Telor Berendam

Posted on October 1, 2014

0



laskar pendaki (dok klosetide-art by Gora Wijaya)

laskar pendaki (dok klosetide-art by Gora Wijaya)

 

Dataran pekat aspal seperti menguap. Menampakan jilat-jilat fatamorgana. Terik matahari ganas merambat melalui pori-pori kulit. Wajah-wajah para pejalan pasti bak ditampar oleh teriknya. Bercelana pendek dan pake kaos singlet adalah satu kesejukan, antisipasi banjir keringat yang fatal. Dan gadis berambut panjang menjuntai hingga punggung itupun melenggang turun dari angkot siang itu.

Dia melenggang percaya diri di bawah terik sang surya. Langkah penuh kepastian dia tunjukan. Buku komunikasi dia tenteng. Kayaknya dia itu seorang pelajar. Rok mini 15 senti di atas lutut terlihat melekat erat pada medio tubuhnya. Sehelai gelang perak tipis melingkar di kaki sebelah kanannya. Aroma parfum dengan kandungan alkohol diatas 30 persen kian menarik indera. Oh, itulah makhluk Tuhan yang katanya paling seksi.

Sambil berjalan, gak henti dia mengibas-ibaskan tangannya. Gue yakin dia kepanasan. Kemeja krem tipis ketat yang menunjukan lekuk dadanya nampak basah. Tampak jelas rangkaian tali hitam yang menutupi payudaranya. Sungguh perpaduan warna yang kontras, sekontras suasana siang itu. Gue berjarak gak lebih dari 3 meter, tepat di belakangnya. Gue gak bermaksud menguntitnya. Tapi, ini adalah jalanan umum yang mesti Gue lalui. Jalan ini satu-satunya menuju ke suatu tempat. Kemana? Ya pokoknya ke sana.

20 meter lagi di depan adalah pangkalan ojek. Dan tentunya para lelaki yang mengisi tempat itu. Bukan bencong atau lady boy. Gue udah nebak dari jauh-jauh langkah bahwa dia akan memberikan sebuah suguhan yang menarik buat para tukang ojek di sana. Tepat dugaan Gue. Gak sampai tepat di depannya, kurang dari 10 meter, dan mereka, para lelaki hidung mancung itu, udah memasang mata siaga dan dengan sigapnya menikmati ciptaan terindah-Nya. Ah, beruntungnya bapak-bapak ojek itu.

Turuti aja gerak bola mata. Liur hasrat lelaki tangguh menetes dengan derasnya. Bahkan, sampai 20 meter dia lewati pangkalan ojek itu, berpuluh pasang mata lelaki ojek masih terus membuntutinya. Mereka pasti menikmati sajian indah di depannya barusan. Menelan ludah dan terus memasang khayalan kosong meski jejak langkah si perempuan seksi itu telah lenyap dari pandangan mata mereka. Mereka seperti tersihir oleh sihir Mak Lampir yang nyinyir itu.

Si cewek seksi itu masih merasa risih oleh berpasang mata yang terus membuntutinya. Sesekali dia menarik-narik turun rok mininya. Tapi, itu gak berhasil. Dia salah, sebab dengan itu mereka kian penasaran dan melihat ke arah itu melulu. Ke arah mana? Pokoknya ke arah dimana keindahan ciptaan-Nya tersimpan. Manusia sangat tertarik dengan gerak-gerik. Dan saat si cewek seksi itu menggerakkan tangannya ke bagian manapun di tubuhnya, seketika itu juga mata lelaki akan mengikutinya.

Rok mini, kemeja ketat, lekuk tubuh, kulit langsat, tetes keringat, dan high heels adalah komposisi siang itu. Menghasilkan satu sajian masakan nafsu makan siang yang ditutup dengan sebuah dessert khayalan liar plus tetesan liur. Oh, lezatnya menu makan siang kami semua, para pria tangguh.

Barangkali inilah cerminan budaya cewek-cewek masa kini. Uh, menjumpai rok mini bukan persoalan sulit. Terpajang di setiap pojok keramaian ibukota. Pun di sisi kampus yang penuh nuansa keilmuan rok mini ikut eksis. Berdandan serba minim telah menjadi ideologi muda-mudi urban masa kini. Ih, asyiknya kami segerombolan manusia yang masuk kategori kaum Adam.

