Lawu Kala Itu

Posted on December 17, 2014

0



Lawu Kala Itu (dok klosetide)

Lawu Kala Itu (dok klosetide)

 

Seribu jalan menuju Roma. Tapi, Gue gak mau ke Roma, melainkan ke Solo. Dan begitu pulalah adanya; seribu jalan menuju Solo Balapan. Sungguh berat perjalanan kali ini, Kawan. Hari ini adalah H+3 lebaran. Sanak keluarga semua pada berkumpul di kampung. Rumah penuh sesak dengan saudara yang entah datang dari mana saja. Sedangkan Gue harus rela meninggalkan mereka semuanya yang masih lucu-lucu dan ngegemesin. Untuk apa? Untuk sebuah janji mendaki.

Pemilihan tanggal itu bukanlah kuasa Gue. Sebab itu adalah kuasa Tuhan, tentu saja. Seorang sahabat alam yang bernama Farhan mengajak untuk menaiki gunung beberapa waktu lalu. Soal tanggal yang mepet lebaran itu dia bilang biar banyak waktu luang. Soalnya dia mau ngajak teman-temannya yang udah pada kerja dan mereka punya waktu liburan yang terbatas. Dan hanya libur lebaran aja yang panjang.

Akhirnya Gue menyepakati. Gue ikut kata Farhan aja. Karena Farhan kayaknya lebih bijak ketimbang Gue. Soalnya dia lebih tua usianya ketimbang Gue yang masih bocah. Jadi Gue manut manggut-manggut aja pas dia bilang untuk cabut H+3 lebaran itu. Dengan berat hati dan berat beban di tas ransel Gue pamitan dengan keluarga, ayah dan ibu.

Oh, ayah, oh, ibu, izinkanlah anakmu ini mengarungi samudera luas kehidupan. Biarkan anakmu ini menapaki jalan menanjak terjal dan berliku kehidupan. Restuilah anakmu ini berpeluh oleh sebab beratnya beban di punggung ini. Biar para bapak bangsa tersenyum melihat generasi mudanya yang ganteng bin seksi ini mencintai ibu pertiwinya. Oh, wahai ayah, wahai ibu, berilah anakmu yang kere ini bekal materi dan jajanan lebaran yang cukup. Biar di jalan ananda gak kehabisan dan kekurangan bekal hidup. Tentu ayah dan ibu gak kepingin anaknya ngegembel di jalanan mengais-ngais nasi, khan? Tentu aja gak.

Itulah sepenggal izin, doa, dan harap, yang Gue sampaikan kehadiratnya dan Nya. Semoga beliau-beliau itu masuk surga nanti. Amin.

Nah, setelah izin turun Gue langsung menyusun skripsi. Oh, skripsi kapan makhluk yang satu itu selesai? Lupakan sejenak tentang skripsi demi mendaki. Gue mulai mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan buat mendaki. Sebelumnya Gue pelajari dulu; what, why, when, where, who, and how, gunung yang mau didaki.

Sebuah gunung dengan nama Lawu yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Karanganyar, itu menanti ditapaki. Ibarat berpacaran, sebelum kita benar-benar nembak, maka kita wajib ngapalin profil si doi dulu. Pacaran itu gak kayak beli kucing dalam karung. Tapi, belilah kucing di pasar-pasar binatang kenamaan di ibu kota sana.

Tas ransel siap. Ayah Gue bantuin packing. Beliau itu luar biasalah pokoknya. Ngedukung banget aktivitas dan passion anaknya yang nurut dan imut ini. Sedangkan si ibu, yang tadinya sempet gak ngizinin karena terlampau sayang ama Gue mungkin, akhirnya mengeluarkan amplop dari sakunya juga. Terima kasih, Ibu.

Dan keduanya pun berpesan untuk jangan lupakan salat dan selalu down to earth. Janganlah melangit, Nak. Sebab kita ini masih tinggal di bumi, bukan di langit apalagi di mars. Itu pesan ayah dan ibu. Setelah semuanya dikantongi Gue pun bersalaman dan berpamitan.

