Udang Selingkuh

Posted on June 24, 2015

0



Gunung Geulis II (dok m awaludin afief)

Gunung Geulis II (dok m awaludin afief)

 

Petrus. Namanya adalah Petrus. Dan Petrus adalah nama seorang laki-laki tetangga kosan Gue. Dia mengaku berasal dari Papua. Jujurkah Petrus akan pengakuannya itu? Gue gak langsung percaya. Makanya Gue menginterogasinya.

“Hey, Petrus. Kamu dari manakah?” Itu Gue yang nanya ke Petrus.

“Dari warung, Kawan. Makan sudah.” Itu Petrus yang jawab. Dia emang tadi habis dari warung. Tapi, itu bukan maksud pertanyaan Gue. Maksud Gue nanya asalnya dari mana, bukan habis dari mana. Ah, mensana in corporesano. Gue nanya ke sana dia jawab ke sono.

“Bukan. Kamu asal dari mana kah?”

“O. Papua, Kawan.” Petrus akhirnya mengaku dengan jujur dan setulus hatinya kalau dia emang dari Papua. Emang Petrus itu kayak orang Papua kalau dilihat dari perawakannya yang six packs dan gaya bicaranya yang santun.

“Petrus, kamu tahu apa itu udang selingkuh kah?” Gue ngetes wawasan ke-Papua-an dia lagi.

“Udang selingkuh? Haha.” Petrus tertawa kencang. Dia berkelakar. Bukannya menjawab dia malah terkekeh.

“Iya. Kamu tahu kah?”

“Ah, mana ada, Kawan. Ada juga udang dumbo.” Dia menjawab. Sambil masih sesekali terkekeh.

“Itu lele yang dumbo, Kawan.” Gue mengoreksinya. Dumbo itu lele, Petrus. Kalau gajah itu jumbo. Dan kalau ayam yang gede itu namanya ayam Bangkok.

“O, lele toh. Mungkin di Jawa berbeda dengan Papua.” Dia ngeles. Sejak kapan dia belajar mem-bajai. Bukannya mengaku malah ngeles.

“Iya.” Biar cepat Gue jawab iya aja.

“Apa itu udang selingkuh kah?” Dia akhirnya penasaran dengan udang selingkuh itu.

“Serius kah kamu pingin tahu, Kawan?” Gue meyakinkan keseriusannya akan sebuah jawaban yang bentar lagi bakal Gue ungkap.

“Serius sudah, Kawan.” Matanya melotot kayak mau copot. Kali ini dia benar-benar penasaran dan menunggu jawaban dari Gue.

“Benar kah kama serius, Petrus? Ini rahasia. Jadi kamu harus menjaga rahasia ini ya?” Gue menagih dia untuk gak membuka celana selama di depan Gue. Gue gak butuh linggis, soalnya udah punya sendiri.

“Itu sudah. Saya bakal jaga itu rahasia sudah.”

“Janji?”

“Itu sudah.”

“Udang selingkuh itu sejenis udang dengan capit berbentuk capit kepiting. Udang itu mirip atau dari jenis lobster air yang hidup di air tawar. Nah, dia itu cuma ada di sungai Baliem di distrik Wamena, Kawan.” Gue berpidato kepadanya. Dia nampak antusias mendengar tentang rahasia ini.

“Tapi di Jayapura tidak ada itu, Kawan.”

“Khan adanya juga di Wamena, bukan di Jayapura.”

“O. Saya baru tahu itu sudah.”

“Kamu udah tahu khan sekarang? Nah, jangan bilang-bilang ya. Soalnya ini rahasia. Kamu khan tadi sudah bilang gak akan membuka rahasia ini toh.”

“Iya, Kawan. Tapi, kenapa harus rahasia toh?”

“Iya. Soalnya kalo kamu bilang-bilang nanti udangnya ketahuan. Dan kalo nanti polisi tahu kalo dia itu selingkuh dia bisa ditangkap. Masuk penjara sudah.”

“Benar sudah. Kalo dia ketahuan sama masyarakat sana bisa habis sudah riwayatnya.” Dia manggut-manggut.

“Nah, makanya rahasia ya. Jangan bilang siapa-siapa kalo udang itu selingkuh sama kepiting ya?”

