Buku: Tuhan, Aku, dan Alam

Posted on June 10, 2014

0



Buku Tuhan, Aku, dan Alam (dok penerbitandi)

Buku Tuhan, Aku, dan Alam (dok penerbitandi)

“Ingatlah bahwa di mana pun engkau berada dalam perjalananmu, betapa pun terjalnya dinding lembah yang harus kau lewati, betapa tinggi puncak yang harus kau daki, ingatlah bahwa semua itu adalah bagian dari bumi tanah air kita yang tercinta… Indonesia. Jika engkau telah sampai ke taraf ini, maka di pelosok mana pun dunia tempat kau berada, maupun di bawah naungan Matterhorn, Jungefrau, di puncak El Capitan di Sierra Nevada, di jaluran glasial di Rocky Mountain atau di Alaska, di Appalachian, di daerah Khasmir atau Nepal, di Hokkaido maupun sekitar Gunung Fujiyama yang suci ataupun puncak-puncak gunung di Selandia Baru… engkau senantiasa dan selalu akan mengarahkan wajahmu ke daerah Khatulistiwa di antara Benua Australia dan Asia… yaitu Ibu Pertiwi Indonesia… “die Heilige Heimat”, karena ia adalah Mekkah dan Roma bagimu…”

Surat dari Prof. Dr. M.T. Zen kepada MAPALA UI, 29 Desember 1965

Itulah secuplik pesan dalam surat yang disampaikan oleh legenda pendaki gunung dan pecinta alam Indonesia, Prof. Dr. M.T. Zen. Sebuah kalimat yang saya cuplik dari Kata Pengantar yang disampaikan oleh Herman O. Lantang dalam buku “Tuhan, Aku, dan Alam” Antologi Kisah Petualangan Spiritual 25 Sahabat Alam, itu memang amat menggugah. Dalam makna yang lebih dalam lagi, pesan yang begitu bernas tersebut, saya rasa, juga adalah pesan untuk kita semua, para generasi muda Indonesia. Tentu, tiada lain dan tiada bukan, adalah untuk lebih mencintai tanah yang kita tinggali ini dan tanah yang dari dalamnya kita minum airnya, yakni Indonesia (engkau senantiasa dan selalu akan mengarahkan wajahmu ke daerah Khatulistiwa di antara Benua Australia dan Asia… yaitu Ibu Pertiwi Indonesia).

Prof. Dr. M.T. Zen jelas sedang mengingatkan kita (jika tidak mau disebut menyentil) akan kecintaan generasi muda kini akan bangsanya sendiri yang agaknya semakin hari kian memudar. Tengok saja tulisan-tulisan sekarang yang terhimpun dalam buku-buku yang kini lebih melirik ke Barat (Eropa, Amerika, Timur Tengah, Korea, dll.) sebagai bahan jualannya. Segala yang ber-setting Asing kemudian diburu dan oleh karenanya sungguh laku. Sedangkan, setting Indonesia—yang sangat mungkin lebih indah dari kepunyaan negeri seberang—kurang diminati, setidaknya untuk dijadikan bahan jualan sebuah buku.

Dan bukan bermaksud membanding-bandingkan keindahan di sana dan di sini (mana yang lebih indah antara Barat atau Timur?), tapi alangkah sayangnya jika sebagai manusia Indonesia kita sama sekali tidak bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri perihal rupa Ibu Pertiwi yang begitu rupa-rupa. (Apa yang kemudian lebih menyentuh lagi seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. M.T. Zen: “..Janganlah kau nanti menjadi seorang di hadapan “Si Pencipta” yang hanya dapat mengemukakan fakta kering tentang berapa ribu kali engkau bersujud untuk menyembah-Nya, tetapi tidak dapat menjawab apabila ditanya kepadamu: “Bagaimana dengan Pegunungan Tengger dan Dieng-Ku? Merapi dan Danau Toba-Ku yang Kuciptakan dengan susah payah? Tidakkah kau perhatikan itu?”).

Sepenggal Resensi

Sebagai manusia Indonesia, dan sebagai salah seorang penulis dalam Antologi Kisah Petualangan Spiritual ini, saya bangga sekaligus mengapresiasi hadirnya buku “Tuhan, Aku, dan Alam” karya Sadulur Pecinta Alam PANTERA. Tak muluk-muluk, hadirnya buku sederhana karya 25 Sahabat Alam tersebut menjadi semacam oase di tengah tandusnya referensi daleman Ibu Pertiwi dan juga gempuran buku-buku yang menyoal tentang keindahan negeri tetangga.

Dalam buku “Tuhan, Aku, dan Alam” ke-25 Sahabat Alam mencurahkan pengalamannya akan alam lewat lima segmentasi cerita: Petualangan, Kemanusiaan, Pengabdian, Keteguhan, dan Perenungan. Dalam bagian Petualangan, kelima Sahabat Alam PANTERA sedikit membukakan mata kita jika ternyata ada Semeru, Slamet, dan Merbabu, yang sungguh memesona. Ada kepuasan dibalik sisi petualangan. Rasa capek saat mendaki gunung tak ada artinya sama sekali jika harus dibayar oleh keindahan dan kepuasan saat menggapai puncak tertinggi. Pada bagian kedua, Kemanusiaan, kita disajikan kisah-kisah yang menyentuh dari kelima Sahabat Alam. Menyajikan beberapa fakta soal bencana dan tindakan penyelamatan (rescue) yang seringkali kita remehkan dan sepelekan. Berlanjut lagi ke bagian ketiga, yakni Pengabdian, bagaimana kelima Sahabat Alam membagikan kisah pengabdian mereka masing-masing hidup di tengah-tengah masyarakat. Inilah ujian sesungguhnya sebagai seorang pecinta alam, bahwa pecinta alam adalah sebuah predikat yang disandangkan bukan hanya kepada mereka yang hobi naik gunung atau menjelajah alam bebas semata, tapi mereka yang sungguh punya makna lebih di hadapan sesamanya. Bagian keempat menyoal tentang Keteguhan, bagaimana kisah lima Sahabat Alam yang dengan keteguhannya menjalani dan mengambil langkah soal apa yang diyakininya. Tentu saja tidak mudah untuk meyakini prinsip dan menjalani prinsip hidup tersebut jika tanpa diiringi oleh keteguhan yang kuat. Dan, bagian terakhir adalah tentang Perenungan. Pembaca diajak untuk merenungi lagi soal makna penciptaan manusia dan alam (Tuhan-Manusia-Alam, Causa Prima-Mikrokosmos-Makrokosmos). Ada makna dibalik segala penciptaan yang patut kita renungi dan bukan hanya sekadar lewat dan melintas begitu saja.

Lewat gaya bahasa dan bertutur yang berbeda-beda menjadikan buku tersebut terasa lebih berwarna dan menarik untuk dibaca—terlepas dari deskripsi yang serbasederhana di sana-sini dan apa adanya.

Terakhir, dan sungguh ini menjadi hasrat dan mungkin obsesi saya pribadi, dengan membaca buku ini dan dengan kembali mengkaji ragam alam Indonesia semoga kita benar-benar dapat memaknai diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya serta memaknai eksistensi tanah air yang kita diami ini—bukan malah Wallace atau bahkan Blair Bersaudara yang nampaknya “lebih tahu” Indonesia ketimbang kita sendiri. Marilah kita kembali menghadapkan muka ke Timur, Indonesia.

NEY