Revisi Doa

Posted on November 19, 2014

0



Revisi Doa (dok klosetide)

Revisi Doa (dok klosetide)

 

Doaku hari ini dan untuk beberapa hari atau bahkan mungkin untuk seterusnya adalah: “Ya Tuhan, semoga hari tetap cerah, tak turun hujan.”

Kamu tahu kenapa aku punya doa yang seperti itu? Aku bilang sama kamu. Aku ini adalah seorang pedagang yang berjualan dikala malam hari. Mulai sore hari aku bersiap membuka daganganku, kedai kopi. Dan, kamu mungkin sependapat jika hujan turun, maka sudah dapat ditebak pembeli urung datang. Atau mereka pasti malas berkunjung karena lebih enak berlindung di balik selimut dan tidur nyenyak.

Begini kuawali biar kamu sedikit mengerti. Aku dilahirkan dari seorang bapak yang adalah seorang petani. Sedangkan ibuku memilih menjadi ibu rumah tangga, menjalani profesi mulia nan alami. Oleh karena beliau yang sangat mengerti jika pendidikan itu penting, maka aku disekolahkan hingga jenjang pendidikan tinggi. Kini masa kuliah itu sudah kulewati. Dan, aku telah menjadi seorang sarjana ilmu politik kini.

Jujur saja, ketimbang menjadi seorang politikus, aku lebih memilih menjadi seorang pedagang—yang tak berharap aplaus. Aku membuka kedai kopi dengan memakai gerobak—seperti yang kusebutkan di atas. Orang boleh bilang: “Sarjana kok dagang!”. Aku balik bilang ke meraka: “Aku berdagang, tapi aku sarjana. Kamu mau apa?”. Buatku sendiri yang penting usaha. Dan, satu lagi, aku tak mengurangi takaran. Aku tak mengurangi timbangan. Aku memakan hasil yang kukerjakan. Aku memanen apa yang aku tebar. Dan, aku memilih untuk jujur.

Aku bersiap selepas magrib. Tiap menjelang malam aktivitasku adalah mendorong gerobak. Bersiap memulai berdagang kopi. Dan, aku selalu berharap untuk tidak turun hujan. Ah, kamu tahulah, biar daganganku ramai pengunjung. Biar pembeli membeludak. Sebetulnya, tak masalah juga kalau hujan turun sih. ‘Kan kalau hujan justru banyak orang yang pengin ngopi. Kalau dingin pasti pengin yang hangat-hangat. Jika kamu berpikir seperti itu, aku pun demikian.

Ya. Ada benarnya juga. Asalkan hujannya dari sore hari dan malamnya hujan reda. Jika demikian yang terjadi, maka orang-orang kota keluar seperti laron mencari tempat untuk menghangatkan badan. Dan kedai kopi menjadi salah satu incarannya. Tapi, apa yang bakal terjadi jika hujan turun mulai lepas magrib dan baru reda jam dua belas malam. Alamat sudah. Jangankan manusia, kalong pun malas keluar jika kondisi malam seperti itu. Maka, sepilah pasti kedai kopiku ini.

Akhirnya kamu pasti mengerti kenapa aku punya doa seperti tersebut di atas. Tentu saja, Tuhan pasti berpihak kepada orang-orang yang mau berusaha, bukan hanya sekadar berdoa. Lalu, Tuhan pun tak segan mengabulkan doaku itu. Kamu tahu? Aku senang.

Pembeli berdatangan berkerumun seperti laron. Jika hujan urun datang, biasanya mereka keluar semenjak lepas magrib. Bahkan saat aku baru mulai menata daganganku. Sedangkan aku belum mulai merebus air. Kalau hujan turun lepas magrib, aku yang kewalahan sebab harus berbagi konsentrasi antara menata dagangan dengan melindungi gerobakku supaya tak terkena serbuan air hujan. Tapi, kalau misalnya hujan turun sebentar, lepas isya sudah reda, maka aku ketiban untung. Pembeli berdatangan sekaligus dalam jumlah banyak mencari tempat nongkrong. Alasan apalagi kalau bukan alasan untuk menghangatkan badan dari kondisi dingin selepas hujan.

