Jam Istirahat Makan Siang

Posted on April 16, 2014

0



Jam Istirahat Makan Siang (dok Ghora W)

Jam Istirahat Makan Siang (dok Ghora W)

 

HANYA beberapa meter dari ambang pintu masuk sebuah coffee shop di bilangan selatan Jakarta duduklah seorang pria muda. Rambutnya tersisir acak berjingkrak, mengilap lewat polesan wax. Matching dengan bentuk wajah kotaknya. Rahangnya kokoh. Bulu-bulu halus melintang di sekitar bagian atas bibirnya, memunculkan duga jika baru beberapa hari pisau cukur membabatnya. Pria metropolis itu gagah dengan setelan kantorannya, rapi berdasi.

Di depannya tergeletak sebuah piring yang masih menyisakan pancake. Pesanan pertamanya itu tak dilahapnya tuntas. Pandangan matanya menyorot ke arah lengan kirinya dimana jam tangan analognya melingkar. Ia masih belum mau beranjak dari tempatnya setelah tahu bahwa jam istirahat makan siangnya belum sepenuhnya habis. Lambaian tangan kanannya membuat seorang pelayan menjelangnya. Ia lekas memutuskan untuk kembali memesan. Satu order tertulis di catatan sang pelayan. Usai itu ia pun beranjak menjauh memunggungi sang pelanggan.

Kembali, kedua bola matanya diarahkan begitu saja menembus kaca coffee shop. Menyorot kosong jalan aspal. Menangkap gerak-gerik lintang pukang lalu lintas jalanan. Gejala optis yang nampak pada permukaan aspal yang terpapar matahari terlihat menjilat-jilat kaki para pengguna jalan. Jilat lidah fatamorgana itu telah melambungkan khayalnya. Menerobos tinggi-tinggi melebihi tingginya gedung-gedung penyangga langit di kejauhan mata memandang.

Ia masuk ke dalam relung imajinernya dalam-dalam. Di antara gedung-gedung tinggi itu terselip sebuah apartemennya—tempat tinggalnya yang baru beberapa bulan ini ditempati. Pikirannya kalut seketika dipaksa membayangkan jika minggu depan apartemen itu mungkin tak disewanya lagi. Mendadak ia gusar. Duduknya menjadi tak tenang. Belingsatan tak keruan. Labuhan rasa capek dan lelahnya itu sebentar lagi menjadi kenangan.

Secangkir espresso yang menjadi pesanannya tadi tersaji. Sedikit menjadi intermeso lamunannya sunyi.

Digapainya cuping cangkir dengan tangan kanannya. Seakan ingin berpacu dengan waktu, pesanannya itu diseruputnya cepat-cepat. Diletakkan. Lalu cepat disambarnya kembali cangkir itu. Tak dibiarkannya kepul asap putih meliuk-liuk menyajikan tariannya dari atas permukaan kopi.

Ia merogoh saku kemejanya, yang di bagian luarnya menggantung ID Card bertuliskan nama, ‘Asisten Manajer’, dan nama perusahaan. Sebuah wadah kotak putih dikeluarkannya perlahan. Mulai membuka tutupnya dan mencabut sebatang lintingan putih tembakau berfilter itu dari wadahnya. Ting. Bunyi tutup korek apinya yang terbuka memecah kebuntuan. Lidah bara api sebentar lagi menjilat ujung rokok mild yang digamit di bibirnya. ‘No Smoking’: ia mengurungkan niatnya. Korek api kembali padam. Sebatang rokok mild kembali diturunkan dari bibirnya. Tak jadi tersulut.

Ah, kenapa tidak duduk di luar saja, atau duduk di ruangan yang bertuliskan ‘Smoking Area’ itu saja?

Kopinya minta untuk ditemani oleh asap tembakau. Timbul niatnya untuk beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruangan bebas asap tembakau itu dan merangsek masuk ke dalam Smoking Area. Tubuhnya sudah hampir diangkatnya. Namun, ia kembali memadamkan niatnya. Entah kenapa. Yang jelas ia kelihatan jelas gelisah.

