Mie Rebus Spesial

Posted on February 17, 2014

0



Gunung Geulis (dok klosetide)

Gunung Geulis (dok klosetide)

Liburan dimana-mana. Bagi para mahasiswa sekarang ini lagi libur semesteran. Sekarang emang lagi musim liburan. Itulah salah satu kekayaan bangsa ini. Bangsa-bangsa lain paling banter cuma punya empat musim. Sedangkan Indonesia punya banyak banget musim. Ah, kalian pasti tahulah musim-musim kayak musim hujan, musim kemarau, musim tanam, musim panen, musim duren, musim kesemek, musim haji, dan musim kawin. Indonesia emang negeri gemah ripah loh jinawi.

Dan ingus ini pun belum juga mau hilang dari hidung Gue. Dia terus aja menggelayuti bulu-bulu halus dalam kedua rongga penciuman ini. Dan gerak-geriknya itu membikin hidung ini gelisah—gel-geli basah. Memaksa bersin terjadi berulang kali. Memuncratkan cairan putih yang bersemayam tenang dalam haribaannya. Atau jangan-jangan sekarang juga lagi musim pilek?

Oh, pilek kapankah engkau pergi dari kedua lubang penciumanku ini? Tanya seperti itu terus menerus si anak ingusan ini ajukan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pilek ini udah beberapa hari mendiami sekujur tubuh Gue. Bermacam obat udah Gue konsumsi. Tapi, obat-obat itu belumlah berekreasi.

Akhirnya Gue biarin aja pilek terus bersemayam. Ingus terus-terusan bergelantungan naik turun. Biarin aja. Itung-itung mengisi waktu liburan. Biar gak nganggur-nganggur amat dan dibilang ada kerjaan, menarik ingus yang hampir menetes naik turun itu.

Di musim liburan seperti sekarang banyak mahasiswa yang kurang kerjaan, termasuk Gue. Pinginnya sih diisi dengan liburan. Tapi, itu bagi yang berduit. Bagi Gue itu semua adalah mainstream. Gue gak pingin ikut-ikutan piknik kayak mereka yang berduit itu. Bukan Gue gak mau buang duit. Tapi, karena Gue emang gak punya duit. Jadi, apa yang mau dibuang. Uang jajan menipis. Pasokan logistik dan amunisi perut berkurang karena Gue gak lulus-lulus. Udah jatuh ketimpa Tarzan ini namanya.

Satu-satunya cara untuk menghemat uang jajan yang menipis saat liburan kayak gini adalah silaturahmi. Kata ustaz silaturahmi itu memperpanjang usia. Dan karena Gue adalah muridnya ustaz itu Gue berarti wajib melaksanakan petuahnya. Gue bersilaturahmi ke tempat indekos temen-temen Gue, memperpanjang hidup.

Kali ini target operasi adalah tempat indekos Akim. Akim ini nama panggilan alias nama pendek. Nama panjangnya adalah Akiimmmmmm. Ah, terserah kalian mau nangis, kecewa, sedih, susah, nelangsa, atau mau mancing. Itu urusan kalian.

Nah, kalau kalian pingin tahu siapa Akim yang sebenarnya dengarin. Akim itu laki-laki satu-satunya dalam keluarganya setelah ayahnya, kakak pertamanya, kakak keduanya, dan kakak ketiganya. Perempuan satu-satunya dalam keluarganya adalah ibunya sendiri. Pembantunya juga perempuan. Tapi, sayangnya dia gak masuk ke dalam jajaran silsilah keluarganya, sebab dia adalah seorang pembantu jadi gak masuk ke dalam Kartu Keluarga.

Akim ini orang asli Depok. Dan Gue main ke tempatnya di Jatinangor. Di Jatinangor Akim indekos. Jadi Gue mainnya ke sini aja. Kalau ke sono kejauhan. Dia satu angkatan perang sama Gue. Sama-sama berperang melawan kebodohan dalam kampus milik pemerintah itu. Jarak tempat indekos Akim dan indekos Gue lumayan jauh. Cuma lima puluh meter jaraknya. Saking lumayan jauhnya itu Gue jalan kaki lima menit ke tempatnya. Soalnya ngirit ongkos.

