Mari Belajar Ngelés

Posted on February 4, 2015

0



Risalah Abu Nawas (dok googleimage)

Risalah Abu Nawas (dok googleimage)

 

Kisah Gus Dur

Suatu ketika di dalam sebuah perjalanan Gus Dur beserta rombongannya mampir ke salah satu rumah makan Padang untuk makan siang. Beberapa orang ikut serta dengannya siang itu. Di dalam rombongan ada keluarga, rekan, juga para pengikutnya. Mereka semuanya terlihat duduk rileks setelah menempuh perjalanan panjang. Di antara mereka, ada yang mulai melihat-lihat menu untuk memesan pesanan.

Sebelum pesanan yang diminta tertulis di buku pesanan, seorang pelayan rumah makan nampak membawa mangkuk kecil di tangan kiri dan kanannya. Rupanya, yang disuguhkan itu adalah sayur asem, semacam appetizer alias menu pembuka katanya. Sayur asem itu disajikan dalam wadah mangkuk kecil, tak beda dengan wadah air kobokan jika kita ke rumah-rumah makan.

“Silakan.” Sila Si Pelayan dengan tersenyum. Lalu, melenggang pergi.

Mendengar itu, Sang Kiai—sebagaimana ia biasa dipanggil oleh pengikutnya, dengan tanpa sendok langsung mengangkat tangan kanannya dan meceburkan telapaknya ke dalam mangkuk kecil berisi sayur asem itu dengan maksud mengobok. Reflek, sebelum ia mengangkat telapaknya dari dalam mangkuk, seorang yang duduk di sampingnya lalu menyerunya.

“Itu bukan kobokan, Gus.” Sergahnya cepat.

“Ya, saya juga tahu.” Sang Kiai langsung membalasnya tak kalah cepat. Lalu melanjutkan, “Saya lagi nyari melinjo kok.”

Hadirin pun merespon dengan senyum, tawa, ringisan, bahkan kebengongan. Yang jelas, kesemuanya, dan kesemua responnya, mengarah kepada perihal takjub.

“Ia memang benar bukan orang sembarangan.” Kata hati masing-masing.

Lalu, cerita pun berlanjut sampai menu yang dipesan tersaji. Semua pemesan makan sesuai pesanannya—kali ini tak salah ambil. Sontak, hanya dalam hitungan menit sajian lenyap dari pandangan mata. Yang tersisa tinggal tulang belulang, sisa remah nasi, minyak bekas rendang, dan kuah sisa sayur.

Karena biasanya selalu memakai tangan tanpa sendok untuk makan di rumah makan Padang, maka si empunya rumah makan menyediakan air kobokan untuk cuci tangan. Saat yang lainnya menggunakan air kobokan sesuai kodratnya—untuk cuci tangan tentu saja, Sang Kiai malah menggunakannya untuk keperluan lain. Ia mengambil mangkuk itu dengan tangan kanannya dan menempelkan bibir mangkuk pada bibirnya. Melihat aksi itu, orang di dekatnya, masih orang yang sama pada insiden nyeleneh yang pertama, langsung mencegahnya dengan cara mencegat tangan kanan Sang Kiai. Sebelum air kobokan itu terteguk masuk tenggorokan, tangannya terhenti.

“Itu air kobokan, Gus. Bukan air minum.” Cegah orang itu sigap.

“Ya, saya tahu. Saya cuma mau kumur-kumur saja kok.” Balasnya santai.

“Ha-ha-ha.” Gelak tawa pun terurai dari tiap orang yang hadir.

Hmm..mungkin kalau ada jin yang hadir pun pasti akan tertawa puas mendengar kilahnya itu.

Klise. Selalu ada makna dari setiap cerita. Akan tetapi, tidak menjadi klise soal respon yang muncul dari tindakan itu. Setidaknya ada dua respon yang muncul. Begini, bagi sebagian mereka yang ikut terlibat di dalam ramah tamah itu akan berpikir demikian: “Sang Kiai memang orang sakti”. Atau juga demikian: “Ia memang ‘Setengah Wali’—sebutan sebagai tanda hormat dan sanjungan untuknya dari pengikut-pengikutnya”. Bahkan, yang paling ekstrem akan bilang demikian: “Ah, sudah salah masih bisa ngelés.”

Itulah hebatnya Sang Kiai. Jika tak begitu, ia tak dibilang sebagai Kiai Nyeleneh. Buatnya semuanya mudah saja. Di depannya semua hal menjadi sederhana. Gitu aja kok repot!

Ya, mau bilang apa lagi. Jika memang salah mengira (sayur asem dikira air kobokan), tak mengapa. Manusia itu ‘kan tempatnya salah. Jadi, wajar kalau salah. Jika memang itu dinilai sebagai pembelaannya alias ngelés, ya biarkan. Toh, manusia selalu butuh alasan pada setiap kekeliruannya. Akan selalu ada pembelaan pada setiap tuduhan. Tak usah diperpanjang dan diperumit. Tinggal bilang saja: “Gitu aja kok repot”.

Risalah Abu Nawas

Konon, suatu ketika di dekat tempat tinggalnya ada tetangga yang meninggal. Layaknya seorang muslim yang meninggal, maka jenasahnya pun akan dirawat secara muslim; dengan memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkannya.