“Boleh hujan, asal jangan terlalu lama, Tuhan”. Doaku kemudian menjadi seperti itu. Jika kamu jeli, ada sedikit revisi dalam doaku kini. Kalau terlalu lama hujan, maka sudah dapat dipastikan daganganku tak laku. Tak ada bakal seorang pun yang datang berkunjung. Hujannya sebentar saja. Hitung-hitung sebagai penarik layaknya magnet yang menarik orang-orang keluar untuk mencari tempat yang hangat.

Tuhan lalu mengabulkan doaku yang telah direvisi itu—sekali lagi. Uh, aku senang bukan kepalang. Pembeli banyak, sehingga aku bisa tidur nyenyak. Atas semuanya itu aku lantas bersyukur. Kata-Nya, jika manusia bersyukur, maka Ia pun akan menambah nikmat-Nya. Syukur, Alhamdulillah. Terimakasih, Tuhan.

Melihat daganganku yang laku keras turut mendatangkan suka cita dari ibuku. Katanya, “Syukur, daganganmu laku. Banyak pengunjung, jadi kamu bisa menabung”. Tapi, lanjutnya lagi, “Bapakmu itu yang pusing. Mau mulai menebar benih, tapi kok hujan tidak lekas turun. Turunnya cuma sebentar, bagaimana sungai mau mengairi sawah jika seperti itu terus.”

“Jadi, Bapak belum mulai menanam padi, Bu?”

Ibuku tak menjawabnya. Hanya menggelengkan kepalanya saja. Aku tahu isyaratnya itu. Pada sisi hati yang paling dalam, ibuku senang sebab daganganku laris dan untung. Sedangkan pada sisi hati yang lainnya, ia merasa sedih sebab Bapak belum bisa memulai menanam padi, masih menunggu hujan turun deras dan mengairi sawahnya yang kini gersang. Oh, ternyata aku egois. Aku hanya memikirkan diri sendiri ketika aku berdoa. Doaku hanya menguntungkanku saja, orang lain tidak. Aku senang ketika orang lain, bapakku sendiri, justru kena malang.

“Tuhan, semoga hujan segera turun, agar Bapak bisa kembali menebar benih.” Tak usah berpikir panjang, aku revisi saja doaku. Biarlah daganganku yang sepi, asalkan bapak bisa kembali bekerja menanam padi. Tapi.. Ah, masa iya daganganku yang sepi. Aku sudah modal besar. Aku sudah banyak menumpahkan energi dan imajinasi. Aku sudah habis-habisan. Lalu, bagaimana kalau sepi?

Begini saja, Tuhan. Bolehlah Engkau mengirim hujan ke bumi, asalkan pagi atau siang hari. Dan, berhenti ketika adzan magrib tiba. Jadi lepas magrib, aku bisa berjualan. Aku yakin doaku ini win win solution. Bapak bisa menuai untung, aku pun tak jadi rugi. Jika hujannya bisa lentur, maka aktivitas kerja pun jadi teratur. Tak jadi soal jika hujan turun pagi hari sampai siang atau sore hari. Paling juga adikku yang masih bersekolah yang keteteran, sebab pasti terlambat masuk karena kejebak hujan. Tak apalah, dia harus bisa mandiri. Pendidikan ‘kan katanya mengajarkan pengorbanan dan kemandirian. Bukan keegoisan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Itu sih namanya oportunis.

Tak butuh waktu lama untuk-Nya mengabulkan doa hasil revisiku itu. Tuhan bilang terjadi, maka terjadilah. Hujan memang turun teratur, seperti yang diminta. Sungai kembali mengalirkan air hasil hujan. Sawah-sawah kembali hijau dan subur. Petani kembali makmur. Pedagang malam, seperti aku, kembali ramai pengunjung.

Dalam senangku ini, aku kok malah bingung. Tuhan juga mungkin bingung dengan kebingunganku. Aku ini apa sih maunya. Dikasih hujan protes. Tak dikasih hujan juga protes. Aku bingung kenapa Tuhan Maha Baik. Mau saja mengabulkan doa manusia yang mencla-mencle. Hari ini minta hujan, besok minta cerah.

Aku bingung sendiri atas diriku yang banyak maunya. Aku bingung sendiri kenapa, jika tahu aku seperti itu, Tuhan selalu baik dengan mengabulkan doa manusia yang banyak maunya itu, yang sebentar-sebentar juga berubah dalam doanya. Aku bingung dengan Tuhan yang tak pernah bingung atas manusia yang membingungkan.

Ah, jika bingung, pastilah ia manusia, bukan Tuhan.

 

NEY

Posted in: Article, Short Story