Sampai di tempat indekosnya malam banget. Soalnya Gue tadi emang berangkat udah larut malam. Kira-kira jam sebelas lebih sepuluh menit Waktu Indonesia Indekos Akim. Gue sampai. Di sana ternyata ramai sekali. Ada Abdul, Omen, Ayat, Tarjo, Sarno, Ridho, Roma, Aji, Adi, Agus, Arif, Munandar, Wahyu, Charles, Robert, Dani, Irman, Tukiman dan Tukimin yang kembar identik. Kesemuanya itu adalah penghuni tempat indekos yang mengisi kamar masing-masing. Sedangkan kamar Akim cuma diisi oleh dirinya sendiri dan foto ceweknya. Kasihan Akim, pacaran sama foto doang.

Tok.. Tok..

Sampurasun.

Itu suara Gue ketok mejik. Sampurasun adalah tanda salam orang Sunda zaman para pendekar dulu.

Rampes.

Itu suara yang muncul dari dalam kamar. Rampes adalah jawaban untuk kata salam Sampurasun tadi. Dari dalam keluarlah sesosok pendekar. Itu adalah Akim yang suka ngocol kalau dia itu keturunan keduaratusdua dari Si Pitung.

Dia menyilakan Gue masuk. Kenapa begitu? Akim itu orangnya baik. Soalnya Gue ini temannya. Teman akrabnya malahan. Jadi kami pun bertegur sapa dan saling membalas tanya layaknya seorang sahabat kepada sahabat lainnya. Kalian pasti tahu lah.

Gue datang Akim pergi. Pergi ke warung membeli kopi dan snack. Snack itu artinya gorengan kalau di sini. Kalau di sana gorengan itu ada tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, sandal goreng, dan goreng-goreng yang lainnya.

Setelah terbeli Akim kembali lagi ke kamarnya. Di kamarnya udah ada Gue yang lagi bengong. Gue gak ngobrol dengan siapapun selepas Akim tadi pergi. Sebab cuma Gue sendiri dalam kamar. Dan Gue malu kalau harus ngajak ngobrol tembok. Kasihan temboknya.

Gorengan pun tersaji. Dan kopi item pun terjadi. Karena udah ditawari Gue pun menjabani. Gak enak nolak rejeki. Selama beberapa menit kita berdua terlibat diam-diaman dan suasana pun mendadak sunyi. Katanya kalau makan itu gak boleh sambil berdiri. Soalnya cuma kambing, kuda, gajah, kerbau, badak, kudanil, kanguru, harimau, singa, dan sapi yang makannya berdiri. Dan komodo itu makannya bangkai.

Dalam hati Gue terbersit ketakutan yang sungguh-sungguh dahsyat. Sekamar berdua dengan seorang lelaki itu bisa menimbulkan fitnah. Dan fitnah itu kejam, kejamnya melebihi ibu Bawang Merah. Soalnya beberapa waktu lalu timbul desas-desus jika tetangga sebelah kamar Akim terpergoki tengah berduaan dalam kamarnya. Mereka itu cowok dan cowok dalam sekamar. Akhirnya kabar pun berhembus. Setelah berlalu beberapa pekan konon kabarnya keduanya lalu jadian. Jadian dengan pasangannya masing-masing.

Zaman sekarang orang bahkan lebih curiga dengan cowok-cowok yang berduaan dalam satu kamar, bukannya malah cewek dan cowok yang dicurigai. Mungkin zaman udah berubah. Entahlah. Berbeda kelamin menjadi gak penting sama sekali. Yang terpenting adalah kasih ibu yang sepanjang masa. Katanya sih begitu. Tapi, Gue sih ogah mengikuti apa kata zaman. Mending menuruti apa kata ibu dan bapak di rumah.

