Di Ketinggian Welirang

Posted on March 14, 2014

0



Gunung Welirang (dok klosetide)

Gunung Welirang (dok klosetide)

Akhirnya Gue lulus juga. Lulus kuliah itu adalah satu kebahagiaan tersendiri. Meski mungkin gak sebahagia lulus ujian calon mertua. Ah, kalian gak usah tahu berapa lama Gue malalui masa itu. Karena kalau Gue kasih tahu takutnya kalian malah terinspirasi.

Terus terang, Gue lulus kuliah enam tahun, dan lamanya itu gara-gara Gue terlalu mendalami ilmunya. Mendalami ilmu mendaki, ilmu silat, ilmu kanuragan, dan ilmu kehidupan, sehingga melupakan ilmu sosial dan ilmu politik yang Gue wajib pelajari di kuliah. Ah, indahnya jadi mahasiswa abadi. Kapan lagi bisa seperti ini.

Waktu itu bulan mei. Eh, mei atau setelah april ya? Ah, pokoknya bulan sebelum juni deh. Gue berniat mendaki Welirang, di Jawa Timur sana. Welirang itu adalah nama gunung. Dan tentu saja bukan nama restoran apalagi nama makanan. Kalau ada yang beranggapan Welirang itu nama restoran atau nama makanan jelas salah besar. Cukup.

Nah, kali ini tujuan mendaki kami adalah ke sana. Kemana? Ya ke Welirang. Bukan ke Gunung Slamet, Semeru, Ciremai, Everest, Cartenz, Aconcagua, Elbrus, apalagi Gunung Agung—di Bali, bukan nama toko buku.

Alasannya karena pingin syukuran kelulusan aja. Kalian pasti bertanya kenapa harus mendaki gunung? Sebab kalau mendaki Monas takut dikira cari sensasi. Apalagi mendaki tower SUTET, takutnya ditimpuki dan diteriaki warga suruh turun. Jadinya yang paling aman adalah mendaki gunung.

Lalu kalian pasti nanya lagi, kenapa harus Welirang? Sebabnya gunung itu terdiri dari 8 huruf. Angka 8 adalah angka genap, bukan ganjil. Ah, semua juga tahu. Jadi ngapain Gue kasih tahu. Tapi, ternyata urusan genap dan ganjil menjadi begitu krusial di Welirang. Entar aja deh Gue kasih tahu dimana letak krusialnya.

Gue gak mau mendaki sendiri. Gue mau mendaki gunung. Karena gak mau sendiri makanya Gue ajak teman-teman. Pingin tahu alasannya kenapa Gue ajak teman-teman dan gak mau sendiri? Jawabannya simpel: Takut. Daripada mendaki sendiri mending mendaki ramean. Ramean itu bukanlah nama jenis mie; Mie Ramean. Ramean itu adalah Semy, Cumi, Bembeng, Abe, Mamet, Komeng, dan Gue sendiri. Ramean adalah kami bertujuh, Gue plus enam orang teman-teman Gue.

Masing-masing orang udah siap dengan barang bawaannya sendiri-sendiri. Selain itu, ada barang-barang buat tim, kayak tenda, alat masak, dan tentunya kamera dan handycam sebagai alat dokumentasi. Nah, yang terakhir itu amatlah penting. Asal kalian tahu ya, bagian terpenting dari mendaki gunung bukanlah menggapai puncak. Tapi, yang terpenting adalah bawa kamera atau handycam atau apalah itu namanya yang jelas alat buat dokumentasi. Tanpanya mendaki menjadi sayur sop tanpa sayur mayur. Itu namanya kuah doang.

Sebelum berangkat Gue mencek dan ricek semua barang bawaan. Ceritanya Gue ini didapuk jadi komandan regu pendakian. Oleh karena didapuk demikian, jadi urusan mencek dan ricek jadi tugas Gue. Setelah barang bawaan pribadi selesai dicek, kini giliran barang-barang kebutuhan tim.

Untuk urusan tenda Semy lah rajanya. Eh, masih ingat dengan Semy khan? Itu lho sahabat alam yang naik bareng ke Merbabu waktu itu. Ah, kalian pasti masih ingat. Dia memang bukan raja tenda apalagi tukang jualan tenda. Tapi, dia lah yang membawa tenda dalam ranselnya.

