doi. Perempuan yang dekat dengan sang ibu dalam pandangan yang paling sempit memang terkesan manja. Tapi, dalam pandangan yang lebih mendalam doi lebih bisa diatur dan cenderung jarang berani macam-macam. Itu menurutku sih bro, jika menurutmu berbeda ya monggo.

“Pertama rajin bangun pagi, kedua dekat dengan ibunya, yang ketiga?”

“Apa lagi, ya?”

“Sudah dua saja?”

“Harus ada satu lagi, biar ganjil. Tuhan kan senang dengan yang ganjil?”

Hmm.. Tuhan? Ya, Tuhan harus dilibatkan dalam urusan ini. Dia kan yang ngasih jodoh. Iya, wajib bagi kita mencari siapa yang Tuhan suka.

“Aku juga pengin jodohku tahu soal agama. Maksudnya doi harus tahu pekerjaan apa yang boleh dan yang tidak boleh dijadiin profesi.” Tambah Awang.

“Lebih jelas dong maksudnya apa, biar mudah dicerna.” Pinta Nandar.

“Ya pokoknya doi harus tahu keputusan yang diambilnya dalam hidup gak melanggar hukum agama.” Jelas Awang.

Maksud Awang akhirnya benderang. Bahwa perempuan yang keren, berikutnya, tahu soal agamanya, tahu bagaimana doi beragama, dan terpenting tahu kenapa harus ada pelibatan agama dalam hidupnya. Dan ini penting banget. Aku sepakat.
Kriteria ketiga akhirnya muncul di tengah ke-ngalorngidul-an obrolan kami malam itu. Ya, kriteria keimanan.

Ya, perempuan yang keren itu sejatinya justru yang sederhana, yang suka melakukan hal-hal yang juga sederhana. Sesederhana untuk mau bangun pagi, untuk mau dekat dengan ibunya, dan untuk mau mantap dalam agamanya. Sederhana dalam kebiasaan, karakter, dan keimanan.

Seiring dengan penemuan ketiga kriteria itu langit pun menghentikan tangisannya. Malam beranjak larut. Tak terasa deretan angka terlalui oleh jarum waktu. Selalu ada keakraban dibalik pertemuan dengan teman lama. Kami memang tak bisa sering bertemu. Tapi, kami bisa menjadikan pertemuan, yang jarang itu, menjadi intim dan berkualitas. Jadi, nikmati saja pertemuan yang ada.

Jadi, kamu kapan nikah?

 

28 Ramadan, di malam yang hujan, Tegal

Posted in: Short Story