“Iya saya janji, Kawan.” Dia berjanji. Dan Gue pun mengacungkan jari kelingking kanan. Dia pun juga sama. Akhirnya kita melakukan simbolisasi perjanjian untuk saling menutup rahasia ini. Kedua jari kelingking kita pun menyilang, menyatu satu sama lainnya. Case clossed.

Itulah Petrus dengan cerita udang selingkuhnya. Selepas ngobrol dengan Petrus itu Gue masuk ke kamar Gue lagi. Gue dan Petrus beda kamar. Kita punya kamar masing-masing. Jangan berpikiran bahwa kita berdua itu satu kamar. Gue sama Petrus itu temenan, bukan demenan. Dan Gue gak pingin bernasib sama kayak udang selingkuh itu. Amit-amit jabang buaya.

Gue sedang tidur saat bunyi SMS datang berdering. Gue bangun dan mengambil minum. Haus. Setelah itu baca SMS. O, itu SMS dari seorang wanita. Inilah Gue yang selalu dikerubuti oleh para kaum Hawa, dan kaum Adam juga.

Bunyi SMS-nya begini. Eh, SMS itu gak berbunyi ding. Mulut Gue yang bunyi pas baca SMS. Seorang teman mengajak untuk mendaki gunung. Gunung yang dia ajak Gue buat mendaki adalah gunung Geulis.

Minggu depan dia mengajak sekaligus meminta untuk ditemani naik gunung. Dia itu adalah Yunie. Dan Yunie itu adalah nama perempuan. Kalau nama bulan itu Juni. Untuk itu, Yunie emang lahir di bulan Juni. Tapi kok namanya Yunie ya bukan Juni? Mungkin dia lahir ketika ejaan itu belum disempurnakan. Jadi gak sesuai dengan EYD—Ejaan Yang Disempurnakan oleh Tuhan YME—Yang Maha Esa.

Hari berganti menjadi minggu. Hari yang dijanjikan pun tiba. Gue belum bersiap siang itu. Naik ke Geulis gak seberat naik ke Himalaya. Jadi, gak usah bawa beban yang berat-berat. Soalnya badan aja udah berat. Jadi ngapain terbebani oleh yang berat-berat. Dan gajah itu berat. Lebih berat dari semut sekilo.

Sebelumnya Gue udah mengajak beberapa sahabat alam lainnya untuk ikut naik juga. Terus terang Gue gak enak jika harus naik gunung berduaan sama si doi. Pasalnya si doi itu perempuan. Dan Gue laki-laki. Tahu sendiri kalau seorang laki-laki dan perempuan yang masih lajang berduaan naik gunung khan? Bisa-bisa turun hujan nanti. Oleh karena pertimbangan itu Gue akhirnya mengajak beberapa teman lagi.

Pegumuman dipasang di baliho desa semenjak jauh-jauh hari. Dan hanya Beni, Afif, Ari, Ventus, dan Intan, yang bersedia ikut. Sisanya gak jadi pada ikut. Sebab katanya ada pembagian beras miskin, raskin, di kelurahan. Biarlah yang sudah menjadi haknya itu tersalurkan kepada yang emang berhak. Mereka pun mengantri jatah dari pemerintah itu.

Lalu Gue pun mengabsen kehadiran dan eksistensi mereka satu persatu. Yang pertama adalah Beni. Dia adalah seorang laki-laki. Kalau perempuan itu biasanya disebut bini. Usianya masih dua puluhan. Dan statusnya masih lajang. Golongan darahnya A. Setidaknya itulah keterangan yang Gue baca dari KTP-nya. Beni itu seorang pelajar di universitas, sehingga dinamai mahasiswa.

Sahabat alam yang kedua adalah Afif. Dia berjenis kelamin sama dengan Beni. Masih lajang dan normal, layaknya laki-laki pada umumnya. Jari-jarinya gak ngetril kayak cowok tomboi kebanyakan. Afif lahir di Salatiga, tapi dia besar di sana juga. Dan di Bandung adalah tempatnya sekolah sekarang.