Stasiun Tegal yang menampung kereta api dan emang masih kereta api yang ada di situ hingga sekarang Gue sambangi. Maksudnya adalah Gue mau naik kereta. Soalnya bus itu adanya di terminal. Sesaat setelah sampai di stasiun loket Gue datengi. Berbekal uang saku di dompet yang seadanya dan satu milyar dua ratus perak di ATM, Gue pede.

“Kereta ke Solo berapa, Pak?” Itu Gue yang nanya ke petugas loket kereta.

“Tiga ratus lima puluh ribu, Dek.”

“Bukan. Maksudnya berapa gerbong?”

Si bapak petugas itu diam. Mengunci mulutnya rapat-rapat. Mungkin dia lagi ngitungin gerbong keretanya. Dan karena si bapak petugas lama gak balas pertanyaan itu akhirnya Gue mundur dari barisan antrian.

Ini adalah hari-hari lebaran. Semuanya pun ikut lebaran, termasuk harga tiket kereta. Harga tiket yang biasanya cuma lima puluh ribu perak lalu mendadak dangdut di musim lebaran ini. Harga-harga mendadak gak manusiawi. Edan.

Gue pun melenggang kangkung. Stasiun Gue tinggalin. Gue tepekur di depan peron. Sayangnya di Tegal gak ada bandara atau semacam pangkalan militer. Jikalau ada, maka Gue pasti lebih memilih menggunakan helicak untuk mendarat di Solo. Adanya cuma becak, jadi Gue naik becak aja akhirnya.

Si bapak tukang becak mengantarkan Gue ke terminal Tegal. Sedangkan tujuan Gue adalah Solo. Di sana Gue mencari bus yang ke Solo, bukan ke Papua tentu saja. Setelah menunggu setengah jam bus akhirnya tiba. Bus jurusan Jakarta-Solo itu tepat mendarat di Tegal untuk mengisi penumpang, dan sopirnya mengisi perutnya. Gue pun naik dengan sigapnya.

Tarif bus ternyata lebih murah daripada tarif pesawat jenis Hercules milik TNI-AD. Cuma seratus dua puluh ribu perak tok. Jadi, mending memilih berkendara memakai celana daripada gak pake sama sekali. Serius deh.

Ngeng.. wush..

Itu suara bus yang melaju. Lajunya kencang. Sekencang sabuk yang membelit pinggang ini.

Kalo lancar maka perjalanan Tegal-Solo ini bakal ditempuh dengan memakai bus, bukan jalan kaki. Kata sopirnya kira-kira tujuh jam perjalanan darat. Itu juga kalau gak macet. Ini khan lebaran. Dimana-mana macet. Macet dimana-mana. Jalan alternatif pun macet. Cuma pengobatan alternatif doang yang gak macet.

Bus berpendingin otomatis ini emang dingin di malam yang udah dingin ini. Bus yang Gue naiki ini adalah bus eksekutif, bukan busnya para anggota dewan yang legislatif. Kursinya bisa dibengkokin. O, iya kursi khan emang udah bengkok. Kalau lurus namanya talenan. Kalian tahu apa itu talenan khan? Itu lho yang suka buat ngiris bawang. Eh, yang buat ngiris bawang namanya pisau ding.

Ada tivi juga dalam bus. Toilet juga ada. Tapi, pas dicek tadi ternyata airnya kosong. Jadi barangsiapa yang mau buang air, baik itu air kecil atau air besar, maka bersiap-siaplah cebok pake tangan bukan pake kaki. Untung Gue udah bawa botol seukuran botol Mizone. Soalnya botol air mineral itu terlalu kecil lubangnya. Jadi, pasti gak muat.

“Pak, ini bus ke Surakarta khan ya?” Gue nanya ke bapak yang kayaknya kondektur bus. Make sure aja, takut salah naik bus yang ke Tanjung Priok soalnya.

“Ke Solo, Dek.” Kata bapak yang barusan dipanggil No oleh sang sopir. Nama panjangnya jangan-jangan No Semoking.

