Balada Anak Bahari [Part. 1]

Posted on June 17, 2014

0



Balada Anak Bahari (dok klosetide)

Balada Anak Bahari (dok klosetide)

“Tinggalkan kecemasan, biarkan rencana Allah menjadi rahasia-Nya semata—Dia mengatur semua tanpa harus menanyakan pendapatmu.”

Omar Khayyam-The Rubaiyyat-

Sinar surya sore menggores langit jingga. Melukis lantai laut dengan kilau keping-keping kaca. Semilir angin laut dari kejauhan menggulung ombak menyongsong bibir pantai dengan mesra. Menghapus guratan awan dari mega. Menyeret serta berpuluh perahu nelayan menuju ke dermaga. Berarak ramai menjauhi batas cakrawala. Cericit burung camar urun menyemarakan kepulangannya. Hamparan samudera mahaluas tersaji menjadi saksi kembalinya surya ke dalam peraduannya.

Di kejauhan sana tampak berbondong-bondong pasukan perahu nelayan menyusul penghidupannya. Terlihat mini di hamparan air laut yang luas. Sebagian lainnya mengarah ke tempat pelelangan ikan di pelabuhan. Bersiap membongkar muatannya yang telah penuh. Dan, siap untuk membarternya dengan sekeping rupiah sebagai bekal untuk sekolah sang buah hati.

Bau anyir ikan seketika menyeruak menampar hidung. Menjadi dominasi warna aroma khas pesisir. Membaluri gubuk-gubuk bersahaja para nelayan yang berjejer di bibir pantai. Mengabarkan kepada daratan yang telah berharap akan sebuah warta bahagia. Membawa tangkapan ikan demi langgengnya dapur sebuah entitas yang bernama rumah tangga. Ada makna yang kian teguh akan sebuah ragam kehidupan bahari.

Panas pasir pantai yang siang tadi bercokol perlahan terusir oleh hembusan angin timur. Menarik sepasang remaja untuk kembali menghabiskan sore. Menikmati belianya usia muda. Membiarkan kaki asyik mengayuh pit ontel kesana kemari. Sang bujang nampak berusaha mengatur ritme kayuhan dengan laju sepeda sang gadis. Berjejer. Kencangnya tiupan angin memaksa kakinya bekerja keras menapak pedal untuk terkayuh kencang. Kemudi pun dihentikan.

Pada sebuah permadani pasir mereka menstandarkan sepedanya. Duduk selonjor berdua. Ngelemprak. Membiarkan kedua kaki basah oleh debur ombak yang menyongsong daratan. Sang gadis asyik bermain pasir. Melumuri kedua kakinya dengan pasir pantai basah. Mengajak bengcengkrama sang bujang. Giliran kedua kaki pasangannya yang disasar. Sang bujang reflek menggeser kakinya seakan tak ingin celana jins kumalnya basah dan lengket oleh air laut. Langkah menghindarnya malah membuat sang gadis makin masif melemparkan pasir basah dalam genggamannya.

Sang bujang dipaksa menyerah. Tak ada ruang bagi daya untuk menolak. Rela membiarkan celananya kuyup oleh pasir dan air laut. Sang bujang pasrah sementara sang gadis melampiaskan puas kepadanya. Godaan dan rayuan sang bujang tak ampuh memaksanya berhenti. Sesekali tersungging senyum di bibir manis sang gadis sebagai tanda puas. Sang bujang pun membalasnya dengan senyum yang tak kalah lembutnya. Keisengan sang gadis menyiratkan makna asmara. Tersaji romantika remaja di senja pantai utara.

Di seberangnya enam anak-anak perempuan tengah bermain gatik. Membagi dirinya menjadi dua bagian sama rata. Tiga orang langsung memainkan permainan dan tiga yang lainnya sebagai lawan. Gatik adalah permainan tradisional yang menggunakan dua bilah kayu atau rotan yang satu memiliki panjang sekira 40 cm dan satunya lagi relatif lebih pendek sekira 15 cm. Dua bongkah batu bata disiapkan sejajar dan hanya berjarak 10 cm satu sama lainnya. Bilah kayu yang pendek diletakkan melintang pada kedua bata itu. Seorang yang menjadi bagian tim tengah membungkukan badannya bersiap memukul bilah pendek itu dengan bilah panjang. Diangkatnya bilah pendek sehingga melayang dan segera saja bilah itu dipukul keras-keras dengan menggunakan bilah panjang.

Satu pemain lawan dengan lihai berlari mencoba menangkap bilah yang melayang jauh itu.