Selanjutnya ada Ari. Semuanya pasti udah tahu siapa dia. Ari itu beberapa kali mendaki bareng Gue. Setidaknya yang tercatat dalam kitab Negarakertagama, dia udah naik bareng Gue di Ciremai dan Pangrango. Jadi gak usah dibahas lagi soal profilnya. Kalau emang belum jelas cek aja di profil facebook-nya.

Lalu ada Ventus. Lelaki asal Medan itu adalah adik kelas Ari di Fakultas Peternakan. Tampangnya ganteng sebab dia adalah cowok. Kalau cewek dia pasti cantik. Dan kalau kambing itu pasti mengembik.

Terakhir adalah Intan. Seorang dara yang paling muda usianya diantara kami. Intan diajak oleh Beni. Entah kenapa ajakan itu harus muncul dari Beni. Mungkinkah ada hubungan khusus diantara keduanya? Entahlah. Tanya aja sama rumput yang bergoyang dombret di pantura.

Hari itu hari sabtu. Dan itu siang hari ketika Gue masih jongkok di atas kloset kamar mandi. Gue masih mules-mules siang itu. Tapi, sebentar lagi pendakian dimulai. Mendaki sambil mules itu pasti bakal gak enak sama sekali. Yang enak itu mendaki sambil naik taksi. Pasti gak kerasa capeknya.

Sore harinya makhluk-makhluk dari penjuru tanah air berdatangan. Mereka telah siap dengan bawaannya masing-masing. Ada Ari yang datang dengan Ventus. Beni yang datang bareng Afif. Dan menyusul kemudian adalah Intan. Tapi, si pengajaknya belum menampilkan peragaan busananya. Kemanakah Yunie?

Setelah ditunggu sampai bulu-bulu di atas bibir ini tumbuh menjadi kumis dia nongol juga akhirnya. Dia datang disaat toa musala tengah mengumandangkan azan isya. Dia datang disaat yang tepat. Tepat disaat waktu salat.

Beberapa sahabat alam yang hadir udah saling kenal. Sedangkan yang lainnya masih asing di telinga. Akhirnya mereka pun Gue suruh berkenalan. Aneh. Masa kenalan harus disuruh. Tak kenal maka taaruf. Taaruf itu bahasa Arab maknanya kurang lebih berkenalan dan saling kenal. Setelah berkenalan mereka pun ngobrol. Ngobrol sendiri-sendiri. Ah, biarlah. Dosa itu ditanggung masing-masing.

Lengkap sudah semua personil. Tapi, kayaknya ada yang masih kurang. Lalu Gue coba mengetuk pintu kamar Petrus. Dan dia ternyata gak ada di kamarnya. Kemanakah dia? Entahlah, Gue pun gak tahu. Mungkin dia lagi nyari udang yang selingkuh itu.

Kami bertujuh mengaku sebagai laskar pendaki Gunung Geulis yang siap beraksi. Beraksi menumpas kejahatan di muka bumi. Ah, gara-gara abis nonton film Hulk jadinya bawaannya pingin berantem melulu Gue. Untung badan belum sempat Gue bikin ijo.

Laskar pendaki Gunung Geulis yang berjumlah tujuh orang ini mengingatkan Gue akan sebuah perang yang sungguh legendaris. Namanya Perang Badar. Itu perangnya 313 tentara muslim melawan ribuan tentara Quraisy. Kalian pasti mikir apa kaitannya antara perang dan mendaki? Soalnya 3+1+3=7. Dan mendakinya kami malam ini bermotif mulia juga. Berjihad melawan segala kenyamanan yang ada di kota dan egoisme diri sendiri.

  1. Kami siap. Dan Gue selaku komandan regu pun menginstruksikan untuk mengecek kembali barang-barang bawaannya satu persatu. Takut ada yang ketinggalan dan masih kurang. Sehingga bisa dipenuhi sekarang juga. Mumpung belum terlambat. Kalau terlambat harus coba cek ke dokter.

Beres packing kami beranjak. Kami menyeberang jalan. Di seberang jalan kami berjejer satu saf. Menyetop angkot bukan untuk upacara bendera. Seperti biasanya angkot jurusan Cileunyi-Sumedang kami hadang. Angkot itu berwarna coklat. Dan bannya empat yang kesemuanya berwarna hitam. Sopirnya juga item, tapi manis.