“Lho, bukan ke Surakarta toh?” Gue panik.

“Emangnya Adek mau kemana?” Pak No bertanya.

“Ke Surakarta, Pak. Duh gimana ya baiknya, Pak?” Gue panik lagi. Gelagapan. Gak tenang. Kayak lagi nahan pipis. Padahal Gue gak kepingin pipis. Pinginnya ke Solo.

“O, iya. Solo itu khan Surakarta juga. Iya bener, Dek.” Pak No Semoking mengoreksi. Dia baru sadar kalau Solo itu Surakarta juga ternyata.

“Jadi ke Solo khan ya?”

“Iya, Dek. Ke Surakarta. Hehe.” Pak No tersenyum geli. Geli karena dia baru sadar jika dia itu lucu dan imut. Wajahnya mirip bayi yang lahir prematur.

Gue pun tenang. Bus yang Gue tumpangi benar adanya ke Solo, meskipun katanya ke Surakarta dulu. Gak masalah, yang penting entar ngelewatin Solo. Dan sebelum ke tujuan akhirnya di Surakarta Gue bakal turun di Solo.

Pak No Semoking kembali mengondek. Menjalankan tugasnya dengan apik sebagai kondektur. Pak sopir pun tetap setia di atas kursi kemudinya. Kalo gak begitu mungkin bus ini udah nabrak. Dan Gue pun tetap setia duduk di bangkunya. Tenang gak jumpalitan. Udara AC semilir menyuruh mata untuk terpejam. Dan lelaplah sudah jiwa ini dalam kedamaian sepanjang jalan pantura.

Azan subuh masih kerasa di telinga saat bus menghentikan lajunya di Terminal Tirtonadi, Solo. Semalem Gue tidur dan sekarang Gue bangun. Gue menuruni bus dengan langkah gontai kayak seorang sarjana muda yang susah cari kerja. Padahal bukan susah cari kerja, tapi Gue susah cari toilet umum. Perut mendadak bergejolak, morning sickness.

Warung kopi menjadi tujuan berikutnya. Setelah dari toilet Gue ngantuk jadi mendingan ngopi. Sambil menikmati suasana pagi di Tirtonadi. Menantikan sebuah kabar berita dari Farhan yang beranjak dari Jakarta malam tadi katanya. Tapi, ternyata Farhan gak mengabar-ngabari hingga kini. Lalu Gue SMS aja dia.

Pesan dikirim: Han, Solo itu Surakarta khan?

Pesan diterima: Surakarta itu yg Solo.

Pesan dikirim: Ah, lo telat bilangnya. Gue udah di Solo nih. Gmn dong?

Pesan diterima: Khan Gue udah bilang di Surakarta. Tunggu disana aja. Gue bentar lg nyampe kok.

Pesan dikirim: Ya udah deh. Gue ngopi dulu. Abis itu mandi.

Setelah itu Farhan gak balas lagi. Dia menyerahkan semuanya sama Gue. Dan Gue melanjutkan ngopi lagi. Menunggu Farhan yang katanya bentar lagi nyampe. Entah udah berada dimana dia itu.

Pesan diterima: Bro, Gue udah di stasiun Balapan. Lo dmn?

Pesan dikirim: Gue udah di Solo, Han.

Pesan diterima: Iya. Dmnnya?

Pesan dikirim: Di Tirtonadi. Lo balapan ama siapa?

Pesan diterima: Balapan itu stasiun. Lo kemari aja. Ditunggu.

Pesan dikirim: OK.

Gue salah. Ternyata bukan di Solo ketemuannya. Tapi, di Stasiun Balapan, tempat kereta saling balapan. Akhirnya Gue pun membecak sampai sana. Dengan berbekal sepuluh ribu perak bapak tukang becak mengantarkan Gue sampai di stasiun yang dijanjikan itu. Stasiun Balapan yang begitu melegenda dijelang.

