Ngerjain PR

Posted on March 9, 2015

0



Ngerjain PR )dok klosetide)

Ngerjain PR )dok klosetide)

 

Ini kisah tentang Si Bombom. Dia itu temanku. Temanku, karena aku mengakuinya sebagai salah satu dari ribuan temanku, setidaknya yang ada di phonebook. Tapi, anehnya dia juga mengaku aku ini sebagai temannya. Dia menganggapku sebagai seseorang yang sudah seperti saudaranya sendiri. Padahal, ibu kita berbeda, bapak kita berbeda, dan jenis kelamin kita pun sama: laki-laki.

Malam itu adalah malam minggu dan gelap. Gelap karena memang sudah malam hari, sudah tak ada lagi matahari. Ada rembulan. Ia bulat telanjang. Namanya bulan purnama. Bulan purnama bukan nama orang atau temanku atau juga teman Si Bombom. Ia siapa ya? Ah, tak penting. Pokoknya malam itu malam minggu dan gelap dan bulan purnama. Tapi, di sebagian belahan bumi yang lain tetap terang, terutama rumah Si Bombom karena ada lampu neonnya. Soal berapa watt lampu neon yang dia pakai, itu urusan PLN, bukan urusan kamu.

Jujur saja, meski pengin, malam minggu itu aku tak sedang bersama Si Bombom. Ngapain juga malming (malam minggu) gini bersama dia dalam satu atap? Kamu pasti juga berpikiran begitu, sama denganku. Aku ini laki-laki sama seperti dia. Maka, jika ada dua orang laki-laki berada dalam satu rumah ketika malam minggu, yang ketiga adalah setan. Harus kuakui kalau itu tergolong dalam satu perbuatan yang tidak menyenangkan. Ya, aku di rumahku dan dia dirumahnya sendiri yang dibangun oleh tukang batu dengan memakai uang kertas.

Sungguh, malam ini aku pengin sama dia. Atau setidaknya dia bersamaku malam ini. tolong Tuhan, cukup malam ini saja. Malam-malam yang lain terserah deh kamu mau sama siapa. Pokoknya malam ini kamu, Bombom, harus bersamaku. Pliss!

Itu cuma batinku yang ngomong, tak sempat kuucapkan kok. Meski begitu, aku kok mendadak begitu posesif ya sama dia? Ada apa gerangan dengan hati ini? Bukaannnnn!!! Tolong kamu jangan berpikiran kalau aku ini sudah mulai gak normal, atau mulai mis-orientasi, ya.

Semua rasa yang terkandung dalam hati ini hanyalah rasa seseorang yang lumrah yang datang saat tengah dilanda galau. Galau sebab tugas kelompok yang diberikan oleh Yang Terhormat Bapak Guru Mata Pelajaran Ekonomi haruslah dikerjakan secara berkelompok. Dan, sialnya, aku harus sekelompok dengan Si Bombom, bukan dengan Dewi, Yana, Yani, Yati, atau Firly, semua bunga-bunga sekolah itu.

Dan, badai pun memang harus berlalu. Tugas kelompok ini harus segera kukerjakan, tepatnya kita kerjakan, jika tak pengin mendapat semprotan dari mulut Pak Hadi, Sang Guru Ekonomi itu. Jadi, biar bagaimanapun juga Si Bombom adalah oase di tengah padang pasir tugas itu. Cuma dia yang mau mengerti akan mata pelajaran ekonomi. Dia jago banget kalau soal yang menyangkut urusan ekonomi. Mungkin karena bapaknya yang seorang sopir. Kamu pasti bertanya, apa hubungannya sopir dengan mata pelajaran ekonomi? Bukan karena kebetulan memang jika bapak Si Bombom adalah seorang sopir bus kelas ekonomi.

Bom, ayolah kita kerjakan bersama tugas ini. ‘Kan ini tugas kelompok, jadi harus berkelompok ngerjainnya. Kalau aku sendiri, maka namanya bukan tugas kelompok.

Itu aku yang merayu dia lewat batinku saja, tak sempat kuucapkan karena nyatanya dia tak sedang bersamaku sekarang. Kalau boleh berterus terang sih aku ini lemah dalam mata pelajaran Ekonomi, Matematika, Akuntansi, Bahasa Inggris, sampai Bahasa Indonesiapun, bahasaku sendiri, aku lemah. Aku cuma kuat di mata pelajaran kosong, kalau jam pelajarannya gak diisi oleh guru yang sedang berhalangan hadir entah karena rapat atau kondangan. Jadi, di jam pelajaran kosong itu aku bisa bersama teman atau mungkin sendiri ke warung Bu Joko menongkrong. Uh, asyiknya.

