Balas Membalas Dendam

Posted on April 6, 2015

0



Joker Membalas (dok klosetide)

Joker Membalas (dok klosetide)

INT. KAMAR/ RUMAH/ PKL 11.00 WIB.

Benar adanya. Jika pada kenyataannya aku bangun siang hari ini. Sekali lagi, dan lagi seperti biasanya.

Oleh ilham yang sampai lewat mimpi, aku langsung tergopoh menuju dapur. Sesuai petunjuk, kujumpai remah-remah nasi berserakan di atas meja makan. Pasti ia yang telah berbuat keji seperti itu. Dugaku, pasti ia masuk tanpa permisi oleh sebab ibuku yang lupa membiarkan pintu dapur lebar terbuka. Saat ia menjumpai ada nasi di atas meja makan yang tak tertutup itu, ia kemudian langsung menghabisi nasi dalam piring. Aku yakin begitu kronologinya.

Adalah sepiring nasi goreng yang menjadi pelampiasan kebuasannya itu. Bukan soal nasi gorengnya yang kusesalkan. Tapi, sampai pada akhirnya nasi goreng itu masuk ke dalam perutku, pada akhirnya dan seharusnya begitu. Nyatanya itu tak terjadi. Nasi malah berpindah masuk ke dalam perutnya.

Adalah benar kata pepatah: Kalau kamu bangun siang, maka rejekimu dipatuk ayam.

Aku menyesal sementara. Tapi, tak begitu terlampau lama. Tak berlarut pula. Dan langsung kucari jalan keluarnya.

Setelah terpikir, nampaknya memang aku harus membalas dendam. Biarlah ia puas tertawa terbahak karena telah mengerjaiku, mengambil jatahku. Tapi, ingatlah, itu hanya berlangsung sesaat. Tuhan tidaklah buta. Ia Maha Melihat, perbuatan kotormu, yang mengambil jatah orang lain, itu jelas tak bisa dibiarkan oleh-Nya, terutama olehku!

Maka, aku pun mencoba keras untuk melampiaskan dendamku. Ini sudah kesumat, mencapai puncak amarahku. Sehingga dengan berpikir matang-matang kuambil segera pisau di dapur. Kuasah sehingga menjadi tak tumpul. Kuujicobakan ke lengan pelepah pisang di belakang rumahku. Dan benar saja, ia tajam bukan kepalang. Sekali tebas, rontok itu pisang punya lengan.

Kubiarkan hari bergulir hingga menjadi sore. Kuhapal betul jika ia akan masuk ke dalam kandangnya sesaat sebelum adzan magrib.

Syahdan, sudah terdengar adzan lamat-lamat. Aku masih menanti momen itu. Aku, sejenak lagi, akan melakukan sebuah pembunuhan yang telah kuskenariokan. Ya, pembunuhan berencana, jika saja ia tahu hukum pidana.

Adzan magrib telah hilang dari telinga dan berganti dengan keokannya. Kini ia resmi tengah kupegang lehernya. Dan berkat bantuan tangan yang lain, aku goreskan sisi tajam pisau tepat di atas lehernya yang naik turun oleh tarikan napasnya yang tercekat, yang di situ nasi gorengku sempat lewat melaluinya pagi tadi.

“*$#@*&^%#!!…” Erangan terakhir keluar bersamaan dengan keluarnya napas yang terakhirnya.

Sementara minyak goreng di atas kompor telah panas bergolak, aku puas bukan main rasanya. Dalam hitungan menit aku akan memakan ia yang telah memakan makananku pagi tadi. Ha-ha-ha.

Sehingga sampailah aku pada sebuah kesimpulan jika pembalasan dendam adalah sebuah ritus kuno yang sudah ada semenjak zaman Adam Hawa lampau. Ihwal yang dimulai oleh sebab nasi goreng yang termakan bukan oleh si kuasa dan berakibat pada marahnya si kuasa itu, sehingga ia memutuskan untuk melakukan penyembelihan. Sungguh sebuah pemantik simpel yang berakibat fatal, memang.

Buatku begini, pembalasan adalah saat aku marah sebab sarapan pagiku direbut oleh perut lain lalu aku gantian memakan ia yang telah memakan sarapan pagiku itu. Tanpa penyesalan, aku puas dan bahagia.

Hari ini, telah kucukupkan dendamku, telah kusempurnakan kodrat-Nya, dan kulancarkan rencanaku.

Dan, ya, itulah balas dendam, yang aku yakin, Tuhan bolehkan.

EXT/INT. MIMPI/ DALAM TIDUR/ PKL 07.00-00.10.59 WIB.

Seekor ayam tengah khusyuk mengintip dari pekarangan sebuah rumah. Kedua matanya yang berada di samping itu tajam mengamati aktivitas yang tengah berlangsung dalam sebuah dapur. Gerak-geriknya sungguh tenang.

Menunggu lengah, pelan-pelan ia melangkah mendekati pintu dapur. Masih mangamati dengan seksama. Dalam jalinan waktu yang terus bergulir, ia pastikan untuk masuk.

