Pangrango Hadap Kanan

Posted on March 12, 2015

0



Di Mandalawangi (dok klosetide)

Di Mandalawangi (dok klosetide)

 

Kabut tipis turun pelan-pelan di Lembah Kasih

Lembah Mandalawangi..

Gara-gara puisinya Soe Hok Gie itu akhirnya Gue putusin pacar Gue. Gak ding Gue ‘kan jomblo, yang jadi idola. Maksudnya mutusin buat ngedaki gunung. Dan gunung yang dimaksud adalah Gunung Pangrango. Gue penasaran dengan yang namanya Mandalawangi. Lembah Mandalawangi adanya cuma di puncak Pangrango. Katanya sih indah plus romantis gitu Lembah Mandalawangi. Atas dasar rasa kepenasaranan itulah Gue akhirnya mendaki. Sebenarnya gak juga sih, cuma pingin aja ke sana.

Gue start dari Bandung. Dan dari Bandung Gue ajak seorang sahabat alam ikut serta. Namanya adalah Abid. Abid adalah teman Gue pastinya. Kalian pasti penasaran siapa gerangan Abid itu, khan? Makanya ini Gue kasih tahu. Sekarang kalian pasti udah tahu siapa Abid. Soalnya barusan Gue udah kasih tahu.

Tapi, Gue yakin kalian belum tentu kenal sama Abid. Padahal kata pepatah ‘Tak kenal maka taaruf’. Jadi, siapa yang mau taaruf sama Abid? Ah, kalian tentu gak akan mau. Soalnya khan belum kenal sama Abid. Sayang banget, padahal Abid orangnya baik lho. Suka nyuciin baju dan nyetrikain baju, punya sendiri.

Seorang sahabat alam ikut bergabung juga dari Jakarta. Dia adalah Farhan. Dia itu yang ngajakin Gue mendaki Lawu. Farhan itu temannya Abid. Abid teman Gue. Gue sama Farhan juga temanan. Abid juga temanan sama Farhan. Jadi Farhan dan Abid teman Gue juga. Intinya kami bertiga temanan deh.

Biar gak bingung, makanya Gue jelasin di awal. Tapi, jawab jujur, kalian masih bingung gak dengan pertemanan kami ini? Kayaknya sih udah ngerti and gak bingung lagi ya. Kalau masih bingung juga ya pegangan. Atau biar gak pusing-pusing pokoknya kami bertiga itu temanan udah lama, soalnya satu kampus dan satu tongkrongan. Sama-sama nongkrong kalau lagi di atas kloset. Sebabnya kami bertiga sama-sama anti-kloset duduk.

Sore-sore kita pergi ke Cileunyi. Kita itu Gue sama Abid. Kita ke Cileunyi buat naik bus. Naik bus biar kita bisa sampai ke Cobodas. Di Cibodas itulah nanti kita bakal naik ke Pangrango. Jadi kalau mau naik ke Pangrango perjalanan dimulai dari Cileunyi. Soalnya di sana banyak bus ngetem dan mengantri. Orang-orang pun ramai-ramai pada ke situ. Ke Cileunyi buat naik bus juga. Mau pada kemana mereka? Ah, entahlah. Itu urusan mereka masing-masing. Ngapain juga kalian nanya-nanya.

Pada sebuah bus berwarna biru dan ada garis kuningnya juga kita naik. Dalam sebuah bus yang sopir dan kondekturnya memakai baju dan celana itu kita duduk. Bus itu jurusan Tasik-Jakarta Via Puncak. Nama busnya rahasia. Jadi kalian gak usah nanya dan pingin tahu apa nama bus yang kita tumpangi itu. Gak semua tanya itu terjawab. Sebab di dunia ini ada yang namanya misteri. Dan misteri itu adalah film-filmnya Suzana. Sedangkan film-film komedi adalah milik Warkop DKI. Pokoknya kita naik bus yang selalu direstui sama ibu-ibu, soalnya nama busnya Doa Ibu.

Crittt..

Itu suara rem bus. Bus berhenti karena sang sopir mengeremnya. Karena bus berhenti, maka Gue dan Abid pun turun. Sampailah kita di gerbang sebuah jalanan bertuliskan Cibodas.

“Dari Cibodas trus kemana lagi?” Itu tanya Gue dalam hati.

“Cibodas 4 KM.” Begitu jawab sebuah papan besi yang terpampang dekat gapura.