Perjalanan dari tempat indekos Gue ke base camp Geulis cukup jauh. Kira-kira berkendara sepuluh menit aja. Jauh kalau ditempuh dengan ngesot. Karena kami naik kendaraan umum jadinya cuma bentar. Dan sampailah sudah di tempat tujuan. Gerbang desa Jatiroke kembali dijelang. Kami masuk ke sana. Beberapa kali Gue ngelewatin tuh gerbang, tapi kondisinya masih sama. Itulah bukti mandeknya pembangunan.

Udah jam sebelas malam. Dan permukiman penduduk di sana udah sepi. Sehabis hujan enaknya emang narik selimut. Udara makin dingin. Kami tetap melangkah. Suasana Jatiroke gak beda dengan suasana di Eropa. Ada sawah-sawah, ada kali kecil, ada jalanan berbatu, ada nyamuknya, ada bintang, dan ada cahaya rembulan. Bedanya cuma satu, Jatiroke itu dekat. Sedangkan Eropa itu nama benua.

Sampailah kami di lembah Gunung Geulis. Di jalanan menanjak inilah kami memulai pendakian. Sebelum lupa atas karunia-Nya kami berdoa terlebih dahulu. Kali ini gak ada satupun ustaz yang ikut, jadi mau gak mau Gue harus turun tangan. Sedangkan yang lain menengadahkan kedua tangan untuk berdoa. Doa pun dimulai dan tanpa diakhiri. Tiada kata akhir untuk sebuah doa. Bukan begitu?

Inilah langkah kaki pertama seorang Yunie ke Geulis. Pun merupakan langkah kakinya yang pertama kali ke tanah yang lebih tinggi. Buatnya mendaki gunung adalah aktivitas orang-orang kuat yang merasa dirinya lelaki.

Tapi, sekarang pikiran dan anggapan itu udah gak ada lagi. Semenjak dia menonton film 5 Cm dia sadar bahwa naik gunung juga bisa dilakukan oleh wanita. Dan wanita itu ternyata lebih hebat dari pria. Buktinya dia bisa melakukan setidaknya 3 hal yang gak bisa cowok lakukan: melahirkan, menstruasi, dan menyusui. Proven!

Dan semenjak film 5 Cm itu pulalah pasaran pemuda pendaki menjadi naik. Gadis-gadis pada berburu cowok-cowok pecinta alam. Begitu pula sebaliknya. Para cowok pecinta alam pada berburu babi di hutan. Dan cowok-cowok pendaki itulah yang pada akhirnya memasang tarif mahal dan tinggi-tinggi untuk para wanita yang menaksirnya. Dan Gue menonton film 5 Cm itu sampai empat kali. Jadinya sekarang Gue udah 20 Cm.

Aktivitas mendaki mendadak banyak diminati. Kini cewek-cewek gaul pun naik gunung. Bukannya berbelanja ke pasar modern mereka malah berkotor-kotor ria mendaki gunung. Mungkin zaman udah berganti. Dan bumi berotasi. Sehingga yang dulu gak diminati sekarang malah menjadi populer dan dimaui. Tak terkecuali bagi Yunie ini. Dulu dia sama sekali gak terbersit untuk mendaki. Tapi, sekarang dia malah yang ngebet banget pingin mendaki. Apakah ini sebuah pertanda?

Kiamat emang udah dekat. Itu kata Dedy Mizwar. Kata Gue sih kiamat itu rahasia Tuhan. Dan yang jelas puncak itu masih jauh. Kami baru aja sampai di Pos 1 Geulis. Anggaplah itu Pos 1 sebab gak ada papan pengumuman yang tertera di sono. Hanya sebuah gubuk yang mirip poskamling yang udah rusak aja sebagai tandanya. Mungkin karena amukan manusia sehingga pos itu kini rusak. Lihat aja kayu-kayunya yang banyak banget corat-coret tipe-x nya. Itulah ulah anak-anak sekolahan yang keblinger dan salah kiblat.

