Balada Anak Bahari [Part. 2]

Posted on July 14, 2014

0



Balada Anak Bahari (dok klosetide)

Balada Anak Bahari (dok klosetide)

Pyakk.. Pyukk..

Kehidupan pesisir dibuka oleh desir kecil ombak yang menabrak bibir pantai mengeluarkan irama yang konsisten. Kilau emas mentari menyinari pucuk-pucuk daun nyiur. Iringan sepasukan camar membentuk barisan rapi bak satu skuadron pesawat jet yang tengah berparade. Mereka berarak dari timur ke barat daya.

Di bawahnya puluhan burung bangau tengah ganas mencari mangsa. Mengincar dengan seksama ikan-ikan kecil yang mendekat ke permukaan air laut. Dan dengan sigap menangkapnya sebagai menu sarapan paginya. Dari kejauhan sampan nelayan terlihat seperti semut berjejer mencari ikan di tengah hamparan samudera. Mencari bekal demi mimpi-mimpi anak mereka.

Sementara itu, di daratan asap putih mengepul dari dapur-dapur rumah petak yang berderet di sepanjang bibir pantai. Kepulan asap itu menerobos puas keluar lewat sela-sela genteng yang sebagian besar tak lagi utuh.

Teng.. Teng..

Suara wajan yang beradu dengan irus besi terdengar menenangkan perut-perut kecil bocah yang tengah menunggu sarapan pagi dari sang induk. Bocah-bocah itu telah berseragam pramuka. Celana merah sebagai seragam merah putihnya tak lagi dikenakan sebab sekarang adalah hari jumat, hari berpramuka. Seakan tak sabar menunggu masak, seorang bocah lelaki usia enam tahun anak Pak Wardi membuntuti ibunya dengan membawa piring seng dan sebuah sendok.

Klontang.. Klontang..

Gagian, Mak! Wis ngelih kieh (sudah lapar ini).” teriaknya sambil memumul-mukul piring seng itu dengan sendoknya.

Lain lagi cerita di rumah Pak Tarjo. Anaknya yang telah menginjak bangku SMP sudah siap sebelum pukul enam pagi. Sekolahnya cukup jauh. Sekira satu jam kayuhan sepeda. Dan itulah yang memaksanya untuk sudah siaga di pagi buta. Wanto, sang anak, sudah berseragam pramuka lengkap dengan hasduk merah putih melingkar erat di lehernya, gulungan tali putih menempel di sisi kiri pinggangnya, dan topi baret coklat berlabel tunas kelapa di ujung sebelah kanan atas baret telah menempel di kepalanya. Hari ini bakal ada Persami—Perkemahan sabtu minggu. Sehingga dia harus bersiap dan mengemasi pakaian untuk dua hari dari sekarang biar tak bolak-balik mengingat jarak rumah dan sekolah yang jauh. Tak lupa Tarjo nyangoni putranya itu.

Ada kehidupan di tanah bahari pagi ini.

Di rumah petak sederhana yang berada paling ujung dari Dukuh Muara, Kecamatan Muarareja, Darsinah telah bebas dari tugas paginya. Telur dadar dan kecap sebagai teman nasi sudah siap dihidangkan untuk sang anak, Djono. Menu sarapan pagi yang bersahaja. Bakul ikan sebagai alat pengunduh rupiah sudah ia persiapkan pula.

Kini tinggal lantai semen rumahnya yang sudah mulai hancur pelurannya yang belum disapu. Intensitas menyapu lantai dua kali sehari pagi dan sore membuat lantainya kian tipis. Bulir pasir yang sudah tak rekat lagi dengan semen satu persatu tersapu. Di beberapa sisi malahan sudah botak. Sudah seperti teras rumahnya yang berpasir pantai. Menginjak lantai rumah Darsinah sudah sama seperti menginjak pasir di pantai. Sudah sepuluh tahun silam rumah itu tak lagi di renovasi memang. Ah, lagian duit darimana sehingga bisa mendandani rumah. Untuk mendandani tubuh dengan pakaian yang agak layak saja tak sempat, harus berebut dengan kebutuhan dapur dan sekolah sang anak dahulu.

Selesai menyapu halaman rumah, Djono memandangi sang ibu yang tengah menyapu. Dilihatnya lekat-lekat perempuan yang begitu tangguh membesarkan semata wayang buah hatinya seorang diri. Lengannya tak lagi erat mencengkeram gagang sapu. Otot-otot menyembul terlihat jelas dari kulit lengan yang tak lagi kencang. Sehingga sulit membedakan antara gagang sapu dan lengannya yang kerempeng itu. Kerut halus sudah mulai merontokan kekencangan parasnya. Air mukanya tak lagi segar seperti dulu. Pipinya jatuh seperti digelayuti oleh kerut. Sorot matanya tak lagi tajam. Pun tak lagi awas melihat debu yang menggunduk sehingga lepas dari sapuannya. Djono terus mengamati. Tangannya masih memegang ujung sapu lidi bekas menyapu halaman tadi. Iba kembali menyeruak dalam hati.