Dari bocoran papan besi itu jelas bahwa ini bukan base camp pendakian. Dan kita pun lalu memutuskan untuk naik angkot warna kuning. Konon, angkot itu biasa mengantarkan para pendaki yang ingin mendaki Pangrango. Maka kita pun naik ke dalam angkot itu.

Angkot melaju pelan. Sebab jalanannya menanjak. Di dalam angkot ada Gue, Abid, dua orang ibu-ibu, seorang bapak, dua orang anak sekolahan cewek dan cowok, seorang yang mukanya kayak sopir, dan seorang lagi yang tingkah lakunya mirip kondektur. Mereka itu semuanya diam-diaman. Gak saling ngobrol. Sebab mereka gak saling kenal satu sama lainnya. Padahal untuk ngobrol gak harus saling kenal. Ngobrol itu khan cuma modal mulut, bukan modal dengkul.

Gue tadinya mau ngajak ngobrol sama anak sekolahan yang berjenis kelamin perempuan yang duduknya di depan Gue itu. Sayangnya disampingnya ada seorang cowok. Tebakan Gue dia itu cowoknya, mungkin pacar si cewek yang berseragam sekolah itu. Dan Gue gak berani mengusik ceweknya. Sebab cewek itu masih pakai seragam SD.

Belum juga satu jam dalam angkot sang kondektur tiba-tiba saja berteriak. Suaranya kencang. Memaksa seluruh penumpang untuk turun. Gue masih kucek-kucek mata. Kaget dan bangun dari tidur ayam Gue. Apakah ada sabotase? Ah, ternyata bukan sabotase. Udah sampai di base camp pendakian katanya. Uh, gara-gara keseringan nonton film tentang pembajakan pesawat Gue sering parno jadinya. Aneh. Padahal Gue lagi naik angkot bukan pesawat.

Kita pun turun. Sebelumnya Farhan udah SMS untuk ketemuan di warungnya Mang Idi. Di situ emang ada warung. Tapi jumlahnya puluhan. Jadi warung mana yang punyanya Mang Idi? Takut tersasar Gue pun SMS Farhan kembali.

Pesan dikirim: Warung Mang Idi dmn Han?

Pesan diterima: Di Cibodas, Bro.

Pesan dikirim: Yg warna biru ya?

Pesan diterima: Iya.

Pesan dikirim: O, iya. Warung yg warna biru ada dua puluh. Yg mana?

Farhan lama gak balas SMS terakhir Gue. Mungkin dia lagi nyari-nyari jawabannya. Soalnya emang semua warung di Cibodas berwarna biru.

“Tuh itu warung Mang Idi, Jaw.” Abid memberi tahu. Jaw itu panggilan Abid ke Gue. Jaw itu kependekan dari Jawa. Kata Abid karena Gue orang Jawa jadi dia manggil Gue Jaw. Abid salah. Padahal Gue orang Tegal.

Kok Abid hapal ya dimana warung Mang Idi? Gue membatin. Oh, ternyata ada tulisannya di depan warungnya, ‘Waroeng Mang Idi Tea’. Tea itu bahasa Sunda, artinya ini. Kalau dalam bahasa Inggris tea berarti teh. Teh itu dalam bahasa Sunda kependekan dari Teteh, panggilan untuk kakak perempuan.

Andai saja Gue lebih jeli tadi pasti Gue gak akan rugi 450 perak buat SMS Farhan bertanya soal keberadaan warung Mang Idi. Sungguh gak penting. Sudahlah. Itung-itung amal ke provider telekomunikasi. Semoga menjadi ibadah. Amin.

Tapi, entah kenapa Gue SMS Farhan lagi.

Pesan dikirim: Han Gue udah sampe. Kalo udah di Cibodas ntar lo cari warungnya yang ada tulisannya Mang Idi ya. Jgn yg warna biru soalnya semuanya warna biru. Titi dj.

Pesan diterima: Gue udah di dalem, Bro.

Pesan dikirim: Di dalem mana?

Pesan diterima: Di warung Mang Idi lah.

Pesan dikirim: O ya udah, ati2.

Gue SMS buat yang terakhir kali. Untuk kedepannya Gue gak SMS dia lagi, soalnya Farhan udah nyampe ke warung Mang Idi duluan ternyata.