Neng stasiun Balapan kuto Solo sing dadi kenangan kowe karo aku

Naliko ngaterke lungamu

Neng stasiun Balapan rasane koyo wong kelangan kowe ninggal aku

Ra kroso netes eluh neng pipiku

Itu suara Mas Didi Kempot yang menyambut kedatangan Gue dengan sebuah lagunya, Stasiun Balapan. Stasiun ini ternyata sama dengan stasiun lainnya di Indonesia. Sama-sama menampung gerbong dan lokomotif kereta. Tapi, stasiun ini terlihat lebih bersih dan rapi. Sebuah pemandangan yang luar biasa disaat dimana stasiun lainnya kotor oleh sampah yang berserakan di tong sampah.

“Oi, Bro.” Itu suara Farhan yang menyapa Gue dari balik jeruji besi rel kereta. Dia melambaikan tangannya. Gue tahu dia itu lagi memberikan sebuah kode morse. Tapi, sialnya Gue gak pernah ikut ekskul pramuka di sekolah dulu, jadi Gue gak tahu apa arti kodenya itu. Ah, Gue hampiri aja dia.

Kita bertemu. Dan lalu salaman. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Mumpung lebaran.

Ternyata Farhan bawa pasukan. Pasukannya itu adalah Khemal, Dwi, Dwiko, iman, Liza, Fitri, Yunita, Icha, Yana, Anne, dan Desmy. Keduabelas orang itu adalah keduabelasan sahabat alam dari Jakarta. Dan Gue mulai mengenali satu per satu dari mereka semuanya. Bersilaturahmi dan mengoleksi para sahabat alam.

Dan inilah keduabelas sahabat alam yang baru Gue temui: Farhan dan Khemal yang ternyata telah tinggal serumah dari dulu kala. Karena mereka adalah kakak beradik seayah seibu. Mereka itu bersaudara satu peranakan rupanya. Mereka akrab karena keluar dari rahim yang sama. Farhan adalah laki-laki sama dengan Khemal. Dan keduanya udah sama-sama dikhitan beberapa tahun silam. Itu artinya keduanya udah akil balig. Udah masuk ke dalam fase kehidupan dewasa.

Ketiga adalah Dwi. Dwi itu dua, bukan tiga sebenarnya. Dia adalah seorang laki-laki. Usianya mungkin dibawah seratus lima puluh tahun. Dilihat dari rambutnya yang masih lengkap dan menghitam. Tingginya dibawah dua ratus satu senti. Perawakannya gak besar dan gak kecil. Terus, ada Dwiko. Dwiko itu laki-laki juga sama dengan Dwi yang pake ‘ko’. Posturnya lebih tinggi dari Dwi. Tapi, masih dibawah dua ratus satu senti juga kok. Selanjutnya ada Iman. Dia adalah sahabat karib Dwi, Dwiko, dan Khemal juga ternyata. Dia itu yang paling agamis, soalnya dahinya agak menghitam mungkin keseringan bersujud.

Di kubu perempuannya ada Liza. Dia itu dari jenis kaum Hawa. Berkerudung tapi gak pake celana, soalnya dia memakai rok panjang. Dia itu akhwat. Akhwat itu adalah sebutan untuk perempuan muslim. Berikutnya ada Fitri. Dia berbeda dengan Liza. Soalnya dia itu Fitri bukan Liza. Posturnya hampir sama. Tapi Fitri lebih mungil dan imut daripada Liza. Ah, keduanya sama-sama manis kok.

Lalu ada Yunita. Dia adalah anak perempuan ibunya yang perempuan juga. Senyumnya manis kayak gula batu. Eh, gula batu itu lebih manis daripada gula pasir lho. Coba aja jilatin batu sama pasir. Sepatunya adalah sepatu kets. Baju yang dia pake kali ini adalah dari jenis polo-shirt, kaos yang berkerah.

Selanjutnya ada Icha. Icha ini nama aslinya adalah Aisyah yang dipanggil Icha. Mungkin pas kecil dia itu cadel, jadi gak bisa bilang ‘S’. Ada Yana berikutnya. Dia itu gadis dari Purwokerto. Dia masih kuliah di Jakarta. Hobinya itu belajar soalnya dia berstatus pelajar. Terus, ada Anne. Dia adalah gadis Lampung. Lampung itu adanya di pulau Sumatera. Kalau Jayapura itu di Papua. Kalau bulan adanya di angkasa. Terakhir adalah Desmy. Dia itu dipanggil oleh yang lainnya dengan sebutan Bunda, Bunda Desmy. Soalnya katanya dia itu cewek, kalau cowok pasti dipanggil Panda.

