Banding

Posted on February 28, 2014

0



Bestari

Bestari (dok klosetide)

SUDAH dari dulu ibu selalu membanding-bandingkanku dengannya dalam segala hal. Meski tak suka, tapi aku terima. Katanya aku harus seperti kakakku yang pandai, sukses, jadi orang, penurut, perhatian sama keluarga, diharapkan banyak orang, bla bla bla. Katanya lagi aku dan kakakku seperti bumi dan langit. Aku tentu saja yang bumi dan kakakku itu langitnya.

“Kamu itu harus jadi kayak Mbak Suci. Selalu juara di sekolahnya. Dan sekarang bisa kerja di Jakarta. Sukses. Tidak seperti kamu yang cuma di rumah saja.” Begitulah kalimat yang suka sekali aku dengar dulu. Bukan hanya ibu, tetangga-tetangga juga tak jarang bilang seperti itu.

Mau sampai kapan aku terus-terusan dibandingkan dengan kakakku, Mbak Suci? Aku memang adiknya satu-satunya. Dan dia kakakku satu-satunya pula. Memang, kita hanya berbeda usia tiga tahun. Memang, dia telah menjadi orang besar di kota besar. Sukses. Ah, aku memang jauh dari kesuksesan. Tapi, semua perbedaan itu bukan jadi senjata untuk selalu memberondongku di saat-saat seperti ini.

Aku telak jauh dari kesempurnaan. Mbak Suci kini telah sukses jadi perantau di ibu kota. Bekerja di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Jakarta sebagai Manager HRD—Human Resource Development. Dua minggu sekali, menurut laporannya, dia harus bolak-balik Jakarta-Kalimantan. Sibuknya minta ampun sehingga melongok keluarga di rumah pun jarang. Dalam kurun waktu setahun bisa dihitung jari dia mudik.

Mbak Suci luar biasa dengan selalu menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Melewati jenjang pendidikan dari SD, SMP, hingga SMA, selalu dengan titel juara. Terakhir, dia lulus dengan predikat cum laude sebagai Sarjana Psikologi (S.Psy) di universitas kenamaan di kota ini, Semarang. Mafhum jika pekerjaan dengan jabatan yang prestisius mudah diraihnya. Mungkin karena saking sibuknya sehingga dia lupa untuk berumah tangga. Padahal usianya kini sudah tak muda lagi untuk ukuran gadis di kampung ini, menginjak 29 tahun. Meski begitu dia tetaplah menjadi seorang batari, selalu dielu-elukan dengan kalimat seperti ini: “Perempuan mana yang tak ingin seperti dia? Menjadi seorang wanita kantoran yang sukses di ibu kota. Menjadi kebanggaan orang tua dan para tetangga. Berprestasi dan dibutuhkan dimana pun dia berada. Dan menjadi teladan sekaligus referensi kesuksesan bagi siapa saja.”

Sedangkan, aku apalah artinya? Aku biasa-biasa saja. Cuma tamatan biasa di sekolah tinggi yang biasa-biasa. Sehingga aku harus menerima nasib sebagai ibu rumah tangga biasa saja. Melakukan pekerjaan seperti biasa, yang tak pernah jauh-jauh dari urusan sumur, dapur, kasur.

Bukan aku suka mengeluh. Sama sekali tidak. Aku tak pernah mengeluh sedikit pun dengan apa yang kini kulalui sebagai jalan hidup. Aku tak pernah capek dengan apa yang kini kuurus. Buatku mengeluh sama saja bunuh diri. Dan aku tak iri dengan segala pencapaiannya. Aku pun tak termotivasi untuk menjadi sepertinya. Sebagai adiknya, aku sudah pasti bahagia punya seorang kakak yang bisa mengharumkan nama keluarga. Aku cuma tak suka saja setiap kalimat: “Kapan kamu bisa jadi seperti kakakmu?”, didengung-dengungkan di ambang kupingku. Gendang kupingku seakan ditendang.

Sekuat apapun, toh aku masih seorang perempuan yang kadang masih suka meradang. “Setiap orang punya kuburan masing-masing.” Begitu jawabku tiap kali kalimat aneh seperti itu mengusikku. Aku ya aku. Mbak Suci ya Mbak Suci. Beda nama beda rezeki. Inilah suratan takdir yang harus aku jalani. Dan tentu saja aku syukuri.