Gue dan Abid masuk ke dalam. Di sana udah ada Farhan tentu saja. Kami bertegur sapa dan bersenda gurau. Sebab kami adalah sahabat yang saling kenal, dan sesama sahabat harus saling ngobrol. Kalo diam-diaman gak enak sama tetangga. Takut dibilang lagi gak harmonis.

Puas ngobrol Abid pingin salat. Dia lalu minta izin ke Gue dan Farhan. Aneh, Gue dan Farhan bukanlah guru sekolahnya ngapain Abid harus minta izin ke kita. Jadi, kita mempersilakannya buat salat. Akhirnya Abid salat setelah meminta izin.

“Kiblatnya hadap mana, Mang?” Itu tanya Abid kepada seorang lelaki tua di sana.

Kaditu, Cep.” Jawab orang yang dipanggil Abid dengan sebutan Mang. Tangan si Mang sambil menunjuk ke arah sana. Kaditu itu artinya ke sana. Ke sana mana? Ya sana kiblat. Mang itu sama artinya dengan paman. Cep itu panggilan buat anak lelaki Sunda. Cep itu Abid. Soalnya Abid itu lelaki Sunda. Jadi Abid itu dipanggil Cep. Tapi, dia bukan ponakannya si Mang tadi.

Abid bertanya dan Gue pun mendadak kepingin nanya juga.

“Mang Idi ya?” Itu Gue yang berspekulasi.

“Iya.” Jawab orang yang ternyata benar Mang Idi.

“Damang, Mang?” Tanya Gue lagi. Damang itu bahasa Sunda artinya sehat atau baik.

“Pangestu, Cep,” jawabnya tegas. Pangestu itu artinya baik. Mang Idi garuk-garuk kepala mungkin karena kepalanya gatel. Terus melanjutkan, “Agus ya?”

“Iya, Mang.” Jawab Gue yang disangkanya Agus.

“Ih, kamana wae atuh? Kemana aja?” Tanyanya lagi. Mukanya belum yakin kalau yang diajak bicara adalah benar-benar Agus.

“Ah, ada, Mang. Eh Mang, mau tanya boleh?”

“Ya boleh atuh, Gus. Sok atuh nanya naon?” Mang Idi mulai akrab dengan Agus yang itu adalah Gue. Sok itu artinya silakan. Atuh itu artinya dong. Dan naon itu artinya apa. Iya, apa artinya? Naon itu apa. Itu bukan nanya, tapi emang naon itu artinya apa.

“Kalo Pangrango tuh hadap mana ya, Mang?”

“Hmm..” Mang Idi kayaknya bingung. Kelihatannya dia mikir. Soalnya garuk-garuk kepala lagi. Atau emang dia jarang keramas? Entahlah. Terus ngelanjutin, “hadap mana ya?”.

“Eh, Mang, nanti aja dijawabnya kalau Mang idi bingung mah. Tapi, Mang harus udah punya jawaban ya kalau nanti Agus kesini dan ketemu Mang lagi. Buat PR aja.” Gue pun melenggang meninggalkan Mang Idi yang masih pusing memikirkan jawabannya.

Gak terasa waktu udah menunjuk pukul satu dini hari Waktu Indonesia Cibodas. Dan pendakian akhirnya dilakukan besok pagi setelah sarapan. Itu kata Farhan. Dia itu leader pendakian. Dia ditunjuk jadi leader bukan sebab jago memimpin. Itu karena dia lah yang paling tua diantara kita berdua, Gue dan Abid. Menurut ilmu primbon pemimpin itu sebaiknya dipilih berdasarkan usia. Semakin tua usia maka semakin memutih rambutnya.

Ayam pun berkokok. Itu tandanya si ayam lapar. Fajar kemudian menyingsing. Itu tandanya si Fajar mau berangkat sekolah. Fajar itu mungkin anaknya Mang Idi. Pagi-pagi dia bersalaman dengan orang tuanya dan minta izin berangkat sekolah. Dan Gue tahu jika hari sudah pagi dari Abid. Dia barusan menggoyang-goyangkan badan Gue terus bilang, “Bangun Jaw udah jam 6.” Dan Gue pun bangkit dari kasur.

Mandi, setelah itu langsung ngopi. Gue, Abid, dan Farhan, duduk bareng dan saling menikmati secangkir kopi masing-masing. Ditemani oleh sepucuk roti sebagai sarapan pagi. Inilah sarapan khas para pendaki. Selesai itu, kami langsung bergegas bersiap melangkahkan kaki.

