Cinta Tok (Bukan) Bahan Bakar Rumah Tangga

Posted on April 6, 2014

0



Cinta Tok (dok ismailiroprojoblogspotdotcom)

Cinta Tok (dok ismailiroprojoblogspotdotcom)

Selamat Datang Di Kota Solo

Papan penyambutan selamat datang itu pun dijelang. Tak ada lagi tujuan yang lebih jauh yang harus ditempuh. Di sinilah semua tujuan bermuara. Di Kota Batik, Solo.

Sepanjang jalan menuju rumah Wita suasana hati Pijar mendadak tak menentu. Kadang senang. Kadang gelisah. Kadang juga khawatir hadir. Degup jantung mengikuti irama kayuhan becak yang dinaikinya. Kadang melamban pelan. Kadang merambat cepat.

Rasa-rasanya seperti menunggu eksekusi mati. Menit demi menit yang dilalui menjadi kejutan tersendiri. Menantikan sesuatu yang menentukan dalam hidup bukanlah persoalan mudah. Ketenangan hati menjadi begitu didamba jika kalut melanda seperti ini. Merambati waktu dengan kecemasan sungguhlah tidak mengenakan sekaligus tidak nyaman sama sekali. Tak ada keinginan lain selain cepat sampai tujuan dan mencurahkan seluruh maksud hati.

Antara terus maju atau mundur saja? Nyalinya mendadak ciut. Semangatnya menjadi kecut. Ah, siapa juga yang tak kalut jika dihadang oleh maut. Mahasiswa semester enam salah satu universitas negeri di Jatinangor itu memang biasa berkoar-koar di medan demonstrasi. Tapi, untuk menghadapi orang tua gadis berdarah keraton yang terkenal kolot itu, terus terang, baru kali ini Pijar mengalaminya.

“Tenang aja, Bro. Entar tak bantuin. Aku ‘kan sama-sama dari Jawa. Tahu banget gimana menghadapi keluarga keraton ningrat kayak orang tuanya Wita.” Ujar Tarno dengan aksen Jawanya yang kental, menenangkan hati sahabatnya itu. Mahasiswa asal Banyumas itu nampaknya turut merasakan debar kencang jantungnya. Saking kencangnya jantungnya berdebar sehingga Tarno pun, yang duduk di sampingnya, seakan ditendang-tendang hampir melompat dari atas becak. Makanya dari tadi ia berpegang erat-erat pada besi atap becak.

Dalam hitungan detik lagi semuanya memang akan terjawab. Kali ini hanya ada dua kemungkinan; ya atau tidak. Jika ya, maka orang tua Wita menyetujui proposal lamarannya. Jika kata tidak yang ternyata muncul, maka Wita pun lepas dari tangannya. Rencananya mengawini sang gadis idaman hanya tinggal angan-angan belaka.

Kebimbangan dan kecemasan ternyata juga menggelayuti manusia di becak paling depan, becak yang ditunggangi oleh Wita sendiri. Apakah ia benar-benar matang untuk menghadapkan Pijar ke muka kedua orang tuanya atau tidak, sedangkan tak ada warta kepada mereka sebelumnya. Bagaimana nanti jika kedua orang tuanya tiba-tiba saja tak sadarkan diri mendengar anaknya malah membawa seorang jejaka, sedangkan mereka hanya tahu anaknya menimba ilmu di Jatinangor.

Sesaat berlalu, di depan sebuah rumah berhalaman luas itu kedua becak perlahan memelankan lajunya. Sesaat kemudian benar-benar berhenti. Dan, sang penumpang pun turun dari becak.

“Pake pecinya, No.” Suruh Pijar gugup. Tarno pun segera memakai kopiah yang dibawanya dari Jatinangor itu. Tapi, entah apa maksud dari semuanya itu. Kenapa mesti peci yang dipakai? Bukannya sarung atau baju koko. Rencana dan strategi apa yang tengah dilakukannya itu. Entahlah. Biarlah lembar berikutnya yang menjawabnya.

