Anjing di Pangrango

Posted on August 28, 2014

0



Anjing di Pangrango (dok.klosetide)

Anjing di Pangrango (dok.klosetide)

“Masih inget sama saya, Mang?”

“Eh, iya. Ee..” Mang Idi garuk-garuk kepala lagi. Masih sama kayak dulu pas baru pertama kali ketemu.

“Siapa hayo?” Tanya orang yang dulu disangka bernama Agus yang adalah Gue sendiri.

“Eta.. Ee. O, iya. Agus nya?” Tebaknya. Eta itu artinya itu. Nya itu artinya ya.

“Ih, si Emang mah. Sok lupa ih. Bukan, Mang.” Itu Gue yang mengoreksi. Sok itu artinya suka.

“Agus ah. Mang masih inget atuh, Gus.” Mang Idi menebak. Mukanya masih setengah-setengah, setengah mirip ayahnya setengah lagi mirip ibunya. Atuh itu artinya kok.

“Mukidi, Mang.” Jawab Gue yang tadi disangka Agus.

“Oalah. Nya, nya, Mukidi. Kamana wae atuh, Jang?” Mang Idi emang Yes Man. Selalu menurut. Jang itu panggilan untuk lelaki Sunda, mungkin kependekan dari Ujang. Jang itu yang dimaksud adalah Mukidi. Mukidi itu adalah Gue. Jadi Gue itu Jang-nya Mukidi si lelaki Sunda.

“Sae, Mang. Mang damang?” Tanya Mukidi yang adalah Gue. Sae itu artinya bagus atau baik. Damang itu artinya sehat.

“Alhamdulillah, sae, Jang.”

“Mukidi, Mang. Bukang Ujang.”

“Nya, Mukidi. Hehe.” Mang Idi mulai cengangas-cengenges. Mulutnya cengar-cengir. Giginya masih utuh dan rapi. Padahal dia gak pake kawat gigi.

Mang Idi mulai lagi dengan aktivitas lamanya, garuk-garuk kepala. Sebelumnya dia membuka kopiahnya. Soalnya kepalanya tadi dibungkus oleh kopiah. Jadi, buat menggaruknya Mang Idi harus membuka dulu kopiahnya. Kalau gak dibuka kopiahnya jadinya Mang Idi menggaruk-garuk kopiahnya, bukan kepalanya.

Sementara itu, Gue masih merasa bersalah sama Mang Idi. Kalian pasti juga sepakat kalau Gue emang harusnya merasa bersalah. Kalian pasti mikir; kenapa Gue gak pernah menghadiahi Mang Idi dengan shampo? Padahal dia selalu dilanda gatal kepala. “Maaf, Mang.” Gue akhirnya meminta maaf, dalam batin aja.

“Eh, Mang, udah ketemu belum jawabannya?”

“Jawaban apa, Jang?”

“Mukidi, Mang. Bukan Ujang.”

“Nya, nya. Mukidi.”

“Ih, Mang mah sok lupa wae. Dulu khan saya pernah nanya sama Mang. Apa hayo?”

“Naon nya?” Mang Idi tetap bingung. Dia garuk-garuk kopiah. Soalnya kopiahnya lupa dia buka.

“Pangrango itu hadap mana ya, Mang?”

“O, nya, nya. Hadap mana nya?”

“Masa udah setahun Mang masih belum tahu jawabannya.”

“Barat.” Jawabnya singkat dan tegas.

“Ih, Mang mah. Barat mah arah kiblat atuh, Mang. Saya khan gak nanya arah kiblat, tapi arah Pangrango.”

“O, iya ya, barat mah arah kiblat. Hmm..” Mang Idi menunduk. Mungkin dia nyari recehnya yang ilang, “mana ya?”

“Eh, Mang. Saya tunggu ya jawabannya. Entar kalau turun saya tagih lagi lho jawabannya apa.”

