Berhaji Di Jayagiri

Posted on April 29, 2014

0



 

 

Gn. Jayagiri (dok aden sumitro)

Gn. Jayagiri (dok aden sumitro)

Seorang teman datang dari seberang. Dari seberang dia datang dengan tenang. Dia mengaku sebagai seorang perjaka. Ah, perjaka atau gak itu urusan dia. Gue gak bakal ngecek status itu.

Namanya adalah Adi. Dia berasal dari Surabaya. Begitu dia bilangnya. Maksudnya datang ke Jatinangor adalah untuk menemui muridnya di sini. Profesinya itu masih dirahasiakannya, apakah dia itu seorang pendekar ataukah seorang akademisi. Dan udah seminggu ini dia di sini.

Dia adalah orang Surabaya yang tinggal di Jayapura. Jadi, dia itu Indo, blasteran. Gue bakal ngetes wawasan ke-Surabayaannya kalau begitu. Masihkah dia berjiwa Surabaya ataukah Jayapura?

Dan malam itu dia kebenaran menyambangi kamar Gue. Katanya dia mau main gitar. Karena dia gak punya gitar sedangkan dia kepingin memainkannya dia pun meminjamnya dari Gue yang kebetulan punya gitar dan gak bisa memainkannya. Ah, Tuhan itu emang Maha Adil.

“Mas Adi, tahu lontong balap gak?” Itu Gue yang bertanya kepadanya. Panggilan Mas Gue sandangkan di depan nama Adi karena satu hal, dia lebih tua dari Gue. Andaikan dia lebih muda pasti Gue panggil dia Dek Adi.

“Tahu, Mas. Kenapa gitu?” Itu Mas Adi yang menjawab. Dan bertanya lagi kenapa.

“Tahu bahasa Inggrisnya lontong balap gak, Mas?” Gue bertanya.

“Hmm.. Apa ya?” Mas Adi kelihatan lagi mikir. Soalnya dia garuk-garuk dengkulnya yang sebelah kanan dengan tangan kirinya.

“Ayo, Mas. Apa coba?”

“Hmm..” Mas Adi masih mikirin jawabannya.

“Kalo Mas Adi bisa jawab ini gitar buat sampean.” Gue memberikan iming-iming door prize. Sampean itu panggilan untuk lelaki yang lebih tua di Jawa.

“Kalo gak bisa jawab?” Mas Adi bertanya soal resikonya kalau gak bisa jawab pertanyaan itu.

“Makanya harus dicari jawabannya. Anak muda khan gak boleh patah semangat. Tapi, kalo emang bener-bener gak bisa ya diem aja. Biar saya yang jawab.”

“Apa ya?” Dia masih mencari-cari jawabannya. Mungkin jawabannya itu hilang entah kemana sehingga harus dicari.

“Nyerah gak?”

“Iya deh nyerah aku, Mas.”

“Serius nyerah nih?”

“Iya.”

Racing tall rice.” Akhirnya Gue membuka kunci jawabannya. Melihat muridnya kebingungan seperti itu guru mana yang tega membiarkannya.

“Kok?”

Racing itu khan balap artinya. Nah..” Gue menjelaskan. Tapi, sebelum beres dia memotong pita sadis.

Tall rice-nya?” Mas Adi langsung memotong ocehan Gue yang belum beres itu.

Tall rice itu artinya nasi yang panjang. Lontong itu khan panjang. Gak ada lontong yang bulet toh?”

Mas Adi gak meresponnya. Dia cuma mengangguk sekali aja. Mungkin dia mau berusaha nyari dimana ada lontong yang gak panjang. Mau dicari dimanapun pasti gak bakal ketemu. Sebab semua lontong emang udah ditakdirkan memanjang.

“Kalo yang kotak namanya ketupat, Mas. Nah, kalo yang kerucut biasanya tumpeng namanya.” Itulah wawasan kebendaan alam semesta.

Mas Adi hanya manggut-manggut. Mendengarkan penjelasan Gue soal wawasan bentuk-bentuk kebendaan alam semesta. Dan dia pun melanjutkan kembali melantunkan lagu-lagunya yang booming di era 80-an, sesuai zamannya.

Seperti gak pingin kalah. Dia pun mengambil giliran buat ngetes Gue. Dia melemparkan tebak-tebakan kepada Gue. Setelah menyanyikan lagu Gereja Tua milik Panbers dia langsung memberikan tebak-tebakan yang dipikirnya paling sulit.

