Sekantung Harapan

Posted on March 10, 2014

0



Sisa (dok. citypullagro dot logspot dot com)

Sisa (dok. citypullagro dot logspot dot com)

BERSAMAAN dengan kumandang azan isya yang mulai mereda Leman kembali menjejakan kaki di ambang rumahnya. Sepetak bedeng berdinding dan beratap seng yang teronggok berbaur dengan gunung-gunung sampah ibu kota itu menjadi tempatnya dan keluarganya menetap. Sebuah hunian sekadarnya yang oleh warga ibu kota dijadikan tempat pembuangan. Semuanya nampak biasa, kecuali sebuah keresek hitam yang ditentengnya serta.

Lelaki, yang tubuhnya mirip kelaras jagung, itu pun merangsek masuk. Bunyi derit dari pintu yang terbuka mengusik keheningan makhluk-makhluk kecil di dalamnya. Di meja tempat biasa ia dan keluarganya makan telah ramai oleh istri dan ketiga anaknya yang masih bocah. Nampaknya mereka telah menunggu lama kehadirannya. Dan melihat yang dinanti datang menjelang dari balik pintu ketiga bocah lusuh itu pun menyongsongnya dengan berlari gembira. Sorak sorai pun seketika pecah.

“Hore.. Bapak pulang.

“Bapak pulang bawa makanan.”

“Hore.”

Teriak riang Cunong, Siti, dan Gopret, ketiga anaknya yang masih balita menyambutnya riang. Mereka menggapainya dan bergelayutan di lengannya yang kerempeng. Polah tingkah kekanakan bocah-bocah itu membuatnya susah untuk melangkah. Menanggapi canda riang anak-anaknya itu sang ayah hanya tersenyum ringan. Ia maklum jika kehadirannya itu menjadi jawaban atas rasa lapar yang mendera perut-perut mungil mereka.

Usai bercengkerama Leman lantas mengajak ketiga anaknya beranjak menuju meja makan. Segera mereka duduk anteng di atas lincaknya menanti makanan tiba. Keresek hitam berisi makanan yang tadi ditentengnya kini telah berpindah tangan ke istrinya, Warni.

Di petak dapurnya, hanya beberapa depa dari meja makan, sang istri tampak sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam mereka. Dari sebuah keresek hitam itulah makanan dicomotnya lalu dipilah-pilah dan mencatu sama rata di atas piring-piring plastik yang telah ia sediakan sebagai wadahnya.

Ketiga anaknya yang sudah siap di meja makan menunggu tak sabar. Duduknya tak tenang. Gusar. Matanya menyorot lekat-lekat ke arah sumber makanan seperti sorot mata seekor harimau yang tengah mengincar mangsanya. Menangkapnya dan tak membiarkannya lepas. Pemandangan seorang ibu yang tengah mempersiapkan makanan itu memancing leher anak-anaknya untuk bergerak turun naik menelan ludah-ludah kering mereka. Seakan mengancam sang ibu untuk cepat mengisi wadah-wadah plastik itu dengan nasi dan lauknya.

Sesaat berlalu tersajilah menu. Semuanya telah terbagi-bagi. Piring-piring plastik berisi nasi putih pulen terhidang bersama paha ayam berlapis terigu yang sudah cobak-cabik di sisi-sisinya tergeletak tepat di depan duduk mereka masing-masing. Ketiga bocah kerempeng itu bertindak cekatan menggapai piring dan langsung menyendok nasi yang telah tersaji. Perangai rakus mereka seketika mengundang lerai dari sang ibu. Takut, ketiga bocah itu pun tenang lagi. Sendok kembali diletakan di atas tempatnya semula.

“Baca doa dulu. Biar makanan yang dimakan jadi berkah buat kita.” Ujar Leman menyuruh anak-anaknya untuk khidmat sesaat. Ia pun menengadahkan kedua tangannya memimpin doa makan malam yang lekas diikuti oleh kecumik mulut mungil ketiga anaknya. Selaksa doa akan hadirnya sebuah berkah terpanjatkan.

Bau yang menyeruak dari aneka sampah menemani santap malam Leman dan keluarganya. Mereka memang sudah akrab dengan aroma tak sedap itu sehingga sama sekali tak menyurutkan selera makannya.

Lalat-lalat hilir mudik berterbangan berebut makan dengan mereka. Seperti tak ingin kalah dan haknya terambil bocah-bocah itu pun makan tak kalah ngebut. Hanya dalam sekejap perut-perut cekung bocah mungil itu perlahan rata. Piring telah kosong melompong seperti sediakala. Dari mulut-mulut mereka keluar suara nyaring sendawa. Mengeluarkan aroma nasi dan ayam yang terlumat oleh air liur kering mereka.

“Alhamdulillah.” Leman berucap syukur. Memberikan sebentuk teladan kepada ketiga anaknya. Ketiganya pun mengikuti ucap syukur itu segera.

