Sepucuk Kesetiaan

Posted on February 24, 2014

0



Desa (dok mediamacarita dot blogspot dot com)

Desa (dok mediamacarita dot blogspot dot com)

 

KLISE. Orang tua berada mana yang mengizinkan anak lelakinya memadu asmara dengan gadis penari jaipong yang lahir dari rahim seorang ibu yang juga penari jaipong. Bukan soal disparitas derajat pendapatan saja pelarangan itu muncul. Terlebih pada sebuah makna harga diri. Jika ia adalah perempuan baik-baik, maka tak sepantasnya bergeol seronok di depan banyak orang. Jika memang ia beradab, untuk apa menunjukkan lekuk tubuh di depan mata beringas lelaki penuh berahi.

Tak sepantasnya perempuan timur mempertontonkan kemolekan tubuhnya sehingga menjadi bahan imajinasi kotor para lelaki hidung belang.

Atas nama kedewasaannya Thohir tahu betul itu. Sadar jika hubungannya yang mahiwal itu bakal menuai badai pertentangan dari orang tuanya. Ayahnya yang seorang kepala sekolah menempatkan keluarganya pada level status sosial yang tinggi dan terhormat di mata masyarakat. Dan, itulah tantangan terberat bagi Thohir dalam menjalin hubungan dengan Asnah, gadis anak seorang penari jaipong.

Atau, Asnah pun tahu diri siapa ia sehingga berani-beraninya memadu kasih dengan Thohir yang anak seorang pegawai paling terpandang di dusunnya. Bagaimana nanti kata para tetangga. Gunjing dan omongan miring bakal muncul dari seluruh penjuru dusun tentu jika tahu bahwa ada anak seorang guru agung yang menjalin hubungan asmara dengan anak seorang penari jaipong.

Jalin hati keduanya seakan terkerangkeng oleh seperangkat aturan yang tak kasat mata. Suatu norma peradatan yang tak nampak namun luas berdampak. Ia yang begitu diimani dan dijunjung tinggi oleh masyarakat kampung.

Ada makna pantas dan tak pantas yang masih sintas. Melintas sebuah aturan baku yang menyimpan petaka di dalamnya jika terterabas. Urusan cinta bukan hanya soal hati. Tapi, adalah juga urusan status derajat. Darimana sang pasangan berasal? Keturunan seperti apakah ia? Dan, seberapakah bobot materi yang dipunyai?

Atas dasar cintalah Thohir dan Asnah bersatu. Kini ketika keduanya dipaksa nenggar cadas, menabrak cadas terjal pertentangan derajat, keduanya sepakat menyerahkan sepenuhnya pada waktu. Memadu temu jika rindu. Dan menjaga jarak jika harus terserak.

***

Dari kejauhan bulir air hujan masih saja menggurat senja. Ia seakan sedang melukis kehadiran petang yang sebentar lagi menjelang. Membentuk segurat lembayung jingga di batas cakrawala.

Sebatas mata memandang hanya ada hamparan sawah yang bisu. Cerecet bancet yang menyambut gembira hadirnya sore. Dan riuh rendah lengking tongeret yang menyayat telinga. Menyajikan irama di tengah keheningan hati keduanya yang tengah duduk-duduk di sebuah saung di pematang sawah.

“Lalu bagaimana hubungan kita, Hir?” Tanya Asnah memecah kesunyian.

“Bagaimana apanya, Nah?”

“Ah, bagaimana kamu ini.” Keluh Asnah lesu. Mukanya sedikit merengut. “Kamu ini lelaki, ambillah keputusan.”

“Sudahlah. Jangan memaksaku terus, Nah. Aku juga bingung harus bagaimana lagi.” Tukas Thohir. Dia terdiam sesaat. Diraihnya tangan Asnah. Dipegangnya telapak tangan kanannya itu erat-erat. “Aku cuma mau pamitan, Nah. Aku harus melanjutkan kuliah ke Bandung. Dan, dalam waktu yang sedikit lama kita tidak akan bertemu.”

Keduanya lalu diam tak bergerak. Membisu. Tabuhan kendang jaipong mengiringi lantunan tembang Sunda terdengar lamat-lamat dari arah Dusun Hegarmanah. Menyaru sendu bersama alunan syahdu rintik hujan.

“Kamu serius, Hir? Lalu bagaimana nasib hubungan kita?”

“Tenang saja. Aku pasti pulang dan kita tetap berhubungan seperti sediakala.”

“Kamu sekarang bakal jadi orang hebat.” Asnah berucap. Dipandangnya wajah Thohir di sampingnya lekat-lekat. “Sekolahmu di kota dan pasti nanti jadi pegawai, seperti ayahmu. Sedangkan, aku..”