“Giliran saya, Mas.” Itu Mas Adi yang minta digilir.

“Emang tadi saya menggilir Mas Adi?” Gue ragu apakah benar Gue tadi menggilir Mas Adi. Jika benar demikian, maka terkutuklah Gue. O, ampuni dosa hamba-Mu ini yang telah khilaf, Tuhan.

“Bukan. Maksudnya sekarang giliran saya yang ngasih tebak-tebakan buat sampean.” Mas Adi mengoreksi redaksional kalimatnya yang ngaco tadi. Mas Adi emang ganteng. Tapi, sayang masih suka ngaco. Kasihan dia.

“Monggo, Mas.” Monggo itu bahasa Jawa, dan artinya menyilakan. Gue menyilakan dia buat melemparkan tebak-tebakan yang dijanjikannya itu.

“Seibu dua puluh satu dikali nol berapa hasilnya hayo?” Mas Adi ternyata memberikan soal matematika yang paling sulit, menurutnya.

Ah, kalau pertanyaan kayak gitu sih anak TK juga bisa jawab. Pertanyaan yang sungguh mudah banget dijawab. Tapi, Gue pura-pura garuk-garuk kepala. Mikirin jawabannya. Agak lama. Di seberang Mas Adi nampak cengar-cengir bahagia. Dia senang berada di atas penderitaan orang.

“Bentar, Mas. Kalo saya bisa jawab apa hadiahnya? Tadi saya juga khan ngasih hadiah kalo Mas Adi bisa jawab toh.” Inilah otak asli orang Indonesia yang paling senang kalau diiming-imingi dengan door prize.

“Apa ya? O, iya, aku beliin sampean kopi aja deh. Biar kita ngopi bareng. Gimana?” Tawarnya.

“OK.” Gue mikir lagi. Pura-pura mikir. Kura-kura dalam perahu, pura-pura gak tahu. Dan Mas Adi nampak makin senang Gue menderita kayak gini.

“Berapa jawabannya?” Mas Adi menunggu jawaban sambil berharap-harap cemas.

“Hmm.. nol, Mas.” Gue menjawabnya. Akhirnya.

Mas Adi diam. Mungkin dia berpikir kenapa Gue bisa jawab padahal Gue sama sekali gak pegang kalkulator. Perkalian angka yang ribuan itu khan sulit. Tapi, kenapa dia bisa ngejawabnya dengan secepat itu ya? Begitu mungkin kebingungan, keheranan, plus ketakjubannya kepada Gue.

“Wah sampean hebat. Padahal itu susah lho, Mas. Saya soalnya pernah main tebak-tebakan kayak gitu di kampung saya. Dan dari puluhan orang yang saya tanya gak ada yang tahu jawabannya satu pun.” Mas Adi memuji kejeniusan Gue.

Ngomongin soal jenius Gue lah rajanya. SD Gue cuma enam tahun. SMP dan SMA Gue masing-masing dihabiskan dalam kurun waktu 3 tahun. Sampe-sampe kuliah pun demi sebuah alasan pendalaman keilmuan Gue lulus enam tahun, yang biasanya normalnya cuma empat tahun. Hebat khan?

Tebak-tebakan terjawab sudah. Mas Adi meminta undur diri buat ke warung. Ke warung buat membeli kopi seperti yang telah dijanjikan. Setelah dari warung itu dia pun langsung menyeduh kopi yang dibelinya dengan tangannya sendiri. Oh, sungguh baik Mas Adi itu. Secangkir kopi itulah door prize yang Gue dapatkan dalam kompetisi tebak-tebakan nasional kali ini.

Hari udah larut. Malam ganas menjelang. Hati boleh panas tapi kulkas harus tetap dingin. Dan mata pun pingin rasanya segera dipejamkan. Tapi, sebelum terpejam izinkan Gue mengajak Mas Adi untuk piknik esok pagi.

Gue pun menawarinya untuk ikut mendaki gunung Jayagiri besok. Sayangnya dia menolak ajakan Gue itu. Katanya besok itu dia udah ada agenda, jauh-jauh datang dari pulau paling timur Indonesia cuma buat mengunjungi kebon binatang Bandung. Mungkin dia rindu menjenguk saudaranya di sana.