Satu hal yang pasti bahwa lelaki pasti senang disodori oleh pemandangan rok mini daripada pemandangan puncak Rinjani. Seenggaknya itu nunjukin kalau si lelaki itu maskulin. Bagi perempuan, ini harus bisa dijadikan koreksi. Jika memang merasa risih, tolong jangan memakai pakaian serba mini. Mending gak berpakaian sehelai benang pun. Eh, sorry keceplosan.

Siang itu kala sang surya belum mau tenggelam. Sebab kala sang surya tenggelam itu hanya milik Chrisye semata. Sedangkan sekarang sang surya udah mau tenggelam. Pukul sore selepas zuhur sebelum ashar kami segerombolan remaja yang suka mendaki dan gak anti-globalisasi melangkah pelan. Menerobos dinding-dinding kota yang berdiri megah. Menerabas jalanan aspal yang menghitam legam.

Adalah Jayagiri tujuan kami. Jayagiri adalah nama gundukan tanah yang tinggi di Bandung selatan. Kami biasa menyebutnya sebagai gunung Jayagiri. Dari sana nanti pendakian akan dilanjutkan ke gunung Tangkuban Perahu. Semua pasti udah tahu bagaimana Tangkuban Perahu itu terbentuk toh? Ya, pokoknya begitulah. Baca buku sejarah kalau mau lebih tahu.

Kami adalah laskar pendaki yang terdiri dari: Gue sendiri, Abid, Salman, Rizky, dan Erik. Kami ini berlima dan masih laki-laki semuanya. Normal tanpa kekurangan apapun dalam sisi maskulinitasnya.

Mari kita berkenalan dengan satu persatu sahabat alam kali ini. Semua pasti udah kenal sama Abid? Abid adalah sahabat alam yang ikut bareng mendaki di Pangrango. Sekarang Abid masih juga seorang cowok dan masih doyan mendaki. Ah, kalian mungkin udah kenal sama Abid ketimbang George Bush.

Salman pun demikian. Dia adalah sahabat alam yang bersama Gue mendaki beberapa gunung. Salah satunya adalah Sumbing dan Ciremai. Sekarang dia masih suka naik gunung, dan yang lebih penting lagi dia masih suka sama wanita. He’s still normal. Masih suka berdiri kalau lihat ada seorang nenek-nenek yang berdiri sedangkan dia duduk manis dalam bus.

Selanjutnya adalah Rizky dan Erik. Mereka adalah dua sejoli yang turut mendaki di Ciremai. Hubungan mereka sampai sekarang masih baik-baik aja, meski gak direstui oleh kedua orang tua keduanya. Semoga aja hubungan mereka retak sebab kalau gak mereka harus pergi ke Belanda untuk meresmikannya. Di Indonesia hal yang semcam itu belum diakui. Selebihnya, hubungan cowok dan cowok adalah pagar makan tanaman.

Dari Jatinangor kami melaju ke Bandung. Dengan menumpang sebuah angkutan umum yang telah penuh sesak kami di dalamnya. Nyelip diantara sela-sela penumpang. Mereka para penumpang lain pasti bangga dalam dirinya karena pernah berdesakan dengan kami para lelaki lajang yang seksi-seksi dan kadang ngangenin ini. Semoga mereka gak muntah-muntah. Amin.

Tujuan kami ke Jayagiri, Lembang. Tapi, sebelum ke sono kami ke Cicaheum dulu. Cicaheum itu nama terminal bus. Itu adanya di Bandung bukan di Uni Soviet. Asal kalian tahu, Bandung itu masih Indonesia. Setelah dari Cicaheum perjalanan dengan menggunakan angkot masih berlanjut. Kali ini angkot jurusan Cicaheum-Ledeng. Melajulah kami dengan kendaraan hijau itu. Ingat ya, warnanya ijo.

Ledeng itu adalah nama sebuah terminal. Sama kayak Cicaheum. Bedanya, kalau di Cicaheum itu tempat mangkalnya bus dan angkot. Sedangkan di Ledeng angkot doang yang mangkal. Mungkin ada bencong juga yang mangkal di situ. Eh, kalian tahu bedanya bus dan angkot gak? Bus itu lebih besar badannya, sedangkan angkot itu rodanya empat. Tapi, keduanya punya kesamaan. Sama-sama pake sopir, dan sopirnya pasti pake celana bukan pake sarung.