“Duduk dulu di teras ya. Aku panggilin dulu bapak sama ibu. Kalo ada yang mau mainan burung tuh mainin aja.” Wita menyilakan tamunya. Suasana khas keraton Jawa seketika terasa. Rumah joglo elegan yang depannya dihiasi oleh kandang-kandang burung mengisyaratkan kecintaan sang tuan rumah pada hewan bersuara merdu itu.

Mendengar kata burung, Tarno pun langsung tertarik. Teman sekelas Pijar itu dengan sigapnya memainkan siulannya. Mengajak burung-burung bercanda. Berasa seperti rumah sendiri dan burung pribadi. Santai dan asyik benar ia itu jika sudah berhadapan dengan yang namanya burung. Sehingga terlupa jika burung itu adalah aset pribadi yang resmi bapaknya Wita, bukan burungnya. Ih, mau-maunya ia memainkan burung orang lain.

***

Pijar seperti tak kuasa menahan jantungnya untuk tak kencang berdebar. Malahan degupnya makin kencang tak beraturan. Tak beritme sesuai instruksi alam sadarnya. Benar-benar kacau.

“Bapak sama Ibu nyuruh masuk. Beliau udah nunggu di ruang tamu. Masuk yuk.” Wita kembali menjelang dan menyilakan kedua tamu istimewanya masuk.

Detik-detik yang sungguh mendebarkan. Rasa-rasanya menyeret kaki untuk melangkah memasuki ruang tamu sama beratnya menyeret sebuah truk bermuatan pasir atau batu bata. Berat nian.

Di ruang tamu itu sudah nampak seorang lelaki setengah baya bermuka ganteng, berkumis tebal, berwajah agak sangar, berbadan tegap, memakai setelan baju Jawa, dan memakai blengkon sebagai mahkotanya—jika bingung bayangkan saja sosok seorang Pak Raden. Di sampingnya, duduk seorang perempuan ayu setengah baya juga, berkebaya rapi, bersanggul anggun, beraura khas priyayi keraton. Keduanya adalah bapak dan ibu Wita; Raden Mas Ngabei Mardjo Hadiwidjojo dan Raden Ayu Siti Hanum Mardjo Hadiwidjojo. Dari nama-namanya terlihat jika mereka itu memang priyayi ningrat.

“Ayahanda, Ibunda, ini temen-temen Ananda.” Ia menyilakan tamunya memperkenalkan diri. Keduanya pun langsung menyalami dan menciumi tangan kedua orang tua Wita itu. Mengenalkan dirinya masing-masing.

Usai memastikan kedua tamunya itu duduk Wita kemudian melanjutkan, “Ayahanda, Ibunda, ada yang mau disampaikan sama temen-temen Ananda ini. Sudilah kiranya Ayahanda dan Ibunda menemani berbincang sebentar.”

“Ehemm..” RM Mardjo mendeham. Gelegarnya memecah kesunyian. Sekaligus menghadirkan suasana yang mencekam. Singgasananya, kursi goyang besar nan megah yang terbuat dari kayu jati emas pilihan berusia ratusan tahun, bergoyang-goyang pelan. “Apa gerangan yang mau diperbincangkan oleh adek-adek ini?”

Kedua mahasiswa ingusan dari Jatinangor yang duduknya berderet satu saf itu tak langsung menjawab. Justru kaki keduanya yang bersitendang. Tangan mereka saling sikut. Mengode satu sama lainnya.

Peluit tanda perang sudah dibunyikan. Tak ada waktu lagi selain harus segera berlari menghunus pedang ke medan pertempuran.

“Ee.. Anu.. Ada yang mau saya sampaikan, Pak.” Pijar pun memulai. Tubuhnya mendadak berkeringat dingin. Kaki kanannya terus bergoyang-goyang. Bergerak-gerak reflek. Tangannya meremas-remas kosong. Panik.