Sepiring nasi tersaji di atas meja makan yang terbuka. Tanpa ada siapa-siapa. Tanpa dijaga oleh sang empunya. Dengan hanya nalurinya, ia langsung memanjat meja dan menyantap sarapan yang jelas disiapkan bukan untuknya. Ia santap dengan lahap tanpa banyak cakap.

“Hush! Hush!”

“Suara siapa itu? Pasti ia bermaksud mengusirku dari tempatku yang nyaman.” Ayam itupun menoleh. Matanya mencari gerangan suara itu muncul. Setelah tahu bahwa yang dijumpainya adalah seorang manusia yang tubuhnya terikat oleh tali di pojok dapur, sedikit ia berjingkat. Sejenak kemudian, ia lanjutkan prosesi santap nasinya.

“Jangan kamu makan jatahku!” Kata manusia yang tubuhnya terikat itu dari jarak 4 meter dari tempat kejadian perkara.

Si ayam nampak tak menggubrisnya. Pikirnya, “Ah, apa yang bisa dilakukan oleh manusia yang tak berdaya yang tubuhnya terikat oleh tali itu. Untuk bernapas saja susah, jangan harap kamu bisa mengusirku yang tengah sarapan ini.”

Manusia muda itu benar-benar tak berkutik, benar-benar tak bisa menggerakkan badannya kecuali untuk mengoceh. Larangnya tak berarti banyak. Toh, si ayam sudah pergi setelah kenyang menghabiskan seporsi penuh nasi goreng. Ia kembali menuju tempat hidupnya yang nyaman dan damai dalam guyuran mentari pagi.

“Sial! Awas kamu nanti. Akan kubalas kalau aku sudah bisa lepas dari jeratan tali ini!”

EXT/INT. PEKARANGAN/ DAPUR/ PKL 05.00 WIB.

Nyaring kokokku mengiringi singsing fajar di ufuk timur. Hari ini aku biasa dan seperti biasa bangun pagi. Namun, aku tak sangka jika pagi ini menjadi pagi yang tak biasa seperti pagi-pagi yang lalu yang biasa kulalui. Dan, inilah hari dimana aku menerima rejeki pagi, yang sungguh tak kusangka-sangka.

Saat dimana manusia muda yang rajin bangun siang itu masih menguntai mimpi. Sementara aroma sedap terendus dari sebuah dapur yang keluar mengular dalam rupa asap putih lembut. Aku songsong aroma itu sebab aku yakin pasti bahwa setidaknya ada makanan pagi.

Aku tak segan apalagi sungkan untuk menerima kasih Tuhan lewat istilah yang manusia namakan itu rejeki. Langkahku pasti. Perlahan-lahan mendekati.

“Kapan lagi ada pagi yang seperti ini.”

Aku masih mengintip, bersembunyi di balik dinding saat seorang perempuan setengah baya itu masih sibuk santai di dalam dapur. Ia terlihat asyik menyantap makanan yang ia masak sendiri dengan tangannya. Lalu, sepiring lagi masih tersisa. Aku tak sempat percaya diri nasi itu buatku. Pasti saja itu buat sarapan anaknya yang rajin bangun siang itu.

Tanpa bermaksud mencuri, sebab dari jenisku tak mengenalnya begitu, aku langsung saja sampai pada maksud inti, menikmati nasi. Tentu saja setelah sebelumnya sang pemilik, perempuan setengah baya, entah karena lupa atau memang sengaja meninggalkan meja makan dalam kondisi tanpa terali. Aku menaiki meja dan tanpa basa basi menikmati nasi yang sungguh jauh dari kondisi basi.

Aku tahu kamu tahu akan kondisi perutku dan situasi yang mendukung untukku melakukan itu, bukan? Dan, ketika kesempatan terbuka lebar, maka akan membuka pintu niat yang tadinya tak terpikirkan. Kehidupan ini bergerak dalam waktu, yang di situ ada kasih Tuhan bagi mereka yang punya niat dan kesempatan. Terjadi, maka terjadilah. Itu Tuhan punya janji. Dan, aku menjalankan peranku dengan baik.

Tanpa berisik nasi sudah kosong. Tanpa usik aku asyik memenuhi tembolokku dengan sepiring nasi goreng. Dan, waktu bergulir tak peduli seperti tak pedulinya si pemilik jika sarapannya telah kunikmati. Setiap perbuatan itu ada balasannya, bukan? Dan, ya, perbuatan manusia yang tak pernah lihat matahari pagi itu terbalas. Olehku, sarapannya tandas!

Wahai engkau manusia yang senantiasa rajin bangun siang, rejekimu benar-benar kupatuk tanpa belas kasihan. Ha-ha-ha.

INT. TOA MASJID/ BUMI/ SUBUH.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar..

……………………………………….

Asshalatu hairum minannaum..

……………………………………….

Maka, ingatlah senantiasa jika shalat itu lebih baik daripada tidur.

Posted in: Article