Sampai di Ledeng malam hari. Tepatnya pukul berapa tadi? Gue lupa. Pokoknya waktunya sama kayak perang Diponegoro, 18.25-18.30. Diantara pukul itu kami sampai. Karena perut udah lapar, maka kami tetap berjalan. Berjalan makin cepat menemukan warung makan yang buka. Ternyata di depan UPI—Universitas Padahal Ikip, banyak warung tenda yang menjual nasi dan lauk pauk. Di sanalah kami makan.

Setelah makan perut jadi kenyang. Ah, itu semua juga tahu. Setelah kenyang badan jadi malas digerakin. Tapi, kami ingat betul pesan pak guru saat SD: ‘Rajin Pangkal Pandai’ dan ‘Malas Pangkal Pinang’. Kalau gak tahu dimana Pangkal Pinang, coba buka peta dunia. Akhirnya biar bagaimanapun kami tetap harus beranjak. Maka, beranjaklah kami dari warung tenda itu seusai makan malam pake tangan dan dengan nasi dan lele.

Dari Ledeng menuju Lembang. Perjalanan kembali ditempuh dengan perjalanan darat memakai angkot. Sebab jika ditempuh dengan memakai jalur udara, maka kami butuh baling-baling bambunya Doraemon. Dan di Bandung gak ada Doraemon. Di Bandung adanya Dorayaki. Jika pake kaki, maka akan sangat lama, bisa seharian. Jadi, mau gak mau kami harus memakai celana. Jangan bayangin kalau kami ini lagi gak pake celana!

Malang datang tanpa sebelumnya terbayang. Malang itu adanya di Jawa Timur. Dan kami kena malang. Ban angkot kempes. Semua penumpang wajib militer. Kami pun semuanya turun dari angkot. Kesialan menimpa perjalanan kami.

Ah, Gue ada ide. Daripada menunggu si bapak sopir mengganti ban mending ganti angkot aja. Angkot Ledeng-Lembang khan gak cuma satu. Untungnya Gue pernah baca buku Kisah 1001 Masalah yang Gue pinjam dari Pegadaian, jadi semua masalah pasti bisa dipecahkan. Sesuai pesan Pegadaian, mengatasi masalah dengan masalah baru.

Angkot baru kami naiki. Semoga aja angkot yang baru dinaiki ini gak mogok lagi. Amin. Semua penumpang pun mengamini doanya masing-masing. Angkot melaju bagai siput. Eh, melaju kayak siput atau kura-kura ya? Cepetan mana kura-kura atau siput? Ah, keduanya sama aja, sama-sama keras punggungnya. Angkot melaju pelan dan kami hanya bisa bersabar.

Pada sebuah pasar yang terkenal seantero Lembang angkot pun mendadak berhenti. Ah, jangan-jangan mogok lagi. Oh, ternyata gak mogok. Itu tadi Abid yang teriak, “Kiri.. Kiri.. Pak” Di pasar Jayagiri itupun kami turun sekarang juga. Beberapa penumpang lain ikut-ikutan latah, ikut turun bareng kami. Sisanya, ada pak kondektur dan pak sopir di dalam angkot, mereka gak ikut turun. Kalau keduanya turun siapa yang nyopirin angkot?

Di pasar Jayagiri ada penjual dan pembeli. Mereka ada yang berjualan dan ada yang membeli. Mereka yang menjajakan barang dagangannya disebut sebagai penjual atau pedagang. Sedangkan mereka yang punya uang, maka silakan membeli dagangan itu. Dan oleh karena kami bukanlah masuk ke dalam golongan keduanya, pedagang dan pembeli, maka kami pun gak berbelanja.

Kami ini laskar pendaki yang memilih untuk terus mendaki. Ada sebuah jalan di sana di sela-sela pasar. Sebuah papan nama bertuliskan ‘Jalur Pendakian Jayagiri’ terpampang di sana.

