Persinggahan Sementara

Posted on May 9, 2014

0



Untung (dok kemenagdotgodotid)

Untung (dok kemenagdotgodotid)

 

Hari telah beranjak petang ketika hujan mulai menitikan airnya. Awalnya hujan turun renyai kemudian dengan cepat berubah menjadi deras. Sangat deras. Bulir-bulir airnya menghujam atap sebuah rumah yang belum sepenuhnya rampung terbangun. Baru sore tadi rumah kecil itu berdiri. Dan entah sebab apa, belum juga selesai lalu ditinggalkan teronggok begitu saja. Tak pantas dikata sebagai hunian yang laik. Pondasinya sama sekali tak kokoh. Hampir roboh. Doyong.

Adalah seorang lelaki paruh baya yang menjadi penghuninya. Ia tengah berjibaku melindungi tubuhnya agar selamat dari serbuan air hujan. Usahanya nampak sia-sia. Dalam sekejap tubuh ringkih sang tuan rumah telah kuyup. Kedua tangannya yang ia gunakan sebagai payung tak cukup ampuh dalam menahan rintik-rintik hujan yang menghujamnya.

Hujan memang turun dengan derasnya. Menghadapi hujan yang begitu deras di dalam persinggahannya yang bocor di sana-sini tentu saja tak enak. Untung bergegas mencari tempat untuk berteduh. Dilihatnya sebuah rumah megah nan terang di seberang. Tak jauh dari persinggahan reot yang ditempatinya. Kesanalah ia segera berlabuh.

Badannya setengah basah sesampainya di teras rumah, yang entah punya siapa itu, begitu megah. Dingin yang merasuk ke dalam pori-pori kulitnya tak dihiraukannya. Pandangannya dibiarkan menyapu seluruh bagian depan rumah megah itu sambil kedua tangannya bersedekap menahan dingin. Tubuhnya bergidik kencang. Namun, sekali lagi, ia tak sadari. Yang ia tahu adalah sebuah ketakjuban akan rumah yang begitu nyaman ini.

Diantara beberapa persinggahan yang ada di sana, hanya persinggahan yang Untung singgahilah yang paling nyaman. Ia betah di sana. Sungguh betah berlama-lama. Di sampingnya ada sebuah rumah yang lebih sederhana dari rumah ini. Di seberangnya lagi sebuah persinggahan yang terbuat dari bilik bambu reot, yang barangkali, tak lebih bagus dari persinggahannya yang sudah doyong dan hampir roboh itu. Persinggahan-persinggahan siapakah itu? Dalam hujan yang seperti ini mustahil ada orang yang keluar persinggahannya.

Rasa penasaran Untung terjawab. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari balik pintu rumah yang ia singgahi. Lelaki itu berpakaian serba putih, terlihat bersih, dan wajahnya menampakan kesucian. Siapakah ia?

“Maaf, Pak, saya numpang berteduh.” Untung menyapanya.

“Assalamualaikum.” Salam pemilik persinggahan mewah itu.

“Alaikumsalam.”

“Kenapa Lek Untung di sini?” Tanyanya.

“Persinggahan saya bocor.” Jawab Untung. Dari mana dia tahu namaku? Untung makin penasaran dengan sosoknya. “Kok Bapak tahu nama saya ya? Bapak ini siapa?”

“Masa Lek Untung tidak kenal saya.” Sang pemilik persinggahan megah tersenyum. Ia memberikan sedikit waktu untuk tamunya mengingat-ingat siapakah ia yang sebenarnya. “Coba ingat-ingat lagi, Lek.”

Untung menyempitkan kedua bola matanya. Korneanya menyempit memastikan dan melihat dalam-dalam siapakah gerangan lelaki berpakaian serba putih dan berkopiah haji itu. Ia mendaratkan kaki melangkah mendekat. Memastikan dari dekat mengenali siapakah gerangan dia.

Usai memastikan jika sosok itu ia kenal, Untung lalu memberanikan diri untuk menebaknya.

“Ah, Pak Mung? Maaf, Pak, saya pangling. He-he.” Untung akhirnya ingat dan mengenali siapakah tuan rumah itu.