Ajakan Gue gak berjalan mulus. Biarlah Mas Adi pergi sesuai dengan kata hatinya. Bagaimanapun juga menengok saudara adalah sebentuk silaturahmi. Dan itu lebih utama dibandingkan naik gunung apalagi naik kelas. Tanpa rasa kecewa secuilpun Gue menutup pintu kamar, setelah Mas Adi keluar. Lalu, lampu Gue matiin. Dalam keadaan gelap paling syahdu adalah dengan berdzikir.

Pagi-pagi sekali Gue mandi di kamar mandi. Beres itu Gue melihat sikat WC. Langsung aja Gue menyikat gigi dengan sikat gigi. Bosan di kamar mandi Gue keluar kamar. Mencari warung kopi buat ngopi. Itulah sederet aktivitas pagi yang Gue jalani pagi ini. Lusa mungkin aktivitasnya berubah lagi. Tergantung mood yang berbicara.

Sore nanti Salman emang ngajak Gue mendaki Jayagiri lagi. Pernah sekali mendaki Jayagiri. Itu tahun 2009 lalu tapi. Dan Salman mengajak kembali ke sana lagi di tahun ini. Bete dengan aktivitas rutinan kantor dia mengajak kembali mendaki. Karena dia cuma punya waktu sabtu minggu, maka dipilihlah gunung yang terdekat, yakni Jayagiri. Soalnya kalau pergi ke Gunung Semeru minimal harus menyediakan waktu seminggu. Kalau ke Everest mungkin bisa makan waktu setahun. Entahlah.

Sekarang adalah week end. Setelah Gue lihat kalender Gue baru ingat kalau hari ini adalah hari sabtu. Besok itu hari minggu. Gue tahu kenapa hari ini dan besok dinamakan week end. Soalnya sabtu dan minggu itu akhir pekan. Pagi itu dilalui dengan mencuci. Sebab akhir pekan buat Gue adalah harinya mencuci pakaian. Setelah pakaian kering lalu ditiriskan. Ah, semua juga tahu itu.

Selepas pagi lalu datanglah siang. Siang itu ditandai dengan aktivitas matahari yang semakin meninggi. Kini matahari udah tepat di atas ubun-ubun. Berarti hari udah siang. Dan Gue masih dengan duduk sendiri dalam kamar. Duduk sambil ngemil TTS. Biasanya kalau week end koran suka ada rubrik TTS-nya. Jadi, tumben Gue beli.

TTS udah terisi. Meski di sana-sini masih banyak kotak yang bolong. Tapi, Gue bangga. Akhirnya Gue bisa menyelesaikan sekolah jenjang Strata 1. Biarlah kekosongan itu diisi oleh tamu yang datang nanti.

Kini giliran mengisi sudoku. Sudoku itu permainan yang gampang-gampang sulit. Sulit kalau cuma dipikirin dan dipelototin doang dan gak dikerjain. Gampang kalau udah ada kunci jawabannya. Sayangnya koran gak memberikan kunci jawaban itu sepaket dengan soalnya. Uh, koran sekarang emang pelit.

Azan ashar berkumandang lagi. Setiap hari toa musala samping kosan selalu mengumandangkan azan. Sehari lima kali. Udah sore. Gue harus bersiap untuk menghadapi ujian pendakian. Di Bandung Salman udah menunggu. Menunggu nasi yang ditanaknya masak. Setelah itu dia mungkin makan.

Gue udah duluan makan. Dan sekarang Gue udah kenyang. Silakan, Man, kamu makan. Gue menyilakan Salman buat makan. Gue di Jatinangor, dan Salman di Bandung. Kita terpisah oleh jarak dan waktu. Tapi, kita tetap bersaudara karena kita sama-sama manusia. Salman pun makan dan Gue packing. Mengecek kembali barang-barang yang bakal Gue bawa.

Kabar datang dari Salman. Katanya ada beberapa orang yang mau ikut pendakian. Siapa sajakah mereka? Gue belum tahu. Sebab Salman masih merahasiakan identitas mereka. Mungkin takut dilacak keberadaannya oleh Densus 88 Polri. Kalau terbongkar sekarang nanti jadinya gak surprise. Salman rupanya mau ngasih kejutan. Siapa yang ulang tahun, Man?

Salman gak jawab pertanyaan itu. Sebab pertanyaan itu Gue lontarkan kepada diri sendiri. Jadi, Salman pasti gak tahu Gue nanya siapa yang ultah. Hanya Gue dan Tuhan yang tahu. Beres packing Gue langsung beranjak. Menuruni tangga kosan dan menepi di jalan raya Bandung-Sumedang KM 21. Di sanalah Gue mencegat Damri.