Karena bete diam-diaman melulu akhirnya Akim pun membuka resletingnya. Dia buka resletingnya di kamar mandi katanya dia kebelet pipis. Setelah pipis Akim kembali lagi ke kamar dang mengobrol. Itu terjadi setelah sebelumnya pintu kamar dibuka rapat-rapat. Takut-takut kalau prasangka timbul dari berbagai pihak di luaran sana tentang kita berdua. Emang Gue cowok apakah?

“Enaknya ngapain ya?” Itu Akim yang bertanya. Mukanya nampak serius. Dia memelototi Gue yang tengah asyik bermain tisue dan hidung. Ingus Gue meler lagi.

“Lo mau yang enak?” Gue menyambut tanyanya itu. Dan dia hanya mengangguk sekali.

“Ambilin upil gue dong. Nyangkut di dalem euy.” Gue bilang kayak gitu. Sedangkan Akim gak berselera menanggapinya. Mungkin dia bingung ngapain harus ngambilin upil orang, wong upil sendiri aja numpuk gak keambil kok.

Huacim..

Itu suara bersin Gue. Gara-gara berburu bongkahan upil yang bersemayam di dalam hidung Gue bersin-bersin. Hidung pun kembali geli-geli basah. Lengket seperti getahnya siput. Oh, tidak.

Huacim..

Gue bersin sekali lagi. Setelah itu gak lagi-lagi. Beneran.

“Naik yuk.” Akim menukas. Entah kenapa dia mendadak kepikiran untuk naik. Padahal posisi kita duduk ini udah di atas, di lantai 2 tempat indekosnya.

“Naikin siapa?”

“Busyet! Naik gunung, bukan naikin siapa.”

Akim langsung terkejut. Kok bisa-bisanya dia berpikiran kotor seperti itu. Astagfirullah. Gue hanya bisa mengurut dadanya yang bidang itu.

“Kemana?” Gue bertanya kepadanya. Gunung di Indonesia itu banyak banget. Jadi biar gak kesasar Gue nanya kemana yang mau didaki itu.

“Yang deket aja.” Akim memberikan kisi-kisi. Gunung yang dekat itu dimana ya?

“O. Ke Gunung Agung aja, gimana?” Gue pun keidean gunung yang dekat itu.

“Ah, itu mah jauh. Di Bali.” Tandas Akim.

“Deket. Itu di Jatos.” Jatos itu adalah Jatinangor Town Square. Jatos itu nama mal bukan nama cabang olah raga, adu jatos.

“Kampret. Itu sih toko buku. Serius nih, yuk.” Akim menyampaikan idenya. Kok bisa-bisanya dia mengusulkan untuk naik gunung ke toko buku. Dia mendadak aneh gitu. Dan Gue gak habis pikir.

Segeralah Gue menyepakati. Meski ingus di hidung gak jua berhenti mengucur deras. Berita tentang rencana pendakian itupun segera tersebar ke man-teman kita di seantero penjuru dunia; Arab Saudi, Suriname, Puerto Riko, Denmark, Swedia, Zimbabwe, Suriah, dan Kutub Selatan. Beberapa SMS terbalas dan beberapa lainnya entahlah.

Kabar positif datang dari mereka yang katanya pingin naik gunung juga. Mereka adalah Dede, Iwan, Akung, Bembeng, Bule, dan Mahpi. Sedangkan Gue dan Akim jelas udah konfirmasi kepada diri kita sendiri bahwa kita pasti ikut mendaki. Kita yang mengajak soalnya jadi harus ikut.

Kita menunggu. Menunggu kehadiran para manusia-manusia yang katanya mau terlibat pendakian kali ini. Setelah Jam Gadang berdentang itu tandanya udah jam dua belas malam. Satu persatu sahabat alam pun hadir dan mengisi buku tamu.

Dede datang paling awal dan disusul oleh Iwan. Lalu Bule menyusul Akung yang udah datang sebelumnya. Kemudian ada Bembeng dan Mahpi datang menyusul kemudian. Lengkaplah sudah tim pendakian kali ini.

