Kesempitan Dalam Kesempatan

Posted on April 21, 2014

0



Kesempatan_Dalam_Kesempitan (dok warkop dki)

Kesempatan_Dalam_Kesempitan (dok warkop dki)

 

Tidak selalu ada kesempatan dalam sebuah kesempitan – Revisi Kata-kata Warkop

Stiker karya revisionis itu tertempel di atas sebuah meja kantin kampus. Tepat menjadi tempat dua onggok mahasiswa yang duduk bersihadap. Duduk berdua jarak dekat layaknya sepasang sejoli yang memadu rindu. Sayangnya, keduanya adalah mahasiswa vs mahasiswa, bukan mahasiswa vs mahasiswi.

Sebuah cangkir keramik yang telah berisi setengah kopi hitam masing-masing tersaji di depannya. Dalam rentang waktu sepuluh menit yang terlewat keduanya belum saling beradu kata-kata. Seperti tersekat oleh garis teritori, mereka menjalani dunianya sendiri-sendiri.

Joko, mahasiswa pertama yang ternyata berasal dari Papua dan bukan dari Jawa, nampak gusar di atas kursinya. Air mukanya kecut tak keruan. Sesekali melihat BlackBerry (BB)-nya, yang semenjak tadi sudah berdering beberapa kali, tapi tak diresponnya. Matanya belingsatan kesana-kemari. Badannya pun bergerak-gerik tak tentu arah. Tangannya bersedekap di atas meja. Dan beberapa detik kemudian ia malah menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Melihatnya pasti bakal teringat akan gaya uget-uget yang menari-nari di dalam got yang airnya tak mengalir.

Sementara itu Jaka, mahasiswa asal Tasikmalaya yang duduk tepat dihadapannya, terlihat lebih fresh. Keriangan nampak di mukanya. Kadang ia cengar-cengir sendiri seperti orang gila yang stres—atau bisa juga orang stres yang gila. Kedua tangannya tak lepas dari memencet-mencet keypad BB-nya. BBM-an. Asyik bercengkerama dengan benda mati yang konon bisa menjadikan hidup lebih hidup itu. Dunianya hanyalah ia dan BB-nya, sungguh bukan Joko yang ada dihadapannya. Bayangkan saja seekor cacing yang kepanasan girang.

Joko dan Jaka, dua pemuda bangsa yang menimba ilmu di Jakarta. Dua mahasiswa berkarib itu detik ini tengah tak mengakrab. Dua mahasiswa kopiholic, yang seringkali mendapatkan kopi hitam dengan cara mengutang di kantin kampus itu, masih belum bersitegur memasuki sepuluh menit keduanya. Jika dalam babak sepuluh menit kedua ini tak jua ada tegur sapa, mungkinkah akan ada babak perpanjangan waktu? Entahlah. Lihat saja nanti.

Sungguh tak lagi nampak wajah ceria yang biasanya menjadi aura khas Joko. Ia tengah muram. Suasana hatinya suram. Pikirannya gamang. Kondisi jiwanya remang-remang. Dan menit ini adalah menit keduapuluhnya berada dalam kondisi yang serupa saat awal datang berkunjung tadi. Babak sepuluh menit kedua dilalui tanpa kata-kata. Memaksa perpanjangan waktu dilakukan segera.

Wasit hampir saja meniup peluit tanda extra time dimulai andai saja Jaka tak menjebol kebuntuan sore itu.

“Kamu teh kunaon (kenapa) sih diem melulu dari tadi, Jok?” Tanya Jaka. Akhirnya tegurannya itu memecah paceklik kata-kata keduanya.

Joko tak meresponnya. Dia malah makin kencang menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangannya. Sudah seminggu ini ia memang tak sampoan. Maklum akhir bulan.

“O, gatel ya rambut kamu teh?” Tanyanya polos. Lantas melanjutkan, “makanya punya rambut tuh disampoin, bukannya malah disabunin, pake sabun colek lagi. Hehe.”

Joko tetap membisu. Kelakar Jaka tak disambut dengan tawa olehnya. Malah ia melakukan lagi gerakan yang serupa tadi: menggaruk lebih kencang lagi kepalanya. Sesekali ia memegang BB-nya. Melihat ke arah layar. Dan tak lama, diletakkannya lagi.