Gue yang dikenal dengan nama Mukidi oleh Mang Idi pun pergi. Meninggalkan Mang Idi di belakang yang ternyata masih mikirin jawabannya. Mungkin dia takut kalau ditagih lagi nanti. Dia seperti terbebani oleh PR. Membayangkannya seperti membayangkan seorang anak SD yang kebingungan mencari jawaban atas PR-nya. Oh, Mang Idi.

Langit merona jingga sehabis hujan sore tadi. Sang surya belum sepenuhnya tenggelam. Seperti mangkuk tertelungkup matahari baru tenggelam separuhnya di batas cakrawala sana. Tanah aspal masih dilapisi air sisa hujan barusan. Pelataran Cibodas sore ini adalah panorama indah tiada tara. Oh, Pangrango kini ternyata gak kalah seksi dengan setahun yang lalu.

Dan hari ini Gue menampakkan batang hidung buat yang kedua kalinya dihadapan saudara kembar Gunung Gede itu. Dengan membawa serta tiga makhluk penghuni Jatinangor yang gagah-gagah.

Sahabat alam yang Gue bawa kali ini adalah Rifkhan, Ari, dan Gunawan. Mereka bertiga itu adalah calon-calon peternak masa depan. Soalnya mereka berasal dari satu kampus, dari Fakultas Peternakan Unpad.

Menurut Gue si Rifkhan itu cowok. Soalnya dia itu berjakun. Dia itu normal. Normal sebagai seorang laki-laki. Soal kenormalan seorang cowok kalian pasti udah bisa tahu jawabannya. Rifkhan itu kencingnya berdiri. Dia itu gak suka nangis. Sukanya sama cewek. Dia itu gentle. Dan cewek itu ladies.

Rifkhan gak suka bikin cewek nangis. Sebabnya dia itu jomblo. Sampai kita memutuskan untuk mendaki Pangrango kali ini dia masih saja seorang diri. Gue gak enak kalau harus bilang dia itu gak laku. Jadi Gue bilang aja dia itu jomblo. Dan katanya bagi dia jomblo itu sebuah pilihan. Gak pernah sekalipun dipilih sama cewek.

Ah, lupakan saja Rifkhan. Kini Gue bakal mengomentari si Ari. Namanya Ari, tanpa ‘si’. Si itu ditambahkan biar enak aja. Si anu si itu. Nah, Ari itu orang Palembang. Anehnya dia itu gak suka sama peuyeum apalagi sama Tahu Sumedang. Peuyeum itu nama Sunda untuk menyebut singkong yang dikasih ragi. Orang kita biasa bilang itu tape, padahal itu peuyeum.

Ternyata Ari itu sukanya sama pempek soalnya dia itu orang Palembang. Aneh khan? Biarin aja. Suka-suka dia aja. Dia paling suka dengan pempek kapal selam. Sampai sini Gue heran. Padahal khan kapal selam gak pernah lewat sungai Musi. Emang kalian pernah baca berita kalau pernah ada kapal selam yang ngelewatin jembatan Ampera?

Selanjutnya adalah Gunawan. Gunawan itu nama cowok. Kalo cewek itu peragawati. Parahnya Gunawan itu gak jadi binaragawan padahal dia itu Gunawan, dan dia itu laki-laki. Gunawan adalah senior Rifkhan dan Ari kalau di kampus. Makanya, Rifkhan dan Ari selalu ngerasa jadi junior dia. Soalnya keduanya emang adik kelas Gunawan. Jadi wajar kalau Rifkhan dan Ari itu ngerasa demikian. Gunawan pun sok ngerasa jadi seniornya. Khan dia itu kakak kelas Rifkhan dan Ari, jadi ya wajar. Ah, pokoknya gitu deh mereka itu. Aneh.

Gunawan itu kepalanya botak dan masih bulet. Dia gak berambut alias pelontos. Konon, kepala pelontos itu seksi. Itu ideologinya. Entah dapat ilham dari mana sehingga punya pemikiran nyeleneh kayak gitu. Dan kalau di rumah dia adalah anak dari bapak dan ibunya.