Lalu ada Cumy yang membawa alat-alat masak, kayak kompor, gas, kompor buaya, parafin, dan trangia plus spirtusnya. Mamet dan Komeng kedapatan tugas membawa bahan makanan atau ransum alias logistik. Bembeng bawa alat dokumentasi, sebab dia lah yang paling bisa memotret—jika dibandingkan kami berenam. Abe bawa obat-obatan tim. Dia sebagai divisi medis pendakian alias dokter rimba. Dan sejak saat itulah Gue baru sadar dan tahu bahwa menjadi dokter ternyata gak harus kuliah di Fakultas Kedokteran, melainkan bisa juga di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), kayak si Abe itu.

Dan Gue sendiri punya tugas paling berat. Gue harus membawa tanggung jawab dan amanah tim menjadi komandan regu. Sungguh berat tugas yang Gue jalani ini.

Lagi-lagi stasiun. Lagi-lagi Kiaracondong. Stasiun Kiaracondong, Bandung, lagi-lagi. Kalian tahu gak kenapa harus Stasiun Kiaracondong? Ah, pasti gak tahu. Ya mau gimana lagi selain disitu. Ke Stasiun Hall jelas gak mungkin. Di situ khusus buat kereta eksekutif dan bisnis tok. Mereka yang berkelas ekonomi harus mengalah dan pergi ke Stasiun Kiaracondong ini. Gak apa-apa, yang penting happy.

Jug.. Ijag.. Ijug.. Ijag.. Ijug..

Itu suara kereta yang masih sama kayak yang dulu-dulu. Kereta pun melaju. Dari Bandung menuju Surabaya. Dan hatiku gembira. Semy, Cumi, Bembeng, Abe, Mamet, Komeng, pun sama-sama riang gembira. Entahlah, kenapa mereka ikutan gembira. Mungkin karena kereta akhirnya melaju maju. Mungkin kalau keretanya gak maju-maju atau mendadak melaju mundur mereka gak jadi gembira. Soalnya kalau keretanya melaju mundur berarti kembali lagi ke Padalarang bukan ke Surabaya. Itulah makna bahagia bagi seorang mahasiswa yang ternyata sangat sederhana: naik kereta.

Oh, iya. Sebelum kelupaan Gue sedikit membahas sahabat alam yang ikut bareng mendaki. Terserah kalian mau tahu atau enggak. Sahabat alam yang pertama namanya Semy. Semy adalah Samuel yang dipanggil Semy. Dia itu sahabat alam yang paling gagah dan kokoh badannya. Soalnya badannya yang memang gempal dan gede. Dan buat menyebutnya Gue gak mau pake kata-kata ‘gendut’ apalagi ‘gembrot’, sebab takut dibilang main fisik.

Selanjutnya ada yang mengaku namanya adalah Bembeng. Padahal nama sebenarnya adalah Bambang. Dan kenapa dipanggil Bembeng? Mungkin biar keren aja. Biar enak didengar di tahun 2013 dan lebih kekinian aja, cukup nama bapak kita aja yang Bambang. Atau nama presiden Indonesia aja yang demikian itu.

Terus ketiga, ada Cumi. Konon dia dipanggil begitu karena rambutnya yang mirip tentakel cumi-cumi, keriting panjang. Soal yang satu ini kadang Gue sendiri suka bingung dan cenderung protes. Kenapa harus Cumi, kenapa bukan dipanggil Indomie, Mie Sedap, atau Supermie. Atau dipanggil Cabe Keriting aja. Tapi, sudahlah. Di zaman sekarang mengganti nama itu gak mudah. Harus ngadain selamatan pake bubur merah dan bubur putih. Dan yang paling ribet harus mendatangi kantor catatan sipil buat mengganti nama di akta kelahiran. Percaya deh, ribet.

Keempat adalah Komeng. Nama aslinya Pebrian yang dipanggil Komeng. Anehnya dia itu orang Jakarta bukan orang Sunda. Nama kok Pebrian? Harusnya khan Febrian. Eh, kenapa Gue yang protes. Yang ngasih nama khan ortunya bukan Gue. O, iya, maaf Om dan Tante. Tapi, Gue masih penasaran. Daripada kebawa mimpi apalagi kebawa sampai mati penasaran itu, Gue cek aja akta kelahiran dan ijasah sekolahnya. Eh, ternyata benar. Namanya emang Pebrian, pake ‘P’. Kalian tahu kenapa dipanggil Komeng? Ah, semua pasti udah tahu. Soalnya dia itu gak mirip sama sekali sama Rio Pebrian.