Sejenak kami meluruskan kaki di sini. Menarik napas pelan-pelan dan benar-benar menikmati udara bersih ala pegunungan. Di sini kami beristirahat cukup lama. Kira-kira memakan sebungkus roti yang kami beli tadi. Beberapa teguk air dikonsumsi. Dan pelan-pelan masuk kedalam mulut untuk dicerna. Akhirnya pada esok harinya nanti itu semua akan menjadi eek.

Sebelum makanan yang kami konsumsi itu berubah menjadi eek kami pun mulai lagi melangkahkan kaki. Menapaki kembali tanah basah yang habis dihujani sore tadi. Kehidupan ini emang penuh dengan esensi dan kami harus paham akan substansi. Perjalanan hidup itu ibarat mendaki. Tujuan hidup adalah puncak itu sendiri. Dan puncak dari segala puncak adalah mati. Silakan yang mau duluan mati. Gue mah nanti.

Sekarang kami melalui jalanan yang landai. Lagi-lagi jalanan landai ini. Oh, tidak. Berkali-kali mendaki gunung ini dan kesasar lagi. Sebelum jauh Gue pun menempuh jalan yang lebih menanjak. Potong kompas. Jika gak seperti itu, maka jalanan akan terus landai dan kami hanya berkeliling aja. Bukannya sampai nanti malah turun lagi.

Inilah resiko kalau kita potong kompas. Banyak semak belukar yang dilalui. Dan sialnya kami lagi-lagi gak bawa golok atau semacam alat tebas. Push your limit. Itu kata guru bahasa Jawa di SD dulu. Jangan berhenti sebelum habis batas kemampuan itu. Teruslah melangkah karena di atas sana puncak menunggu dengan segelas coklat hangat.

Terus aja Gue menerabas jalanan bertumbuhan perdu itu. Perlahan kami merangkak naik. Gak ada golok tangan pun jadi alat buat menyingkirkan semak dan membuka jalan. Tiada rotan ram punjabi.

Lepas dari jalur semak itu sampailah kami pada dataran yang agak luas dan terbuka. Kami kembali beristirahat. Sejenak memandang city view yang terbentang di bawah sana. Ah, indahnya suasana malam ini. Mendaki ditemani oleh gadis cantik ibarat melihat bidadari yang sedang mandi di kali. Dan bidadari mandi di kali hanya ada dalam cerita-cerita dongeng yang sering didongengkan seorang ayah kepada anaknya sebagai pengantar tidurnya.

Perjalanan dilanjutkan. Semangat kembali mencuat. Lengan kemeja kembali disingsingkan. Maju perut pantat mundur. Siapa yang maju perutnya, maka harus sering rajin fitnes. Sebab jika tidak, maka perut bakal membuncit. Dan konon perut buncit adalah tanda kemakmuran seorang manusia. Sedangkan kepala yang botak adalah tanda kerontokan rambut, bukan tanda kecerdasan seorang makhluk.

Puncak udah kelihatan. Seenggaknya itu buat menenangkan sahabat alam yang sering bertanya kapan sampai puncak?

“Berapa lama lagi puncaknya?” Itu adalah seorang Yunie yang bertanya kepada Gue yang cool dan memesona ini.

“Udah kelihatan kok.” Gue pun menjawab. Berusaha menenangkannya.

Perempuan emang butuh ditenangkan. Dia sejatinya gak butuh yang macam-macam. Sediakan aja pundak kita untuk tempatnya bersandar ketika dia letih. Dan sediakanlah telingamu untuknya berbagi tentang suka dan dukanya. Setelah itu, tenangkanlah dia dengan kata-kata romantismu. Yakinlah, jika dia pasti bakal jatuh ke pangkuanmu. Ituuu.

“Ah, dari kosan juga kelihatan puncaknya.” Yunie sepertinya udah tahu trik Gue buat menenangkannya.

Trik yang kayak gini emang mudah banget ketebak. Tapi, Gue heran. Tahu dari siapa dia trik Gue yang satu ini. Padahal khan dia baru naik bareng Gue. Oh, mungkin dia tadi browsing dan googling dulu sebelum naik.

Lalu Gue harus jawab apa lagi?