“Besok makan enak lagi tidak, Pak?” Siti, anak perempuannya, bertanya.

Leman tak menjawabnya. Sebuah anggukan disertai senyum simpul adalah jawabannya. Menjadi semacam jaminan untuk kembali makan enak. Gadis kecil itu lantas tertawa menunjukan gigi-giginya yang menghitam keropos termakan oleh ulat gigi.

“Hore.. Besok makan enak lagi.”

“Asyik.”

Ketiga anaknya sontak menyambut riang kabar gembira itu.

Besok makan enak lagi.

***

Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui sela-sela gedung-gedung tinggi ibu kota ke pemukiman kumuh itu. Paparan sinarnya mengenai tubuh Tuying, seorang bocah kurus tak berbaju, yang tengah duduk kalem di depan bedengnya. Menghasilkan sebuah bayangan mini yang langsing dan kering. Tulang iga menyembul jelas pada dadanya seperti helai-helai lidi yang keluar dari deret belarak. Belum nampak aktivitas berarti ditunjukan olehnya kecuali memandangi lautan sampah karya warga ibu kota itu.

Seorang bocah laki-laki dengan memakai kaos rombeng di sana-sini berlari menghampirinya. Ia adalah Cunong. Seperti biasanya, ia mengajak sahabat kecilnya itu bermain di tengah lautan sampah.

“Aku punya mobil-mobilan baru, Ying.” Pamer Cunong sambil menunjukan mainan barunya itu. Sebuah mobil-mobilan rongsok yang ia temukan di serakan sampah samping bedengnya.

Tuying hanya meliriknya sesaat. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan tak lagi menatap mainan baru Cunong itu. Nampaknya Tuying tak menganggapnya sebagai sesuatu yang menggembirakannya pagi ini.

Dan Cunong pun tetap asyik memainkan mobil-mobilannya di depan Tuying. Tak peduli jika Tuying ternyata tak begitu tertarik dan hanya bergeming mendengar kabar gembira darinya.

Di tengah keasyikannya itu terdengar suara memanggilnya dari kejauhan. Suara yang telah dikenalnya. Cunong pun bangkit dari duduknya. Berdiri lekas-lekas. Pandangannya tertuju ke arah bedengnya. Sesaat kemudian Siti, sang adik, menjelang.

“Ayo pulang. Sebentar lagi bapak bawa makanan enak.” Bisik Siti tepat di ambang cuping telinga Cunong. Sang kakak pun langsung berjingkat. Kedua adik kakak itu pun berlari menuju ke arah bedengnya.

Baru beberapa meter, ia menghentikan langkahnya. Sebelum jauh kembali menengok ke arah Tuying.

“Kamu sudah sarapan, Ying?” Tanya Cunong setengah berteriak.

Tuying hanya menggeleng. Wajahnya lesu. Dari kedua lubang hidungnya yang mungil keluar ingus kuning kental. Sesekali lidahnya menyapu daerah sekitar atas bibirnya.

“Ayo ikut aku, Ying.” Ajaknya.

Tuying hanya diam. Tak ada gubrisan darinya. Matanya tak menghadap ke arah Cunong, yang mengajaknya bicara.

“Kita makan enak di bedengku, Ying. Makan nasi pulen sama ayam goreng. Enak, Ying.”

Mendengar kata nasi pulen dan ayam goreng telinga Tuying langsung awas. Keruyuk perutnya sudah nyaring. Dilihatnya sahabat kecilnya itu dengan mata yang melotot. Antara percaya dan tidak. Cunong, bocah kerempeng itu ia kenal betul. Dan seperti sepengetahuannya ia sama-sama kere sepertinya. Leman, bapaknya, adalah teman bapaknya juga yang sama-sama memulung. Mana mungkin anak seorang pemulung makan enak.

“Kamu tidak bohong ‘kan, Nong?” Tanya Tuying meragukan. Seakan tak mau diberi harapan kosong oleh sahabatnya itu. Memastikan jika Cunong memang tak sedang bermimpi di pagi buta.

“Ya.” Cunong menjawabnya singkat. Kepalanya dianggukan sekali. Seakan sebagai sebuah penegasan jika ucapannya itu memang benar adanya. Melihatnya demikian Tuying langsung beranjak dari duduknya. Ia berdiri. Digapainya tangan Cunong yang tipis mencarang seperti ranting kering.

“Ayo kita sarapan di bedengmu kalau begitu.” Tuying seakan tak sabar. Ia menggamit tangan sahabatnya itu makin kencang. Lalu menariknya. Tak lama akhirnya keduanya pun melenggang. Berjingkatan menerobos asap sampah yang terbakar. Beradu cepat dengan anjing-anjing dan lalat-lalat yang sama-sama berburu makan.