Kelima dan keenam adalah Abe dan Mamet. Kedua sahabat alam ini gak usah dibahas ya. Soalnya gak menarik. Terlalu mainstream. Gak ada kisah dibalik namanya. Jadi di-skip aja. Tapi, kalau kalian pingin tahu Abe itu adalah orang Indonesia. Jenis kelaminnya kalian juga pasti udah lihat, eh maksudnya tahu kalau dia itu laki-laki. Dia itu anak yang penurut, menurut pengakuan keluarganya tentu saja. Dan, Mamet yang ternyata bernama asli Ahmad. Ah, dasar anak zaman sekarang emang sukanya ngerubah-rubah nama.

Tut.. Tut.. Tut..

Itu bunyi kereta yang berhenti. Bunyinya kayak gitu pas sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Kami akhirnya turun dari kereta. Saat itu udah jam satu dini hari Waktu Indonesia Surabaya. Dan karena Welirang itu adanya di Pasuruan bukan di Surabaya, kami pun tanpa diperintah melanjutkan perjalanan lagi ke sana. Kemana? Ya ke Pasuruan, masa ke Kosovo.

Kami pun naik omprengan menuju daerah yang disebut Tretes. Omprengan itu kendaraan sewaan dan bukan taksi ataupun kendaraan umum yang kami sewa dengan ongkos 300 ratus ribu dengan kurs yang masih rupiah.

Wush..

Itu bunyi suara angin yang mendorong omprengan L300 saat mengantarkan kami sampai di Tretes.

Jarum jam menunjuk ke angka 3 itu artinya udah jam tiga Waktu Indonesia Tretes. Dan jam segitu mendadak perut Gue lapar. Begitu juga perut sahabat alam lainnya, latah ikut lapar. Karena lapar jadi kami pun beli makanan bukan beli yang lainnya. Sebab kalau beli minuman itu tandanya haus. Dan beli sapi itu kalau mau Idul Adha. Gue ajak aja Komeng nyari warung makan yang masih buka. Komeng pun menurut. Yang lainnya memilih istirahat dan selonjoran di surau kecil dekat pos pendakian.

Sebuah warung tenda pinggir jalan terlihat berlampu. Itu tandanya masih jualan. Maka, kita pun ke sana. Kemana? Ya ke warung itu.

“Makan, Mas?” Itu tanya seorang ibu yang kayaknya pemilik warung.

“Iya, Bu.” Itu Gue yang jawab.

Si ibu dengan cekatan mengambil piring padahal kita mau makan bukan mau piring.

“Dibungkus, Bu.”

Dan Si Ibu pun menaruh lagi piringnya. Lalu mengambil kertas koran. Bukan buat dibacanya, tapi buat ngebungkus pesanan tentu saja. Kemudian mengambil daun pisang sebagai alas nasi melapisi koran tadi.

Bak kilat menyambar. Enam porsi nasi bungkus dan lauk pauknya udah terbungkus. Di dalam bungkusan berisi ratusan bahkan ribuan butir nasi. Entahlah. Sebab Gue gak sempat ngitung berapa jumlah butir nasinya. Mungkin karena udah keburu capek plus lapar.

“Berapa, Bu?”

“Enam bungkus, Mas.”

“Bukan. Harganya berapa?”

“Oh, lima puluh ribu aja, Mas.”

Transaksi pun usai. Sebelum kita berdua beringsut dari TKP, Si Ibu pun bertanya.

“Mau naik, Mas?”

Gue tahu kalau si ibu itu penjual nasi bukan seorang cenayang atau peramal. Tapi, kenapa si doi tahu kalau kita mau mendaki ya? Mungkin tahu dari dandanan kita yang gaul dan tampangnya yang ganteng bersih putih mulus ini.

“Bukan, Bu. Mau makan.” Jawab Gue.

“Maksudnya Mas-Mas mau pada naik gunung? Ke Welirang toh?” Si ibu membetulkan roknya.

“Oh, iya. Iya mau ke Welirang, Bu.” Gue jawab.

“Berdua tok?” Tanyanya lagi.

Kali ini tebakan Si Ibu salah besar. Kita khan naik bertujuh, bukan berdua.

“Bertujuh, Bu.” Gue koreksi.

“Iya. Sisanya lagi di pos, Bu.” Komeng menambahi. Pos itu maksudnya di pos pendakian atau base camp. Bukan di posyandu apalagi kantor pos.