Kami akhirnya berdelapan. Setelah sebelumnya kita hanya berdua dan ditambah dengan enam orang lagi. Akhirnya jadi delapan, enam ditambah dua itu hasilnya adalah delapan pendaki. Kamilah laskar pendaki yang malam ini akan mendaki sebuah bukit tinggi di Jatinangor dengan nama Gunung Geulis.

Kalian pasti penasaran dengan Gunung Geulis? Begini, konon Geulis itu berarti cantik atau ayu dalam bahasa Sunda. Mungkin karena gunung ini emang cantik sehingga dinamakan Geulis. Setelah berhasil terungkap siapa identitas dibalik Geulis itu, kami pun bersiap. Bersiap membawa barang-barang seadanya dan sederhana, malah cenderung ala kadarnya. Bukan tanpa persiapan matang, tapi gunung yang kami mau daki itu dekat banget dengan tempat indekos kita. Tingginya pun gak seberapa. Hampir sama dengan tinggi sepuluh pohon kelapa, yang dibonsai.

Dede hadir, Iwan hadir, Akung hadir, Bembeng hadir, Bule hadir, dan Mahpi hadir. Akim hadir. Dan Gue pun hadir. Itu Gue ngabsenin anggota tim yang mau mendaki satu persatu. Biar gak kececer nantinya.

Dede sebagai orang pertama pada barisan para pendaki. Dia adalah seorang laki-laki. Soalnya tetangga Gue namanya juga Dede, tapi dia itu perempuan. Mungkin dia sempat operasi plastik. Entahlah. Dede berasal dari Cirebon. Di Cirebon itu ada Nasi Jamblang yang terkenal itu. Enak banget nasi buatan orang Cirebon itu. Kadang Nasi Jamblang itu dibungkus pake daun jati. Lauknya bisa macem-macem. Ada sayur pare, mie goreng, tempe goreng, gorengan, sayur asem, dan balakutak. Kalian tahu apa itu balakutak? Balakutak itu saudara dekat cumi-cumi. Bedanya kalau cumi-cumi itu lebih mirip sontong, sedangkan balakutak itu lebih mirip gurita.

Orang kedua dalam barisan adalah Iwan. Iwan itu kepanjangan dari idaman wanita. Mungkin itulah alasan orang tuanya memberi nama Iwan. Biar jadi idaman setiap pria. Dia itu cowok tapi tomboi. Agak kemayu. Dalam bahasa Jawa kemayu itu artinya sesuatu yang keayu-ayuan. Ah, bayangin aja lah sendiri bagaimana tampangnya cowok yang ayu itu. Dia itu anak Tanjung Priok. Makanya dia udah gak asing lagi dengan yang namanya kontainer.

Selanjutnya ada Akung dalam barisan. Akung ini adalah seorang bernama asli Andi. Karena dia jangkung, maka dipanggil Akung—Andi jangkung. Badannya tinggi banget. Setinggi tiang listrik yang dibonsai. Pokoknya kira-kira tingginya masih dibawah lima meter dua puluh senti.

Orang berikutnya adalah Bule. Bule ini dari Indonesia. Bule yang satu ini bukan dari mancanegara. Dia dari Pandeglang. Dan sejak kapan Pandeglang tergolong mancanegara? Setahu Gue sih Pandeglang itu masih masuk Indonesia. Tapi, entahlah. Hanya Bule dan emaknya aja yang tahu.

Terus ada Bembeng. Bembeng ini adalah Bambang yang pake ‘e’. Kalau pake es namanya soda susu. Kalau soda susu tanpa es jadinya oda uu. Nah, soda susu itu biasanya kalau dijual di warung namanya udah bukan soda susu lagi, tapi jadi soda gembira. Jadi, kalau pingin gembira haruslah bersoda. Mungkin demikian. Ah, suka-suka penjualnya aja deh. Ngapain juga Gue ikut campur.

Dan terakhir adalah Mahpi. Mahpi adalah laki-laki satu-satunya setelah ayahnya yang emang laki-laki. Adeknya dua dan itu perempuan semua. Ibunya juga perempuan, beda dengan ayahnya yang ternyata laki-laki. Mahpi itu berasal dari Jambi. Dan kata Mahpi sekarang di Jambi lagi gak musim jambu.