Jam tujuh lebih sebelas detik Waktu Indonesia Cibodas kami bertiga mulai melangkah naik. Sebelumnya Abid memimpin doa bersama. Kenapa harus Abid? Sebab dia lah yang nampaknya paling soleh. Jidatnya lebih menghitam daripada Gue apalagi Farhan. Teriring Basmallah kami melangkah. Menapaki jalanan menanjak. Dengan ditemani oleh kicauan burung emprit, tetesan embun pagi, dan sejuknya udara Pangrango. Oh, indahnya Pangrango.

Naik-naik ke puncak gunung

Tinggi-tinggi sekali

Kiri kanan kulihat saja

Banyak pohon cemara

Itu Gue yang berdendang sendiri. Mengusir sepi. Menemani nyanyian alam pagi hari. Tapi, lama-kelamaan kok malah Gue yang ngerasa sepi. Gue berhenti bernyanyi. Eh, suasana malah makin sunyi. Lalu Gue mutusin buat nyanyi lagi.

Lihat kebunku penuh dengan bunga

Ada yang merah dan ada yang putih

Meletus balon hijau dorrr

Eh, kok kesitu ya? Kayaknya salah deh.

“Yang meletus itu balon hijau atau merah, Han?” Gue nanya ke Farhan yang terus melaju jauh di depan.

“Apanya?” Farhan menengok dan menjawab sambil masih ngos-ngosan.

“Itu lho Han, lagu Balonku. Yang meletus balon hijau atau merah ya?”

“Hijau, Bro.”

“O, iya.”

Setelah mendapat jawabannya Gue nyanyi lagi. Biar gak kerasa capeknya.

Setiap hari kusiram semua

Mawar melati semuanya indah

“Eh di Pangrango ada mawar ama melati gak, Han?” Gue nanya dengan nada suara yang lebih kencang ke Farhan lagi. Dia mulai menjauh.

“Gak ada.” Teriaknya.

“Adanya bunga apa ya?” Gue teriak lagi.

“Edelweis.” Farhan pun terlihat kecil di kejauhan sana.

“O, iya. Edelweis.”

Gue jalan lagi. Tapi, Gue masih bingung dengan bunga itu. Gue pun akhirnya mengeluarkan hape dari kantong celana. Dan mulai mengetik SMS. Farhan semakin gak kelihatan di depan.

Pesan dikirim: Han yg bener tuh edelweis, edelwes, ato edelwess ya?

Dan sampai semenit berlalu belum juga ada balasan dari Farhan. Padahal ini masih di lembahan dan belum terlalu tinggi, jadi kemungkinan masih ada sinyal. Di sini juga masih banyak BTS. Jadi pasti ada sinyal. Cuma Alfamart yang bisa ngalahin keberadaan BTS. Soalnya Alfamart itu ada di tempat dimana sinyal gak ada. Tapi, kenapa Farhan gak balas ya? Ah, mungkin jempolnya pegal-pegal dan gak bisa ngetik SMS. Ya sudahlah. Entar aja ditanyain langsung.

Gue bergegas cepat. Dan di depan sana Farhan ternyata lagi duduk santai. Dia udah beristirahat sambil kelepas-kelepus menyedot linting tembakaunya.

“Abid mana?” Tanyanya sesaat Gue sampai dan duduk di sampingnya.

“Eh, Han yang bener tuh edelwes, edeilweis pake i, ato edelwess dobel s ya?”

“Bener semua! Yang salah itu lo ngapain nanya-nanya kayak gitu.” Farhan menjawab. Suaranya agak keras. Mungkin dia kesal. Kesal kenapa? Gue pun gak tahu.

“Abid mana?” Farhan mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.

“Itu di belakang.” Gue menjawab singkat.

Gak lama Abid pun muncul. Dia langsung ikut kongkow bareng kita, Gue dan Farhan, duduk selonjoran.

Udah jam dua belas lebih dua puluh satu. Gue tahu betul sekarang udah masuk waktu zuhur. Padahal gak ada suara azan tapi Gue tahu. Soalnya biasanya masjid samping kosan jam segini udah azan. Sebelumnya Farhan memberitahukan kalau di sini adalah Pos Kandang Badak tanpa cula. Dan dia bilang kita makan siang dulu di sini. Makan siang di Kandang Badak, tanpa ditemani oleh badak-badak.