Udah lengkap semuanya Gue absen satu-satu. Plus Gue berarti tim pendakian kali ini ada tiga belas orang. Orangnya itu ada tiga belas. Karena ketigabelas orang itu hendak mendaki, maka dinamakan pendaki. Kalau mau berantem mendingan jangan di gunung. Dan, kamilah para manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai Laskar Pendaki.

Laskar Pendaki selesai Gue bentuk sendiri. Atas inisiatif pribadi dan untuk kepentingan pribadi juga. Pokoknya semua-muanya dari, oleh, dan untuk Indonesia. Ini gak muluk-muluk. Biasa aja. Sebagai bentuk apresiasi kepada Ibu Pertiwi dan mengenali lekuk tubuhnya, Indonesia. Selebihnya, hanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keindahan karunianya. Menjadikan bumi ini indah dengan alam dan seisinya. Sekian dan terima kasih.

Dari Stasiun Balapan kami beranjak ke Terminal Tirtonadi lagi. Di sana kami mencegat bus yang menuju ke Karanganyar. Busnya Gue lupa apa namanya. Pokoknya yang Gue inget bus itu sopirnya cowok. Kondekturnya ada dua, itupun cowok semua. Dan penumpangnya ada cewek dan ada cowoknya juga. Pokoknya rame deh di dalamnya. Ada yang ngobrol, ada yang tidur, dan ada yang ngupil—itu Gue.

Bus melaju pelan sebab jalanan yang menanjak. Setelah tanjakan bus itu berhenti dan kami pun turun. Dari situ kami naik kendaraan berjenis L300 menuju ke kaki gunung. Jalanan semakin menanjak memaksa roda empat untuk makin trengginas menggilas aspal. Dan sampailah kami di sebuah daerah di kaki Gunung Lawu bernama Cemoro Kandang itu.

Di Lawu ada Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu sebagai pos pendakiannya. Tapi, kami memilih Cemoro Kandang sebagai start pendakian. Terserah kalian mau pilih yang mana. Setelah melakukan registrasi dan pengecekan kembali barang bawaan tim kami mulai mendaki. Farhan didapuk sebagai adiknya Khemal, yang juga adalah leader pendakian. Cek dan ricek beres. Dan melangkahlah kami menapaki jalanan berliku nan menanjak itu.

Di Bawah Lindungan Kabah adalah judul buku yang dikarang oleh Buya Hamka. Dan di bawah pohon-pohon rindang itu kami melangkah. Daunnya melindungi kami dari terik matahari siang. Dan setelah siang datanglah sore. Sore hari di sini lebih adem ketimbang siang harinya. Dan semoga aja nanti malamnya bakal lebih adem lagi. Soalnya udah gak ada matahari.

Sampai di Pos 2 kami beristirahat. Hari udah gelap. Itu tandanya udah malam. Perut kami suka lapar kalau malam terus belum makan. Jadinya kami memasak dan mendirikan tenda. Farhan memutuskan untuk nge-camp di Pos 2 ini. Tapi, dia gak memutuskan untuk putus hubungan silaturahmi dengan kakanya, Khemal, karena itu melanggar perintah agama.

Tenda berdiri dan api tersulut. Memasaklah kami. Gak semua masaknya, cuma beberapa orang aja. Setelah itu kami makan prasmanan kayak di kondangan atau acara kawinan. Setelah makan kami membuat api unggun. Api unggun menyala dan Gue pun tidur karena hari udah malam banget dan mata Gue ngantuk berat.

Di dalam remang malam terdengar kasak-kusuk suara perempuan mengobrol entah darimana.

