El Marinero

Posted on November 14, 2014

0



Ia yang Tangguh (dok superhoredotdeviantartdotcom)

Ia yang Tangguh (dok superhoredotdeviantartdotcom)

 

Alkisah, sekawanan pelaut tengah mengarungi samudera dengan sebuah bahtera. Mereka berempat adalah pengelana lautan, satu keluarga. Seorang ayah dan ketiga anaknya itu memburu ikan demi bekal hidupnya. Adalah Santiago, sebagai nakhoda kapal, yang memimpin perburuan itu. Sekaligus sebagai ayah atas Ramos putra sulungnya, Raul putra keduanya, dan Santilana putra bungsunya, sebagai Anak Buah Kapalnya (ABK).

Mereka tengah dirundung bingung dan malang. Pasalnya tangkapan ikan belumlah sesuai harapan. Sedangkan bekal sudah kian menipis. Nahas lagi, Santiago, sang nakhoda, jatuh sakit. Sebagai pemimpin perannya amatlah penting. Maka, ketika ia jatuh sakit, bahtera itu terombang-ambing tanpa arah di hamparan samudera nan luas.

Lalu akankah terus mengarungi samudera biru tak berbatas ini jika tak ada bekal dan tanpa pemimpin perjalanan? Santiago pun hanyut dalam permenungannya. Ia seakan punya firasat jika usianya tak akan lama.

Sesaat gundah menyergapnya. Memang, ketiga anaknya telah beranjak dewasa. Tapi, apakah mereka, atau salah satu diantara ketiga anaknya, itu sanggup meneruskan kemudi bahtera. Sedangkan ia belum juga yakin akan kemampuan anak-anaknya sendiri. Mereka belum mumpuni benar memegang kemudi. Toh seorang nakhoda bukan sekadar bisa memegang kemudi kapal. Lalu membawanya ke sembarang arah. Samudera ini mahaluas, sebuah bahtera sebesar apapun nampak kecil dan tiada ada artinya. Butuh kematangan mental, pun ketajaman intuisi untuk menguasai luasnya teritori. Singkatnya, soal kemampuan menakhodai kapal, mereka belumlah terlatih.

Santiago sadar jika ini memang kealpaannya. Bahwa ia tak mendidik anak-anaknya untuk meneruskan kepemimpinannya. Pengetahuan dasar tentang navigasi dan astronomi barangkali sudah ia ajarkan, dan ketiga anaknya pun telah paham. Tapi, soal pengalaman menakhodai ketiganya belumlah pernah. Bagaimana mungkin sebuah bahtera yang mengarungi samudera nan ganas dinakhodai oleh seorang yang belum cakap. Pengetahuan saja tidaklah cukup. Jauh di atas semua itu, jelas dibutuhkan karakter. Itu pikir Santiago.

Bimbang. Santiago harus menuruti hukum konvensional, bahwa yang paling sulunglah yang bakal meneruskan kepemimpinannya. Haruskah yang paling tengah supaya ada sisi adil di dalamnya. Atau bahkan yang paling bungsu yang justru masih sangat muda. Dalam bimbangnya itu ia berusaha untuk bijaksana. Jika usia ketiganya hanya terpaut satu tahun masing-masing dan kemampuan yang dimilikinya pun relatif sama, maka ketiganya juga punya kesempatan yang sama untuk menjadi nakhoda.

Seperti mendapat ilham, Santiago lalu memutuskan untuk memilih cara yang paling alami untuk mencari penerusnya. Ia menyerahkan kepada alam soal siapa yang bakal menjadi nakhoda kapal. Ia memanggil ketiga anaknya, duduk dan mendengar perintahnya. Ia mengatakan jika usianya tak akan bertahan lama lagi. Penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya kian ganas. Sehingga mendesak untuk mendapuk salah satu diantara anak-anaknya menjadi nakhoda.

Tak ingin berlama-lama dan terlalu larut dalam kesedihan, Ramos, Raul, dan Santilana, berkompetisi menjalankan titah yang telah disampaikan ayahnya itu. Mereka bertekad sama untuk mempersembahkan hasil tangkapan yang banyak dan paling berharga. Sebab itu adalah sarana “menyenangkan” ayahnya. Siapa yang paling bisa membuat ayahnya tersenyum, maka ia lah sang nakhoda baru.

Ramos, si sulung, diberi tanggung jawab serta tugas paling awal. Tanpa banyak berpikir, dengan perhitungan navigasi dan astronomi yang dimilikinya, ia arahkan bahtera ke sisi barat. Tak butuh waktu lama untuknya mendapatkan tangkapan berharga ternyata. Sekali jaring ditebar berkilo ikan caviar, yang terkenal dengan harga telurnya yang mahal, ia dapatkan. Ini adalah tangkapan yang luar biasa. Ia yakin jika tingginya harga jual hasil tangkapannya itu pasti menuai senyum dari ayahnya. Ia senang bukan kepalang sebab Santiago pasti akan berpihak kepadanya, dengan memilihnya menjadi penerusnya.