Jam udah bertengger di angka 1 Waktu Indonesia Indekos Akim. Itu artinya udah dini hari. Jadi kapan mendakinya? Sekarang. Sekarang kami bersiap dan melangkah. Pada sebuah jalanan beraspal kami mencegat angkot. Dan angkot itu nanti yang bakal mengantarkan kami ke tujuan.

Di sebuah desa bernama Jatiroke itupun kami diturunkan. Pak sopir yang udah tua itu menyuruh kami turun, dan kami pun mengikuti aja omongan beliau. Sebab kalau gak mengikuti kata-katanya kami pasti dianggap durhaka kepada orang tua. Jadi, daripada dianggap durhaka mending gak dianggap sama sekali.

Gerbang Jatiroke menyambut kedatangan kami. Ah, tanpa disambutpun kami tetap aja bakal masuk. Lagian tanpa menyambut pun gerbang itu emang udah ada dari zaman kolonial Jepang. Pokoknya kami melangkah masuk ke dalam. Masuk itu pasti ke dalam. Keluar itu pasti keluar. Nah, kalau belok itu gak mesti ke kanan. Ke kiri juga belok. Kalau ke atas itu naik. Kalau ke bawah itu pasti turun. Itulah sebuah rumus pasti yang gak lebih berarti daripada ibu tiri.

Jalanan perlahan menanjak. Kami pelan-pelan menanjak. Akhirnya sampai juga di kaki Gunung Geulis. Sejenak kami beristirahat di sana. Selonjoran kaki. Selonjoran kaki itu maksudnya kedua kaki yang dibiarkan lurus. Kalau bengkok itu artinya gak lurus. Ah, itu pasti kalian udah tahu banget. Setelah puas selonjoran kami pun melangkah lagi. Menapaki ladang penduduk hingga beberapa menit ke depan. Setelah itu terlewati kami memasuki jalur hutan belantara.

Geulis adalah sebuah bukit yang sungguh terkenal di Jatinangor. Sebagai referensi aja bahwa Geulis udah terbentuk ribuan tahun lalu. Mungkin dia ada semenjak zaman dinosaurus masih pake celana pendek dan belum disunat. Dan brontosaurus masih main bola bekel dan belajar sepeda roda tiga. Sekarang setelah melewati ribuan tahun Geulis makin pendek. Sebab air laut makin meninggi karena pemanasan global (global warming). Dan pemanasan global itu terjadi karena efek rumah susun yang berkaca. Nah, pengukuran tinggi gunung itu diukur dari dasar laut. Makanya ketika dasar laut naik maka ketinggian gunung pun berkurang. Itulah kenapa jerapah panjang lehernya. Soalnya dia hobi ngintip.

Jalanan menanjak usai. Kini giliran jalanan landai. Dan kami seperti mengelilingi gunung itu sebab jalanan udah gak menanjak tapi malah melandai. Bukankah naik gunung itu menaiki jalan yang menanjak? Dan turun gunung itu menuruni jalan yang menurun? Lalu apa namanya jika ternyata kami melewati jalanan yang landai? Apakah kami tersasar di jalan tol Purbaleunyi? Ataukah jangan-jangan kami telah melewati lorong waktu yang masih misterius itu? Entahlah. Hanya Einstein yang tahu.

Sadar bahwa kami hanya berjalan berkeliling-keliling tanpa tujuan kami pun berhenti. Dede sebagai leader pendakian nampak bingung. Celingak-celinguk kayak anak ayam yang kehilangan kehormatannya. Mukanya menghitam dari lahir. Bulu kakinya yang tipis merinding seperti ada Genderuwo yang lewat. Perutnya keroncongan karena lapar. Akhirnya kami pun menikmati jajanan yang kami beli tadi sebelum mendaki. Kami rest sejenak.