Lembaran koran nampak tergeletak di meja seberang. Mungkin koran itu milik seorang pelanggan yang tertinggal. Ah, tak penting. Yang terpenting koran itu mampu menemani teguk kopinya. Lekas diambilnya koran itu. Tak peduli, meski belakangan diketahuinya, koran itu telah kadaluarsa, terbit sabtu tepatnya dua hari lalu.

Tersaji pada halaman pertama sebuah headline berita dengan titel ‘PHK Masal Bakal Ancam Ibu Kota’. Sungguh provokatif. Ditinggalkannya segera halaman pertama dengan kegelisahan yang amat sangat. Wajahnya mendadak pucat. Lembar kedua menjelang. Berita didominasi oleh persoalan kesejahteraan: soal buruh yang berdemo menuntut naiknya upah, gulung tikarnya beberapa perusahaan sebab tak kuat bayar upah pegawai, pengusaha yang memprotes langkah pemerintah menaikan upah buruh. Ah, sama saja itu tak menarik. Diacuhkannya begitu saja.

Lembaran koran selanjutnya disibak. Menyajikan rubrik berita nasional dan politik. Sudah diduganya. Isinya tak jauh-jauh dari berita korupsi dan kriminal. Makin banyak saja orang-orang yang mengaku nasionalis tapi korupsi. Bilangnya sih Pancasilais tapi oportunis. Lembar berikutnya tersibak cepat-cepat, tandanya berita itu memang tak menarik tak membuatnya tergelitik.

Dibukanya lembaran berita rubrik informasi selebriti. Berita pertama berkabar tentang artis-artis ibu kota yang mencari popularitas lewat sensasi; perceraian, pertikaian, dan perselingkuhan. Banal.

Raut mukanya kian lesu. Air mukanya kecut. Hingga sampai pada lembar berikutnya ia nampak serius. Antusiasme lahir perlahan dari wajahnya. Lembar advertorial terpampang di sana ternyata:

‘Lowongan Menjadi Sales Marketing’

Dibutuhkan seorang dengan kriteria:

  • Pria/wanita S1/sederajat
  • Berpenampilan menarik
  • Bersedia ditempatkan dimana saja

Dibetotnya sebatang pulpen yang menyelinap di dalam saku kemejanya. Sebuah bulatan tegas ditorehkan di atasnya. Dua buah bulatan. Tiga buah bulatan. Tak lama kemudian koran itu telah penuh oleh torehan beberapa bulatan. Setelah benar-benar dipastikan jika tak ada yang lepas dari buruannya, lantas ia merogoh saku celananya. Sebuah BlackBerry (BB) diambilnya. Deretan angka-angka contact person perusahaan yang tertera pada advertorial yang telah dibulatinya itu diketik dan disimpan dalam BB-nya. Perburuannya usai sudah. BB-nya kembali dikantonginya.

Berikutnya, lembar yang terakhir, giliran lembaran rubrik olah raga unjuk diri. Laporan berita olah raga nasional mengawali rubrik. Gambar skuad timnas tengah berlatih di atas rumput hijau dengan didampingi oleh sang pelatih tersaji. Di atasnya tertulis judul yang diketik dengan huruf ukuran sangat besar berwarna kuning cerah: ‘Indonesia Dicukur Malaysia’. Ditutupnya koran itu lekas-lekas.

Kembali diteguknya espresso yang tinggal setengahnya. Kepul asap dari atas cangkir espresso-nya telah tak meliuk-liuk. Hangatnya telah kalah tersapu oleh hawa panas siang hari. Matahari memang tengah kokoh berdiri di atas ubun-ubun. Pandangan kosongnya kini diarahkannya kembali ke jalanan.