Hap!

Kena!

Hore..

Tim lawan bersorak sorai sebab berhasil menangkapnya. Mereka menang dan berhak mengendalikan permainan selanjutnya. Tanah bahari menangkap tawa keceriaan anak-anak pesisir yang tak iri oleh permainan berteknologi yang dimainkan oleh anak-anak lain di belahan bumi yang lainnya.

Tak jauh darinya sepuluh bocah membagi dua bagian sama rata bermain bola. Tim yang satu bertelanjang dada. Sedangkan tim satunya masih mengenakan kaos oblongnya. Beberapa masih memakai celana pendek merah seragam sekolah. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak pesisir untuk malas salin mengganti seragam sekolahnya. Mungkin karena ini hari kamis, hari terakhir memakai seragam merah putih sebab esok hari mereka sudah berseragam pramuka. Keriangan terpancar dari wajah polos anak-anak nelayan pesisir. Wara-wiri menendang bola ke sana kemari mencoba membobol gawang lawan. Di sini kebahagiaan anak-anak cukup sederhana, hanya dengan bermodal sepetak tanah pasir pantai, sebuah bola plastik, dan sepasang kayu pancang sebagai penanda gawang.

Nampak satu perahu mini berisi tiga orang pasukan pencari ikan menepi. Tempat pelelangan ikan yang ditujunya. Sebuah pelabuhan besar tempat seluruh kapal dan perahu nelayan berdiri gagah di sana. Seorang bocah dari tim bertelanjang dada menyongsongnya. Berlari kencang mengharap perahu membawa sekantung tangkapan. Segera setelah sampai dinaikinya perahu itu dengan lihainya. Pekerjaan sang ayah diambilnya. Membantu orang tuanya menurunkan boks ikan hasil tangkapan. Anak-anak hapal betul akan aktivitas harian orang tuanya. Sedari kecil mereka sudah bisa sebab terbiasa membantu sang ayah membongkar muatan perahu.

Ada asa terpancar untuk hidup esok hari.

Pelabuhan Tegal telah lama menjadi pengharapan bagi warga bahari. Sebagai tempat satu-satunya menukar hasil tangkapan dengan materi. Ia adalah bank bagi masyarakat pesisir. Mafhum jika mereka begitu bergantung terhadapnya. Tak ada janji materi di lain tempat kecuali daripadanya. Menjadi tempat mengadu nasib sekaligus tempat mimpi-mimpi bahari terpenuhi. Tak jarang para ayah mengajak anak-anaknya di tengah libur sekolah mencari ikan di tengah samudera. Sebagai pesiapan masa depannya digadang meneruskan tampuk kemudi perahu, menjadi seorang nelayan.

Laut seperti menjanjikan harapan akan sebuah masa depan. Di kota bahari ini manusia seakan telah dijodohkan dengan laut. Manusia dan laut ibarat sejoli yang tak terpisahkan. Dan, wasiat bahari itu melekat kuat dalam ingatan seorang remaja bahari bernama Djono. Getir lagi-lagi menerobos lamunannya. Masuk pelan-pelan ke dalam pembuluh darahnya. Membuat jantungnya berdegup kian kencang dan napas menjadi cepat tak beraturan. Gundah. Langkah hidup harus diambilnya sigap.

Tapi, yang mana?

Apakah aku harus menuruti kata hati dengan memanfaatkan ijasah SMK-ku? Ataukah aku harus meneruskan wasiat dan warisan moyangku kembali mengadu nasib ke dalam birunya laut? Jika pilihan kedua yang kupilih itu sama saja dengan mengubur dalam-dalam impian almarhum Bapak yang menyekolahkanku sampai setinggi ini. Di tanah yang bernama Muarareja ini berpendidikan setingkat SMA adalah suatu prestasi. Banyak yang masih yakin jika sekolah adalah pengisi masa kanak-kanak belaka. Beranjak remaja lautlah pilihannya. Menjadi nelayan dan hidup sejahtera di dalamnya.

 

Semenjak ayahnya tiada sepuluh tahun silam, laut sudah dianggapnya sebagai ayah kedua yang menghidupinya. Lahir di tanah bahari dan bertumbuh dari seorang ayah yang nelayan dan seorang ibu yang seorang penjual ikan kian menegaskan langkah pasti hidupnya kelak. Buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya. Jika ayahnya adalah seorang nelayan anaknya pun bakal menjadi seorang pencari ikan. Itu sudah menjadi suratan bahari. Atau buat Djono itu adalah sebuah kutukan.