Setelah itu kami pun melangkah lagi. Kali ini kami potong kambing. Menerabas jalanan yang bukan jalur semestinya. Itu namanya potong kompas ding. Kali ini kami memakai logika. Naik gunung itu harus melewati jalanan menanjak. Bukan landai apalagi jalanan menurun. Selama kami masih berjalan menanjak, maka bakal sampai puncak juga. Ini penting diingat dan mohon dicatat. Camkan itu.

Jalanan makin sempit dan terhalang oleh tumbuhan perdu yang lebat. Kami gak bawa golok atau alat tebas lainnya. Yang kami bawa hanya senter. Dan saat melewati jalur yang seperti itu senter tidaklah berguna. Hanya golok dan pisau batu yang berguna untuk menebas tumbuhan-tumbuhan liar yang tinggi itu.

Meski begitu kami gak menyerah. Kami gak mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Dan bendera kuning itu tanda ada orang yang meninggal. Serta janur kuning tanda ada orang yang kawinan. Kami tetap menerabas dengan komando dari seorang Dede, yang sejujurnya kami masih ragu dengan kapabilitas kepemimpinannya. Dede aja ragu dengan dirinya sendiri apalagi ayah ibunya.

Aneh. Beberapa kali Geulis didaki. Gue mendaki Geulis beberapa kali. Dan beberapa kali pula Gue selalu gak pernah benar melewati satu jalur. Berkali-kali mendaki gunung ini dan berkali-kali juga membuka jalur baru. Apakah ini yang disebut dengan neraka jahanam itu? Entahlah. Hanya setan yang udah pernah ke sana.

Seusai melewati jalanan bertumbuhan liar itu akhirnya kami sampai. Sampai di sebuah tanah agak lega. Ini belum puncak, karena puncak itu masihlah amat jauh di sana. Ini adalah Jatinangor. Ada padang ilalang di sini. Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat karena kami emang pingin. Kami yang mendaki jadi terserah kami mau istirahat atau enggak.

Perjalanan dilanjutkan kembali. Konon, puncak udah dekat. Mendapat penghiburan itu dari Dede kami pun bersemangat. Semuanya senang dan riang gembira. Tapi, Bule nampak bersungut-sungut. Mukanya agak lonjong. Alisnya hampir nyambung kayak pagar kabupaten. Dia mungkin kesal.

“Woi istirahat lah. Capek!” itu suara Bule yang minta rest.

Dede pun menengok ke belakang. Ke arah dimana Bule disemayamkan. Akhirnya Dede pun gak tega. Kami berhenti lagi. Bule membuka resleting celananya dan minum dari botol itu. Maksudnya dia meminum air dalam botol setelah itu dia minta diri untuk pipis. Dia kebelet pingin kawin.

Itu barang punya Bule sendiri. Itu barang adalah miliknya satu-satunya yang sah sebagai modal kawin nanti. Jadi apa urusannya dan apa hak kami untuk melarangnya pipis. Kami pun akhirnya mengizinkan Bule untuk pipis. Dan Bule pun akhirnya pipis juga, tanpa atau ada restu dari kami.

Currr…

Itu suara pipisnya Bule.

Setelah itu kami melangkah lagi. Muka Bule agak sumringah sekarang. Mungkin karena berat beban di kandung kemihnya udah berkurang semenjak dia pipis tadi. Syukurlah. Akhirnya Bule siuman.

Hap.. Hap.. Hap..

Dan puncak pun dijelang. Pada sebuah bangunan yang mirip makam itu kami beristirahat. Di puncak Guelis emang ada makam. Entah itu makam siapa. Yang jelas kami lihat dengan mata kepala sendiri jika itu emang makam bukan kuburan. Di sana banyak juga sesajen. Kami gak lagi ngepet atau nyari pesugihan atau nyari ilmu kebal. Sumpah kami gak kayak gitu. Kami masih percaya Tuhan dan masih punya agama kok.

Detik demi detik pun berlalu. Berlalu setelah enam puluh detik berganti menjadi satu menit. Menit pun beredar terus tanpa disuruh. Setelah enam puluh menit itu namanya satu jam. Hari udah malam. Dan kami gak mendirikan tenda di sini. Karena kami emang sengaja gak bawa tenda. Kami hanya pingin beratapkan langit bertabur bintang dan bermandikan cahaya rembulan aja. Selebihnya, hanya matras yang kami gunakan sebagai alas.

