Dari Jenis Nocturnal

Posted on December 29, 2014

0



Dalam Malam (dok edigitart-2014)

Dalam Malam (dok edigitart-2014)

 

Aku adalah makhluk yang beraktivitas pada malam hari dari jenis manusia. Aktivitas apapun. Dan, dilakukan dengan cara bagaimanapun.

Aku kerap menulis. Apakah kamu tahu? Aku lemah dalam menulis. Oleh karena itu, lewat tulisan, aku sejatinya sedang menunjukan kelemahanku dalam menulis. Aku pede saja. Dan, memang harus pede. Aku ini tipe manusia dari jenis yang langka. Kamu tahu alasannya? Bukan aku sombong. Akan tetapi, manusia mana yang berani menunjukan bahwa dirinya lemah. Mana ada manusia yang berani menunjukan kelemahannya di depan banyak orang. Aku menulis, untuk menunjukan kelemahanku itu.

Kata orang, aku ini manusia dari jenis yang pemalas. Katanya, aku suka bangun siang. Padahal, mereka salah. Salah besar malahan. Aku bukan pemalas. Kamu tahu tidak sih, aku ini manusia dari jenis yang rajin. Ya, rajin mempertahankan kemalasanku. Aku ini manusia yang konsisten, untuk tetap konsisten menjaga kemalasannya agar tetap di jalan yang lurus, tetap di jalannya. Jika mereka berkata aku suka bangun siang. Maka, mereka keliru. Aku ini manusia dari jenis yang suka tidur pagi. Jujur, aku tak suka bangun siang. Karena aku lebih suka bangun sore.

Jadi, bagaimana bisa kamu bilang aku ini pemalas. Aku ini dari jenis manusia perajin. Rajin bikin kamar berantakan. Rajin membuat sampah berserakan. Kamu tahu kenapa itu semua kulakukan? Inilah kehidupan. Kasihan itu tukang sampah jalanan jika semua sampah kumasukan ke dalam tempatnya. Lalu, mereka mau kerja apa? Kamu coba pikir itu. Kamu tahu peribahasa: “Rajin pangkal pandai?”. Oleh karena aku sudah pandai, buat apa aku tetap rajin. Kalau aku masih rajin, maka dengan sendirinya aku mengaku masih belum pandai.

Banyak orang yang suka memprotes aktivitasku pada malam hari. Mereka berkata begadang itu tidak baik. Lalu, aku bilang saja bahwa begadang kalau ada maknanya, maka itu sah-sah saja—seperti kata Bang Haji Oma Irama. Aku ini manusia dari jenis yang mencari penghidupan pada malam hari. Kenapa kalian protes jika Tuhan telah menjamin rezekiku tiba pada malam hari. Sehingga aku harus menjemputnya pada malam hari. Kenapa tidak kalian protes itu kalong yang mencari makan malam hari juga? Atau sekalian saja kamu protes Tuhan kenapa Ia menurunkan rezekinya malam hari, kenapa tidak pagi-pagi saja. Ah, kalian pasti bakal bilang: “Nanti rezekimu dipatok ayam”.

Apakah pernah kamu lihat bagaimana caranya cicak mencari makan? Coba kamu lihat, tak jarang saat bintang-bintang tengah berpijar ia memakan binatang-binatang yang terbang didekatnya. Padahal, ia tak bisa terbang, bukan? Ia hanya bisa menempelkan badannya di tembok atau langit-langit rumah. Akan tetapi, ia toh bisa makan dari jenis binatang yang bersayap dan bisa terbang. Kamu tahu kenapa itu bisa terjadi? Karena Tuhan telah menjamin rezekinya. Mustahil katamu, buat Tuhan itu semua mungkin saja terjadi. Kamu mau memprotes itu?

Aku ini adalah manusia dari jenis yang tak alergi pada malam hari. Biarpun malam hari itu gelap. Kamu harus ingat kata Tasya dalam lagunya: “Jangan takut akan gelap”. Karena gelap melindungi. Tanyalah sana kepada maling. Tanpa malam, apakah ia bisa beraksi? Mungkin saja ia bisa beraksi pada pagi hari. Akan tetapi, mungkin juga ia tak pede mempreteli barang-barang milik orang pada pagi hari. Ia mungkin malu, sebab dilihat para tetangga. Maka, berlindunglah kepada malam yang gelap, seperti maling-maling.

Aku juga manusia dari jenis yang mirip drakula. Ia berani menampakan dirinya ketika malam hari. Kamu pasti berpikir jika drakula akan terbakar jika terpapar sinar matahari. Kamu salah. Kenapa ia takut keluar pada pagi atau siang hari karena ia punya gigi taring yang panjang, yang tak sama dengan kita. Malu jika bertemu manusia lainnya dan tahu bahwa ternyata ia adalah manusia bertaring panjang. Dan, kamu pasti berpikir aneh melihat drakula yang meminum darah manusia? Kamu pasti berpikir kenapa ia tak meminum kopi saja biar bisa awet melek, kan mereka keluarnya malam hari. Kamu boleh saja berpikir demikian bahwa ia tak suka efek kafein. Mungkin saja ia mendadak tak jantan jika meminum kopi, sebab biasanya minum darah. Masa iya, drakula minum black coffee, cappuccino, atau espresso. Apa kata dunia? Dan, asal kamu tahu, aku sekarang sedang menyeruput kopi—biar tak dikata kayak drakula.

Aku ini jenis manusia yang tak takut keluar malam. Bayangkan saja hantu. Apakah kamu pernah mendengar ada hantu keluar pagi hari? Mungkin pernah. Apakah kamu pernah melihat ada tayangan di televisi atau melihat di film-film ada hantu yang keluar dengan setting malam? Mungkin pernah. Akan tetapi, kayaknya hantu lebih cocok keluar malam. Biar seram dan menyeramkan. Biar kamu takut melihatnya. Akan tetapi, aku malah berpikir kenapa ia tak keluar pada pagi atau siang hari sebab ia malu. Hantu itu merasa dan juga sadar akan bentuk rupanya yang seram. Kalau ia keluar pagi hari, ia pasti minder dengan manusia yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Meskipun sekarang di jaman ini serigala pun ganteng-ganteng.

Tahukah kamu, saat kamu semua tertidur lelap pada malam hari, aku tetap terjaga untuk menjaga bumi. Menjaga bumi agar tetap berotasi. Menjaga dunia agar tetap lestari dalam harmoni. Atau, menjaga dunia dari serangan alien yang ingin menguasai dunia. Kamu tahu kenapa itu semua kulakukan? Sebab dunia terlalu sayang jika diserahkan kepada tangan-tangan yang tak terampil. Sudah terlalu banyak orang yang bangun pada pagi hari dan mencari rezeki, atau bahkan mencuri. Jadi, apa salahnya ketika aku memilih hidup dengan cara yang berbeda, yakni dengan tidur pagi dan beraksi ketika malam hari, seperti sekarang ini.

 

NEY

Posted in: Short Story