Damri datang dan Gue pun naik ke atasnya dan duduk di dalamnya. Ini adalah Damri jurusan Jatinangor-Dipati Ukur. Tujuan Gue ke Lembang. Tapi, ke Lembang itu wajib naik bus itu dulu. Sebenarnya gak wajib sih. Soalnya yang wajib itu adalah salat lima waktu dan bayar zakat. Tapi, Gue memilih naik Damri itu pada akhirnya. Entah kenapa. Pingin aja.

Di depan Gedung Sate Gue berhenti. Busnya yang berhenti sebab sebelumnya Gue bilang, “Kiri.. Kiri..”. Di situ lagi ada demo. Dan Gue gak ikutan demo mereka. Sebab Gue mau mendaki gunung bukan untuk ngantri nasi bungkus. Dari Gedung Sate Gue melanjutkan naik angkot jurusan Cicaheum-Ledeng. Angkotnya warna ijo. Inget ya, angkot ijo. Biar gak lupa ingat aja balon yang meletus di lagu Balonku Ada Lima.

Sampai di Ledeng. Gue suruh nunggu di sana sama Salman. Kenapa juga Salman harus nyuruh Gue buat nunggu di sana. O, ternyata dia mau ngejemput Gue. Baik banget Salman itu. Cewek mana coba yang mau sama dia? Gue ini cowok, Man.

Salman menjelang saat azan isya berkumandang. Dia memenuhi janjinya itu. Datang dengan jalan kaki. Di punggungnya telah menempel tas ransel ukuran 4.5 liter. Liter itu ukuran tas bukan air. Kami ngobrol sebentar. Lalu mencari warung makan buat selonjoran. Di sana kita selonjoran sambil makan. Ini judulnya makan malam.

Di depan UPI, yang juga adalah universitas padahal IKIP dulunya, banyak berjejer warung makan. Warung makan itu bertenda. Ini bukan di gunung, tapi mereka mendirikan tenda. Ah, biarin lah suka-suka mereka. Amerika khan katanya negeri Demokrasi.

Di sana juga banyak orang yang jual pisang. Pisang apa aja ada. Mulai dari pisang ambon, pisang susu, pisang raja, sampe es pisang ijo pun ada. Yang gak ada cuma Ampar-ampar Pisang. Itu soalnya lagu, bukan jenis pisang. Banyak juga berjejer mahasiswi yang cantik-cantik. Mahasiswi itu adalah mahasiswa berjenis kelamin perempuan. Awas ya jangan ketuker. Soalnya sekarang banyak mahasiswa yang ke-mahasiswi-mahasiswian.

Perjalanan pun dilanjutkan setelah melihat-lihat mahasiswi di sana. Yang itu di-skip aja. Soalnya takut ketahuan sama ustaz Gue. Angkot jurusan Ledeng-Lembang dinaiki. Setelah kita naik angkot lalu melaju. Melajunya pelan kayak kura-kura. Angkot itu berjenis L300. Mesinnya diesel. Minumnya solar. Kalau kura-kura itu jenis binatang yang bersaudara dekat dengan Kura-kura Ninja.

Sampai di pasar Jayagiri kita turun. Setelah menjejakan kaki di sini kita gak langsung naik. Pendakian ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sebabnya adalah menunggu kehadiran sahabat alam yang mau ikut pendakian kali ini, yang masih dirahasiakan inisialnya itu oleh Salman. Gue mendeleng jam dan itu udah pukul sembilan lebih delapan menit Waktu Indonesia Pasar Jayagiri. Yang ditunggu belum juga menongolkan batang hidungnya.

Sesaat kemudian datanglah segerombolan manusia yang di punggungnya tersandang tas ransel. Mereka adalah orang-orang yang telah dinantikan oleh komandan peletonnya. Pakaiannya loreng-loreng. Mereka pasti bapak-bapak tentara yang mau simulasi perang. Selain menyandang ransel bapak-bapak itu juga menyandang, pangan, dan papan. Di pundaknya tersandang sebuah senjata. Itu mungkin senjata adeknya AKB 48 yang dinamakan dengan AK 47. Ada hubungan apa ya AKB48 dengan BNI 46? Entahlah. Mungkin mereka sepupuan.

Di belakang gak jauh dari barisan bapak-bapak tentara itu munculah sekumpulan perempuan berjilbab. Perempuan-perempuan itu menyandang tas ransel. Mungkin itulah rombongan yang dinantikan oleh Salman.