Eh, kalian ngerasa gak kalau Gunawan itu seksi? Menurut Gue sih biasa-biasa aja. Soalnya dia gak pernah pake hotpants atau tengtop. Jadi, Gue bingung mau nilai seksinya dari mana. Dia sukanya pake sarung. Kali ini dia juga bawa sarung ke gunung. Katanya lebih enak tidur pake sarung kalau di gunung ketimbang tidur pake hotpants. Iya juga sih.

Dibandingkan dengan Rifkhan dan Ari, Gunawan ini yang paling eksentrik. Gue gak mau nyebut dia itu gila. Karena kata gila itu gak sopan. Eksentrik itu kedengaran lebih nyentrik. Pingin tahu keeksentrikan dia? Entar aja Gue ceritain. Kalau sekarang Gue malas.

Sebagai bocoran aja ya, dia itu ternyata bawa pelek. Tapi jangan bilang-bilang ke Gunawan ya. Soalnya ini cuma Gue sendiri yang tahu. Rifkhan dan Ari gak tahu. Ke gunung bawa pelek? Kalian pasti heran deh. Gue sih gak heran. Biasa aja. Dia itu khan anak motor. Ah, kalian tahu khan anak motor itu apa? Orang yang hobinya touring pake sepeda motor itu lho. Bahasa Sundanya dia itu Rider.

Saking menghayati perannya sebagai seorang rider sampe-sampe ke gunung pun dia bawa pelek. Bawa dua pelek lagi. Mungkin dia pikir sebagai antisipasi kalau-kalau motornya butuh diganti peleknya. Soalnya di gunung itu jalannya menanjak. Jadi sangat memungkinkan untuk roda motornya lepas dan peleknya bengkok. Sebuah pemikiran antisipatif yang perlu diacungi jempol. Sayangnya, dia ke gunung gak pake motor, tapi pake kaki.

Dan ini adalah cerita dibalik layar sebelum kami mendaki bareng.

“Kita touring yuk, Gun.” Itu Gue yang ngajak.

“Kemana?” Itu Gunawan yang bertanya.

“Pangrango.”

“Hah?” Gunawan seperti gak percaya. Atau dia emang terganggu pendengarannya sehingga gak dengar suara keras Gue. Mungkin dia lagi pake headset.

“Pangrango.” Gue membisikinya. Bibir Gue ditempelin ke telinga dia. Dan tanpa sadar ternyata Gue mengulangi jawaban yang sama. Jikalau saja Gue lagi ikut kuis Komunikata Gue pasti udah didiskualifikasi sebab menyebutkan kata yang sama dalam satu babak.

“Touring ke Pangrango? Ke Cibodas maksudnya?” Itu Gunawan yang mengoreksi.

“Iya. Tapi gak usah bawa motor. Kita jalan kaki.” Itu Gue yang bilang.

“Gimana ceritanya touring gak pake motor. Aneh lo.”

“Justru itu. Sekarang cowok-cowok yang aneh itu yang dicari, Gun.”

“Dicari sama cewek?”

“Dicari sama polisi. Pokoknya ayolah, Gue udah ajak Rifkhan sama Ari.”

“Naek gunung maksudnya?”

“Pokoknya kita jalan kaki ke Pangrango deh.”

“Iya itu naek gunung namanya. Dodol!”

“Eh, enakan mana dodol sama Tahu Sumedang, Gun?” Gue penasaran dengan kedua rasa jajanan itu. Dodol itu enak soalnya dari Garut. Dan Tahu Sumedang itu juga enak, soalnya asalnya dari Sumedang. Tapi, kenapa di Lembang juga ada Tahu Lembang ya? Ah, mungkin belinya dari Sumedang juga. Terus dibawa ke Lembang jadi namanya Tahu Lembang. Kalau dibawa ke Tegal pasti namanya jadi Tahu Tegal. Soalnya udah ngapak-ngapak rasanya.

“Terserah lo!” Begitu jawaban Gunawan.

“O, ya udah. Gue mau beli peuyeum aja deh kalo gitu. Ikut?” Gue mengajak Gunawan beli peuyeum.