Thohir tercenung. Benar perkataan Asnah itu. Keputusan ayahnya menyekolahkannya di kota seperti tengah membangun sebuah jembatan. Sebuah jeda agar keduanya berpisah. Setelah status keluarga, maka status pendidikanlah yang tentu akan mengukir jarak dan friksi hubungan kasih mereka.

Thohir tak bisa berkata lagi. Dia memilih diam. Bibirnya beku. Lidahnya kelu. Dia merasa sebagai pengecut yang tak mampu menguasai diri. Pun, menjanjikan sesuatu kepada pasangannya itu. Sementara itu, Asnah butuh sebuah kepastian darinya. Bukan kata-kata manis ataupun janji. Dan, Thohir sangat tahu itu.

***

Dingin angin malam perlahan mulai terasa. Keheningan dengan pasti merambat masuk lewat sela-sela jalanan kecil pedusunan. Lalu, membungkus seisi dimensi ruang Hegarmanah. Gemericik air, tanah basah, dan renyai hujan, seakan menjadi komposisi dusun malam itu.

Hegarmanah kembali damai. Malam pekat selimuti pedusunan kecil itu. Bocah-bocah kecil, yang biasanya ramai bermain karinding dan celempung, kembali mengukir mimpi. Lelap di peraduannya dalam sunyi.

Sebagian lampu-lampu rumah telah padam. Oleh sebab hujan yang mengguyur semenjak sore tadi semua memilih untuk menyerah pada kantuk. Hanya rumah Thohir yang nampak masih benderang. Masih ada tanda kehidupan disana. Masih terdengar celoteh perbincangan dari penghuninya.

“Kamu masih berhubungan dengan si sundal itu, Hir?” Tanya Asep, ayah Thohir.

“Siapa yang Abah maksud?”

“Ah, siapa lagi kalau bukan anak si penari jaipong itu!” Bentaknya keras.

“Kenapa Abah selalu merendahkan Asnah?”

“Memang dia itu sudah rendah!” Bentaknya lagi.

“Mereka itu juga sama seperti kita, Bah!” Kelak Thohir. Mukanya kesal. “Sama-sama mencari penghidupannya. Bisa jadi mereka itu lebih mulia daripada kita.”

“Kamu sudah berani melawan Abah, hah!” Bentaknya kian kencang.

“Apa gunanya berpendidikan kalau menghormati orang lain saja Abah tidak bisa.”

Belegug siah!” Ayunan tangan sang ayah tepat mengenai pipi kiri Thohir. Meninggalkan bekas merah tapak tangannya. Darah segar seketika keluar dari sudut bibir Thohir. Telak! Sontak Thohir kaget. Kali ini dia jelas tak siap. Tak menebak jika ayahnya bakal sekalap itu. Thohir hanya mampu diam dalam rasa kalut yang mendalam.

“Mulai sekarang jauhi dia,” Pak Asep nampak tersengal. Menahan dadanya dengan tangan kanannya. Mencoba mengambil napas panjang. “Abah tidak sudi kamu berhubungan lagi sama dia!”

Thohir mendengus. Napasnya cepat-cepat. Emosinya kacau. Jiwanya kalut. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia menunduk menahan amarah. Perintah ayahnya bak titah raja. Tak sanggup dia tolak.

Hasrat hatinya kian menggebu. Bayangan akan Asnah kembali mencuat. Lamunan akan sosok geulis dan kesenduan parasnya kembali terbersit. Dia masih saja kaku saat ayahnya masuk ke kamarnya dan menarik kencang-kencang daun pintu, membantingnya.

***

Di perantauannya kini Thohir merasa sendiri. Sepi. Pengetahuan yang bertambah tidak serta merta menjadikannya bahagia. Keramaian kota tak lantas menjadikannya manusia penuh canda tawa. Untai waktu yang menggelinding cepat justru membuatnya asing. Bayang Hegarmanah, tanah kelahirannya kembali terukir. Pun, sosok idaman di dalamnya, Asnah.

Di kota, di dalam dunia yang tak dikenalnya, dia merasa hanya sekadar percikan kecil kembang api di malam tahun baru. Keteraturan waktu adalah proses menuju hancurnya hasrat cintanya. Dia sadar betul akan itu. Tapi, mungkin inilah kesejatian cinta. Tak peduli waktu. Tak peduli ruang ataupun dimensi. Hasrat untuk ukir temu justru menggebu.

Dalam kerinduannya yang kian menggebu itu Thohir pun mengambil langkah. Dia pulang berkunjung ke kampung halaman. Tujuannya cuma satu. Asnah lah yang dituju.

Masih di tempat biasanya, sebuah saung di pematang sawah, keduanya pun memadu temu.