Obrolannya dengan sang ibu sore lalu telah mematri relung nuraninya. Mau seperti apa jalan kedepannya. Seperti apa masa depannya kelak. Untuk apa dan siapa keringatnya kini dan nanti. Djono kian paham akan hidupnya kini. Kedewasaan berpikir dan bertindak telah hadir pada remaja yang belum genap 20 tahun itu. Oleh karena keadaan dan situasi batin yang begitu luar biasa sehingga kedewasaan itu hadir lebih dini. Djono sama sekali tidak pernah bermimpi dilahirkan di keluarga yang sederhana atau miskin. Bukan harapannya pula untuk mengakhiri mimpinya menimba ilmu. Memupus semua mimpi-mimpi yang terajut semenjak kecil, kala ayahnya masih hidup. Ini adalah satu kondisi yang membuatnya semakin terpecut untuk membakti kepada Darsinah, sang ibu. Segera ditaruhnya sapu lidi yang tadi dipegangnya di pojok halaman belakang rumahnya.

Hari ini Djono masih menunggu panggilan atas lamaran yang dikirimkannya pada sebuah bengkel motor di kota. Sudah berpuluh kali mengirimkan lamaran, namun tak jua ada panggilan. Tak terhitung berapa tempat yang dikunjunginya, tapi jawaban tak juga datang. Tuhan masih menyimpan jawaban itu, meski segala tanya, doa, dan usaha telah dihaturkannya. Dengan uji semuanya itu Djono tak lantas patah arang. Sesekali dia ikut Darsinah ke pelabuhan dan membantu berjualan ikan. Demi sebuah bakti dan sesuap nasi. Tak tega sebab kondisi sang ibu yang beranjak senja. Apapun dilakukannya. Asal halal dan tidak mencuri. Bagaimanapun juga hidup harus dilalui dengan keyakinan dan kejujuran, seperti pesan sang ayah silam.

Cemooh seringkali menampar Djono. Bagaimana mungkin anak lulusan sekolah tinggi (SMK) masih saja menganggur. Sedangkan di sisi lain, mereka yang hanya tamatan SD, SMP, atau bahkan yang tak sekolah saja sekarang sudah bermotor. Menjadi nelayan sukses yang pulang-pulang bawa uang segudang. Anak-anak seusianya bahkan sudah banyak yang berumah tangga dan memiliki rumah. Sedangkan Djono pekerjaan pun tiada apalagi rumah dan roda dua. Cerca dan hina silih berganti menyambanginya dan keluarganya.

Atas segala pandangan miring itu Darsinah selalu berpesan,

“Jangan pernah benci dengan hinaan wong liya. Urip kuwe aja dumeh (hidup itu jangan sombong). Celakanya orang itu bukan karena hinaan, cemoohan, atau mulut orang lain. Tapi, celakanya orang itu karena mulutnya sendiri.”

Jika tak mengingat petuah ibunya itu, Djono mungkin tak segan menyambangi rumah Yuk Darsem. Hampir-hampir dia melabrak tetangga jeda lima rumah dari rumahnya itu sebab telah mencemoohnya. Seorang yang sama sekali tak bahagia melihat tetangganya senang dan hidup bahagia. Dia meledak-ledak bak singa kelaparan. Jika saja Djono tidak mengingat dan mengacuhkan pesan ibunya itu, barangkali ceritanya akan lain. Sebagai seorang anak, dan atas nama keremajaannya yang labil, maklum jika dia tak kuasa menahan emosi jika ada anggota keluarganya dicemooh. Serigala saja bakal terusik dan balas menyerang jika salah satu anggota koloninya diserang. Apalagi manusia yang masih punya nafsu dan seringkali dikuasai emosi.

Tanah bahari telah mendidiknya keras. Stereotip akan masyarakat pesisir yang cenderung keras baik dalam watak dan intonasi berbicara setidaknya menempel dalam jati dirinya. Tanah Bahari dengan segala tetek bengek kompleksitasnya turut membentuk karakter putra-putranya. Pada sisi yang lebih baik lagi, resistensi mental turut ditempa oleh kehidupan pesisir yang bermandikan mentari dan panasnya hawa udara itu. Tapi, lagi-lagi Djono masih ingat petuah orang tuanya, untuk tetap kalem dan santun dalam menghadapi segala ujian hidup.

 

Bersambung…

 

JS

Posted in: Short Story