Gunawan gak menjawab. Dia malah tetap dalam posisinya, tiduran. Berarti dia itu lebih suka peuyeum ternyata. Diam berarti ngantuk. Dan Gue pun pergi ke Cileunyi buat beli peuyeum. Soalnya peuyeum yang dijual di Cileunyi lebih enak daripada peuyeum yang dijual di pasar loak.

Itulah awal mula ajakan Gue ke Gunawan. Sekarang Gue udah sama dia dan Rifkhan plus Ari di Cibodas, kaki Pangrango. Kita udah siap-siap mendaki. Buat Gunawan, Rifkhan, dan Ari, mendaki Pangrango itu adalah pengalaman pertamanya. Sebelumnya ketiganya belum pernah mendaki gunung. Sedangkan buat Gue Pangrango itu adalah nama gunung. Letaknya di Cibodas, Jawa Barat.

Sampai di Mang Idi sore hari. Karena kita malas naik malam hari, jadi kita memutuskan buat mendaki pagi harinya. Malam hari atau pagi hari buat mendaki sebenarnya relatif. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang paling kentara perbedaannya, mendaki gunung pada malam hari itu lebih gelap. Dan, mendaki saat pagi hari itu lebih terang. Kalau mendaki malam hari itu kita bisa lihat bulan kadang-kadang, bintang juga ada kalau gak lagi mendung. Sedangkan kalau pagi ada matahari. Tapi, kita gak bisa lihat matahari. Soalnya silau. Coba aja kalau gak percaya. Saran Gue sih jangan lihatin matahari. Mending lihatin cewek-cewek yang lewat.

Karena pertimbangan itu kita terpaksa bermalam di Mang Idi lagi. Mau bermalam di mana lagi selain di situ. Soalnya di musala atau masjid sekarang udah gak boleh tidur. Selalu ada tulisan ‘Dilarang tidur di musala/masjid’. Kalian pasti heran deh kenapa harus ada tulisan kayak gitu. Gue juga sama. Sejak kapan musala/masjid itu buat tidur. Setahu Gue dari SD musala/masjid itu buat ibadah atau salat. Kalau mau tidur ya di rumah bukan di sana. Jadi gak penting banget tulisan itu. Tapi, mungkin pak marbot lagi pingin buat karya seni semacam poster, dan akhirnya buat poster bertuliskan larangan itu. Wallahu a’lam bissawab.

Ternyata pagi itu cepat datang. Gak kerasa. Soalnya Gue tidur dan pas bangun tiba-tiba udah pagi. Rifkhan, Ari, dan Gunawan, masih merem. Itu artinya mereka masih tidur. Gue sendiri yang udah melek. Soalnya Gue udah gak tidur lagi.

Sekarang udah jam enam pagi. Dan ketiga sahabat alam Gue masih merem. Gimana ya? Akhirnya Gue pun menuruti pose tidur mereka. Takut dibilang gak kompak Gue pun ikutan merem lagi. Asal tahu aja, dunia kepencintaalaman itu terkenal dengan solidaritasnya. Mereka itu kesohor kompak. Rifkhan, Ari, dan Gunawan, masih merem, Gue juga menyusul mereka merem. Padahal tadinya Gue udah duluan bangun. Gak apa-apa, yang penting kompak.

Kukuruyukkk..

Itu bunyi kokok ayam yang Gue rekam dan Gue jadiin bunyi alarm hape Gue. Yang Gue setel lagi jam enam lebih lima belas. Padahal Gue baru merem lagi sejak bangun tadi jam enam. Berarti Gue cuma merem lima belas menit doang. Terpaksa Gue harus benar-benar melek dan bangun.

Ngapain jauh-jauh dari Bandung ke Cibodas kalau cuma buat tidur? Tiba-tiba terdengar suara tanya itu. Entah dari mana. Mungkin itu pertanyaan yang dilempar sama Mang Idi. Sebagai balasan atas PR yang Gue berikan kepadanya kemaren. Tapi, benar juga. Ngapain ke sini cuma buat tidur. Tidur mah di musala kosan juga bisa.