Melihat perangainya yang aneh, Jaka berpikir jika ini bukanlah soal jarangnya rambut Joko dikeramas. Bukan pula karena banyak kutu yang menempel di rambutnya yang keriting seksi itu. There’s must be something wrong with him. Begitu hipotesis Jaka.

“Kalo ada apa-apa teh ngobrol. Curhat atuh. Kita ‘kan priend, Dude.” Rayu Jaka dengan aksen khas Sundanya, susah bilang ‘F’. Topik obrolannya pun digantinya.

Mulut Joko sedikit menunjukan gerak. Bibirnya perlahan membuka. Ia mulai berkecumik. Dan, akhirnya kata-kata yang dinantikan keluar juga dari mulut yang eksotik.

“Saya galau, Kakak.” Jawab Joko dengan aksen Papuanya yang kental.

“Lho galau kunaon, Brow?” Jaka penasaran.

“Sa—saya, putus cinta sama Jessica, Kakak.” Jawabnya lesu. Sebentar kemudian menunduk. Tepekur. Jessica adalah kekasih yang sudah dipacarinya dari semenjak masih di kampung halaman. Memutuskan hubungan dengan pasangan itu tidaklah gampang, apalagi melupakan pasangan yang sudah bersamanya lebih dari tujuh tahun. Tragis. Pantesan dia begitu galau.

“Kenapa? Curhat atuh, biar beban kamu teh ilang. Siapa tahu Jaka bisa bantu.” Jaka mulai berempati dan menunjukan simpatinya.

“Serius kah, Kakak?” Tanyanya antusias. Serius. Bola matanya hampir keluar. Memelototi lawan bicaranya.

“Iya. Seurius. Kamu ngomong aja.” Jawab Jaka tak kalah seriusnya.

“Saya kesal sama doi, Kakak.”

“Kesal sama pasangan itu bukannya hal yang biasa terjadi itu teh. Trus kenapa langsung jadi masalah besar begitu sampe putus segala?” Jaka mencoba menghibur sahabatnya itu. Berbicara sok dewasa, sedangkan pacaran saja ia belum pernah. Dua puluh tahun menjomblo, tapi sudah bisa menceramahi orang lain soal pacaran. Itulah hebatnya Jaka, seorang Jajaka asli Manonjaya, Tasikmalaya.

“Soalnya su—sudah, keterlaluan, Kakak. Saya dibohongi sama doi. Wajar toh kesal?” Joko berapi-api menjelaskan. Mukanya merah padam. Mendengus kencang bak banteng yang mau menyerang sang matador kapan saja ia mengibarkan selendang merahnya. Untung di depannya adalah Jaka, bukan matador.

“Dibohongi kayak gimana itu teh? Ceritain atuh yang lengkap, biar duduk perkaranya jelas.” Keluh Jaka sambil mengernyitkan dahinya masih bingung. Tak puas terus mengulik prahara rumah tangga yang menimpa karibnya itu.

“Malam minggu kemarin doi BBM saya. Trus doi bilang dalam BBM-nya begini, Kakak.” Joko menyodorkan isi isi pesan BBM dari pacarnya kepada Jaka: Di rumah gak ada siapa2, Yang. Papah ama mamah pergi keluar kota jenguk nenek di Bdg.

Setelah dicermati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tidak nampak ada keganjilan bunyi pesan BBM-nya itu. Jaka pun bingung. Akhirnya memutuskan untuk mengklarifikasi.

“Trus, maksudnya teh?” Tanya Jaka sambil menaikkan kedua alisnya yang tebal mirip tokoh kartun Sinchan itu.

“Ya saya langsung memutuskan untuk datang ke rumahnya sudah. Ini kesempatan dalam kesempitan toh.” Jelas Joko.

“Kesempatan?” Jaka makin menarik alisnya tingg-tinggi. Dahinya berkerut kayak kulit nenek-nenek yang keriput. Ia semakin bingung. Plus kian penasaran saja.

“Eh, sial sudah. Pas saya sampai di sana gerbang rumahnya tertutup rapat. Saya belum curiga toh. Ah, saya pikir doi ada di dalam. Saya pigi (red: pergi) panjat pagar sudah. Tapi kok semua lampu rumah mati. Mati lampu kah?”