“Langsung saja. Anak muda kok aa.. ee.. Tegas!” RM Mardjo memotong keterbataannya. Seakan tak sabar untuk segera mendengarkan jawabannya. Suaranya parau tapi berat. Aksen Jawanya sangat kental terdengar, medok.

“Ya, Pak. Anu.. Ee..” Pijar tersentak. Dia masih saja belum mampu menguasai keterbataannya. Kaget, seperti reaksi seorang yang menonoton film horor ketika sang hantu menampakan dirinya secara tiba-tiba. Degup jantungnya makin kencang. Keringatnya deras mengucur. Bulir keringat keluar dari keningnya. Membasahi wajahnya yang putih menjadi pucat seketika. Dia hampir-hampir tak bisa menguasai dirinya. Setelah agak tenang kemudian melanjutkan, “Saya bermaksud meminta restu Bapak.”

“Restu apa, hah?” Gertak RM Mardjo sambil memelintirkan kumisnya yang tebal bak seikat tali ijuk itu. Volume suaranya dinaikan.

“Ee.. Melamar Wita, Pak.” Tandasnya. Rasa plong seketika hadir seiring kata melamar itu keluar dari mulutnya. Untuk mengeluarkan satu kata saja butuh tenaga, energi, semangat, dan keringat, yang tak sedikit ternyata.

“Apa!” Bentak RM Mardjo kencang. Seisi ruangan seakan bergetar kencang. Langit-langit rumah seakan mau runtuh. Petir seakan menyambar di siang bolong. Menyengatkan energi listrik berdaya 1.000 kilowatt ke seisi rumah, “Perwita—Wita, itu masih sekolah. Dia itu disuruh untuk mencari ilmu bukan mencari jodoh.”

“Sa.. Saya cinta dia, Pak.”

“Cinta? Weleh.. weleh.” RM Mardjo terkekeh. Namun, kekehannya itu bernada menyepelekan bukan menyanjungnya. “Mau ngelamar kok cuma modal cinta.”

Dalam keadaan darurat itu pertolongan yang ditunggu-tunggu pun hadir. Seorang pahlawan dari tanah Banyumas akhirnya menjelang. “Mohon perkenankan saya ngendiko (berbicara), Raden.” Tarno berinisiatif mengambil alih. Pikirnya, sudah saatnya ia turun tangan menangani kebuntuan yang terjadi.

Monggo.” Kalem RM Mardjo menyilakan.

Nyuwun sewu, Ndoro. Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Tarno, sebagai walinya Pijar. Langsung saja, maksud kedatangan kami ini adalah untuk melamar anak panjenengan, Ndoro.”

“Sudah punya modal apa ponakan sampean itu?”

“Anu.. Ponakan saya ini cinta sama anak panjenengan, Ndoro Raden.”

“Weleh.. weleh.. Melamar anak gadis kok modal cinta tok. Gendheng sampean.”

Nyuwun sewu, Ndoro. Begini, Ndoro Raden. Kata peribahasa Jawa itu ‘kan, ‘witing tresno jalaran soko kulino’. Mereka saling cinta oleh karena sering dan terbiasa bertemu di kampus. Saling kenal lalu jatuh cinta.Sampai sejauh ini memang modalnya baru cinta. Karena cinta itu adalah pondasi rumah tangga. Bukan begitu, Ndoro?” Ujar Tarno santun.

Oalah. Ternyata itulah alasan utama Tarno memakai kopiah. Ia ternyata didapuk oleh Pijar untuk menjadi walinya. Pantas saja beberapa minggu ini kumis dan janggutnya sengaja tak dipangkasnya. Barangkali biar terlihat lebih tua dan pantas menjadi pamannya Pijar.

“Cinta itu pondasi? Hmm.. Kalau rumah tangga pondasinya cinta tok, maka kena kentut saja sudah roboh bangunan rumah tangga itu. Sampean ini piye toh.”