Logistik lalu dikeluarkan bersamaan dengan alat masak dan alat makan. Abid salat zuhur. Gue dan Farhan masak. Nanti kita bergiliran untuk salat. Masakan matang pas Abid udah beres salat. Selesai salat Abid makan, Gue juga makan, dan Farhan sembahyang. Selesai sembayang Farhan berdoa. Setelah berdoa Gue gak tahu lagi dia ngapain. Itu urusan dia. Ngapain Gue perlu tahu. Pokoknya setelah itu dia ikut makan bareng kita berdua. Selesai makan Abid dan Farhan kemas-kemas. Dan Gue pun keramas.

Packing usai dan perjalanan dilanjutkan. Kata Farhan kalau lancar maka magrib kami bakal sampai di puncak. Magrib itu biasanya jam enam. Sedangkan sekarang masih jam satu lebih sedikit. Artinya masih ada sekira lima jam lagi dari Kandang Badak mencapai puncak. Lima jam itu lama. Soalnya jalannya menanjak. Coba kalau lurus pasti gak berkelok.

Kami bertiga kembali lagi menapak. Manapaki jalan menanjak. Merambati detik demi detik. Melompati tanah berlubang yang sesekali becek. Sesekali beristirahat dari segala macam gerak. Berkali-kali membuka tutup botol yang airnya perlahan berkurang sebab diambil teguk demi teguk. Gak terasa pula keringat deras mengucur menyebabkan bau asem di sekitar ketek.

Akhirnya sampailah kami di sebuah tanah yang sedikit lapang. Di sebuah tempat dimana udah gak ada lagi tanah yang lebih tinggi lagi untuk ditapaki. Inilah puncak Pangrango. Waktu itu hari udah mulai gelap. Hampir jam setengah tujuh. Benar juga kata Farhan, magrib kami sampai.

Alhamdulillah.

“Puncak, Bro.” Farhan berteriak riang.

“Puncak Pangrango yeah!” Abid pun ikut girang.

“Kita mau ngapain di puncak, Han, Bid?” Gue bertanya kepada mereka berdua yang berdiri di samping Gue.

Dan gak ada jawaban sepeser pun keluar dari mulut keduanya. Mungkin mereka gak dengar pertanyaan Gue barusan. Atau mungkin mereka masih dalam euforia mencapai puncak. Ataukah emang pertanyaan Gue yang gak penting ya? Ah, sudahlah. Yang penting sampai puncak juga akhirnya.

Kami mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kami membikin air hangat. Untuk apa? Untuk ngopi dan merebus mie. Setelah air masak, maka kami bertiga mengawinkan gula dan kopi menjadi segelas kopi yang serasi. Sisa airnya kami gunakan untuk merebus mie instan sehingga mie menjadi lunak dan enak dimakan. Setelah ngopi kami makan. Setelah makan kami salat magrib dan isya sekaligus. Dijamak. Setelah salat kami masing-masing mengisi kepompong tidur untuk tidur. Setelah itu kami memasuki alam mimpi masing-masing. Dan Gue berdoa semoga dalam mimpi gak ketemu lagi sama Abid dan Farhan. Sebab udah cukup bertemu keduanya di alam sadar aja.

Semoga Gue bisa bertemu Citra Kirana di alam mimpi. Di alam yang di sana terdapat taman. Taman yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang harum dan mewangi. Di taman yang di bawahnya mengalir air jernih sejernih air liur burung walet. Dan berharap semoga itu semua bakal menjadi kenyataan. Amin.

Kukuruyukkk..

Terdengar suara ayam jago berkokok. Ini di ketinggian 3.000 MDPL ayam siapakah itu? Oh, ternyata itu bunyi alarm dari hape Gue. Gue cekik aja ayam sialan itu.

Udah jam lima pagi. Itu artinya kami semua harus menunaikan salat subuh. Tapi, rasa-rasanya mata sulit banget dibukakan. Badan pun terasa dingin minta push up. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Gue tarik lagi kepompong tidur. Gue minta extra time sepuluh menit lagi. Setelah itu pasti bangun. Maaf, Tuhan, ini mah benaran dingin. Gue pun memejamkan mata lagi.

Uh, sungguh hebat setan-setan di puncak Pangrango. Mereka membuat kami sungguh telat bangun. Gak terasa matahari udah tinggi. Ternyata hampir jam sembilan Waktu Indonesia Pangrango. Sial.

Semuanya bangkit dari tidurnya. Lalu bergegas membikin kopi. Setelah sarapan pagi kami langsung beranjak menuju Lembah Mandalawangi.