“Jok minum dulu. Minum dulu, Jok.” Jaka memotong penjelasannya di tengah jalan. Ia menawari Joko kopi yang hanya tinggal tersisa dedaknya seketika melihat Joko yang terengah-engah. Napasnya memburu cepat. Tersengal-sengal. Seperti habis mengejar maling kampung.

Joko mengambil cangkir kopi itu. Bukan tetes air hitam yang membasahi tenggorokannya, malah dedak hitam ampas kopi yang ia teguk. Seketika ia pun batuk-batuk, “Uhukk.. Uhukk..” Ia tak peduli. Saking bersemangatnya mencurahkan kekesalan, ia pun melanjutkan, “Saya ketok-ketok itu pintu sudah. Eh, tidak ada jawaban dari doi. Akhirnya saya telepon Jessica. Lama sudah baru dia angkat itu telepon toh. Saya tanya lagi: ‘dimana kah?’ Dia bilang: ‘lagi di rumah temannya buat tugas kelompok’. Saya langsung marah-marah. Itu sudah.”

Joko bercerita panjang lebar kisah malam minggu kelabunya itu. Jaka makin antusias. Tapi, dia lagi-lagi masih bingung di mana letak kesalahan Jessica, pacarnya?

“Kok Jessica dimarahin?”

“Sebab saya kesal, Kakak. Doi bilang tidak ada siapa-siapa di rumah toh. Makanya saya ke sana. Pas sampai di sana doi malah tidak ada. Dia bohongi saya sudah. Salah kah saya kesal?”

Nahas bagi Joko. Hanya gara-gara misinterpretasi ekspektasi negatifnya ternyata harus kandas di tengah jalan dan terkubur dalam-dalam.

“Hahaha..” Jaka terbahak keras sementara Joko masih memendam kesal. Ungkapan kekesalannya bukan berbalas empati, malah sebuah bahakan menyemprot wajahnya. Menyebabkan beberapa pengunjung kantin melirik ke arah mereka bengis.

“Oalah, dasar kamu otak udang, Joseph Kondologit—Joko! Haha.” Dan, jaka terbahak lebih kencang lagi.

Joko heran atas kelakuan sahabatnya itu. Bilangnya karib, tapi mendengar sahabatnya lagi dirundung sedih malah puas menertawainya keras-keras. Dimana brotherhood kamu Jaka?

Lepas dari tertawanya Jaka kembali mencoba menenangkan Joko yang masih mendengus kencang. “Jessica teh gak salah, Brow. Yang salah itu teh kamu. Doi ‘kan udah bilang kalau di rumah itu gak ada siapa-siapa, bokap nyokapnya lagi pergi. Doi juga lagi ngerjain tugas kelompok, gak ada di rumah juga. Doi ngasih tau itu ke kamu teh biar kamu gak ngapel ke rumah. ‘Kan biasanya tiap malming (red: malam minggu) kamu gak pernah absen buat ngapelin doi. Jadi ngapain kamu maksa maen ke rumahnya?”

Sebelum sempat Joko meresponnya Jaka kembali melanjutkan pendapatnya. “Ih kamu ngeres sih otaknya. Mikirnya cuma kesempatan dalam kesempitan doang. Kamu pasti nyangkanya kalo bokap nyokapnya pergi teh berarti kesempatan bisa berduaan sama si doi berlama-lama tanpa gangguan teknis toh. Padahal maksudnya gak ada siapa-siapa teh emang beneran rumah lagi kosong, gak ada orang di rumah termasuk si Jessica.”

“Jadi saya yang salah kah?” Joko bertanya dengan polosnya setelah mendengar uraian panjang lebar dari sahabatnya itu.

That’s right.” Jawab Jaka sambil menudingnya dengan telunjuk kanannya.

“Jadi saya harus bagaimana, Kakak? Saya sebenarnya masih cinta sama doi, Kakak.” Joko meminta saran dari sohibnya itu.

“Ah, itu sih namanya bukan putus cinta. Tapi, putus masih cinta. Pantesan kamu teh galau melow goeslaw gak selow gitu dari tadi. Kalo putus cinta itu teh biasa. Yang ribet teh emang kalo udah putus tapi masih cinta. Hehe.” Jaka terkekeh.

“Jadi saya harus bagaimana, Kakak?” Joko mengulang pinta sarannya.

“Pesen satu kopi item lagi, Mas.” Teriak Jaka memesan sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Mas pelayan kantin yang lewat.

 

JS

 

Posted in: Short Story