Gue bangun. Dan membangunkan sebuah candi, eh membangunkan Rifkhan, Gunawan, dan Ari. Dibangunkan apa? Dibangunkan buat cepat mandi, gosok gigi, dan mendaki.

Setelah dibangunkan mereka lalu bangun. Gue duluan mandi dan gosok gigi. Lalu diikuti oleh Rifkhan, Ari, dan Gunawan. Bukan mengikuti Gue mandi dan gosok gigi. Maksudnya ketiganya mandi dan gosok gigi setelah Gue keluar dari kamar mandi. Kita gak mandi bareng. Gak pernah sama sekali. Sumpah. Yang pernah kita lakukan adalah gosok gigi bareng-bareng. Tapi, itu juga dengan sikat gigi sendiri-sendiri. Bukan satu sikat gigi buat empat orang. Itu namanya jeruk makan jeruk nanti.

Sejam kemudian. Kita berempat udah siap sedia. Mandi, gosok gigi, dan ngopi-ngopi. Kini kita siap untuk mendaki. Kemana? Ya ke Pangrango. Acara selanjutnya adalah mengheningkan doa. Gue memimpin doa bersama. Bersama Rifkhan, Ari, dan Gunawan, tentu saja. Setelah doa kita sama-sama mengamini. Dan kalian gak usah tahu apa doa kami tadi. Rahasia. Cukup Mang Idi aja yang tahu.

Perjalanan dimulai. Langit Pangrango pagi ini cerah. Gak ada gumpalan awan putih secuilpun. Mungkin bakal gak ada hujan sampai siang nanti. Semoga. Soalnya gumpalan awan coklat belum muncul. Itu berarti gak mendung. Kalau gak mendung berarti gak bakalan hujan. Gue bukan pawang hujan. Tapi, yang kayak gitu bisa juga diprediksi dengan nalar. Meski begitu kami semua udah bersiap dengan rain coat masing-masing. Ingatlah, bahwa alam gak pernah memberitahukan kepada kita kalau mau hujan atau badai. Jadi, antisipasi itu perlu. Catat baik-baik, Kisanak.

Hap.. Hap.. Hap.. 

Itu bunyi langkah kaki. Setelah melewati curamnya hot spring kita sampai di Kandang Badak. Sebelumnya Gue sempat mencuci muka di air terjun panas itu. Anget. Soalnya airnya emang anget. Beberapa orang bahkan Gue lihat lagi pada mandi dan keramas. Mereka berasa kayak di spa atau sauna atau bahkan berasa di salon kali ya. Ah, entahlah itu urusan mereka masing-masing. Ngapain Gue comel.

Eh, kalian tahu hot spring itu apa? Hot spring itu sumber mata air panas di Pangrango. Kalau hot pants itu berarti celana panas. Entah dimananya yang panas. Nah, air di hot spring itu emang panas. Mungkin karena mengandung belerang. Jangan tanya siapa yang memasaknya. Tanyalah kepada guru kimia kalian masing-masing unsur-unsur apa aja yang terkandung dalam belerang.

Kandang Badak. Dan kita berempat beristirahat. Rifkhan dan Ari kelihatan banget lelahnya. Baju mereka basah kuyup oleh keringat. Dan, Gunawan yang terlihat paling capek. Baju kenaannya paling basah. Padahal ketimbang Rifkhan dan Ari dialah yang paling ringan bawaannya, kelihatannya. Secara kasat mata orang boleh bilang demikian. Rifkhan dan Ari membawa ransel alias tas carrier berukuran lebih dari 6.5 liter, sedangkan Gunawan hanya membawa tas backpack kecil, seukuran 3.5 liter.

Setelah makan siang dan salat di Kandang Badak tanpa cula kita kembali berkemas melanjutkan perjalanan. Semua barang yang tadinya kita bongkar dalam ransel kini dimasukan kembali. Cuma Gunawan yang gak membongkar tasnya. Entahlah. Dia suka main petak umpet soalnya. Dari ketiga pendaki kali ini cuma dia yang paling misterius. Sosoknya sangat misterius. Andai saja gak botak, sosoknya itu mengingatkan kita semua pada aktor kawakan kenamaan Indonesia, Toro Margen.