Sang pemilik persinggahan itu hanya tersenyum. Mengangguk sekali. Lalu memulai tanyanya lagi.

“Lek Untung untuk apa kemari?”

“He-he. Saya numpang berteduh, Pak Mung. Persinggahan saya kebanjiran oleh air hujan.” Jawab Untung. Kepalanya dibiarkannya menunduk. Sedikit rikuh. Tak enak hati tanpa permisi memasuki halaman depan persinggahan orang. Kemudian melanjutkan, “O ya, Pak. Boleh saya bertanya?”

“Ada apa, Lek?”

Untuk sesaat Untung masih terdiam. Ia menundukan kepalanya kembali. Pak Mung, sosok orang sederhana di kampung punya rumah yang megah seperti ini. Aku kenal betul siapa Pak Mung itu. Dia memang seorang yang suka memberi. Tak pernah bermusuhan dengan tetangganya. Aku ingat betul ketika dia masih ada. Dia tak pernah absen dari salat berjamaah di musala. Dia memang miskin, tapi dia sering sekali membantu tetangga yang kesusahan. Dia selalu membantu tetangganya, termasuk membantuku.

Yang paling kuingat adalah saat aku membangun rumahku dulu, dialah satu-satunya orang yang membantu pembangunan rumahku tanpa pamrih. Sama sekali tanpa minta upah. Bahkan dia yang membantu mencetak bata rumahku. Ikut menyumbangkan bambu miliknya untuk membangun reng dan usuk atap rumahku. Sedangkan rumahnya sendiri kecil dan tak ada yang mempedulikannya.

Terus terang aku pangling dengan kondisi rumahnya sekarang yang megah seperti ini. Setahuku dulu tak seperti ini. Atau jangan-jangan Pak Mung sudah berhasil sehingga bisa membangun persinggahan sebagus ini.

“Lek Untung kok melamun. Ada apa, Lek?” Tanya Pak Mung mengulang, mencegat lamunan Lek Untung.

“O. Ee.. Anu..” Lek Untung tergagap. Kalimatnya tak rampung. Terbata. “Ini. Ee.. Kok rumah bapak jadi bagus begini. Maaf, bukankah dulu rumah bapak tidak sebagus ini. Kapan bapak merenovasinya?”

“O, itu toh. Bukan rumah, Lek. Ini hanya persinggahan sementara saja. Saya hanya beristirahat sementara di sini menuju ke perjalanan yang lebih kekal. Ya beginilah persinggahan saya disini, Lek. Saya hanya nrimo saja saat Gusti Allah memberikan saja rumah singgah yang seperti ini sama saya.”

Ya. Pak Mung memang sosok yang selalu nrimo. Beliau adalah orang yang selalu pasrah akan suratan takdir-Nya, nrimo ing pandum. Apapun yang beliau dapatkan selalu disyukuri. Apapun yang diambil darinya selalu saja beliau pasrahkan kepada Gusti Allah. Termasuk saat rumahnya pun harus dijual untuk membiayai sakit anaknya, Rusdi.

“O, begitu toh.” Untung mengangguk-angguk saja. Dalam hatinya masih ada terselip sebuah tanya lagi, “Kalau persinggahan di sebelah itu punya siapa ya, Pak?”

“Itu persinggahan Haji Toif, Pak.”

“Hah, persinggahan Haji Toif?” Untung masih tak percaya. Ia keheranan, “Lho bukannya persinggahan Haji Toif itu mewah dan megah ya? Sejak kapan dia pindah? Kok jadi begitu keadaannya?”

Aku kenal betul siapa Haji Toif. Ah, siapa yang tak mengenal satu-satunya haji di kampung ini. Disaat orang-orang kampung masih makan dari tiwul, dia sudah menginjakan kakinya di Mekah. Barangkali jika semua harta milik orang-orang kampung dikumpulkan maka itu tak akan sanggup untuk ditukarkan atau dibandingkan dengan kepunyaannya. Emasnya menempel dimana-mana di tubuhnya dan tubuh istrinya.