Api unggun dibuat dari sebuah benda putih yang diberi nama parafin itu. Kopi udah tersaji. Gitar langsung dimainkan. Menyanyikan dan mendendangkan lagu-lagu rohani. Dan kami pun turut larut dalam malam hening suci malam itu.

Mata udah ngantuk. Jadi, baiknya Gue sulut api lagi dan memanaskan air. Ngopi lagi dan lagi. Beberapa sahabat alam lainnya udah terlelap berselimut dingin puncak Geulis. Sisanya masih asyik nyanyi-nyanyi dan main kartu.

Assholatuhairumminannaum.

Salat lebih baik daripada tidur. Itulah kumandang azan subuh yang terdengar dari puncak sini. Kami segera bergegas tidur. Mungkin mereka yang tidur itu lagi dapat. Dapat arisan mungkin. Yang sebagian lainnya bangun dan menunaikan kewajibannya. Sebagian lainnya ada yang ngopi. Sebagian lagi masih memandikan kucingnya. Sebagian lainnya masih nyari rumput buat makan kambingnya. Sisanya adalah ibu-ibu yang tengah berbelanja sayur mayur di penjual sayur keliling. Itulah sederet aktivitas warga Jatiroke di sana.

Fajar segera menjelang. Padahal si Fajar gak ikut naik dan berdiam diri di kosannya tadi. Sayang sekali dia gak ikut. Mentari perlahan menampakan dirinya dari ufuk timur. Menyembul dari balik cakrawala pagi. Kabut tipis pelan-pelan terusir oleh sinar mentari yang keemasan. Pagi ini cerah. Secerah hati dan pikiran kami. Semoga.

Kami bangun. Beberapa orang masih mengucek-ngucek cuciannya. Mata mereka mungkin masih pada sepet. Sementara yang lainnya mulai memanaskan air untuk mandi. Di sini gak ada water heater atau semacamnya jadi kalau mau mandi air anget harus dipanaskan terlebih dulu. Setelah air bergejolak menjadi anget lalu kami ngopi.

Sementara yang lainnya pergi berbelanja ke Alfamart dan entah kemana Gue dapat giliran untuk masak. Maklum Gue ini jadi wakil bendahara umum pendakian. Jadi tugasnya adalah masak. Hanya ada mie instan dan akhirnya mie instan itulah yang Gue masak. Gue masak sendiri kali ini. Tanpa teman tanpa kawan dan tanpa lawan. Betapa kejamnya mereka yang meninggalkan Gue. Malah di sana mereka foto-foto. Oh, kejamnya dunia.

Air udah mendidih dan segeralah Gue cemplungin mie ke dalam panci yang di dalamnya udah berisi air yang mendidih itu. Mie pun terebus. Hampir matang. Tapi, sayangnya belum masak.

Huacim..

Itu suara bersin Gue. Karena udara dingin Gue biasanya bersin-bersin. Dan tanpa disuruh bersin itupun akhirnya terjadi. Berkali-kali malah. Dan gak terasa meneteslah sebulir cairan bening kental dari dalam lubang hidung ini.

Plung.. Plung..

Itu suara tetes embun hidung Gue yang pilek ini mencemplung.

Oh, tidak. Segumpal cairan bening itu menetes deras dan jatuh ke dalam kubangan mie rebus yang telah matang yang Gue masak dengan mata kepala Gue sendiri. Oh, my gosh. Gue gak sempat mengelapnya tadi sehingga akhirnya menetes. Mungkin karena Gue yang terlalu sibuk melamun sehingga kejadian itu terjadi.

Sesaat Gue ingat sebuah peribahasa Latin, ‘Dibuang sayang, dimakan enak’. Daripada mie rebus yang telah terkontaminasi dengan ingus Gue itu dibuang, maka janganlah itu terjadi. Sayang. Itu adalah mubadzir. Dan kata ustaz mubadzir itu adalah tindakan setan. Gue khan bukan setan. Jadi?