“Wah ganjil ya. Kalo mau genap berarti harus delapan.” Kata si ibu yang belakangan diketahui bukan seorang guru matematika. Tapi kok beliau ngajarin kita itung-itungan ya? Ah, padahal kita pingin diajari pelajaran menggambar.

Gue juga tahu kalau 7 itu angka ganjil dan 8 itu genap. Kok si doi malah kayak guru SD yang lagi ngetes muridnya ya. Gue membatin.

“Enam juga genap, Bu.” Kata Gue.

“Dua, empat, sepuluh, juga genap, Bu. Iya gak, Kang?” Komeng nyeletuk. Dia manggil Gue dengan sebutan Kang, soalnya emang Gue lebih senior. Dan dia itu junior Gue.

Lalu ngapain Komeng malah bilang gitu. Berasa kayak lagi cerdas cermat deh. Masa iya si ibu mau ngajak kita main kuis Kelompencapir sih?

“Hmm.. Harus genap Mas kalo mau mendaki.” Si ibu berkata lagi.

“Oh, iya?”

“Iya. Di sini aturannya gitu, Mas. Pokoknya jangan ganjil deh. Kalo terpaksa ganjil berarti harus bawa batu, Mas.”

Batu? Apa hubungannya batu dengan keganjilan. Benar-benar ganjil. Aturan? Ah, aturan mana yang mengharuskan bawa batu kalau mendaki. Itu aturan mungkin dari zaman batu. Sekarang khan udah gak zaman batu lagi. Tapi, zamannya SuJu.

“Bukannya kalo mendaki tuh harus bawa ransel, tenda, alat masak, ya Kang?” Komeng bertanya lirih ke Gue.

“Iya, Meng. Setahu Gue juga gitu.” Gue pun menjawab pertanyaan gak pentingnya. Semua orang juga tahu mendaki tuh ya bawa ransel, tenda, alat masak. Ah, Komeng ada-ada aja dikau.

“Itu juga kalo sampean percaya lho. Hehe..” Si Ibu menambahkan lagi, “itu menurut kepercayaan orang sini, Mas. Takutnya kalo ganjil nanti terjadi apa-apa di atas. Bisa ada kejadian aneh nanti lho. Tapi, itu sih kalo sampean percaya sama mitos itu. Kalo ndak percaya yo wis. Hehe.”

Kita pun minta diri. Lalu pergi. Menyusul kelima sahabat alam lainnya di titik start pendakian yang mungkin tengah kelaparan.

Kita sampai. Sampai di pos base camp. Dan kami akhirnya makan bareng. Setelah makan lalu kami semua cuci tangan, sebab tadi makannya pake tangan dan mulut, dan juga pake nasi sama ayam, bukan pake sendok. Setelah cuci tangan kami langsung bersiap memulai pendakian.

Kami semua berdoa tanpa kata selesai. Sebab tak pernah ada kata selesai dalam berdoa. Waktu itu jam 4 pagi, kami mulai menapaki jalan menanjak.

Baru beberapa langkah Komeng mengusik ketenangan Gue.

“Lo bawa batu kagak, Kang?” Komeng bertanya. Napasnya ngos-ngosan. Mulutnya bau ayam. Mungkin ayam goreng yang baru dimakannya tadi.

“Kagak.” Gue juga ngos-ngosan. Tapi, mulut Gue gak bau. Kecuali bau mulut bayi.

“Kata ibu warung khan katanya disuruh bawa?”

“Itu khan kata ibu warung, Meng. Bukan ibu Gue.”

“Iya sih. Ibu Gue juga kagak nyuruh bawa batu. Nyuruhnya bawa makanan yang cukup.” Nah, si Komeng pintar tuh. Eh, ibunya yang pintar ding, nyuruh anaknya bawa makanan yang cukup, bukan bawa batu yang cukup.

Lalu kami pun beristirahat. Semuanya duduk. Semuanya selonjoran. Sebabnya adalah capek. Jadi kami istirahat. Atur pernapasan. Sekaligus aklimatisasi. Aklimatisasi itu penyesuaian diri dengan iklim, lingkungan, kondisi, atau suasana baru. Ah, kalian juga pasti udah tahu apa itu imunisasi.

Semy, Bembeng, Abe, dan Mamet, duduk berjejer di sana. Di sana di dekat pohon toge dan cabe. Sedangkan Gue duduk di sebelah pohon pisang dan Komeng, agak menjauh dari yang lainnya. Waktu itu langit masih pekat.