Hampir genap setahun dia lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Otomotif. Pekerjaan pasti belum juga dijalaninya. Ijasahnya belum mampu berbicara banyak. Sudah beberapa bengkel disasarnya, namun hasil positif belum didapatnya. Hasrat melanjutkan sekolah masih mendominasi hatinya. Masih betah dia untuk duduk berlama-lama di bangku sekolah menimba ilmu. Tapi, apalah daya. Sang ayah sudah tiada.

Hidup dari hanya seorang orang tua menjadikan hidup tidaklah gampang. Banyak mimpi-mimpi yang terbuang. Oleh sebab sang pencari nafkah utama, ayah, telah tiada. Termasuk mimpinya untuk menjadi seorang sarjana, sesuai harapan sang ayah semasa hidupnya. Biarpun ayahnya adalah seorang tamatan Sekolah Dasar, tapi ia masih punya anggapan bahwa pendidikan adalah nomor satu.

Pendidikan adalah nyala lilin. Meski kecil dan temaram, namun sangat dibutuhkan ketika gelap melanda. Di dalam hutan lebat dan gulita malam sekalipun, pijar lilin jauh lebih berarti ratusan kali ketimbang cahaya senter berbaterai 9 volt. Pijar lilin menyebar ke dalam pelosok kegelapan, sedangkan cahaya senter hanya memusat dan terbatas hanya pada lingkar bola lampu. Dengan pendidikan manusia dapat melangkahkan kakinya menjadi tahu mana jalan yang bisa dilewati mana tidak. Dan tidak lagi meraba-raba jalan yang ditapaki. Bagaimanapun juga ilmu memberikan suatu ketenangan batin yang dapat menjaga manusia dari kepongahan duniawi.

Begitu sang ayah berwasiat dahulu.

Bagi Djono tak ada pilihan lain kecuali untuk terus menimba ilmu. Bersekolah ke jenjang perguruan tinggi dan meneruskan keahlian bidang otomotifnya adalah pilihan satu-satunya. Tapi, mimpinya itu menjadi sebuah jalan yang sungguh rumit untuk ditempuh kini. Ibunya, Darsinah, kini tak lagi muda. Usia yang telah melewati setengah abad membuat otot-otot lengannya tak lagi kuat mengangkat bakul ikan. Punggungnya tak lagi kokoh untuk membopong keranjang ikan. Dan, kakinya pun tak lagi sanggup jauh berjalan menapak aspal.

“Makmu ini sudah tidak kayak dulu lagi, No. Sudah tidak sanggup lagi mencari biaya sekolahmu.” Ibunya menjelaskan.

“Tapi, Bapak dulu pernah berpesan bahwa pendidikan itu penting, Mak.” Djono masih tak mau menerima keadaan.

Bahari membentuk karakter kerasnya. Menjadikannya tak mudah menerima keadaan. Apalagi keadaan yang memaksanya untuk menjauhi mimpi-mimpinya.

“Iya,” sang ibu menghela napas. Lalu melanjutkan, ”itu dulu saat Bapakmu masih hidup dan trengginas. Masih bisa cari duit. Sekarang, dia sudah tidak ada. Sudah tidak ada lagi yang membantu ibu mencarikan makan untukmu, apalagi untuk biaya sekolahmu.”

Djono tercekat. Lamunannya mengembara ke sepuluh tahun silam. Apa yang dimintanya selalu cepat dituruti sang ayah. Hari ini minta dibelikan sepatu bola, hari itu pula ayahnya segera mengambil sepeda ontelnya dan memboncengkannya menuju Pasar Pagi—pasar yang terletak di tengah Kota Tegal. Dan, sepatu yang dimintanya sudah berada di genggamannya saat itu juga. Seribu rupiah menjadi uang saku dari sang ayah untuknya setiap hari. Sebuah harta yang besar disaat anak-anak seusianya hanya mampu disangoni dua ratus perak atau lima ratus perak oleh orang tuanya. Memang, Djono adalah anak semata wayang Darkum dan Darsinah. Mafhum, jika dia tumbuh menjadi anak yang aleman.