Sampai pada tahap ketiga perawatan jenasah semuanya masih berjalan normal. Hingga masuk ke tahap ketiga, yakni menjelang disalatkan, insiden pun terjadi.

Beberapa handai tolan, kerabat, sanak famili, dan kawan sejawat pun bersiap untuk ikut menyalatkan si jenasah. Beberapa saf telah ikut andil dalam penyalatan itu. Beberapa yang lainnya menyusul untuk giliran selanjutnya. Kini, usai disalatkan, jenasah pun siap untuk tahap terakhir, dimakamkan.

Saat beberapa orang bersiap untuk mengangkat jenasah, seorang terdengar bergegas dan meminta untuk jangan dulu menguburkannya. Siapakah gerangan orang yang tergopoh itu? Tak lain adalah ia yang sudah banyak dikenal oleh penduduk sekitar. Ya, Abu Nawas.

Tanpa perlu bertanya kepadanya akan alasan pencegatan itu, semua yang hadir paham, ia pasti akan ikut menyalatkannya. Dan benar saja. Ia langsung mengambil posisi berdiri menghadap si jenasah, lalu memulai takbir untuk menyalatkannya. Sampai pada tahap itu semua hadirin masih duduk khusuk melanjutkan bermunajat untuk kebaikan nasib si jenasah di alam sana. Namun, mendadak suasana jadi sedikit berisik saat Sang Penyalat itu melakukan rukuk, lalu dilanjutkan dengan sujud.

Syahdan, hadirin syok melihat aksinya itu. Asal tahu saja, salat jenasah itu hanya empat kali takbir dan ditutup dengan salam. Cuma itu saja sudah. Tak ada rukun untuk rukuk apalagi sujud. Ketika ada orang yang menyalatkan jenasah dengan menyertakan rukuk dan sujud, semuanya pasti bakal serempak bilang: “Batal.” Artinya, salatnya tidaklah sah.

Sampai pada Abu Nawas membereskan salat jenasahnya itu dengan mengucap salam, sama halnya salat 5 waktu yang wajib, ia langsung mendapat penghakiman dari hadirin yang menyaksikan aksinya itu.

“Wahai Tuanku, apakah seorang Abu Nawas tengah dirundung banyak masalah sehingga dilanda khilaf?” Seorang hadirin memberanikan diri bertanya.

“Apakah aku nampak seperti orang yang khilaf, wahai sahabatku?” Tanyanya balik.

“Bukankah tak masuk rukun untuk rukuk dan sujud ketika menyalatkan jenasah, wahai Tuanku? Cukup takbir saja empat kali.” Serunya lagi.

“Ya. Aku tahu itu, wahai sahabatku.”

“Syahdan, kenapa engkau melakukan rukuk dan sujud tadi. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang masih memberikan penglihatan yang tajam kepadaku.”

“Aduhai Sahabatku. Jika engkau tadi melihatku rukuk dan juga sujud di depan si Fulan, itu tak lebih dari sekadar memberikan hak yang setimpal kepadanya.”

“Wahai Tuanku, apakah maksud ucapanmu itu?” Tanyanya bingung.

“Si Fulan banyak sekali dosanya, jadilah ia harus diperlakukan lebih, bukan hanya sekadar empat kali takbir. Maka aku menghadiahi rukuk dan sujud untuknya.” Kilahnya.

Sesaat, hening. Hening sebab tertawa dalam hati. Atau, hening karena berpikir dalam-dalam. Perlakuan lebih untuk orang yang punya dosa lebih, katanya.

Jawabannya itu terdengar seperti ngelés, yang lahir dari spontanitas. Tanpa dibuat-buat, muncul tiba-tiba, apa adanya, dan butuh kecerdasan untuk melakukannya. Itulah spontanitas yang seringkali terasa lebih seksi.

Belajar dari Mereka

Ada yang menilai, keduanya, sama-sama punya pengaruh. Keduanya, sama-sama sebagai tokoh. Menjadi seorang legenda, yang hanya berbeda generasi saja. Dan, yang jelas keduanya sama-sama unik, khas, dan nyeleneh—punya sense of ngelés.

Menjadi pribadi yang unik dan khas harusnya menjadi satu kepastian—yang kini justru menjadi tak pasti. Tak pasti seseorang menjadi dirinya sendiri yang demikian uniknya sehingga tak ada satu orang pun yang diciptakan sama oleh Sang Pencipta. Hanya saja, betapa sulit menjadi orisinal di zaman yang sudah begini edannya.

Ya, hanya orang edan yang rasional di zaman edan. Resikonya, menjadi orang yang gila, adalah dicerca dan dihujat. Ekstremnya bahkan sampai diasingkan hingga menjadi teralienasi. Bagi yang tak sanggup menerima semua resiko itu memilih potong kompas hidup ikut cara orang lain. Latah, terbawa arus kebanyakan.

Dan inilah spesies belajar yang paling sulit, yakni belajar menjadi orisinal.

Menjadi diri sendiri yang orisinal berarti siap dengan resiko hujan yang sebentar lagi tiba. Barangsiapa yang sungguh-sungguh menjadikan dirinya orisinal, bersiaplah untuk basah. Dan, bagi yang tak ingin, maka siapkan payung. Atau, mudahnya silakan berteduh.