Tapi, dimanakah Si Bombom yang ditunggu? Dia sudah janji untuk datang malam minggu ini ke rumahku.

“Nanti aku samper kamu ke rumah deh.” Itu kata Si Bombom usai pulang sekolah tadi. Dan oleh janjinya itu aku menunggunya di rumahku, bukan di rumahnya, rumah Yati, rumah Dewi, atau rumah sakit tentu saja.

Mungkin ini yang dikata sama pujangga jika menunggu itu sangat tidak enak. Jadi, mending kasih kucing atau ayam jika memang gak enak. Aku pun demikian tidak enaknya, gelisah gak keruan. Seperti rasa pengin eek tapi gak jadi. Rasanya..? Ah, kamu tahu sendiri lah gak usah aku jelasin gimana rasanya menunggu dia keluar.

Akhirnya, aku putuskan listrik lampu di kamarku sendiri untuk keluar dan menuju Wartel (Warung Telepon) karena pengin meneleponnya. Dia memang punya HP, tapi aku tak pengin meng-SMS-nya. Siapa dia sehingga perlu ku SMS. Bukannya aku sombong atau gengsi SMS dia duluan. Karena akunya memang tak punya HP. Dan, dia itu punya telepon di rumahnya alias telepon rumah. Makanya aku menuju Wartel untuk menelepon sebab di rumahku tak ada telepon. Kemudian, sampailah aku di Wartel. Kamu tak perlu bertanya malam minggu begini ngapain aku ke Wartel.

Singkat saja, karena aku tak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana proses aku memencet tombol angka pada pesawat telepon untuk bisa tersambung ke nomor telepon rumahnya. Soalnya aku ingat nomornya. Jadi, ya sudah, kita mengobrol dalam telepon.

“Jadi gak kita ngerjain tugas kelompok, Bom?” Tanyaku di sini, dalam ruang Wartel yang sempit itu.

“Iya, jadi.” Jawab Si Bombom dari sana, rumahnya.

“Yaudah, buruan ke rumahku deh kalau begitu.” Jawabku dari sini.

“Eh, nanti aja ding, besok.” Katanya lagi masih dari sana.

“Lho katanya besok kamu gak bisa harus nganter ibumu ke pasar beli cabe.” Itu aku yang mengingatkannya akan pesannya siang tadi usai sekolah soal dia yang katanya harus mengantar ibunya ke pasar.

“Bukan beli cabe kali.” Dia menyalahkan dari sana.

“Emang beli apa, Bom?” Tanyaku pengin tahu.

“Beli bawang, tomat, beras, minyak goreng, pokoknya beli keperluan dapur deh.”

“O..” Aku cuma bisa mengucap O, lalu melanjutkan, “tapi ‘kan cabe termasuk keperluan dapur, Bom?”

“Iya. Tapi, gak beli itu. Di rumah masih banyak stoknya. Liat aja di kulkas kalau gak percaya.”

  1. Aku tahu sekarang. Dengan dia bilang begitu, maka secara langsung di menyuruhku untuk ke rumahnya malam ini. “Liat aja di kulkas kalau gak percaya.” Aku yakin 100% jika dia telah memintaku mengunjungi rumahnya, tapi dia malu mengaku pura-puranya nyuruh aku liat kulkas. Baiklah kalau begitu.

“Iya, Bom. Bentar lagi aku liat deh.” Itu kata-kata terakhirku sebelum kututup pintu bilik Wartel.

Aku menghampiri Mas Penjaga Wartel untuk membayar karena telah meminjamiku telepon. “Mas, makasih, ya.” Aku berterimakasih setelah mengeluarkan uang receh dari kantong celanaku. Ternyata makasih saja gak cukup di negeri ini.

Sesampainya di luar Wartel aku jadi ingat. Ingat akan obrolan barusan. Kenapa aku malah mengobrolkan soal belanja dapur ibunya, bukan soal tugas kelompok, ya? Aku pun putuskan untuk menelepon lagi. Mengunjungi Mas Penjaga Wartel untuk kembali menggunakan teleponnya. Tanpa permisi, aku langsung saja masuk ke bilik suara.

“Mas, aku pake lagi ya teleponnya?”

“Iya, Mas. Pakai saja. Bayar.”

Itu aku yang bertanya sendiri dan menjawab sendiri.

“Bom, kamu keluar rumah dong.”

“Ngapain?”

“Ih, kita kan mau ngerjain tugas kelompok. Kamu ingat ‘kan PR yang dikasih sama Pak Hadi?”

“Iya. Tapi..”

“Yaudah, kalau kamu gak bisa ke rumahku, biar aku saja yang ke rumahmu.”

“Lho kamu katanya tadi menyuruhku keluar rumah, gimana sih?”