***

Di atas jalanan aspal itu Leman masih melangkahkan kakinya ketika di seberang bocah-bocah kecilnya menanti kepulangannya. Sebuah karung besar lusuh disandangnya di punggung sebagai alat penghidupannya. Sesekali ia berhenti untuk mengambil botol plastik bekas minuman atau apapun yang dapat ditukar dengan sekeping rupiah. Lalu, berjalan lagi menapak aspal panas ibu kota.

Pada sebuah rumah makan cepat saji ia berhenti. Langkah kakinya terhenti setelah ia tahu telah sampai tujuan utamanya pagi ini. Bukan untuk makan, sebab ia tentu saja takkan sanggup. Ia tetaplah kere yang tak akan pernah mampu membarter hasil rongsoknya dengan seporsi nasi berlauk ayam berbumbu itu.

Hari sudah beranjak siang. Sang surya perlahan naik merangkaki batok kepala saat Leman kemudian menyusuri lorong dan sampai di halaman belakang rumah makan cepat saji itu. Pada sebuah tempat pembuangan sampah ia berjongkok menunggu. Tepekur. Melihatnya demikian seperti melihat tampilan jerangkong: tipis, kering, kurus.

Memang, usia Leman belumlah senja. Tapi, sosoknya telah renta. Wajahnya kusut. Kedua rongga matanya cekung keropos. Perantau itu adalah satu diantara ratusan atau bahkan ribuan manusia-manusia nahas yang tak berhasil mengadu nasib di ibu kota. Ketimbang hidup biasa-biasa saja di desa, mending hidup melarat asal di negeri orang. Hidup pas-pasan di desa adalah aib sekaligus bencana. Sebab mulut orang-orang desa kini lebih buas. Kemelaratan adalah petaka hina di sana. Di sini, di ibu kota, tak ada siap-siapa yang ia kenal. Setidaknya takkan ada omongan miring atas kemelaratannya.

Dalam nasibnya yang kini tak jauh dari kemelaratan Leman tetaplah bertahan. Bagi perantau sepertinya pulang dengan membawa kepapaan adalah bunuh diri. Pulang kampung tak membawa hasil materi sama saja meminum air seni sendiri. Bagaimanapun juga ia masih punya harga diri. Niatnya merantau adalah mencari nasib yang lebih baik. Jika nyatanya kepahitan yang justru dikenyamnya, itu sebuah risiko atas pertaruhan hidupnya.

Lamunan pilu Leman tercekat seketika seorang laki-laki muda, yang bagian depan seragamnya tertutup oleh celemek, keluar dari balik pintu belakang rumah makan cepat saji itu. Sebuah ember besar berwarna hitam digotongnya dengan kedua tangan. Tak ada tegur sapa ataupun senyum dari laki-laki pegawai rumah makan cepat saji itu saat menjumpai seorang manusia kumuh tengah menunggu jongkok di tempat pembuangan itu. Ia enteng saja membuang sisa-sisa sarapan warga ibu kota. Dalam sekejap isi dalam ember pun terkuras habis.

Tumpahan yang keluar itu didominasi oleh kotak-kotak kemasan makanan yang masih terisi penuh atau setengahnya. Mungkin orang-orang kantoran ibu kota menganggap sarapan hanya sekadar jajan. Hanya dicicipi dan tak dihabiskan. Asal perut terisi. Seakan muncul sebuah konsepsi akan gaya hidup urban jika menghabiskan makanan adalah bukti kerakusan.

Leman tak terlampau peduli. Itulah berkah baginya pagi ini. Ia memburunya lekas-lekas. Sampah hasil sisa makanan pengunjung yang tak habis menjadi buruannya pagi ini. Senyum terkulum di mulutnya melihat hasil buruannya pagi ini lebih banyak dari kemarin. Seuntai doa pun terpanjatkan: semoga saja orang-orang ibu kota makin banyak yang sedikit menyantap makanannya. Sehingga ia bisa banyak membawa pulang sisa-sisa makanan yang ditinggalkan. Sebuah doa yang bersahaja. Sebuah berkah yang sederhana.

Karung pulungnya hampir penuh oleh kotak kemasan makanan yang ia kais. Kotak itu bercampur baur dengan botol-botol plastik dan bekas kemasan minuman lainnya. Tak ada bayangan rasa jijik jika makanan itu bercampur dengan kotoran dan kuman-kuman. Bagi Leman, yang seperti itu adalah tetap sebuah berkah. Ia pun melangkah.

Derap langkahnya cepat-cepat. Sekantung sarapan ia bawa sebagai berkah pagi ini. Ia berjingkat makin cepat. Langkahnya ganas. Tenaganya trengginas. Di bedengnya, mulut-mulut kecil anaknya menunggu kepulangannya.

“Pagi ini kita akan makan enak lagi, Nak.” Gumamnya lirih. Dalam ayunan langkahnya Leman tersenyum.

 

BR

Posted in: Short Story