Gue hanya tersenyum manis kepadanya yang emang udah manis, kata ibunya di rumah. Senyuman adalah sebentuk ucapan paling romantis seorang makhluk kepada makhluk lainnya. Dan senyuman adalah juga sebagai kado paling istimewa seorang kekasih kepada pasangannya. Dan Gue bukan pasangan dia.

Yunie pun membalas senyuman itu. Lalu kami berjalan lagi. Menyusuri kembali jalanan menanjak dan berumput. Mungkin sebentar lagi puncak digapai. Tapi, perasaan ini gak bisa dibohongi. Bahwa memang hari udah beranjak kian malam. Udah lebih dari jam satu Waktu Indonesia Geulis. Mau gak mau langkah juga harus dipercepat.

Sebelum jam dua kami akhirnya sampai di puncak Geulis. Sebuah bangunan yang di dalamnya ada makam kami jumpai lagi. Di tengah bangunan itu sebuah pohon tinggi tumbuh menjulang ke angkasa. Hampir-hampir pucuk daunnya menyentuh bintang yang berkilauan di angkasa sana.

Kami pun nge-camp di sebelahnya. Pada sebuah tanah yang cukup luas kami menggelar matras. Tenda kami bawa dan di sana kami dirikan. Setelah semuanya rapi kami pun mulai menyalakan perapian. Udara makin dingin berembus. Dan malam pun beranjak kian larut saja.

Seperti biasanya air dipanaskan. Beberapa orang terlihat tengah meracik minumannya. Ada teh, kopi, dan coklat hangat. Tinggal pilih. Kalian mau yang mana? Jika di gunung seperti ini semuanya milik bersama. Kecuali pasangan masing-masing. Itu hanyalah milik pasangannya. Hati-hati urusan wanita seringkali dapat berakhir ricuh. Gara-gara rebutan wanita seseorang bisa senggol bacok. Dan gara-gara ngebut di jalanan seseorang bisa ngebut benjut.

Aktivitas pun berjalan sesuai dengan semestinya. Ari dan Ventus terlihat tengah beradu mulut. Sama-sama lagi ngobrol. Dari mulutnya keluar asap putih yang mirip asap kenalpot. Kelepas-kelepus. Beni dan Afif terlibat baku hantam. Sama-sama lagi main kartu domino. Beni membanting Afif juga membanting. Sama-sama membanting kartu yang dipegangnya.

Sedangkan Intan dan Yunie terlibat percekcokan. Mulut keduanya sama-sama mengoceh. Oh, mereka lagi berbincang. Tahulah, sama-sama wanita. Mereka pasti lagi ngobrolin kaum Adam. Kalau sesama cewek terus ngobrolin cewek juga itu namanya melon makan semangka.

Ah, mereka pasti lagi ngobrolin Gue. Feeling dan firasat Gue mengatakan demikian.

“Eh, cowok yang itu keren banget ya.” Itu mungkin Yunie yang berbicara kepada Intan teman di depannya.

“Iya, Teh. Sumpah cool abies.” Itu mungkin Intan yang menyambut pujian Yunie barusan. Teh itu berasal dari kata Teteh. Dan Teteh itu adalah panggilan untuk wanita di Sunda. Sedangkan Akang adalah panggilan untuk lelaki Somalia.

“Uh, beruntungnya cewek yang bisa dapetin dia ya.” Itu mungkin Yunie yang mungkin juga memuji Gue.

“Aku bermimpi lho dapetin orang kayak dia, Teh.” Itu mungkin Intan yang lagi bermimpi tentang Gue. Intan memanggil Yunie dengan panggilan Teteh karena dia lebih muda dari Yunie. Kalau dia lebih tua pasti bakal memanggil Yunie dengan sebutan Cu—Cucu.

“Aku juga berdoa sama Tuhan semoga bisa dapet cowok yang mirip kayak dia.” Itu mungkin doa Yunie kepada Tuhannya. Memimpikan cowok macam Gue ini yang cool, calm, and confident.

“Dia tuh ya kayak satu diantara seribu cowok gitu deh, Teh. Udah baik, keren, kalem, simpel, anti-mainstream pula. Uh, calon suami idaman deh.” Itu mungkin pikiran Intan tentang Gue. Mungkin. Sebab semua gak ada yang pasti. Yang pasti hanyalah Pagoda Pastiless.

