Rintihan Si Amin

Posted on November 4, 2014

0



Kegembiraan Kak Seto dan Anak-anak (dok merdeka dot com)

Kegembiraan Kak Seto dan Anak-anak (dok merdeka dot com)

 

Adzan subuh sebentar lagi berkumandang, itu artinya aku harus segera bersiap. Bersiap untuk menghabiskan hari di tengah lautan sorak. Sebentar lagi, selepas subuh, ia pasti menggandengku. Kemana lagi selain lampu merah di perempatan jalan kota yang dituju.

Pagi buta begini, buat bocah seusiaku adalah waktu-waktu bahagia. Pergi ke sekolah dengan membawa buku gambar dan pensil warna. Melukis pelangi masa depan yang warna-warni di atas kertas putih bersih. Oh, indahnya mereka yang harinya dipenuhi mimpi-mimpi. Sedangkan, aku? Aku harus dituntut untuk mandiri semenjak dini. Mencari uang sendiri. Yang hasilnya orang lain yang menikmati. Sungguh bukan keinginanku seperti ini. Nasiblah yang berkata begini.

Mungkin ini sudah jadi suratan takdir yang tergaris di atas telapak tanganku. Apa boleh buat. Aku pun tak sanggup melawan orang tua asuhku. Ayah tiriku. Biasanya, di sinetron-sinetron, ibu tiri yang kejam. Tapi, ini lain kasusnya. Justru ayah tiri yang kejam. Aku seakan menjadi bawang merah yang didzolimi oleh ayah tiri. Malangnya nasibku kini, yang semenjak masih bayi merah direnggut paksa dari tangan orang tuaku yang asli. Ayah dan ibu biologisku.

Dan pagi ini, seperti pagi-pagi biasanya, aku digendong oleh ayah asuhku. Tangan kiriku kugunakan untuk menutup mukaku yang imut ini. Malu. Bukannya ke sekolah ini malah mencari nafkah. Menyusuri gang sempit menuju kota adalah siksaan batin. Rasakan saja olehmu, bagaimana aku harus menanggung malu saat memakai celana gemes dan baju ketat rombeng warna-warni yang dibeli di pasar murah, disaat bocah-bocah di sini memakai baju-baju trendi. Selanjutnya, disoraki oleh mereka, yang seharusnya menjadi teman mainku. Itu semua adalah timpukan batu ke arah mukaku. Makanya, aku tutupi.

“Amin pergi ke pasar!”

“Amin pergi ke pasar!”

Begitu mereka selalu menyorakiku. Meski perih, namun aku tak akan membalasnya dengan, “Engkau saja yang ke pasar!”. Sebab doa dari yang terdzolimi adalah manjur. Aku tak ingin kawan-kawanku itu menjadi sepertiku. Agama mengajariku untuk membalas air susu dengan air susu lagi. Bila perlu dikasih madu. Biar lezat dan menyehatkan. Aku hanya mampu berdoa semoga mereka ganti menyorakiku dengan, “Amin pergi ke sekolah!”.

Ya. Aku pengin sekolah seperti mereka. Aku pengin bermain seperti mereka. Merasakan bagaimana menendang bola berkawan dalam tim. Merasakan gempita kompetisi di dalamnya. Aku pengin merasakan sejuknya embun pagi saat buana membuka hari. Dan, aku pun pengin merasakan gempuran air hujan yang menghujam turun dari langit, lalu bersorak sorai gembira bersama mereka.

Ah, hanya sekadar lamunan pembuka hari. Atau sebagai imajinasi pengganti nasi. Ujung-ujungnya aku sampai juga pada ujung aspal ini. Tardjo, ayah asuhku, menurunkanku dari gendongannya. Biar gak kabur, seutas rantai besi melingkar di leherku yang mungil. Seperangkat alat kerja, seperti gerobak mini, payung mungil, tas trendi, topeng lucu, helm, drum, gitar, dan masih banyak lagi yang lainnya, digelar. Tapi, diantara banyaknya alat kerja itu, yang paling kusukai adalah topeng. Sebab dengan itu aku bisa menutupi mukaku dari rasa malu saat tampil di atas aspal.

Aku tak ubahnya seperti artis yang menghibur penonton. Hadirin yang kebanyakan adalah pejalan kaki dan pengguna jalan terhibur tentu. Mereka bergecak kagum, tertawa, terkekeh lucu, ataupun meringis girang menunjukan giginya yang berpagar besi, melihat aksiku berjumpalitan kesana-kemari membawa gitar, menabuh drum, memakai helm, membawa tas ke pasar, mendorong gerobak, dan lain sebagainya. Mereka jelas-jelas tak merasakan penderitaanku. Atas nama rasa maluku, capek peluhku, rontok tulangku, mereka sungguh tak punya empati. Terutama engkau Tardjo, ayah asuhku sendiri yang seharusnya memberi makanku. Bukan malah aku yang memberi makan kepadamu lewat kerja kerasku.