“Serius lo gak bawa batu, Kang?” Komeng bertanya lagi.

“Emang lo mules, Meng?” Gue balas nanya ke dia. Lama-lama Gue kesal juga sama Komeng. Kenapa dia harus mirip Komeng. Kenapa gak mirip bapak atau ibunya?

“Iya sih. Kalo kata guru ngaji gue juga yang bawa batu itu biasanya yang mules di perjalanan biar gak boker. Ini masa di gunung bawa batu.” Ah, Komeng malah curhat soal guru ngajinya.

“Kalo lo percaya and yakin ama omongan si Ibu warung lo bawa aja, Meng.” Gue menjawab. Kalian pasti tahu kenapa Gue bilang gitu. Itu tandanya Gue cuma percaya sama Ibu Gue yang nyuruh bawa doa bukan bawa batu. Dan, yang jelas Gue lahir dari rahim Ibu bukan sebongkah batu.

Komeng diam. Dia ragu. Kelihatan dari matanya. Dia kere. Kelihatan dari dompetnya. Dia jelek. Kelihatan dari tampangnya. Dia laki-laki. Kelihatan dari apanya ya? O, iya dari jakunnya. Terus dia gak berani lagi nanya-nanya.

Dari kejauhan terdengar suara azan subuh. Itu pertanda udah masuk waktu subuh. Waktu itu kira-kira jam setengah lima pagi. Gue lalu memutuskan untuk istirahat lebih lama buat salat subuh dan mandi pagi. Kebetulan gak jauh dari tempat kami rest ada sebuah gubuk yang agak gede. Bangunan dari kayu itu malah lebih mirip rumah sebab ada penghuninya. Bangunan itu juga lebih mirip warung sebab ada gorengan, jajanan, minuman, yang dijajakan. Ah, kami pun ke sana.

Sesampainya di sana Cumi muntah-muntah. Kenapa dia muntah-muntah? Itu juga yang Gue penasaran. Daripada penasaran, Gue mending memilih pemanasan. Gue tanya. Katanya dia mual. Jadi, muntah. Penyebab satu-satunya seseorang yang muntah adalah karena dia merasa mual. Jadi ngapain harus Gue tanyain. Cuma tikus yang gak pernah mual-mual. Soalnya dia gak bisa muntah. Satu-satunya hewan yang gak bisa muntah ya tikus itu. Iya gak, Kus?

Oh, iya. Yang Gue tanyain alasannya. Dia lalu menjawab, “Abis makan tadi langsung dibawa jalan, jadi perut langsung mual.” Salah besar. Ternyata itulah penyebab dia muntah-muntah. Lalu Gue saranin dia, “Harusnya setelah tadi makan lo cuci tangan, soalnya makannya gak pake sendok.” Cumi pun mengangguk.

Setelah itu kami salat subuh. Selesai salat subuh kami pun sarapan pagi terus ngopi-ngopi. Sehabis itu acara bebas (free time). Ada yang mainan ayunan, ada yang mandi, ada yang buang hajat, ada yang main catur, ada yang main dadu. Ah, terserah mereka lah. Ngapain Gue ngatur-ngatur. Dan Gue sendiri ngopi.

Kemudian kami jalan lagi, sebab tujuan pendakian bukan hanya sarapan pagi dan ngopi di warung itu, tapi ke puncak sana. Kami meninggalkan Pet Bocor—nama tempat itu yang belakangan diketahui.

Konon, kata si bapak yang tadi jaga warung perjalanan dari Pet Bocor sampai ke Pondokan, pos berikutnya, makan waktu lima jam saja. Dan semenjak itu Gue langsung sadar jika perjalanan pasti bakal makan waktu sepuluh jam. Kenapa demikian? Sebab orang asli alias warga sekitar selalu saja punya tenaga yang berbeda dengan orang kota. Dekat menurut orang desa berarti jauh bagi orang kota. Lima jam kata si Mas, yang tiap hari bolak-balik turun naik, bisa jadi dua kali lipat bagi kami. Benar juga bahwa jarak itu selalu relatif.

Akhirnya kami pun tetap melangkah. Yang terpenting dari setiap pendakian adalah terus menapaki jalan menanjak. Sebab kalau menapaki jalan menurun atau turunan itu namanya turun gunung. Dan kalau melempengkan badan di kasur itu namanya tidur. Jadi, ya nikmati aja selama masih menanjak.