Toh sudah menjadi tradisi di sini. Dimana setiap anak bungsu harus menjadi patok keluarga untuk menemani hari-hari senja kedua orang tua. Anak sulung boleh merantau dan berpendidikan setinggi-tingginya, apalagi jika dia laki-laki. Sedangkan aku, perempuan dan anak bontot pula, harus disisakan di rumah untuk menjadi pengurus masa tua kedua orang tua.

Jika saja bukan karena sebuah tanggung jawab dan rasa sayangku kepada ibuku aku pasti tak akan membatasi mimpi hanya menjadi pengurus rumah tangga. Ijasah S1-ku tak kubiarkan menggudang. Tapi, jika aku sama dengannya, merantau ke ibu kota dan menjadi sesibuk dia, bagaimana nanti nasib ibuku. Siapa yang bakal mengurusnya. Aku tak mau jadi seperti yang dicontohkan oleh orang-orang kota lewat televisi: harus memantijompokan orang tuanya sendiri. Aku tak mau menjadi manusia tak tahu diuntung dan durhaka kepada orang tua. Sudah disusui dengan kasih sayang ibu tapi malah membalasnya dengan tuba. Bukan berbalas budi merawatnya di hari tua malah membiarkannya di panti jompo merana. Anak macam apa yang seperti itu.

Aku tak mau. Sekali lagi aku tak sudi jika harus masuk ke dalam kategori yang demikian itu. Aku lebih memilih memuseumkan ijasah pendidikanku ketimbang harus memuseumkan orang tuaku sendiri. Yang aku tahu mengurus ibu adalah kerja sepele yang paling mulia. Sebuah bentuk balas budi yang tak tergantikan oleh apapun.

Inilah mungkin alasan orang tuaku memberikan nama Bestari untukku.

***

Hari ini aku harus menemani ibu yang dirawat lagi di rumah sakit. Beliau anfal lagi. Jalan opname harus ditempuh mengingat kondisinya yang semakin lemah, meski beliau awalnya enggan dan lebih memilih dirawat di rumah saja olehku. Katanya tangan seorang anak lebih hangat dalam merawat dibandingkan dengan sentuhan perawat.

Dan akhirnya, setelah aku menyepakati saran medis, beliau pun pasrah menjalani perawatan inap intensif. Sebulan terakhir ini beliau sangat sabar meski harus keluar masuk rumah sakit.

Buatku ibu adalah perempuan tangguh. Beliau tak pernah mengeluh merengek kesakitan meski sel kanker menggerogoti payudaranya. Sudah hampir dua tahun ini benalu menempel di payudaranya. Tak terhitung berapa kali kemoterapi dijalani, tapi sel-sel kankernya tak kunjung mati. Malah ia tumbuh dan tumbuh lagi kian menjalar. Beberapa metode pengobatan mulai dari medis dan non-medis atau alternatif sudah dilalui. Tapi, parasit itu belum mau lepas dari tubuhnya. Dan kini kanker itu sudah berstatus stadium 4.

Jarum jam rumah sakit sudah menunjuk ke angka 12 lewat tengah malam. Dan aku masih di sini sendiri di samping ibu yang terbaring tak berdaya. Selang oksigen melintang tepat di depan kedua lubang hidungnya. Sudah dua hari ini napasnya susah sehingga harus dibantu oleh oksigen. Sel-sel kanker sudah menjalar ke mana-mana, sudah sampai ke ketiaknya. Bidang dadanya sudah penuh dikuasai oleh parasit. Melihatnya tergolek lemah membuatku sangat terguncang.

Kadang air mataku suka tiba-tiba saja berlinang melihat penderitaannya yang luar biasa itu. Aku mungkin tak dapat merasakan apa yang beliau rasakan. Tapi, aku mampu menyelami relung rasa indrawi ibu yang demikian getirnya. Sepertinya masih ada sesuatu yang mengganjal dan beliau nantikan.

Di saat-saat seperti ini aku rindu keutuhan keluargaku. Dimana masih ada bapak, ibu, Mbak Suci, dan aku. Berkumpul lengkap satu keluarga adalah momen yang sangat berharga dan sekarang menjadi langka. Apalagi semenjak bapak tiada.