Sewaktu kecil, tiap malam minggu di penghujung bulan tiba ayahnya selalu menggendongnya pergi ke pasar malam di Alun-alun Kota Tegal. Menjajani anaknya itu dengan aromanis (kembang gula), jagung bakar, dan membelikannya mainan mobil-mobilan. Menuruti rengekannya untuk naik komedi putar dan odong-odong yang menarik mata anak-anak kecil lewat kerlap-kerlip lampunya. Dan nonton pertunjukan wayang semalam suntuk jika dalang idolanya Ki Enthus Susmono tengah manggung. Gaya mendalang yang khas dengan banyolan Tegalannya yang kocak dan wayangnya yang beda dari dalang lainnya membuat semua kalangan menyukainya, termasuk anak-anak kecil. Darkum memang onggrongan menuruti apapun yang diminta anak semata wayangnya itu.

Tapi… Keadaan sudah berubah. Sang penyayang anak yang juga menjadi tulang punggung keluarga kini sudah tiada. Pun turut merubah jalur mimpi anaknya, Djono.

Djono menyadari dengan sepenuh hati jika ibunya adalah seorang perempuan yang luar biasa. Ayahnya meninggal saat usianya masih delapan tahun. Selepas itu hanya ibunyalah yang mencari nafkah untuk menghidupinya dan juga dirinya sendiri. Apalagi saat itu biaya sekolah SMK itu tidaklah murah. Untuk beli buku, seragam sekolah, uang gedung, SPP, dan biaya praktikum sekolahnya sang ibu harus berjibaku dengan ganasnya ombak pesisir utara. Ia harus rela berpeluh di tengah sengatan matahari pesisir yang menyengat. Harus berjalan jauh untuk menjajakan hasil belanjaannya kepada tetangga dan sabar bersiaga berjam-jam di pasar demi sejumput rupiah untuk menyekolahnya anak satu-satunya itu.

Apa namanya itu semua jika bukan manifestasi kasih sayang seorang tua kepada buah hatinya?

Sadar dari lamunannya Djono langsung bangkit tergopoh meraih kaki ibunya yang tengah duduk di sebuah lincak reot. Bersujud di atas telapak kaki ibunya yang menjelang senja. Menciumi kedua kakinya. Dia bersimpuh dan menciumi kedua tangan sang bunda yang ternyata sudah basah oleh tetesan air matanya.

“Mak juga yakin sekolah itu amatlah penting,” tangannya mengelus dan membelai rambut anaknya, “kalau tidak buat apa Mak rekasa cari uang wara-wiri dodolan ikan, Tong—Sitong panggilan untuk anak lelaki di Tegal.”

Ada satu kenyamanan dalam batin Djono ketika tangan Darsinah, ibunya, membelai kepalanya. Serasa bak aliran air embun yang melepaskan dahaga dari kering kerongkongan. Seperti kucuran air telaga yang mengucuri ujung kepala di tengah siang padang pasir bersuhu 40°C. Barangkali itulah alasan kenapa Tuhan menaruh surga-Nya di telapak kaki seorang ibu. Bahwa kenyamanan surgawi itu diraih lewat kekhidmatan anak kepada ibunya. Dan, bahwa cara melihat surga di dunia adalah dengan melihat senyum seorang ibu.

“Iya. Djono tahu, Mak.”

Djono masih tak kuasa menatap wajah sang ibunda. Tertunduk. Lalu melanjutkan, “Djono cuma mau minta restu dari Mak harus bagaimana Djono ini?”

Darsinah melayangkan pandangnya menerobos cakrawala. Hari kian senja. Sang surya seperti tak kuasa menahan tarikan magnet untuk memasuki dalam garis laut. Sinar merah pelan-pelan lenyap di ufuk barat. Memaksa keriuhan anak-anak yang tengah mencumbu pantai untuk undur diri memasuki kediamannya. Para orang tua menutup pintu rumahnya. Waktu sudah masuk sendekala. Sebuah fase waktu di mana di sana masyarakat amatlah mempercayai munculnya sesosok butha yang siap mengambil anak-anak yang masih berada di luar rumah.

Kowen wis gede (kamu sudah besar),” Darsinah memberikan petuahnya. Ia beringsut dari lincaknya menggapai gagang pintu rumah dan menutupnya. Kemudian melanjutkan, “cah lanang harus berani mengambil jalan hidupnya sendiri. Wong lanang yang sudah dewasa sudah tahu mana tindakan yang benar dan mana yang salah. Mak cuma bisa mendoakan atas apa jalan yang ditempuh olehmu.”

Bukan Darsinah yang menyanderanya menjauhi dari mimpi-mimpinya. Terkadang tanah baharilah yang memaksa putranya untuk tetap dalam garis suratannya. Melestarikan sebuah tradisi masyarakat tanah pesisir dengan menjadikan putra-putranya itu sebagai pencari ikan.

 

Bersambung…

 

JS

Posted in: Short Story