“Tapi, niat ponakan saya ini tulus, Ndoro. Meskipun masih mahasiswa tapi dia punya niat baik untuk menikahi anak panjenengan.”

“Hmm.. Niat baik dan cinta podo wae (sama saja). Sama-sama bukan modal menikah.” RM Mardjo memelintir kumisnya lagi. Berhenti sejenak. Lalu melanjutkan, “Anak saya ini keturunan keraton. Itu artinya dia priyayi tulen. Anak pilihan dengan weton dan neptu yang bagus, senin pahing. Dia keturunan saya langsung. Dan saya ini, asal sampean tahu, adalah keturunan langsung raja-raja Jawa. Silsilah keluarga kita adalah trah keluarga keraton. Bebet, bibit, bobot, kita ini luhur dan adiluhung. Apakah sampean juga punya trah keluarga ningrat?”

Macarin Kamu..Nggak jauh beda..Dengan main ludruk..Pake nanya silsilah..Golongan darah..Ningrat atau umum..

Serasa terdengar suara Krisyanto, mendendangkan lagunya, Ningrat, sesaat setelah RM Mardjo selesai berkata-kata tadi.

Pijar dan Tarno masih terdiam. Tepekur bisu. Keduanya kompak tak habis pikir, di zaman semodern dan pendidikan sudah menjadi pemecah kebuntuan zaman masih ada saja orang yang berbicara soal weton. Oh, tidak.

Di sela-sela lamunan keduanya, RM Mardjo melanjutkan pidatonya kembali. “Menikah itu tidaklah mudah, Le—Tole. Rumah tangga itu butuh bahan bakar, seperti wisma (rumah), kukila (kesenangan), curiga (kekuatan), turangga (kendaraan), dan yang terpenting adalah kencana (harta). Cinta tok ndak akan cukup jadi bahan bakar rumah tangga. Bagaimana dapur bisa ngebul kalau modalnya cuma cinta tok. Semuanya butuh modal. Buat beli elpiji butuh materi. Buat beli nasi juga butuh materi. Camkan itu Anak Muda!”

Nampaknya Tarno belum menyerah. Ia masih punya jurus berikutnya yang bakal dilancarkannya. “Nyuwun sewu, Ndoro Raden. Betul kata panjenengan itu. Semuanya memang butuh materi. Tapi, Pijar ini mengajak anak Ndoro, Wita, untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad. Menjalin sebuah hubungan yang Halalan toyyiban. Hubungan yang dirahmati Allah adalah pernikahan, bukan? Dan dia mengajaknya demikian. Menyelamatkan masa depan anak panjenengan.”

Argumentasinya justru makin membuat RM Mardjo kalap. Ia bahkan punya jurus yang lebih ampuh lagi untuk meng-counter argumentasi Tarno itu. “Jikapun harus dinikahkan sekarang, Perwita bakal aku nikahkan dengan seorang joko—pria, yang sesuai dengannya. Yang sesuai dengan darah birunya. Yang sesuai dengan trah keluarganya. Bebetnya. Bibitnya. Bobotnya. Dari keluarga keraton juga. Wetonnya juga harus cocok. Apa hari pasaran calonnya itu. Bagaimana neptunya. Apakah cocok atau tidak. Semuanya itu jauh lebih penting dari cinta tok.”

Dan keheningan pun menggelora. Sejenak perbincangan berhenti. Suara mendadak menghilang. Sunyi. Mungkin inilah akhir perjuangan para pemuda itu.

“Hmm.. Jadi manusia itu harus nrimo ing pandum (menerima takdir). Sudahlah, jangan balelo. Ponakan sampean biar kuliah dulu saja. Bereskan dulu amanah orang tua.” RM Mardjo berpesan bijak. Sesaat kemudian ia menggeser posisi duduknya, menghadap ke arah anaknya, “Kamu, Perwita, juga harus membereskan kuliahmu dulu, Nduk.”

 

BR

Posted in: Short Story