Haji Toif juga seorang yang punya tanah paling luas di kampung ini. Semua tanah sawah yang menghampar luas dari ujung ke ujung kampung adalah kepunyaannya. Dan satu hal yang aku ingat, dia memang orang yang pelit. Dia seringkali bermusuhan dengan tetangga hanya gara-gara urusan tanah. Dia memang benar-benar seorang tuan tanah. Galengan sawahnya begitu tipis bak bulan sabit. Tak ada ruang bagi orang untuk berjalan kaki.

Atas kekayaannya itulah ia bisa membangun gedong mewahnya. Tempatnya mengumpulkan dan menyimpan semua hartanya. Gedong yang dibangunnya itu dibangun di atas keringat orang-orang kampung yang teraniaya. Mereka, kuli yang membangunnya, hanya diupahi makan, tanpa upah materi sedikitpun.

Lalu, kenapa gedong mewah itu sekarang berubah menjadi gubuk yang doyong dan kecil seperti itu?

“Hmm. Lek Untung sejatinya sudah tahu jawabannya. Lek tahu sendiri bagaimana Haji Toif semasa hidupnya, bukan? Sekarang Lek Untung mending pulang saja.”

“Tapi, persinggahan saya bocor e, Pak. Kalau dibolehkan saya bahkan mau menginap disini saja.”

“Lek Untung pulang saja. Belum saatnya Lek Untung disini. Lek masih belum ikhlas nampaknya. Sudah pulang saja.”

Belum ikhlas? Apa yang dimaksud oleh Pak Mung dengan belum ikhlas. Aku telah berada di sini. Bukankah itu bukti keikhlasanku. Aku tak menolak saat sesosok makhluk berbadan besar hitam dan seram itu menyusulku. Dan memisahkanku dari tubuhku. Kenapa aku masih belum ikhlas?

“Belum saatnya Lek Untung berada di sini. Ikuti saja cahaya putih terang itu, Lek. Sudahlah ikuti saja.” Perintahnya. Tangan Pak Mung sambil menunjuk ke arah rumah Untung. Dan benar sebuah cahaya terang putih terlihat di sana.

Untung kaget bukan kepalang. Persinggahannya yang tadi gelap gulita tak bercahaya kini menjadi sungguh terang. Seperti ada lampu berdaya 1000 watt meneranginya. Apakah cahaya itu yang harus kuikuti, seperti apa yang Pak Mung katakan?

Ia pun lantas seakan dituntun untuk mengikuti cahaya putih itu. Pelan-pelan ia melangkah. Dan tak lama kemudian cahaya putih itu menyedotnya. Ia masuk ke dalam cahaya putih itu. Tersedot terombang-ambing oleh kilat spektrum itu. Ia seperti diputar-putar oleh bianglala.

Cepat saja. Dan semuanya pun berubah menjadi seperti sediakala.

***

“Lek Untung bangun lagi!”

Mula-mula lantunan surat Yasin yang sayup-sayup menghilang dari pendengarannya. Lalu, kalimat itu menyusul kemudian. Berikutnya adalah orang-orang yang berlarian lintang pukang. Selanjutnya lagi adalah sunyi.

Untung bangun dari pembaringannya saat orang-orang yang tadi baru saja ia lihat ramai membacakan ayat-ayat suci lalu lekas-lekas mengangkat diri dan berjingkatan keluar ruangan. Kenapa orang-orang berlarian ketakutan? Ada apa ini?

“Lek Untung hidup lagi!”

Jeritan orang-orang itu kembali terdengar di luar rumahnya.

Untung masih di dalam rumahnya. Masih terduduk menyelonjorkan kedua kakinya. Kain yang tadi menutupi wajahnya kini terbuka. Menampakan setengah badannya yang telanjang. Sampai beberapa menit ia masih terpaku diam. Memori ingatannya belum sepenuhnya pulih. Yang mampu ia ingat adalah rasa sakit pada tubuhnya yang penuh jahitan sisa kecelakaan kemarin. Sisanya, adalah kebingungan yang dalam.

 

BR

Posted in: Short Story