Menuruti anjuran papan tersebut kami melangkah. Inilah awal jalur pendakian ke Jayagiri. Menurut rumor yang beredar, pendakian dari sini ke atas dapat ditempuh dengan ojek. Jadi ngapain capek-capek berjalan kaki? Tapi, kami sadar dan ingat bahwa kami tetaplah segerombolan laskar pendaki. Masa mendaki gunung naik ojek. Jaka Sembung naik ojek. Gak lucu.

Hari udah malam. Mungkin udah lebih dari jam sepuluh Waktu Indonesia Jayagiri. Entahlah. Gak ada pengumuman soal itu. Beberapa menit awal di kanan-kiri yang ada hanyalah perumahan penduduk. Perjalanan tetap berlangsung sunyi. Beberapa menit ke depan ada vila-vila. Suasana berubah seketika kayak di Puncak.

Udara makin dingin. Suasana makin sepi. Kami pun beristirahat. Sejenak lalu melangkah lagi. Gue agak ragu-ragu. Apakah benar ini jalan mau ke Jayagiri?

“Pak, apa bener ini jalan yang mau ke Rinjani?” Itu Gue yang tadi bertanya kepada bapak yang pake kupluk dan bersenter itu. Kumisnya tebal kayak pagar Koramil. Mungkin dia itu seorang petugas. Petugas keamanan komplek yang lagi patroli.

“Wah, bukan, Dek.” Si bapak itu menjawabnya. Mukanya cemas. Agak panik sesaat. Mungkin dia mules. “Adek dari mana mau kemana?”.

“Kami dari keluarga baik-baik, Pak. Mau mendaki ke Rinjani.” Gue jawab. Sementara itu keempat sahabat lainnya udah nyelonong di depan kita yang lagi ngobrol.

“Rinjani mah di luar Jawa, Dek. Ini mah jalan mau ke gunung Jayagiri.”

“Waduh. Ini mau ke Jayagiri?” Gue panik. Muka Gue mendadak manis.

“Iya, Dek. Ini Jayagiri.”

“Duh, saya berarti salah jalur ya, Pak? Sebentar atuh saya mau bilangin ke temen-temen saya sebelum kejauhan jalan.” Gue masih dengan si bapak keamanan. Pingin ngejar sahabat alam yang udah di depan itu. Agak jauh mereka kelihatannya.

“Tapi, bener khan, Pak ini mau ke Jayagiri?”

“Iya, bener, Dek.”

“Ya udah deh kalo begitu. Nuhun, Pak. Mangga, Pak.” Nuhun itu bahasa Sunda, artinya makasih. Gue pun undur-undur. Melangkah pergi dari hadapan si bapak. Mangga itu buah. Tapi, kalau di Sunda mangga itu permisi. Tanda seorang mau undur diri.

“Mangga, Dek.” Si bapak itu menjawab dengan mangga.

Sebentar lagi masuk ke jalur hutan, katanya. Kata siapa? Kata bapak tadi yang Gue tanya. Katanya sih begitu. Gue setengah berlari. Menyusul Abid, Salman, Rizky, dan Erik, yang udah jauh di depan.

Jalur hutan di depan mata. Sesaat kemudian kami memasukinya. Udara makin sejuk. Tapi, dingin juga. Malam semakin meneror kami. Suasana makin mencekam. Bulu kuduk Gue mendadak merinding. Biasanya kalau bulu kuduk merinding itu tandanya mau dapat rejeki. Itu kata orang-orang tua dulu, dulu zaman batu. Ah, Gue percepat aja langkahnya. Siapa tahu di depan emang kami nemu rejeki.

Jalanan makin landai. Belum datar banget hanya sedikit landai. Kalau datar banget itu namanya talenan. Ada sebuah bangunan yang mirip warung berlampukan patromaks. Jangan-jangan itu yang buat bulu kuduk Gue merinding. Masa iya ada warung di ketinggian begini? Kami pun menghampiri warung itu. Seakan gak percaya hal pertama yang Gue cermati saat sampai di tempat itu adalah tapak kaki si ibu penjualnya. Oh, ternyata kaki si ibu masih nempel dan menjejak tanah. Itu artinya si ibu benar-benar udah gak gadis lagi. Soalnya udah menggendong anak. Tuh anaknya.