Sudah tengah hari, ini artinya sudah enam jam aku beraksi. Aku sedikit tenang dan senang. Sebab sebentar lagi saatnya makan siang. Benar saja, seperti biasa, Tardjo membelikanku makan siang. Tak jauh dari perempatan lampu merah ini ada warteg. Dan disanalah ia biasanya membeli nasi dan lauk ikan bandeng kesukaannya. Sialnya aku yang hanya dibelikannya pisang. Ia, yang makan enak dengan hanya duduk manis dan menabuh gendang. Sedangkan aku yang capek-capek wara-wiri hanya makan pisang sebatang. Itupun aku baru makan setengahnya sebab selalu saja ia rebut setengah pisang itu dariku. Sungguh malang. “Buat pencuci mulut, Min!” Katanya santai.

Ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat aku memulai lagi aksiku. Saat-saat seperti ini adalah waktu yang terberat. Harus berjibaku di tengah jalanan aspal yang menguap dengan kaki tak bersepatu. Harus berjumpalitan di bawah terik matahari yang menjitak ubun-ubunku. But, the show must go on. Aku tak boleh mengeluh. Mengeluh sama saja bunuh diri. Aku pasti dapat pecutan keras dari Tardjo jika aku malas-malasan. Bisa-bisa aku tak diberinya makan tiga hari berturut-turut. Aku tak mau puasa sepanjang itu! Cukup puasa ramadan saja.

Pejalan kaki dan pengguna jalan semakin banyak. Tumpah ruah di sisi-sisi jalanan aspal. Mereka bahagia sebab usai ngantor dan sebentar lagi akan meniduri kasur empuknya di rumahnya masing-masing. Aku pun bahagia. Usai ngantor di lampu merah ini dan sebentar lagi akan pulang kandang. Bedanya, kasur empuk tak bakal kujumpai. Hanya kerangkeng besi yang bakal kudiami. Seperti itu sehari-hari. Tak jadi soal, yang penting pulang. Mungkin buat Hamdan ATT adalah Gubuk Derita. Tapi, buatku itulah surga.

Kembali menyusuri gang sempit untuk sampai ke rumah. Di sepanjang jalanan sempit itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri anak-anak kecil bermain bola sepak. Uh, riangnya mereka. Yang mereka pikirkan hanya semangat saat menendang bola. Bahagia saat ada penjual es atau gulali lewat sebab ada lembaran rupiah dalam saku mereka. Jika kehabisan, tinggal pulang ke rumah dan merengek minta uang jajan lagi. Lalu, malamnya ngisi PR dan paginya berseragam lagi ke sekolah. Rotasi kehidupan mereka jauh berbeda 180 derajat dari rotasi kehidupanku, yang hanya diisi oleh perputaran peluh, capek, malu, jibaku, jumpalitan, wara-wiri, dan panas aspal yang memanggang kakiku mentah-mentah serta terpaan sinar matahari yang mendidihkan ubun-ubun kepalaku menjadi semangkuk sup otak.

Dan, malam telah tiba di tempat peraduanku yang sesak. Di samping, di dalam kamar nyamannya, Tardjo tidur nyenyak. Di sini, di luar, aku sendiri terpaku ditemani nyamuk-nyamuk. Di dalam malamku yang getir ini, kusempatkan menulis sajak.

Aku yang tak pernah merasakan air susu ibu apalagi air susu formula

Aku pun tak pernah merasakan bangga sebab namaku tertera di atas Kartu Keluarga

Inilah rintihanku

Engkau yang makan enak di atas kerja kerasku

Engkau yang tidur nyenyak di tas keringat apekku

Engkau memang tak punya hati, Tardjo

Engkau ayah asuhku, tapi engkau adalah penjara batinku

Ayo! Jika memang engkau ayah asuhku, keluarlah dari kasur empukmu dan temani aku di sini. Di dalam kandang yang bau pesing oleh kencing anak asuhmu sendiri

Hey engkau juga, anak-anak kecil keluarlah dari komplekmu

Temani aku. Bertukar nasiblah denganku

Kau hanya merasakan enak. Dapat tidur nyenyak di saat aku menarik napas sesak.

Engkau hanya bisa menyoraki, “Si Amin pergi ke pasar!”, sedangkan aku, Sarimin Si Kera Pekerja Keras, hanya bisa melihatmu pergi digandeng ibumu dijajani dan didandaani baju bagus di pasar

Kemanakah engkau wahai Kak Seto

Katanya engkau adalah peri kasih sayang buat bocah-bocah

Melihatku seperti ini engkau malah diam saja

Engkau tak menindak para pelaku trafficking ini

Aku yang disayang, demi segenggam uang

Aku yang tak pernah ditimang, dan tak pernah rasakan kasih sayang

Aku yang dilahirkan dengan nama Sarimin, memang selalu dirundung malang

 

JS

Posted in: Short Story