Perjalanan dilanjutkan. Dari Kandang Badak kita belok kanan. Kemana itu belok kanan? Ya ke kanan. Kanan itu baik. Kanan itu dianjurkan oleh agama. Janganlah kalian mengambil langkah ke kiri jika ke kanan itu lebih baik. Itu dulu pesan ustaz Gue di kampung. Akhirnya kita pun mengikuti petuah bijak itu. Jalan kanan yang diambil. Insyaallah sirratalmustaqim. Amin.

Di Kandang Badak cuma ada dua persimpangan. Ke kanan dan ke kiri. Selalu aja jika belokan itu cuma dua, kalau gak kanan ya kiri. Di Pangrango pun demikian. Pasalnya, jalan ke kiri itu ke arah Gunung Gede dan ke kanan itu ke Gunung Pangrango. Jadi kalian udah tahu khan sekarang kenapa kita mengambil jalan ke kanan? Benar. Omongan ustaz seringkali tepat. Dia selalu menunjukan jalan yang kanan—bukan jalan yang lurus.

Estimasinya setelah Kandang Badak ke puncak tinggal enam jam. Ditempuh selama enam jam kalau jalan kaki. Kalau naik ojek atau becak bisa lebih lama. Bisa memakan waktu sepuluh jam. Tahu kenapa pake ojek dan becak lebih lama? Soalnya jalannya menanjak. Jadi emang mendingan ditempuh dengan jalan kaki. Biarpun menanjak dan capeknya minta gendong. Tapi, itulah seninya mendaki. Pas di jalan capek tapi entar pas udah di puncak kita senang-senang ketawa-ketiwi. Begitu juga dengan menggapai mimpi. Ada halangan dan rintangan. Setelah mimpi itu digapai kita juga pasti melupakan getirnya halangan dan rintangan itu.

Pangrango menjelang puncak adalah banyaknya pohon tumbang yang menghalangi jalan, lumut yang licin, dan jalanan terjal. Buat Gue jalanan dan trek model gitu bukanlah jadi halangan. Itu semua adalah tantangan. Udah tahu bedanya tantangan dan halangan? Halangan itu cenderung ke arah masalah dan persoalan. Dan itu semua suka bikin kita malas ngehadapinnya. Sedangkan tantangan itu memunculkan tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah itu. Tantangan itu semacam rangsangan untuk kita bekerja lebih giat dan lebih kreatif lagi. Dan mendaki gunung itulah tantangan bukan halangan apalagi rintangan.

Empat jam sudah kita berjalan, bukan naik ojek. Dari Kandang Badak tadi kita meluncur jam dua siang Waktu Indonesia Kandang Badak. Dan sekarang udah jam enam. Kita berjalan begitu lamban, dari jam dua sampai jam enam. Empat jam sudah. Soalnya enam dikurangi dua itu hasilnya adalah empat. Jadi sekarang udah jam enam sore. Enam sore adalah hasil penjumlahan dua dan empat. Jadinya enam. Ah, kalau kalian bingung tanya aja ke guru agama masing-masing. Siapa tahu dapat pencerahan.

Masih dua jam lagi ke puncak. Tapi, kita masih istirahat. Rifkhan terlihat capek banget. Ari nampak biasa aja, capek juga. Dan Gunawan paling capek. Meski tas dia yang paling kecil. Sebentar kemudian kita jalan lagi.

“Gantian lah tasnya, Gun.” Itu suara Rifkhan, bukan Gue. Dia minta gantian tas dengan Gunawan, bukan dengan Gue.

“Kenapa, Han?” Gunawan bertanya.

“Enak lo ya bawa tasnya kecil. Sini ah gantian.” Itu suara Rifkhan lagi, bukan Gue.

Gunawan gak menjawab. Gak juga menolak. Soalnya tanpa jawabannya pun Rifkhan udah ngambil tasnya. Dan menggendongnya. Gunawan diam. Dan Rifkhan mengeluh.