Beberapa meter dari sana ternyata itulah puncak Jayagiri yang terkenal itu. Sampai juga ternyata di sini. Kami langsung menggelar lapak berusaha menyaingi si ibu. Peralatan tempur kami gelar. Dan mulailah acara masak-masak malam itu. Sekarang udah dini hari. Sebentar lagi kokok ayam berkumandang.

Puncak Jayagiri emang gak setinggi Rinjani. Tapi, di sini suasananya begitu damai. Di kejauhan mata memandang di bawah sana pemandangan kota Bandung tersaji. Kerlap-kerlip lampu jalanan terlihat jelas oleh mata kami. Langit bertabur bintang dan rembulan muncul dengan mukanya yang setengah malam ini. Oh, indahnya puncak Jayagiri.

Setelah menggelar pesta kecil-kecilan itu kami memejamkan mata masing-masing. Tapi, Rizky dan Erik terlihat masih asyik mengobrol di depan api unggun. Akhirnya Gue pun ikut gabung mereka.

“Eh, tahu gak kalian kalo di sini nih angker lho katanya.” Gue memulai obrolan santai malam ini dengan gak santai.

“Ah, serius lo?” Erik penasaran.

“Ah, yang kayak gitu dipercaya. Waduk.” Tandas Rizky. Waduk itu bahasa Sunda, artinya bohong.

“Serius,” Gue mengangkat kedua jari di tangan kanan tetangga Gue. Itu tanda perdamaian, peace.

“Emang angker gimana?” Erik masih tetap penasaran. Sedangkan Rizky masih tetap laki-laki. Dan keduanya normal. Buktinya mereka tadi berduaan.

Tiba-tiba bau gak sedap datang menghampiri lubang hidung. Baunya tengik kayak bau kentut gitu. Gue memperlihatkan pose mengendus-endus bau yang datang itu. Erik dan Rizky nampak antusias melihat aksi teatrikal Gue.

“Eh, katanya kalo makhluk halus mau dateng itu baunya kayak gini lho.” Gue berfilosofi. Sambil masih mengendus-endus keberadaan bau yang begitu menyeruak itu.

“Ngaco lo. Yang ada bau menyan, bukan bau kentut kalo ada makhluk halus mah.” Rizky mengoreksi soal-soal ujian nasional. Sedangkan Erik masih antusias mendengar dan melihat Rizky yang tengah mengoreksi.

“Eh, itu mah setan zaman dulu. Zaman sekarang itu tandanya bau kentut. Bau menyan itu udah mainstream. Setan itu khan anti-mainstream.” Gue mengoreksi lagi soal-soal ujian nasional dari Rizky.

“Wah, ini udah mulai bau nih. Baunya gak enak gini. Jangan-jangan..?” Erik mulai mencium bau kentut itu. Bulu kakinya merinding. Matanya belingsatan. Berasa kayak lagi mangku pocong.

“Iya, gue juga nyium bau gak enak gitu.” Rizky mulai mendengus dan mengendus-endus dari mana bau itu berasal. Dan tanpa dikomandoi keduanya lari tunggang langgang ke dalam tenda. Katanya mereka udah ngantuk. Padahal kopi masih mengepul dari dalam cangkirnya. Ah, Gue beruntung dapat kopi anget gak bertuan ini.

Emang benar firasat Gue tadi. Kalau bulu kuduk merinding itu tanda mau dapat rejeki. Gue meminum kopi anget tanpa harus capek-capek berkeringat membuatnya. Di depan Gue ada secercah nyala api unggun yang hampir padam. Tapi, masih lumayan ngangetin. Di bawah sana city view begitu menyandera mata. Oh, indahnya semesta yang sementara ini.

Pagi tiba. Meninggalkan jejak-jejak misterius sisa cerita semalam. Bau kentut itu makin menyeruak seiring subuh tiba. Itu bukan bau kentut ternyata. Itu adalah bau belerang dari kawah Tangkuban Perahu yang dekat jaraknya dari sini.

Tapi, entahlah. Ini bau kentut yang menyerupai aroma belerang atau sebaliknya? Ah, biarlah tetap menjadi misteri. Gue malas jika harus mengendus satu persatu bagian belakang manusia yang masih terlelap ini demi memastikan sebuah prasangka itu. Mengendus kentut sungguh adalah pekerjaan yang sia-sia belaka. Dan Gue yakin pekerjaan itu gak akan dicatat oleh malaikat pencatat perbuatan baik.