Oh, Lembah Mandalawangi, Gue datang.

Mahameru abadikan damainya di dalam beku Arcapada

Mahameru sebuah legenda tersisa puncak abadi para dewa

Lho kok malah lagu Mahameru yang terdengar. Ah, Gue salah nyetel soundtrack. Gue sadar Gue salah backsound akhirnya Gue ganti aja lagu yang pas.

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi

Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

Lagu Cahaya Bulan pun mengalun dari MP3 hape Gue. Ini baru themesong yang cocok dan pas. Akhirnya Gue menjejak Lembah Cinta, Mandalawangi.

Mandalawing emang romantis. Kabut tipis menghiasi pagi di sini. Pucuk-pucuk daun dihinggapi oleh bulir-bulir embun. Ladang edelweis memenuhi lembah, menjadikannya kian nampak cantik. Pingin rasanya berlama-lama di sini dengan ditemani oleh seorang bidadari.

“Eh, bidadari itu orang atau bukan, Han?” Itu Gue bertanya sebab bingung dan penasaran dengan makhluk apakah bidadari itu.

“Bidadari itu jenis jin.” Jawabnya.

“O, berarti gak bisa pake kata seorang bidadari ya? Khan bukan orang.”

“Terserah!”

“Makasih, Han.”

Setelah itu Farhan pun mengajak Gue untuk segera kembali lagi ke tenda. Gue menurut. Abid pun ikut. Lalu kami bertiga ke tenda. Mengemasi barang-barang lagi. Packing.

Hari emang udah beranjak siang. Sebentar lagi pukul sebelas. Kita harus cepat-cepat. Cepat-cepat turun. Biasanya selesai zuhur Pangrango hujan. Jadi sebaiknya kita bergegas sebelum hujan tiba. Kalau hujan pasti basah. Dan kalau basah pasti kena air. Kalau pakaian basah badan pasti jadi dingin. Pokoknya ribet deh. Coba aja kalian basahin pakaian sendiri terus abis itu langsung masuk kulkas. Pasti disangka gila sama tetangga.

Kita pun selesai packing. Kita itu Gue dan Abid. Farhan gak jadi ikut turun bareng kita. Dia masih pingin bertahan di puncak. Ada apa dengan Farhan? Entahlah. Gue juga gak tahu. Hanya Farhan dan Tuhan yang tahu alasannya. Mungkin dia pingin menyendiri dan beromantisme dengan diri sendiri. Pokoknya dia gak pingin diganggu. Jadi Gue dan Abid aja yang turun.

Kita memutuskan buat berlari menuruni puncak Pangrango. Soalnya takut kejebak hujan. Bisa ribet kalau benar kejebak sama hujan sebab kita gak bawa rain coat sama sekali. Hanya berbekal sekaleng Pocari Sweat dan tanpa air setetes pun kita menuruni lereng.

Sejam kemudian kita sampai di Hot Spring setelah melewati Kandang Badak. Di situ kita rest sebentar. Abid mengeluarkan Pocari Sweat satu-satunya. Abid membukanya lalu langsung meminumnya setelah kaleng itu terbuka. Gue kepingin melihat Abid dengan lahapnya menenggak minuman berion itu. Lalu, tanpa malu, Gue pun minta.

“Pocari Sweat itu rasa coklat ya, Bid?”

“Bukan. Rasa strawberi, Jaw.” Jawabnya sambil masih memegang kaleng itu.

“O.”

Abid pun akhirnya gak tega melihat Gue yang dari tadi cuma bisa menelan ludah tok. Dia menawari. Dan Gue langsung aja menyerobotnya tanpa malu-malu.

Glek.. Glek..

Dua tegukan kecil dan kaleng udah kosong melompong. Itu artinya Pocari Sweat udah habis. Kalo habis berarti Gue harus membuang kalengnya ke tempat sampah. Dan Gue pun memasukannya ke dalam ransel Gue. Ransel Gue bukan tempat sampah. Kenapa Gue memasukan kaleng itu ke ransel soalnya di situ gak ada tempat sampah. Dan sebagai pendaki Gue gak bisa sembarangan buang sampah. Apalagi di Pangrango. Membuang sampah sembarangan berarti perjalanan kembali lagi ke atas memunguti sampah yang tertinggal itu.

Hiyattt..