“Anjing! Berat banget.” Rifkhan bilang anjing. Padahal yang dibawanya itu tas Gunawan, bukan anjing.

“Mana anjingnya, Han?” Itu Gue yang nanya dimana ada anjing.

“Mana ada anjing. Ini tasnya yang anjing.” Rifkhan menyebut lagi kata anjing.

“Di dalem tasnya ada anjingnya?” Gue makin penasaran.

“Tasnya. Dodol!” Rifkhan mengganti anjing dengan dodol.

“O, ada dodolnya. Segede apa dodolnya sampe berat gitu?” Gue tiba-tiba ingat dodol yang waktu itu dibilang Gunawan. Gue mendadak pingin dodol di Pangrango.

Rifkhan gak menjawabnya. Mungkin dia gak mau bagi-bagi dodolnya. Dia egois. Mau dimakan sendiri dodolnya.

Dia lalu menurunkan tas Gunawan yang udah digendongnya itu. Dibukanya tas itu pelan-pelan. Resleting pun terbuka. Dan keluarlah anjing, lagi.

“Anjing!” Anjing keluar dari mulut Rifkhan.

“Mana, Han?” Gue nanya lagi.

“Lo mana-mana melulu. Ini nih tasnya.. Anjing!” Rifkhan menuduh tas itu sebagai anjing.

Di seberang Gunawan masih diam. Wajahnya dingin. Diam doang. Sementara itu Ari ikut bertanya.

“Kenapa lo, Han?” Ini Ari yang nanya.

“Lo lihat deh apa isi tasnya. Anjing!” rifkhan membanting tasnya, dan anjingnya juga.

Ari lalu melihatnya. Membuka ada apa gerangan isi dalam tas itu.

“Anjing!” Yang bilang anjing itu Ari. Bukan Gue, sebab Gue masih diam aja lihatin mereka lagi ngasuh anjing.

“Bener khan kata Gue. Gunawan gila kali ya.” Rifkhan masih kesal. Mukanya memerah. Padahal dia gak lagi pake blash on.

“Iya, gila dia.” Ari bilang Gunawan gila. Mukanya juga nampak kesal. Dia bersungut-sungut.

Gue juga penasaran. Akhirnya Gue pun ikut melongok isi dalam tas itu. Ternyata apa yang mereka ributkan soal anjing itu gak terbukti. Gak ada anjing sama sekali dalam tas. Atau jangan-jangan anjingnya udah lari terbirit-birit gara-gara Rifkhan dan Ari meneriakinya? Mungkin aja.

“O, udah lari ya anjingnya, Bro?” Gue berkata menenangkan anjingnya yang lepas.

“Emang ada anjing?” Rifkhan dan Ari bertanya. Berbarengan nanya anjing ke Gue. Mana Gue tahu.

“Lha bukannya kalian tadi ribut-ribut ada anjing ya?” Gue memasang muka polos. Tadinya mau masang muka mirip Tom Cruise. Tapi, gak jadi.

“Kagak ada anjing dari tadi juga.” Ari bilang kayak gitu.

“Adanya pelek noh!” Rifkhan sambil menunjuk ke arah tas ijo milik Gunawan itu. Sedangkan Gunawan masih saja terus berjalan di depan meninggalkan keributan yang terjadi di belakangnya. Uh, damainya Gunawan.

Mungkin mereka harus bisa legowo. Rifkhan dan Ari harus bisa memahami jika Gunawan itu adalah anak motor. Sehingga kemana-mana bawa pelek, termasuk ke Pangrango sekarang.

Kami bertiga lalu melanjutkan lagi perjalanan. Menyusul Gunawan yang telah lebih dulu berjalan di depan. Gue santai. Ari pun demikian. Hanya Rifkhan yang masih bersungut-sungut, mungkin dia kesal. Bukan anak motor tapi harus rela menanggung beban dua pelek motor yang sungguh berat itu.

Akhirnya kita semua sampai di puncak menjelang waktu acara Laporan Khusus di TVRI. Itu udah hampir jam sepuluh. Tapi, kami belum juga mendirikan tenda dan masak-masak. Rifkhan langsung membanting tas yang berisi pelek itu di depan Gunawan.