Andai saja ada Mbak Suci di sini. Mungkin saja semangat hidup ibu menjadi meningkat. Semangat hidupnya menurun belakangan ini. Dalam pejamnya beliau bahkan sering mengigau samar memanggil-manggil: “Suci.. Suci..”

Penantian ibu yang begitu dalam akan kehadiran Mbak Suci, anak sulungnya, aku pahami. Pasalnya sudah hampir satu tahun ini dia tak pernah pulang. Sekadar, menenangkan ibu, berkirim kabar pun jarang. Dia selalu saja bilang sibuk dan sibuk. Tak ada waktu dari kantor barang sejenak saja katanya. Padahal apa susahnya pulang dari Jakarta ke Semarang di zaman sekarang. Tinggal naik pesawat.

Dengan keberpihakannya terhadap pekerjaan yang sedemikian tinggi itu aku kadang pingin memprotesnya. Kita sudah tak punya siapa-siapa lagi kecuali ibu. Orang tua kita tinggal semata wayang. Dan kini sudah sakit-sakitan. Masa untuk melongok sejenak saja tak sempat. Harusnya semua perhatian tercurahkan kepada ibu.

Aku kesal dengan semua unek-unek ini. Apa iya kesibukan wanita karier di ibu kota memang seperti itu?

***

Mbak, ibu sudah tidak bisa apa-apa. Ibu terus memanggil-manggil nama mbak. Kalau bisa Mbak Suci pulang secepatnya. Mungkin ibu menunggu mbak.

Hanya menirim pesan pendek ke Mbak Suci itu saja yang mampu aku lakukan pagi ini. Lepas kumandang azan subuh tadi ibu mengigau lagi memanggil-manggil namanya. Kondisinya kian lemah saja tiap jamnya. Aku pasrah.

Hape-ku tak kubiarkan lepas dari genggaman tanganku. Aku cemas. Baru kali ini aku merasa kalut seperti ini. Aku masih menunggu kabar balasan dari seberang. Sudah hampir jam dua belas sekarang. Azan zuhur sebentar lagi pasti berkumandang. Sudah lebih dari enam jam belum juga ada balasan pesan atau telepon darinya.

Pandanganku tak pernah lepas dari memandang lorong rumah sakit. Siapa tahu Mbak Suci muncul tiba-tiba dari sana. Mungkin saja karena dia panik sehingga tak sempat membalas pesanku atau meneleponku dan langsung terbang ke sini menemui ibu. Aku masih berharap dia pulang kali ini. Mungkin untuk yang terakhir kalinya melihat ibu kandungnya.

Pintu kamar rumah sakit sengaja aku buka lebar-lebar. Kalau-kalau Mbak Suci pulang dia bisa langsung masuk tanpa harus ketuk pintu. Dan langsung memeluk ibu yang sudah seperti ini kondisinya.

Aku masih di samping ranjang ibu berbaring. Napasnya sudah susah. Tersengal-sengal. Aku tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat kondisinya. Aku sudah pasrahkan beliau kepada-Mu, Tuhan. Semoga Engkau cepat memberikan yang terbaik.

Jujur, begitu berat bagiku menyaksikan orang yang begitu aku sayangi terbaring tak berdaya seperti itu. Kenapa ibu harus menunggu anak sulungnya yang tak juga ada kabar berita. Sudahlah, Bu. Jika ibu mau pergi sekarang, pergilah. Aku sudah ikhlas.

Hape-ku bergetar. Bukan telepon tapi sebuah pesan pendek yang sampai. Aku buka pelan-pelan. Masih berharap kabar kepulangannya yang sampai.

Mbak tidak bisa pulang sekarang, Dek. Besok pagi harus ke Kalimantan ada tugas kantor. Uang yang mbak kirim masih ada ‘kan? Atau nanti mbak kirim lagi buat biaya perawatan ibu. Mbak berdoa dari sini saja semoga ibu diberikan yang terbaik. Amin.

Seketika air mataku berlinang deras menjadi mata air. Mulutku kelu. Dengan hati yang hancur aku membisikan pesan yang sampai itu di samping telinga ibu. Dengan terbata-bata.

Mukanya berseri setelah pesan itu kuteruskan padanya. Ibu nampak tersenyum ayu seperti foto remajanya yang terpajang kalem di sudut ruang tamu. Dan beliau menarik napasnya untuk yang terakhir kali.

 

BR

Posted in: Short Story