Kira-kira di ketinggian 1000 MDPL terdengar suara mesin menderu. Apakah ini sebatas imajinasi tak berarti ataukah sekadar halusinasi? Ternyata salah. Itu benar-benar suara deru mesin mobil. Sebuah hartop bak terbuka dengan satu sopir dan satu penumpang melaju sadis di samping iring-iringan laskar pendaki. Dia melenggang dengan santai dan congkaknya. Sial. Mereka gak ngajak-ngajak. Sialnya lagi, sang penumpang malah melemparkan senyum kepada kami. Miris. Dalam hatinya pasti si bapak tua itu terkekeh sambil membatin, “Rasain lo!”

Kami bertujuh yang capek-capek mendaki dan berpeluh. Eh, si bapak tua itu yang enak-enakan di atas mobil sambil kelepas-kelepus menarik asap dari batang linting tembakaunya. Oh, bapak penambang belerang mengapa engkau tega nian?

Jarum jam udah menunjuk ke angka satu siang dan kami lapar. Karena lapar maka kami pingin makan. Kami gak pingin tidur sama sekali sebab kami gak ngantuk sama sekali. Pada sebuah tempat yang agak luas kami pun menghentikan langkah. Istirahat.

Masing-masing membuka ranselnya. Mengeluarkan barang bawaan masing-masing, terutama logistik dan alat masak. Kami mau makan. Dan masak lah kami. Di sini bukan kayak di kota. Di sini gak ada KFC atau Warteg, jadi harus masak kalau pingin makan. Rasa lapar pun berhasil memaksa kami untuk memasak.

Dan jangan membayangkan kami bakal memasak rendang atau gulai kambing apalagi tongseng dan iga bakar atau buntut yang di sop itu. Sebab di sini adalah gunung. Kalian juga pasti udah tahu apa menu yang kami makan. Ada sarden, mendoan, kornet, spagheti, minumnya jus jeruk. Kalian pasti menganggap itu semua menu mewah, dan lantas bertanya kok bisa sih di gunung makan yang begituan. Jawabannya adalah sebab sebelum mendaki kami sempat berbelanja dulu di Alfamart. Cukup jelas sekarang kenapa kami semua makan enak?

Setelah makan mata kami mengantuk. Dan obat paling mujarab dari segala kantuk adalah kopi. Tapi, kami gak pingin ngopi. Kami cuma pingin merebahkan diri. Dan tidurlah kami di bawah pohon rindang dan terpaan angin gunung yang sejuk. Saat itu matahari udah mulai redup. Langit pun mendadak menguning. Oh, damainya alam ini.

Kami bangun pada hari berikutnya. Ternyata kami bermalam di tempat itu. Apalah itu namanya pokoknya di sana ada pohon rindang dan tanah yang agak luas yang ditumbuhi rerumputan dan udaranya sejuk benar. Sebuah tempat yang belakangan kami tahu bahwa itu adalah makam alias kuburan.

Wat?

Serius. Swear. Sumpah. Kali ini kami benar-benar serius telah meniduri kuburan salah seorang pendaki yang meninggal di situ. Setelah tahu kami pun pergi dari situ. “Maaf Kawan, kami benar-benar gak tahu. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Amin.”

Kami pun pelanjutkan perjalanan pagi harinya. Setelah berkemas-kemas dan tentu saja berdoa sambil meminta maaf atas kekhilafan kami itu. Sekali lagi bukan maksud untuk sembrono atau maksud menguji ilmu kedigdayaan, apalagi ingin mencari pesugihan. Sama sekali enggak. Kami tahu itu makam sebab diberitahu oleh salah seorang pendaki yang kebetulan lewat.

“Itu khan makam, Mas.”

Ah, sampean telat. Dia bilang setelah satu hari sebelumnya sempat satu tempat dengan kami. Dan dia baru memberitahukannya esok harinya kemudian. Sungguh nasi udah ada di dubur.

Hap.. Hap.. Hap..

Akhirnya sampailah kami di Pondokan, pos berikutnya. Di sana kami beristirahat sejenak. Membangun benteng sementara. Hari masih sore. Baru jam setengah empat. Tapi, karena kami belum sampai ke puncak, kami pun memutuskan untuk melanjutkan lagi perjalanan. Menuju puncak.