Kami semua akhirnya memelekkan mata masing-masing. Hari udah menjelang siang. Dari benak Erik dan Rizky mungkin ada semacam khayalan akan pertanda datangnya makhluk gaib seiring bau kentut yang kian menyeruak. Tapi, itu semua langsung terbantahkan setelah keduanya mengetahui dari Salman jika itu adalah bau kawah belerang dari Tangkuban Perahu. Dan mereka merasa telah dihibur oleh aksi Gue semalam.

Tangkuban Perahu adalah tujuan kami berikutnya. Setelah sarapan dan gosok gigi kami berkemas. Mengemasi kembali barang-barang yang terlanjur digelar semalam. Setelah acara packing selesai saatnya kami melanjutkan perjalanan mencari kitab suci ke barat. Seperti Biksu Tong dan Sun Go Kong. Siapa yang mau jadi Sun Go Kong? Gue mah ogah.

Rombongan pendaki kloter Bandung pun melangkah. Menyusuri jalanan yang agak landai dibandingkan dengan jalan ke Jayagiri semalam. Menjelang Tangkuban Perahu jalanan makin ramai. Mungkin itu adalah mereka warga ibu kota yang sukanya piknik. Seakan gak pingin terpergoki mereka yang rapi dan wangi-wangi sedangkan kami ini seksi tapi bau apek, kami pun menyelinap.

Menyelinap di semak-semak. Kami gak pingin melewati portal berbayar di Tangkuban Perahu. Bukan kami melanggar aturan dan ketaatan sebagai Warga Negara Indonesia. Tapi, kami ini para pendaki yang mendaki jalanan lumpur dan menanjak, bukan jalanan aspal model kayak begitu. Akhirnya demi sebuah nama baik para pendaki kami melalui jalan tikus. Jalan tikus itu jalanan kecil menembus semak-semak dan menerabas tebing tinggi tanpa diketahui oleh petugas setempat.

Salman di depan. Dia adalah sahabat alam yang paling hapal jalur tikus ini. Kami percayakan aja padanya. Dan tugas itu benar-benar dijalankannya dengan baik dan apik. Kalian pasti pingin tahu dimanakah jalan tikus itu? Itu rahasia gak akan Gue kasih kado. Kalau Gue kasih tahu entar kalian ngikutin lagi. Bisa rugi bandar pengelola Gunung Tangkuban Perahu itu.

Sampailah kami di sebuah tanah dimana bau belerang makin menyempitkan kedua lubang hidung. Inilah puncak Tangkuban Perahu, kata Salman. Kata Salman itu kami percayai sepenuh hati.

Kami berkeliling ke pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan. Di Tangkuban Perahu semua jajanan dan jualan ada di sana. Mungkin sebentar lagi Alfamart bakal ada di sini. Entahlah. Kami mengunjungi kawah Tangkuban Perahu yang terkenal itu. Di sana emang ada beberapa kawah belerang. Dan kami mengunjungi beberapa aja, kayak Kawah Domas, Kawah Ratu, dan Kawah Siluman. Sisanya gak kami datangi, sebab mereka adalah kawah-kawah figuran.

Sampailah kami di sebuah kawah yang terkenal dengan nama Kawah Domas. Di sini konon kabarnya dapat buat ngerebus endok. Endok itu bahasa Sunda, artinya telor. Buat ngebuktiin hipotesis itu Gue pun akhirnya membeli telor. Telor itu Gue beli di pasar Jayagiri kemarin. Karena sisa, maka Gue masukin aja di ransel. Jadi Gue ambil telornya dari ransel Gue.

Di sana ada bapak-bapak yang mirip anak-anaknya. Mungkin itu bapaknya anak-anaknya. Lalu Gue bertanya dulu apa benar demikian, bisa merebus telor dalam kawah yang bergolak ini.

“Pak, apa bener di sini bisa buat berendem?” Gue bertanya demikian adanya. Itu keluar sebab kepolosan dan keseksian Gue.