“Eh, setan lo ya. Ngapain bawa pelek ke gunung, hah?” Ini kalimat Rifkhan kepada Gunawan yang lagi duduk santai menikmati asap tembakau yang terbakar. Rifkhan masih berdiri. Sedangkan Gue dan Ari melihat cek-cok mereka dari jarak dua meter lebih dua puluh dua senti.

“Kenapa lo marah-marah? Yang bawa pelek khan Gue. Duduk dulu lah, santai.” Gunawan menjawab tantangannya dengan kepolosan. Innocent.

“Gimana gue gak marah. Lo ngerjain gue suruh bawa pelek.” Rifkhan masih berdiri.

“Lha khan yang minta tukeran tas lo bukan gue. Iya, khan?” Gunawan menjawab santai.

“Iya. Gue gak tahu kalo isinya pelek. Tahu gitu mah males gue. Sialan lo.”

Gunawan gak menjawabnya. Dia masih asyik menarik asap tembakau lintingannya. Kelepas-kelepus.

Gue masih berdiri dan melihatnya dari jarak yang masih sama dua meter dua puluh dua senti dari mereka. Sedangkan Ari beranjak mendekat. Jaraknya kini cuma tinggal semeter tiga belas senti.

“Kenapa lo bawa pelek, Gun?” Ari ikut nimbrung dan bertanya penasaran. Sedangkan Gue memaklumi Gunawan dengan bawaannya. Maklum, dia khan anak motor.

“Gini nih alasan gue bawa pelek. Duit gue nipis banget pas kemari. Gue takut kehabisan ongkos di jalan. Jadi gue bawa aja pelek nganggur di kosan.” Gunawan beralasan demikian.

Ari dan Rifkhan masih diam sejenak. Terus ngoceh lagi.

“Apa hubungannya pelek sama ongkos?” Rifkhan bertanya. Rupanya dia masih bingung. Plus penasaran.

“Maksudnya kalo gue kehabisan ongkos di jalan gue bisa jual tuh pelek.”

“Trus kenapa lo gak jual aja pas di bawah?” Ari bertanya lagi. Dia juga masih bingung korelasi pelek dan ongkos.

“Khan gue baru takut doang. Belum bener-bener kehabisan ongkos. Kalo gue jual tuh pelek ntar motor gue gimana. Iya kalo beneran ternyata ongkos gue abis. Kalo ternyata masih ada dan cukup buat pulang khan jadinya sayang gue jual peleknya. Iya, khan?”

Iya ya. Benar juga. Begitu mungkin kira-kira Rifkhan dan Ari membatin.

Alasannya emang logis. Pelek dibawa sebagai antisipasi kehabisan ongkos di tengah jalan. Kalau pelek itu dijual sedangkan ongkos kira-kira masih ada ngapain dijual. Jadinya sayang. Jadi dijualnya entar aja pas ongkos benar-benar abis. Sekarang Gunawan emang masih megang duit buat pulang. Tapi, kalau entar tiba-tiba di warung Mang Idi dia pingin makan atau beli merchandise khan duit dia bisa abis. Nah, di warung Mang Idi itu pasti dia bakal jual pelek. Nerima jual pelek gak, Mang?

Rifkhan dan Ari masih diam. Keduanya hanya bisa membatin. Menerka-nerka dan berspekulasi aja. Sementara itu Gunawan masih menyedot asap tembakaunya. Duduk bersandar di pohon kina sambil menyelonjorkan kakinya. Di dunia yang edan ini cuma orang gila yang rasional. Memang.

Damainya engkau malam ini wahai puncak Pangrango. Semoga saja kita bisa berjumpa lagi nanti. Di hari dan pada suatu masa dimana mendaki gunung sudah gak lagi perlu bawa pelek. Dan juga tanpa membawa serta anjing.

Oh, Pangrango.

Oh, Mandalawangi.

Gunung Pangrango II. 2008

 

JS

Posted in: Short Story