Dari kejauhan nampak Salman yang ternyata menyapa rombongan ibu-ibu itu. Mungkin benar merekalah yang dimaksudkan dan dirahasiakan oleh Salman tadi. Atau jangan-jangan Salman lagi ngerayu ibu-ibu itu? Hentikan itu, Salman! Itu suara ibunya yang lagi berakting.

Dunia ini emang sempit. Dunia gak selebar celana kolor. Mereka ternyata adalah Desmy dan Liza, dan satu lagi temannya yang perempuan juga yang belakangan dikenal dengan nama Nia. Desmy dan Liza adalah muka lama. Usianya kini udah hampir tiga puluh. Dan keduanya adalah sahabat alam yang mendaki bareng Gue di Lawu. Lalu kenapa mereka kenal dengan Salman? Oh, ternyata sebelumnya mereka pernah naik bareng juga ke Rinjani akhir tahun lalu. Dan mereka bertiga masih sama dengan setelannya yang muslimah, berjilbab panjang dan rok panjang.

Kami pun saling bersalaman, tapi gak saling bersentuhan. Kata ibu-ibu itu harus jaga diri, bukan muhrim. Desmy dan Liza udah Gue kenal. Yang baru Gue kenal adalah Nia. Dia adalah seorang akhwat. Akhwat itu adalah sebutan untuk perempuan muslim. Konon, inilah awal pendakian seorang Nia. Sebelumnya dia adalah seorang pelajar di universitas di Jakarta. Sebelum menjadi pelajar dia adalah seorang anak dari kedua orang tuanya. Dan kedua orang tua Nia adalah ayah dan ibu buat Nia. Ah, kalian pasti tahu gimana hubungan antara anak dan orang tuanya lah.

Tiga perempuan berjilbab udah berkumpul. Kini saatnya mereka membentuk trio girl band. Oh, semoga tidak. Kalau benar mereka membentuk girl band, maka kasihan AB Three, bisa-bisa kesaing mereka itu. Pendakian belum juga dilakukan. Sebabnya, kata Salman ada seorang lagi yang ditunggu.

Siapa lagi, Man?

Gue tadi sempat nanya kayak gitu ke Salman. Gue udah on fire. Tapi, pendakian belum juga dilaksanakan. Daripada bete mending lihat-lihat pete di pasar. Di pasar ada warung kopi. Dan Gue ke sono buat ngopi.

Menunggu tanpa kerjaan adalah hal paling menjemukan di dunia ini setelah menunggu istri lahiran. Itu juga kata seorang teman yang udah punya istri yang lahiran. Gue khan belum, jadi percaya-percaya aja. Selama gak menyingkirkan kepercayaan Gue sama Tuhan YME.

Sementara Gue ngopi Salman masih ngobrol dengan ketiga perempuan itu. Sesaat kemudian Gue ngelihat dia ngobrol dengan seorang yang kayaknya cowok. Soalnya dari penampilannya dia itu botak kepalanya. Cewek zaman sekarang mana ada yang botak toh. Cuma Demi Moore aja yang botak di film G.I Joe dulu.

Gue keluar dari warung selesai ngopi. Ternyata di sana udah ada seorang laki-laki yang kayaknya Gue kenal. Gue bersalaman dengannya. Dia adalah Asep. Asep adalah dia yang adalah teman Gue sebangku kuliahan. Gue dulu duduk bareng dia saat sekolah. Tapi Gue udah cukup lama gak ketemu sama dia. Mungkin karena terpisah jarak dan waktu. O, Asep kemana saja engkau, Kawan?

Asep udah di sini. Dan dia mau ikut mendaki bareng kita. Ternyata juga Asep kenal sama Salman. Mungkin karena sama-sama tinggal di Bandung yang luas ini mereka kenal. Padahal mereka gak satu TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, dan satu atap rumah, tapi keduanya saling mengenal. Mungkin ini tangan Tuhan yang bekerja. Sudah jangan ditanyakan lagi bagaimana keduanya saling mengenal.

Perjalanan dimulai. Pada sebuah jalan yang terselip diantara pasar Jayagiri kami mendaki. Ciri-cirinya adalah pokoknya di sana ada papan keterangan yang menerangkan bahwa ini adalah jalur pendakian ke Jayagiri. Ciri yang lain tanyakan aja pada tukang-tukang ojek yang mangkal di sana. Jangan nanya bencong yang lagi mangkal. Mahal soalnya.