“Wah, gak bisa atuh, Cep.” Si bapak tadi gak membolehkan berendam ternyata. Cep itu panggilan untuk lelaki Sunda yang lebih muda. Atuh itu juga Bahasa Sunda, artinya dong. Atau bisa macam-macam tergantung dari penggunaan kalimatnya.

“O, gak bisa. Tapi, kata bapak yang itu katanya boleh.” Gue menunjuk ke salah satu bapak yang konon katanya sebagai petugas keamanan Tangkuban Perahu. Bapak petugas itu lagi mendekam di posnya.

“Masa sih bapak itu ngebolehin. Padahal bapak itu khan petugas keamanan sini.” Si bapak nampak bingung. Dia terus menggaruk-garuk kepalanya yang pelontos. Mungkin dia udah lama gak keramas. “Beneran boleh gitu, Cep?”.

“Ntar coba saya tanyakan lagi ke pihak yang berwenang ya, Pak.” Gue pun melenggang ke arah bapak berseragam itu.

Si bapak berseragam itu nampak serius. Serius di depan hape-nya. Dia pasti lagi SMS-an sama si bapak yang Gue tanyai tadi. Sesekali dia cengar-cengir sendiri di depan layar hape-nya.

“Pak, maaf mau tanya, kalo ngerendem telor di kawah itu boleh gak, Pak?” Gue nanya ke dia. Tangan Gue sambil nunjuk ke arah kawah itu.

“Ngerendem gimana maksudnya, Dek?” Si bapak petugas bingung dengan kata ngerendem. Mungkin dia gak tahu bahasa Belanda itu.

“Iya, ngerendem telor biar mateng, Pak.”

“O, ngerebus maksudnya? Ya boleh atuh. Mangga aja.” Si bapak me-mangga-kan telor. Ini telor, Pak. Bukan melon.

“O, jadi boleh ya?”

“Iya, boleh.” Kepalanya sambil menggut-manggut.

Setelah mendapat informasi itu Gue langsung menjumpai si bapak yang tadi. Dan Gue beberkan semuanya kepada si bapak itu.

“Iya, Pak. Katanya boleh.”

“Wah, masa sih ngebolehin?” Si bapak kayak gak percaya. Matanya tajam menyorot keberadaan si bapak petugas yang tengah berdiri di dalam posnya.

“Gimana atuh ya? Saya pengin berendem, Pak. Kayaknya anget ya.” Gue melihat seisi kawah yang isinya belerang dan asap itu.

“Gak boleh ah. Lihat aja tuh gak ada yang berendem khan.” Si bapak sambil menunjuk ke arah keramaian massa yang memadati kawah itu. Mereka tengah asyik merendam telor dalam kawah.

“Iya sih. Tapi, kata pak petugasnya boleh.”

“Ya, kalo kata si bapak petugas boleh mah ya terserah atuh, Cep. Tapi tanggung sendiri ya resikonya nanti.”

Mendengar kata resiko Gue pun rada ciut. Lalu Gue mengajukan pertanyaan lagi ke si bapak.

“Tapi, saya pengin banget berendem, Pak. Di sini dimana ya yang suka buat berendem air panas gitu?”

“O, itu mah di Ciater, Cep. Kalo mau berendem air panas mah di sana. Bukan di sini.” Si bapak merekomendasikan tempat lain. Tangannya sambil menunjuk ke arah kawah yang berisi golakan belerang dan asap putih beraroma kentut itu.

“Ciater jauh ya, Pak, dari sini?”

“Ah, deket kok. Cuma keluar aja dari sini trus naik angkutan umum.” Si bapak menerangkan dimana Ciater itu.

“O, ya udah atuh. Nuhun, Pak.”

“Sami-sami.”

“Mangga, Pak.”

“Mangga… Mangga..”

Begitulah si bapak penjual jagung bakar yang sukanya bilang, ‘Mangga.. Mangga..’. dan Gue pun melenggang menemui kawah belerang itu. Di sana Gue benar-benar berendam. Merendamkan telor biar matang dan enak dimakan.

Salman dan Abid mencari musala terdekat untuk salat. Rizky dan Erik pun sama, sama-sama mencari musala buat istirahat. Hari itu udah masuk waktu zuhur untuk Tangkuban Perahu dan sekitarnya.

 Gunung Tangkuban Perahu. 2009

 

JS