Sahabat alam berdatangan kayak laron. Mereka nampak antusias menyaksikan mie rebus spesial udah tersaji apik di depan mata mereka. Enak banget mereka itu, datang-datang langsung makan. Setelah makan mereka pulang. Ah, dasar magabut—makan gaji buta.

“Ayo makan, man-teman.” Itu Gue yang mengajak sambil melambai-lambaikan tangan. Memanggil mereka untuk menikmati sajian sederhana pagi ini. Mari sarapan.

“Wah enak nh keknya.” Ini suara Akim.

“Dingin-dingin ada yang anget-anget nih.” Ini suara Mahpi.

“Ayo makan keburu dingin.” Ini suara Bembeng.

“Iya pas lagi anget biasanya lebih enak.” Ini suara Iwan.

“Wah masakan spesial dari koki pagi ini.” Ini suara Bule.

“Ayo serbuuu..” Ini suara Dede. Sebagai komandan dia harus mengomandoi anak buahnya terlebih dulu.

Suara siapa yang belum kedengaran?

Ah, si Akung. Kalian pasti bertanya kemanakah dia gerangan? Akung sebenarnya ikut bersuara juga. Cuma Akung ini terkenal dengan suaranya yang lirih dan lembut. Dia memakai suara dengan level ultrasonik, yang hanya bisa didengar oleh kelelawar dan anjing aja. Makhluk halus juga bisa dengar.

Mereka pun dengan lahap menyantap makanan yang Gue masak itu. Melihat mereka makan seperti melihat segerombolan gembel yang seminggu gak lihat nasi. Sedangkan Gue sendiri duduk termenung sendiri di sini. Hanya melihat orang yang makan sedangkan Gue sendiri gak makan. Mungkin karena Gue lagi gak berselera.

Dalam sekejap pun mie rebus spesial tanpa telor itu pun habis. Mangkok-mangkok kembali kosong. Mereka lahap-lahap. Ini pasti efek jamu yang sebelumnya mereka konsumsi, jamu temu lawak penambah nafsu makan.

“Lho, lo gak ikutan makan?” Itu Akim yang bertanya ke Gue. Dia ngelihat dan sadar jika tadi Gue gak mengambil sesendok pun mie rebus itu. Sebagai seorang sahabat dia merasa terpanggil rasa persaudaraannya.

“Udah pernah.” Gue cuma menjawab ringan.

“Ya udah lo makan roti Gue aja nih.” Seorang sahabat alam menawari Gue sebongkah roti rasa cabe plus daging cincang. Mungkin itu yang dinamakan dengan sandwich. Semuanya pun akhirnya sadar dengan keberadaan Gue yang tadi gak bergabung dengan mereka untuk makan. Mereka langsung menunduk lesu.

Terharu. Di benak mereka mungkin mereka berpikir, “Sungguh baik banget lelaki muda yang seksi itu. Dia memasak buat kami. Dan dia sendiri gak ikut memakannya. Pengorbanan yang sungguh-sungguh harus ditiru oleh generasi muda kini. Mbah Dirman dan Bung Karno sebagai bapak bangsa pasti bangga dengan sosoknya yang melankolis sanguinis koleris itu.”

Karena gak enak nolak rejeki, Gue pun akhirnya menerima tawaran roti rasa cabe dan daging cincang itu. Segeralah Gue melahapnya dengan cepat sebab Gue emang lapar. Dan mereka hanya bisa melihat Gue yang kasihan ini hanya bisa makan roti sedangkan mereka makan mie rebus spesial yang hangat dan lembut.

Kini mie rebus spesial yang telah tercampur oleh cairan bening kental dari hidung Gue pun bersemayam dalam perut mereka masing-masing. Bersemayam dalam sedamai Geulis pagi ini.

Oh, andai mereka tahu? Mungkin mereka akan bahagia. Sebahagia burung-burung yang bernyanyi untuk pagi yang semarak ini.

 

 Gunung Geulis I. 2008

Posted in: Short Story