“Iya. Calon suami ilegal, eh ideal banget ya.” Itu mungkin juga Yunie yang berpikiran sama kayak Intan tentang Gue.

“Wah, ternyata kita sama ya Teh punya impian tentang lelaki idaman kayak dia. Kita doa bareng yuk semoga mimpi kita itu terkabul. Dan semoga dapet pasangan kayak si Akang itu.” Itu Intan yang mengajak Yunie untuk berdoa semoga Gue bisa naksir dan menerima cinta mereka itu. Hmm.

Sesaat kemudian suasana mendadak hening. Gak ada obrolan dan celotehan lagi. Keduanya gak saling mengobrol lagi. Dan Gue pun penasaran dengan keheningan itu. Akhirnya Gue memutuskan untuk membuka resletingnya. Resleting tenda terbuka dan Gue pun menengok sedang apa mereka di dalamnya.

Setelah tenda terbuka Gue lihat keduanya udah berselimut sarung dan masuk ke dalam kepompong tidurnya masing-masing. Lalu, apa yang Gue dengar barusan? Siapakah yang barusan mengobrol dan memperebutkan Gue? Mereka udah tidur nyenyak ternyata. Dan kalau tidur berarti mereka gak saling ngobrol. Sebab tidur itu matanya merem. Kalau ngobrol itu pake mulut. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

O, ternyata itu adalah halusinasi Gue. Ah, sial. Mungkin halusinasi itu adalah efek obat mencret yang tadi Gue tenggak bersama segelas kopi item. Dan beginilah efek yang muncul dari perpaduan itu. Halusinasi terkadang emang gak sesadis kenyataan. Kenyataannya Gue masih sendiri. Dan hanya berteman nyala api.

Bosan dengan sendiri dan hanya menatap nyala api Gue bangkit. Bangkit dari duduk dan sebentar duduk lagi. Gagal move on. Susah sekali hati ini buat move on. Menjadi asing atau merasa sepi diantara kerumunan ramai orang-orang adalah penjara yang paling sadis dan memilukan. Akhirnya Gue ikutan Ari, Ventus, Beni, dan Afif, yang tengah asyik main kartu remi itu.

Gue hanya menonton mereka main aja. Sebab permainan kartu remi hanya bisa dimainkan oleh empat orang. Selebihnya adalah penonton. Itu adalah sebuah aturan yang udah dikeluarkan oleh World Boxing Association. Gue pun hanya bisa bahagia dengan menonton mereka bermain. Tapi itu sudah menjadi obat yang cukup mujarab buat mengobati kerinduan Gue akan tinju.

Selepas main kartu mereka ngantuk. Dan karena ngantuk mereka pun akhirnya ngopi lagi. Ngopi buat mengusir nyamuk yang makin ganas menggerogoti darah yang biru ini. beberapa yang lainnya tidur. Dan beberapa lagi masih terjaga dan ngopi. Gue masuk ke salah satu kategori yang beberapa itu. Yang masih tejaga dan masih ngopi, sambil sesekali menahan kantuk yang membabi haram.

Hari kian dini. Dini hari maksudnya. Kerlap-kerlip bintang minta untuk diamati. Kerlipnya beradu terang dengan kerlip lampu di bawah sana. Sejauh mata memandang hanya cahaya yang memancar dari balik buana yang kian pekat ini. Dan cahaya itu menjadi teman paling setia bagi malam yang gelap.

Gemintang di atas di angkasa raya sana kian terang saja. Padahal malam kian gulita. Dan mata menjadi kian jelas memandangi kerlipnya itu. Kita justru semakin puas melihat sinar bintang dan rembulan ketika malam tengah gelap gulita. Mungkin itulah pertanda sebuah esensi hidup dan mimpi. Bahwa semakin gelap perjalanan hidup, maka semakin teranglah gambaran akan tercapainya sebuah mimpi.

Semakin gelap hidup semakin dekat kita dengan pencapaian mimpi-mimpi.

Oh, Geulis yang malamnya bertabur cahaya bintang, aku padamu.

 

Gunung Geulis II. 2012