Keadaan sunyi senyap. Ini udah malam. Udah hampir jam dua belas. Tapi, belum jam dua belas baru hampir. Kalau hampir itu berarti belum terjadi. Itu namanya logika. Kalau bahan-bahan makanan yang Gue bawa dalam tas namanya lgoistik. Awas jangan ketuker.

Rumah-rumah penduduk yang kami lewati udah sepi sunyi senyap. Lampu-lampu rumah dimatikan. Mungkin mereka menuruti anjuran PLN untuk hemat energi. Bayar listrik tuh sekarang mahal. Jadi harus dihemat. Itu kata perusahaan monopoli yang sayangnya sering banget merugi. Monopoli kok merugi.

Tanah yang kami jejaki ini makin meninggi. Udara makin dingin berembus. Kami beristirahat sebelum memasuki jalur hutan Jayagiri. Botol air mineral dibuka. Setelah itu air yang terkandung di dalamnya diteguk. Pelan-pelan air masuk ke tenggorokan dan menurun ke lambung. Besok pagi atau sebentar lagi air itu pasti jadi air seni. Baunya berubah menjadi pesing. Namanya juga air kencing.

Di sela-sela waktu istirahat itu Gue mencoba mengobrol dengan Asep. Maklum teman lama bertemu kembali.

“Udah kerja dimana sekarang, Sep?” Itu Gue yang tanya ke Asep. Pertanyaan itu terlontar sebab biasanya bagi lulusan baru alias fresh graduate pertanyaan model gitu itu sungguh menyakitkan. Buat jantung serasa diremas-remas. Dan Gue sengaja menanyakannya. Biar dia deg-degan dan minta pingin pulang.

“Di rumah aja kok.” Itu Asep yang menjawab di rumah. O, mungkin dia kerja di rumahnya atau di rumah temannya. Atau di rumah sipapun yang penting kerja.

“Ngerjain apa di rumah?” Gue penasaran. Jawabannya tadi masih menggantung. Dan Gue gak mau digantung. Sebab bisa berakibat pada kegagalan nafas, patah leher, aliran darah yang terhenti ke otak, dan berujung pada kematian.

“Ngerjain orang-orang yang lewat depan rumah.” Asep menjawab begitu. Mukanya polos. Kepalanya pelontos.

“Ngapain orang-orang itu lewat depan rumah?” Gue makin penasaran dengan jawabannya yang makin ambigu itu.

“Gak tahu. Mungkin mereka pingin aja lewat.” Asep menerawang. Pandangannya jauh menerobos keremangan malam. Matanya masih dua. Mungkin dia lagi mencari mereka yang pingin aja lewat.

Setelah itu Asep gak ngomong lagi. Gue juga gak nanya-nanya lagi. Entah kenapa selalu gak sealiran kalau ngobrol ama dia. Mungkin kita beda mazhab. Tapi, kadang juga kita harus mafhum ketika ada orang-orang yang melakukan sesuatu gak beralasan. Alasannya cuma pingin aja. Kenapa lewat depan rumah? Karena pingin aja. Kalian juga pasti pernah khan ngelakuin sesuatu hal tanpa alasan apapun kecuali karena pingin aja. Dan kami pun melanjutkan perjalanan lagi karena pingin aja.

Sesaat kemudian pos pendakian dijelang. Di sana kami harus registrasi. Membayar uang pendakian yang cuma tiga ribu perak dan menuliskan identitas kami di buku tamu. Kenapa harus mengisi buku tamu segala? Mungkin ada yang kawinan di sana. Sekarang khan lagi musim kawinan.

Setelah registrasi itu kelima sahabat alam itu meneruskan langkahnya. Gue masih di posko. Beberapa pertanyaan mau Gue lontarkan ke bapak petugasnya. Malu bertanya jangan bertanya, begitu kata pepatah kuno Arab Saudi.

“Pak, mau tanya sebelumnya. Boleh?” Itu Gue yang nanya ke bapak petugas berkumis tebal dan memakai kupluk itu. Mungkin udah jadi patron atau mungkin udah ada semacam SOP—Standar Operasional Prosedur, entah dari mana yang mewajibkan semua satpam dan petugas keamanan itu pake kupluk dan berkumis. Entahlah.

“Boleh. Kenapa, A?” Si bapak menyilakan. A itu adalah Gue yang bertanya.