“Iya, ini aku lagi ada di Wartel depan rumah kamu. Seberang jalan ya. Nanti kalau kamu keluar kamu pasti bakal liat ada orang yang melambai-lambaikan tangannya kayak orang yang menyerah dari uji nyali.”

Aku tutup lagi teleponnya karena gak pengin berlama-lama ngobrol di telepon sama dia. Bukannya aku gak setia kawan. Soalnya kalau ngobrol lama bayarnya mahal.

Untungnya Wartel yang kugunakan jaraknya dekat dengan rumah Si Bombom. Jadi, aku gak usah pulang lagi ke rumah. Dan, kamu pasti bertanya kenapa kau malah menelepon dia sedangkan rumahnya tinggal sejengkal lagi. Kenapa gak langsung saja ke rumahnya sih? Biar saja demikian terjadi apa adanya. Itung-itung amal. Biar jadi pahala. Biar bisa masuk sorga.

Akhirnya, setelah detik berganti menjadi menit, dan menit berganti menjadi jam dinding yang dipajang di dalam Wartel sudah menunjukan ke angka 10. Dia yang dinanti tak kunjung keluar dari rumahnya yang berpagar tinggi itu. Kenapa aku tak langsung saja ke rumahnya yang cuma sejengkal dari tempatku duduk ini dan mengetuk pagar besinya dan menemuinya. Itu pikirmu. Pikirku berbeda, sebab aku khawatir ada anjing besar hitam galak yang menggonggong dari balik pagar rumahnya itu. Meski setahuku Si Bombom tak punya anjing model begituan. Dia cuma punya tikus yang tak sengaja dia pelihara dan suka keluar masuk rumah dari got.

Baiklah, Bom. Aku langsung saja menghampiri pagar rumahnya. Dan, setibanya di depan pagar aku menjumpai ada kertas berisi tulisan dengan huruf kapital semua lengkap dengan tanda baca, tanda seru, tanda petik, dan titik pula, ditulis dengan spidol warna hitam yang sengaja digantung di pagar oleh sang penulis yang mirip seperti surat kaleng tapi tak berkaleng, untuk memberitahukan kepada sang penemunya jika si pemilik rumah sedang mengerjakan PR.

“BOMBOMNYA LAGI NGERJAIN PR. JANGAN DIGANGGU.”

Dan langsung aku tahu jika memang dia tak bisa diganggu bahkan oleh serangan badai dan gempuran mortir dari sekutu sekalipun. Aku yakin itu, sedangkan setahuku tak ada PR lain yang guru berikan di sekolah selain PR mata pelajaran ekonomi yang diberikan oleh Pak Hadi yang harus dikerjakan secara berkelompok 2 siswa itu. Kamu pasti bertanya kok aku tahu banget akan itu? Aku ‘kan satu kelas sama Si Bombom. Baiklah. Lalu, kamu bertanya lagi sebab bingung, kok dia bilang lagi ngerjain PR, pasti kamu menuduh Bombom berbohong, ‘kan? Janganlah berpikir demikian. Sebagian prasangka adalah dosa. Dan, aku tak mau berprasangka.

Apa susahnya sih percaya sama orang yang dia adalah sahabatmu sendiri. Jadi, aku percaya saja dan tak pengin mengganggunya. Aku pulang dengan melangkahkan kaki menuju kegelapan malam, sebagian terang karena ada lampu jalanan ding.

Dalam langkahku yang lambat itu aku berpikir, jika berhalangannya Si Bombom ke rumahku untuk mengerjakan tugas kelompok karena sedang ada pacarnya di rumahnya. Aku mau kasih tahu ke kamu sekarang sebuah rahasia. Sebab kamu pasti belum tahu jika Si Bombom sudah punya pacar disaat aku belum punya. Ini rahasia, dan itu artinya kamu gak usah sebarluaskan ke orang-orang kalau pacarnya Si Bombom namanya Putri Rahayu. Teman-teman suka memanggilnya dengan PR, itu singkatan dari namanya. Ah, kamu juga suka menyingkat nama teman-teman kamu, ‘kan? Biar gampang manggilnya: TP, UEA, AS, GSM, DLL, DST.

Jadi, kamu akhirnya tahu kalau yang dimaksud “Ngerjain PR” itu maksudnya demikian seperti yang tersebut di atas, kamu pasti tahu betul. Dan, kamu juga akhirnya tahu jika ada temanku yang bernama Eko Endriarto Kurniawan dipanggil EEK. Soal nama yang terakhir itu nanti aku ceritakan di kisah selanjutnya.

Sekarang aku mau pulang dan mau cepat sampai rumah menembus malam, yang bulannya telanjang bulat itu.

 

Tegal yang Panas, 2003.

 

 

Posted in: Short Story