Sebentar kemudian, sayup-sayup terdengar berita dari televisi. Isinya begitu mengagitasi sehingga memaksanya untuk menengok ke arah layar ilusi datar berdimensi 21 inci yang menempel di dinding coffee shop itu. “Ribuan buruh terancam di PHK.” Suara newscaster dengan lantang membacakan berita itu. Ia sedikit menyipitkan matanya. Korneanya menyempit menemukan sebuah fokus tulisan kecil-kecil yang berjalan di bawah layar. Bunyinya seiya sekata dengan berita yang terbaca di mulut sang newscaster; Ribuan karyawan berdemo menuntut untuk tidak di PHK. Televisi menggila. Menerbangkan khayalan penontonnya mengawang getir di udara.

Indonesia kembali membara. Komposisi utamanya adalah PHK dimana-mana, harga BBM yang selangit, dan harga kebutuhan pokok yang meroket. BBM naik berefek domino. Menyebabkan harga-harga kebutuhan primer ikut latah naik. Apa-apa yang tidak berkaitan sama sekali dengan BBM pun mendadak dangdut dan bergoyang. Paket BBM-an pun meroket, meski tak ada korelasinya. Apa sebenarnya yang ada di dalam benak penguasa bangsa itu? Masokhisme publik, mereka puas menyiksa rakyat dan membuatnya makin melarat. Aku kesal!

Tangan kanannya kembali menggapai saku celana. Masuk ke dalamnya dan mengambil sesuatu yang terasa seperti kertas yang terlipat. Ditariknya keluar benda itu. Sebuah amplop putih yang patah terlipat menjadi dua. Disobeknya segera amplop itu. Secarik kertas terselip di dalamnya. Dibukanya kertas itu dengan kedua tangannya yang bergetar reflek. Dibacanya pelan-pelan isi yang terkandung di dalamnya. Ia nampak tak bersemangat. Lesu.

Isinya adalah soal pemberitahuan Putus Hubungan Kerja (PHK) untuk semua level staf sampai level asisten manajer. Berikutnya lagi adalah penjelasan mengenai tenggat waktu: Keputusan dijalankan selambat-lambatnya akhir bulan ini.

Kepalanya dipaksa untuk menunduk lesu. Semuanya pun menjadi gamblang kini. Masa kerjanya hanya tinggal menghitung hari, berdasarkan surat keputusan yang telah diratifikasi itu. Pilu.

Ia kembali merogoh saku celananya. BB-nya kembali diambilnya. Pada layar berdimensi 5 inci itu jelas terpampang senyum ceria foto keluarga kecilnya: ia, istri, dan buah hatinya, berlatarkan Gedung Sate. Sesaat kemudian senyum buntu terukir di bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Naluri kelelakiannya terusik. Tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang ayah bagi buah hatinya kembali dipertanyakan oleh nuraninya sendiri.

Bagaimana nasib keluargaku di Bandung? Makan apa mereka nanti jika aku jadi di PHK?

Tak lama kemudian, dering pesan BlackBerry Messenger terdengar sekali, memecah kekalutannya. Ia mengambil BB di saku kemejanya. Sebuah kalimat panjang tergerai.

Di layar tertulis:

Pah, Adek susunya abis, besok hrs beli lg. Baju2nya jg udah mulai kekecilan, pengen beli baju yg baru lg. Kasian udah gak muat.

Ia menghela napas panjang. Tangan kanannya dibiarkannya mengurut-urut dahinya. Belum beranjak pandangannya dari layar BB. Lalu disambung cepat oleh bunyi BBM yang kedua:

O iya, Kakak jg sepatunya udah gak muat&tasnya udah sobek minta diganti. Mamah jg blm ke salon bulan ini. Jadi, kapan kirim uangnya?

Dia menarik napas dalam-dalam. Digeletakkannya BB itu perlahan. Tangan kirinya menyusul tangan kanannya, memegangi dahi. Tepekur lemah. Tak berdaya.

Lalu, hening.

Jam istirahat makan siang kantornya berakhir.

 

BR

Posted in: Short Story