“Eh, tahu gak temen yang diajak Farhan itu, Yan?” Tanya seorang cewek kepada sesama cewek lainnya dalam tenda. Inisialnya masih belum ketahuan.

“Iya. Kenapa, Fit?” Jawab seorang yang tadi dipanggil Yan. O, ternyata yang nanya itu adalah Fit.

“Keren ya.” Jawab cewek yang dipanggil oleh Yan dengan sebutan Fit.

“Kalem and cool gitu, iya gak Liz?” Kata seorang yang suaranya mirip cewek lagi. Inisial dia belum diketahui jelas. Dia lalu bertanya kepada Liz.

“Dia juga seksi lho, Ne.” Seorang cewek yang dipanggil Liz mengomentari. Dia ternyata menanggapi apa yang barusan diucapkan oleh Ne.

“Pas lihat tampangnya Gue langsung inget sama Cristian Bale gitu.” Tukas cewek berikutnya lagi. Inisialnya pun masih samar.

“Gue malah inget sama Reza Rahardian kalo liat dia lho, Yun.” Kata cewek yang sebelahnya lagi. Ternyata yang sebelumnya ngomong adalah Yun.

“Menurut lo mirip siapa, Cha?” Seorang cewek meminta pendapat dari cewek di sebelahnya yang berinisial Cha.

“Menurut lo gimana, Bun?” Cha malah bertanya ke seorang cewek dengan inisial Bun. Dan Yan, Fit, Liz, Ne, Yun, pun menunggu jawaban dari Bun.

“Udah ah, jangan pada bergosip. Dia itu emang keren, cool, calm, confident, smart, kharismatik, seksi, tapi menurut gue dia itu lebih mirip sama Lukman Sardi deh.” Kata cewek berinisial Bun barusan.

“Duh, beruntungnya cewek yang ngedapetinnya ya.”

“Iya, pengin deh jadi pasangannya.”

“Iya. Aku juga.”

“Semoga bisa dapat cowok yang model begitu.”

“Amin.”

Yan, Fit, Liz, Ne, Yun, Cha, dan Bun, pun saling memperebutkan teman Farhan yang itu adalah Gue. Lalu doa itu diamini oleh semua cewek-cewek yang terlibat kasak-kusuk malam itu.

Sesaat kemudian Gue pun terbangun. Kaget oleh kasak-kusuk dalam mimpi Gue itu. Ah, ternyata itu cuma bunga tidur. Gue cuma jadi rebutan cewek-cewek dalam mimpi. Dan itu gak berlanjut mulus di alam kenyataan. Sial.

Cericit burung emprit ramai riang. Membawa kabar pagi yang sejuk. Mentari muncul membuka hari. Dan pelan-pelan sinarnya mengusir dingin dari dalam kantung tidur. Gue pun terbangun. Mulai mencuci muka dan memanaskan air untuk mandi. Setelah air panas lalu Gue seduh kopi. Mandinya entar aja belakangan.

Para ibu-ibu tengah mengolah beras menjadi nasi. Merubah wortel, kentang, seledri, kol, menjadi sepanci sayur sop. Mencampur bawang, cabe, terasi, dan tomat menjadi secobek sambel. Dan menggoreng tempe yang dibaluri oleh terigu dan digoreng dalam minyak yang bergolak menjadi sebuah panganan yang dinamai tempe goreng. Mereka memasak rame-rame. Setelah masak, mereka mengabsen kami satu persatu untuk mengambil jatah ransum pagi ini. Kami mulai berdoa dan sarapan.

Usai sarapan ibu-ibu yang tergabung dalam majelis taklim Gunung Lawu itu kembali menunaikan tugasnya, mencuci piring. Sedangkan bapak-bapaknya ada yang ngobrol, main catur, melinting tembakau, mencukur kumis, atau bahkan mengadu jago. Eh, itu mah aktivitas bapak-bapak di komplek Gue ding. Pokoknya setelah sarapan kami semua merapikan dan membereskan barang bawaan masing-masing. Packing. Bersiap melanjutkan perjalanan yang kayaknya masih jauh.

Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 cukup panjang. Kami melewati jalanan agak landai namun panjang. Trek yang berkelok dan mengular itu cukup menguras kantong keringat. Tapi, kami gak menyerah dan tetap melangkah. Akhirnya kami memutuskan untuk potong kompas biar lebih cepat. Menghindari panjangnya trek dan menghemat waktu perjalanan. Sesekali dijumpai trek yang ekstrim menanjak dan curam berbatu.

Hingga sampailah kami di sebuah tanah luas dengan ditumbuhi rumput-rumput yang udah kering tapi memesona. Namanya adalah Pos Cokrosuryo. Pos Cokrosuryo itu amatlah kesohor sebab keindahannya mengingatkan kita pada Taman Gantung Babilonia yang dibangun oleh Nebukadnezar III buat memuja Dewa Marduk itu. Rumput kering yang mulia menguning semakin keemasan tersiram sinar matahari sore. Jika sudah seperti ini membaringkan badan dan menyelonjorkan kaki adalah obat dari segala remuk redamnya badan. Uh, maknyos.

Gue tertidur. Diikuti oleh Farhan. Dan Dwi. Dan Dwiko. Dan Iman. Dan Khemal. Sedangkan para ibu-ibu itu gak ikutan tidur bareng dengan kami. Bahaya. Bisa terjadi hal-hal yang diinginkan nantinya. Ora ilok, kata orang Jawa, di gunung tidur bareng. Padahal tidur bareng itu sejatinya gak berbahaya sama sekali. Berbahaya adalah menenggak sebotol racun tikus. Melek bareng cewek dan cowok itulah yang lebih berbahaya. Apalagi dalam situasi kondisi dan toleransi yang menegang. Uh, bahaya banget.

Selama kurang lebih tiga puluh menit lebih satu detik kami beristirahat lalu kami lanjutkan kembali perjalanan. Dari Cokrosuryo lalu menuju ke Hargo Dalem. Setelah itu lalu puncak Lawu pun dijelang.

Gak kerasa, bagi mereka yang cuma membaca tulisan ini doang. Tapi, bagi Gue itu sungguhlah berasa capek dan pegalnya. But, its doesn’t mater. Sebab semua peluh itu luruh seketika terganti oleh indahnya puncak Lawu.

Kami nge-camp di puncak Lawu yang sungguh luas itu. Menghabiskan malam yang berkabut dan hujan pun turun renyai. Rintik hujan membuat alam sekitar sendu syahdu mengharu biru. Dan dingin pula. Jika sudah seperti ini enaknya adalah ngopi dan membuat perapian. Dan Farhan pun segera tanggap membuatnya.

Pagi hari datang. Ia hadir bawa senyuman. Itu Gue yang tersenyum. Soalnya menghirup udara Lawu yang bersih dan segar banget. Saking segarnya sehingga memacu kandung kemih untuk memberontak. Air seni pun dikeluarkan lewat reseleting celana Gue sendiri.

Currr…

Itu suara air seni yang mengucur. Setelah itu reseleting Gue tutup kembali. Takut-takut kalau ada cewek yang melihat isi di dalamnya. Bahaya, soalnya dia bisa berteriak keasyikan. Dan janganlah itu terjadi. Hari masih pagi. Jadi enaknya ngopi-ngopi.

Pendaki yang perempuan mengajak kami berfoto. Kami mulai akrab sebab mengakrabkan diri. Dalam kondisi dan situasi seperti ini kadang SKSD—Sok Kenal Sok Dekat, itu penting buat PDKT—pendekatan. Pokoknya TOP BGT—Top Banget, deh. Jeprat-jepret berakhir dengan ricuh seperti demo-demo mahasiswa di tivi-tivi. Sebab semuanya mendadak narsis di depan kamera. Semuanya pingin terlihat dan nampak cantik, kece, seksi, dan eksotis di depan mata lensa. Termasuk Gue.

Farhan bete. Dia pun menyuruh kami buat beres-beres. Katanya udah siang dan kami harus segera turun. Padahal jam masih bertengger di angka 12 Waktu Indonesia Puncak Lawu. Emang udah siang sih.