Raul, anak kedua, tak mau kalah. Mendengar seorang saudara ditimpa kebahagiaan tak lantas mendatangkan kebahagiaan pula di antara saudara yang lainnya. Apalagi jika ia adalah kompetitornya. Maka, ia lantas berpikir cepat. Jika aku mengikuti arah yang dituju oleh Ramos, lalu apa bedanya aku dengannya. Apa bedanya tangkapan yang bakal aku dapat jika demikian. Aku ingin hasil yang lebih. Akhirnya, ia mengambil jalan yang berbeda. Ia arahkan perahu 180 derajat berbeda dengan arah yang Ramos tuju, yakni ke Timur. Benar saja, ia menjaring ikan hiu. Harga sirip hiu bisa saja akan sama mahalnya dengan telur caviar. Tapi, bukan itu yang jadi pertimbangannya. Melainkan karena ikan hiu adalah ikan buas yang tak mudah ditangkap. Dan, jika ada orang yang mampu menangkapnya, maka ia bakal dikata hebat. Siapa yang mampu menaklukan kebuasan, maka ia tentu lebih buas dari sanderanya itu. Ayahnya pasti bangga memiliki anak seorang pemberani, penakluk kebuasan penguasa samudera. Keyakinannya, hanya itulah modal utama seorang pemimpin kapal: berani.

Kini giliran Santilana. Ia menjadi yang terakhir memegang kendali. Ia lantas mengarahkan kemudi ke arah utara—seperti tak ingin sama dengan kedua kakaknya yang menempuh jalur barat dan timur. Padahal, soal jalur dan arah yang ia pilih, Santilana sudah punya firasat. Menurut perhitungan musim dan arah angin, tantangan yang bakal dihadapinya tidaklah mudah. Ia sadar badai dan gelombang tinggi serta angin kencang bakal menghadang perburuannya. Dan benar saja, baru saja beberapa mil arah utara ia tuju, gelombang besar menghadangnya. Belum juga surut gelombang itu, badai mengombang-ambing bahteranya. Bagaimana sempat untuk menjaring ikan, menghadapi ganasnya badai saja ia kewalahan. Tapi, ia tak menyerah pada buruknya keadaan. Kedua kakaknya, yang hendak menolongnya, ia tolak mentah-mentah. Ia harus bisa, dan memaksakan dirinya untuk mandiri, menghadapi badai seburuk apapun. Akhirnya, dengan segala daya dan upayanya, ia dapat melewati itu semua. Sampai pada batas waktu yang telah ditentukan oleh ayahnya, Santilana tak mendapat tangkapan apa-apa, selain hanya badai dan gelombang tinggi yang ia jumpai. Ia kembali menghadap ayahnya dengan tangan hampa.

Ketiganya telah mencoba melewati ujian yang diberikan. Lalu siapakah yang bakal Santiago dapuk sebagai nakhoda menggantikannya?

Hingga sampai pada menit-menit terakhir hidupnya ia tak sempat mengucap nama penggantinya. Hanya dengan sikap legowo dan besar jiwa masing-masing, akhirnya Santilana lah yang menjadi nakhoda bahtera selanjutnya.

Ya. Itu memang hanya sekadar hikayat picisan. Benar terjadi atau hanya fiksi, itu tak jadi soal. Lebih dari itu, kata pujangga, selalu ada makna di balik cerita. Maka, mari coba maknai cerita itu.

Begini saja, ada makna soal regenerasi kepemimpinan. Tentang bagaimana meneruskan hidup dan melanggengkan kehidupan sebuah entitas yang bernama dunia. Soal hidup dan kehidupan yang menghidupkan, bukan hanya sekadar hidup—jika hanya itu, maka, seperti kata Hamka, babi di hutan juga hidup. Dan kehidupan adalah soal meneruskan generasi, yang caranya bisa dengan jalan berkompetisi.

Kehidupan itu sendiri adalah sebuah organisasi tentang bagaimana hidup. Kita dilahirkan lalu tumbuh dan berkembang. Kita juga nanti melahirkan generasi penerus baru. Dan terus menerus seperti itu. Kita adalah eksodus dari surga yang lahir dari bapak dan ibu yang sama, Adam dan Hawa. Inilah organisasi yang bernama kehidupan, yang kemudian terpecah lagi ke dalam pecahan-pecahan kecil, seperti bangsa, negara, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya.

Organisai tumbuh dan terus berkembang dengan cara regenerasi. Dari generasi satu ke generasi berikutnya. Seperti halnya kisah tentang Santiago dan bahteranya, sebuah kehidupan tentu saja harus terus langgeng dan lestari, jika tidak maka punahlah sudah. Dalam bahtera kehidupan berkembang biak adalah mutlak. Tanpanya dunia pasti sudah tak berpenghuni. Siapa lagi yang bakal melanjutkan kehidupan di bumi ketika manusia dan makhluk lain sudah berhenti regenerasi.

Karena kehidupan akan selalu menantang dan tak mudah ditaklukan, maka mempersiapkan generasi yang mumpuni adalah penting. Dunia ini butuh seorang yang tangguh. Atau setidaknya, butuh mereka yang mampu fleksibel dan adaptabel—seperti kata Darwin dalam The Origin of Species (1859), “Spesies yang bertahan hidup adalah bukan yang paling kuat atau cerdas. Tapi, mereka yang bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya”.

Bermodal materi, berpengetahuan tinggi, atau cuma modal berani saja tidak cukup. Oleh karena lautan kehidupan ini tidaklah mudah ditaklukan, maka sangat dibutuhkan pelaut yang paling tangguh yang bisa bertahan dibalik serangan badai yang ganas. Dan, tentu saja mereka yang tangguh adalah para pelaut yang selalu punya prasangka baik ketika Tuhan menjawab doa mereka dengan ganasnya badai dan tingginya gelombang, bukan dengan segala kenyamanan dan kemudahan.

 

 

NEY

Posted in: Short Story