“Sudah kamu pikirkan, Hir?” Asnah seperti tahu maksud kedatangan Thohir.

Sesaat Thohir membiarkan tanyanya. Menjawabnya lewat tatapan. Mereka melalui beberapa menit dengan hanya bersitatap. Saling bicara tanpa kata-kata. Memandang lekat parasnya memang cukup membuat Thohir puas. Hidupnya serasa penuh asa. Membuatnya rela bertahan hanya untuk menghabiskan beberapa menit tanpa kata.

Asnah. Segurat wajah gadis dusun yang teduh. Tak lekang oleh kilatan waktu. Tak juga pudar oleh panas terik surya. Kepada siapa lagi hati akan berlabuh. Kepada siapa lagi darah jejaka itu ditumpahkan. Selain di dermaga hatinya.

“Atau jangan-jangan kamu sudah punya tambatan hati lain di kota?” Asnah kembali membuka kalimat.

Thohir tercekat. Serasa sebuah jarum suntik menembus kulitnya dan pelan-pelan masuk ke dalam pembuluh darahnya. Hanya dalam beberapa detik membuatnya terkulai lemas. Melayang dan terbang. Tubuhnya menjadi ringan. Tak sadar. Laksana obat bius dengan dosis tinggi merasuk melalui pembuluh darahnya sehingga menjadikannya terlelap dalam bingung.

“Tidak, Nah!” Sanggah Thohir. Dia akhirnya membiarkan mulutnya berkata-kata. “Jika ada perempuan yang aku sayangi, itu cuma kamu, Nah.”

“Lantas kita harus bagaimana? Kita lari dari dusun ini, atau..” Tanya Asnah lagi.

“Inginku seperti itu.” Thohir sigap memotongnya. Kemudian melanjutkan, “Kamu cinta dengan dusun ini, Nah?”

“Selain kamu, dusun inilah tambatan hatiku.”

“Ya. Kita sama-sama dibesarkan di dusun kecil yang damai ini.” Thohir melepas pandangnya pada hamparan tanah luas. Menerobos cakrawala senja. “Hati ini tak ada yang menyuruh untuk mencintai. Siapa yang menjadi sasarannya itu sepenuhnya pilihannya. Tanpa berpacaran pun kita sudah seperti saudara. Sekandung Dusun Hegarmanah.”

Sadulur salembur.” Cegat Asnah.

“Ya. Aku tak sudi menodai kedamaian dusun kita ini dengan prahara. Aku pun tak tega membuat Hegarmanah terluka. Semua orang dusun tahu jika kita pernah dekat. Sekarang pun kita masih dekat. Sebelum kita, orang tua kita lebih dulu mengisi dusun ini, bukan? Mereka tetap menjaga tradisi. Mereka menjaga silaturahmi. Akur. Saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain.”

“Buat apa kita bahagia kalau diluar sana ada orang lain yang kita sayangi terluka.” Ucap Asnah.

“Ya. Buat apa kita bersatu kalau diluar sana ada orang lain yang kita sayangi tercerai.” Timpal Thohir.

“Aku pun tak ingin memaksakan keadaan, Hir. Biarlah hati kita menjadi milik Hegarmanah. Aku merasa berhutang budi padanya. Ia yang telah membesarkan kita.”

“Hegarmanah telah sabar dan setia membesarkan kita. Jika ada sepucuk kesetiaan dalam hati kita, sudah sepantasnya kesetiaan itu untuk Hegarmanah.” Thohir tersenyum. Memandang teduh wajah Asnah. “Hmm. Aku senang sudah kenal denganmu, Nah.”

“Aku pun sama, Hir.” Asnah mengiringi senyum Thohir. “Bisa mengenalmu secara dekat adalah karunia buatku. Dan kita masihlah anak Hegarmanah, bukan?”

“Ya. Biarkan Hegarmanah mengenang kedekatan kita.” Thohir menimpali.

Asnah tersenyum menyambut kata-katanya. Thohir lekas-lekas membalasnya dengan senyum pula. Kedewasaan hati keduanya telah menghidupkan cinta yang sejati. Cinta akan ibu yang telah mengandungnya, Hegarmanah.

Semilir bayu menggoyang kerontang dahan waru. Menyenggol dedaunan kering yang menempel di ranting. Satu demi satu dedaunan jatuh dan melayu. Melepaskan diri dari dekap pohon. Melayang terombang-ambing oleh angin. Lalu menghujam ke tanah. Seperti tak ada ruang ragu jika jatuhnya daun itu bukan sebab pohon tak lagi cinta kepadanya. Melainkan justru oleh kecintaan keduanya akan tanah yang telah memberinya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

 

BR

Posted in: Short Story