Itu suara angin yang mendorong raga kita sehingga sampai di base camp lagi. Kita sampai di bawah. Dan dengan segera mengunjungi kembali warung Mang Idi. Di sana kita makan siang dan mandi-mandi. Sendiri gak bareng Mang Idi.

Setelah mandi Abid ganti baju. Baju yang dipakainya kelihatan baru. Katanya dia memang beli baju baru bergambar Pangrango. Baju itu dibelinya di warung Mang Idi. Sandal jepitnya pun baru. Dibelinya di sini juga. Sungguh lengkap warung Mang Idi ini.

Setelah mandi Abid lapar. Karena lapar dia memesan makan kepada Mang Idi. Setelah makan dia pun membayar. Membayar nasi yang udah dimakannya dan nasi yang dimakan Gue juga. Dia membayari makan Gue dan makanannya sendiri. Tuh khan Abid emang baik.

Duit di kantong celana Abid terkuras. Setelah berbelanja baju baru dan sandal baru dia membayar makanan kita berdua yang gak kalah mahalnya. Kita berdua makan habis nasinya dan habis duitnya juga. Katanya duit Abid gak tersisa sepeser pun. Terus pulangnya gimana? Itu Gue yang bertanya ke Abid. Dan Abid menjawabnya begini: Tenang aja, Jaw. Entar Gue ambil di ATM. Katanya lagi: Biar miskin yang penting sombong. Makanya dari tadi dia belanja melulu. Tapi, dia menenangkan dengan iming-iming tarik tunai di ATM. Dan Gue pun tenang. Sebab duit Gue juga nipis bin abis.

Turunlah kita sore itu dengan berbekal duit seadanya. Angkot Gue yang bayar. Setelah itu duit Gue tinggal tiga puluh empat ribu perak. Di pinggir jalan kita mencegat bus. Bus yang menuju ke Bandung. Tapi, sebelumnya Abid bilang mau ke ATM dulu. Dia pun menuju ATM yang teronggok dekat gerbang Cibodas. Gue pun membuntutinya dari belakang.

Masuk ke dalam bilik ATM Abid langsung memasukan kartu. Hampir-hampir dia tertukar dan mengambil kartu KTP. Soalnya lampu ATM mati. Jadi karena gelap dia salah ambil. Untung aja mesin ATM jeli dan gak mau menelan kartu KTP. Meski gak sekolah tapi mesin itu pintar.

Abid menunggu. Menunggu kartunya keluar dari mesin ATM. Tapi, setelah semenit gak muncul-muncul. Dia mengotak-atik mesin. Dan usahanya itu sia-sia. Abid bingung. Gue pun bengong.

“Kartunya ketelan ya, Bid?” Gue bertanya.

“Kagak. Lagi maen di dalam mesinnya.” Jawabnya ketus.

“O.”

Gak lama kemudian seorang yang berpakaian seragam mendatangi kita. Baju kemejanya serba putih. Celananya hitam. Di samping pinggangnya terselip sebuah tongkat. Dia pun memakai topi mirip polisi, tapi bukan polisi. Ah semua pasti sudah tahu dia itu siapa. Iya. Dia itu pak satpam.

“Kartunya ketelan ya, Pak?” Dia nanya ke Abid. Pertanyaan yang hampir sama dengan yang Gue tanyain ke dia. Bedanya cuma dipanggilannya. Gue manggil Bid, pak satpam memanggilnya pak.

Tapi Abid gak menjawabnya. Dia cuma mengangguk. Dalam batinnya pasti bilang: udah tahu ketelan pake nanya lagi. Abid cuma bisa membatin. Kayak di sinetron striping yang suka tayang menjelang magrib di tivi.

“Iya, Pak. Mesinnya emang rusak.” Kata pak satpam sekuriti ATM lagi.

Dia pun melenggang pergi. Sedangkan Abid masih membisu. Sebuah peringatan yang sungguh terlambat. Mungkin pak satpam punya keyakinan: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Akhirnya kita kembali lagi mencegat bus di pinggir jalan. Setelah habis buat beli ini dan itu duit kini tinggal sisa dua puluh ribuan. Kalian pasti nanya itu cukup gak buat pulang ke Bandung ya? Jangan tanya deh. Mana mungkin zaman sekarang uang dua puluh ribu perak cukup buat ngebus berdua dari Cibodas ke Bandung.

Terus gimana? Ya udahlah. Serahin saja sama Tuhan Yang Maha Esa.

 

Gunung Pangrango I. 2007

Posted in: Short Story