Kami udah bersiap dengan segala perlengkapan menuju puncak, termasuk alat dokumentasi sebuah kamera DSLR dan sebuah handycam. Barang-barang yang gak perlu kami tinggal di Pondokan, camp sementara tadi. Dan mulailah kami mendaki ke puncak tepat selepas salat ashar.

Mendung tiba-tiba datang tanpa disuruh. Sesaat kemudian hujan turun. Sial. Kami gak bawa jas hujan atau rain coat. Coba tadi hujan bilang mau datang, pasti kami bakal bersiap dan bawa pawang hujan.

Kami mendapat pelajaran penting bahwa alam gak pernah bertoleransi. Kalau mau hujan ya hujan aja. Kalau mau badai ya badai aja. Langsung datang dan tanpa permisi. Oleh karena itu persiapan dan antisipasi itu penting. Kami pun basah kuyup.

Gue menginstruksikan semua pendaki harus turun. Padahal puncak tinggal 50 meter lagi di jelang. Tapi, buat apa memaksakan diri ke puncak jika kondisinya udah gak memungkinkan. Hujan makin lebat dan hari kian pekat. Kalau udah kayak gitu dijamin udah gak ada yang namanya sesi foto-foto. Maka, turunlah kami menuju Pondokan kembali.

Dengan pontang-panting kami akhirnya sampai juga di Pondokan. Semuanya basah kuyup oleh hujan. Sampe-sampe daleman pun kuyup. Yang ini tolong jangan dibayangkan.

Gue kedinginan. Yang lainnya pun sama. Komeng bahkan hampir hipotermia. Untung aja Gue cepat tanggap. Setelah dia gak ngerespon pas Gue panggil lalu Gue pun menamparnya. Sekali gak ada respon juga. Gue ulangi lagi. Kedua kali masih sama. Ah, sial. Akhirnya Gue lucuti aja satu persatu bajunya. Celananya. Jaketnya. Dan, dalemannya. Hiks.

Komeng benar-benar telanjang bulat. Tolong jangan dibayangkan. Gue suruh dia masuk ke tenda. Di dalam Semy udah siap menggelar kepompong tidurnya (sleeping bag) buat ngebungkus badan Komeng. Mamet Gue suruh buat air panas.

Komeng udah dibungkus sama sleeping bag. Tapi, dia masih gak ada respon juga. Akhirnya langkah darurat pun Gue lakukan. Gue buka baju. Telanjang dada, gak telanjang bulat. Setelah itu Gue peluk dia. Tujuannya biar terjadi transformasi panas tubuh. Biar Komeng ketularan panas dari tubuh Gue. Plus ketularan ganteng dari Gue. Tolong kalian jangan beranggapan bahwa Gue sukses alias suka sesama. Itu adalah tindakan darurat. Dan sama sekali bukan sebuah kesempatan dalam kesempitan. Ih, naudzubillah. Gak lagi-lagi deh.

Oh, akhirnya Gue bisa pelukan juga. Seumur hidup Gue baru kali ini Gue pelukan sama manusia. Unfortunately, he is a men. Semoga Allah mengampuni kami berdua. Amin.

“Pasti ini gara-gara gue gak bawa batu.”

Sesaat kemudian Komeng beranjak siuman. Dia sadar dan Gue segera melepaskan pelukan. Jangan berharap kita bakal melanjutkan hubungan selain hubungan pertemanan. Sebab hubungan dua orang cowok selain persaudaraan adalah dosa. Pamali. Ora ilok.

Sahabat alam yang lainnya pun turut senang. Mereka yang tadinya cemas melihat kondisi Komeng kini mulai tersenyum haru. Kayak program tivi ‘Jalinan Kasih’. Kalau yang satu ini silakan boleh dibayangkan.

Esok harinya kami memutuskan untuk turun. Tadinya mau membayar utang melanjutkan perjalanan ke puncak. Tapi, ternyata sampai jam sepuluh siang alam masih berkabut dan mendung menghiasi langit. Jadi, kami pun mengurungkan niat kembali muncak. Muncak itu perjalanan ke puncak. Ke puncak Welirang maksudnya, bukan puncak Kilimanjaro. Bukan.

Setelah mengosongkan kembali cangkir yang berisi kopi item itu, kami bergegas turun. Meninggalkan Welirang yang masih belum bersahabat, berkabut, mendung, dingin, dan sunyi.

Gunung Welirang. 2010

 

JS

Posted in: Short Story