“Kalo di Jayagiri boleh buat manasik haji gak, Pak?”

“Wah, si Aa mau manasik haji di sini?” Si bapak nampak kaget. Mukanya polos. Dan hatinya bersih. Itu kata istrinya. Si bapak akhirnya percaya ketika tadi melihat ibu-ibu, Desmy, Liza, dan Nia, yang berjilbab panjang dan memakai rok itu melintas. Mereka itu emang kayak rombongan jamaah haji.

“Boleh gak manasik di sini, Pak?” Gue mengulangi pertanyaan yang udah diajukan tadi.

“Bukan masalah boleh atau gak boleh, A. Tapi..” Si bapak kelihatan lagi mikir. Jari telunjuk kanannya dia tempelkan di wajah. Atau mungkin dia lagi ngupil. Aktivitasnya itu gak jelas terlihat soalnya cuma ada bohlam berdaya 5 watt menggantung di atap posnya.

“Tapi kenapa, Pak?” Gue memotong pencarian upilnya.

“Boleh gak ya?” Si bapak masih bingung. Itu pertanyaan dari si bapak yang diajukan untuk dirinya sendiri.

“Kita udah jauh-jauh lho, Pak. Dari Papua lho. Bapak tahu Papua gak?”

“Waduh, Papua?” Si bapak tercengang oleh kalimat barusan. Mungkin si bapak gak tahu dimana Papua berada.

“Boleh gak nih, Pak? Kalo gak boleh saya pulang lagi. Tapi, gimana ya. Sayang sih kalo harus pulang lagi tanpa hasil. Temen-temen saya juga pasti kecewa. Udah ngeluarin ongkos mahal tapi gak jadi manasik haji.” Gue berbicara sendiri sebab si bapak juga nampaknya tengah mengajak ngobrol nuraninya. Inilah situasi yang serbasulit bagi kita masing-masing.

“Biasanya sih yang kesini itu mau mendaki, A. Ee.. Kalo yang mau manasik haji sih gak pernah. Tapi, gimana ya?”

“Jadi?”

“Ee.. Iya deh boleh.. Boleh, A. Asal jangan merusak lingkungan ya.” Si bapak akhirnya membolehkan. Pesannya cuma satu gak merusak lingkungan. Oh, bapak ternyata go green juga meski gak ikut keanggotaan Walhi atau WWF.

“Alhamdulillah.” Gue mengurut dada. Gembira akhirnya diperbolehkan melakukan ibadah pendakian, “nuhun, Pak.”

“Sami-sami, A.”

“Mangga, Pak.”

“Mangga.”

Gue pun bergegas lari menyusul kelima sahabat alam yang entah udah dimana posisinya. Pokoknya mereka pasti udah jauh meninggalkan Gue yang lama mengobrol tadi. Dan berlari adalah satu-satunya jalan terbaik menyusul ketertinggalan yang udah sebegitu jauhnya. Berlari memanggul beban berat dan di jalanan yang menanjak itu ternyata gak mudah. Seperti menulis di atas air. Itu namanya orang yang gak ada kerjaan nulis kok di atas air. Mending di atas kasur, tidur.

Sepanjang perjalanan Gue gak menemui kelimanya. Salman pasti mengajak Desmy, Liza, Nia, dan Asep untuk berlari juga. Soalnya Gue gak bisa nyusul mereka. Mereka pasti udah jauh banget di depan. Mungkin aja udah nyampe puncak Jayagiri. Ah, untungnya Gue pernah ke sini jadi semoga masih hapal dengan jalurnya dan gak nyasar. Amin.

Dengan langkah gontai akhirnya puncak ditapaki. Benar juga firasat Gue. Mereka udah sampai di puncak duluan. Meninggalkan Gue yang eksentrik dan eksotis itu. Oh, kejamnya ibu tiri.

Secangkir kopi item udah tersaji apik di depan mata. Itu pasti buat Gue. Entah siapa yang membuatnya dan entah buat siapa, Gue langsung menyeruputnya.

Sruputtt.. Ah..

Itu suara seruputan kopi dalam cangkir yang Gue seruput. Uh, nikmatnya kopi hangat di tengah udara yang makin menggigit. Berteman api unggun dan dikelilingi oleh para sahabat alam adalah kedamaian tersendiri di puncak Jayagiri.

 

Gunung Jayagiri. 2011

 

 JS

Posted in: Short Story