Lima menit melangkahkan kaki turun kami berhenti. Ada apa gerangan, kalian pasti pingin tahu? Ternyata di puncak Lawu ada sebuah bangunan yang menjual makanan yang dinamakan dengan warung. Pemiliknya sebut saja Mbok Yem. Dan Mbok Yem adalah seorang ibu. Dia adalah wanita lebih dari setengah baya. Perkiraan Gue usianya dibawah seratus sembilan puluh tahun. Kami pun mencicipi sajian warung Mbok Yem.

Gue penasaran dengan sosok Mbok Yem. Apalagi dengan semangatnya yang luar biasa berjualan di puncak gunung.

“Kalo belanjanya berapa bulan sekali, Mbok Yem?” Itu teman Gue yang berinisial Bun bertanya. Mungkin dia mewakili rasa kepenasaranan Gue dan sahabat alam sekalian. Pingin tahu berapa kali sebulan beliau turun naik.

“Tiap hari, Mbak.” Mbok Yem menjawab. Dan seisi ruangan warung pun kaget. Kaget dan terperangah atas pengakuan Mbok Yem barusan. Si Bun bertanya bulan, eh Mbok Yem malah menjawab dengan hari.

Bagaimana mungkin berbelanja tiap hari dan bolak-balik tiap hari jika di sini adalah tempat yang berketinggian 3000 MDPL lebih?

Bagi para awam seperti kami ini mungkin demikian pertanyaannya. Tapi, bagi Mbok Yem, karena itu udah jadi tugasnya sehari-hari, maka yang kayak gitu bukanlah kendala. Malah justru jadi tantangan. Apa yang gak mungkin bagi kita bagi Mbok Yem mungkin-mungkin saja. Beliau memang sosok ibu yang luar biasa. Di usia senjanya beliau masih giat dan getol mencari nafkah. Memang, mencari nafkah itu adalah sebagian dari ibadah. Dan ibadah itu harus dijalani sampai mati. Sampai ajal menjemput nanti. Mbok Yem adalah sosok yang antimainstream bagi Gue pribadi. Two thumbs up for Mbok Yem.

Sementara yang lainnya masih pada mengobrol dan menikmati sajian dari Mbok Yem Gue berkeliling nusantara Lawu. Ternyata, Gue menemukan seonggok bangunan yang bahan bakunya semuanya dari botol. Orang sana menyebutnya dengan nama Rumah Botol. Dan Rumah Botol itu dibangun puluhan tahun silam. Entahlah. Mungkin sebelum masehi itu dibangun. Dan mungkin juga rumahnya Ridwan Kamil yang di Bandung itu terinspirasi dari rumah botol ini. Bisa jadi.

Gak jauh dari situ ada sebuah makam juga. Sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat makam itu adalah Hargo Dalem. Entah itu makam siapa. Yang jelas itu adalah makam. Mungkin orang yang dituakan oleh penduduk sekitar. Sejenak Gue menyempatkan berziarah di sono.

Selepas itu Gue ke sebuah pancuran. Konon, pancuran yang entah apa itu namanya pernah dipake oleh Bung Karno dan Pak Harto mencuci mukanya. Dan konon juga ada sebuah mitos dan kepercayaan dari warga sekitar bagi siapapun yang mencuci mukanya di pancuran itu, maka aura dari kedua presiden itu bakal menulari si pencuci muka. Gue gak mencuci muka Gue di sono. Sebabnya Gue gak ngantuk. Jadi buat apa cuci muka?

Dan keasyikan Gue bertualang pun harus terhenti saat Farhan, sang komandan, mengomandoi anak buahnya untuk segera bersiap turun gunung. Bagai seorang pendekar Gue pun bersiap menyarungkan kembali keris pusaka ke dalam wadahnya itu. Entah keris siapa itu.

Oh, Lawu, yang di dalamnya mengandung banyak eksotisme dan mistisisme. Suatu saat panggil jiwa ini untuk kembali lagi padamu. Semoga.

 

Gunung Lawu. 2007

NEY