Mbah Mo Sais Pedati

Posted on February 13, 2014

0



Sais Pedati (dok koleksiiwanfals dot blogspot)

Sais Pedati (dok koleksiiwanfals dot blogspot)

“MBAH Mo pulang!”

Pekik Lanang lantang sambil kedua tangan mungilnya berkecipak. Badannya karam terendam setengahnya, dari kaki hingga pusar, dalam air kali. Pekiknya itu sekonyong-konyong disambut ceria oleh ketiga sahabatnya yang lain—Sahroni, Sarkam, dan Taryo, yang juga tengah asyik bersiciprat.

Permainan air mereka usai.

Keempat bocah itu lekas naik ke atas tepian sungai kecil yang mengular sepanjang pematang. Mengambil lalu menjinjing satu per satu kenaan masing-masing. Tak sempat dikenakan, mereka cepat berjingkat. Tubuh mungil mereka masih kuyup bercorak kecoklatan oleh air kali yang bercampur lumpur. Bak seekor tikus yang baru saja selamat setelah kecemplung ke dalam parit, mereka terbirit masih bertelanjang. Menyongsong sesosok manusia tua bertubuh doyong yang mereka panggil dengan sebutan Mbah Mo—seorang sais pedati.

Laju pedati telah terhenti. Mbah Mo turun dari kemudinya. Pedatinya dibiarkan berdiam di tepian jalan. Sebilah arit tergenggam di tangan kanannya telah keriput. Di tangan sebelah kirinya terjinjing sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, yang lebih mirip sebagai wadah rumput.

Kakek gaek itu mulai mengayunkan tubuhnya yang ringkih termakan oleh waktu. Tubuhnya memang seperti nyiur pantai: langsing, kering, dan doyong. Rambutnya panjang sebahu dan telah memutih. Rongga matanya cekung dalam. Kedua matanya pun keropos dan tak lagi awas. Pandangannya sudah baur. Bahkan gumpalan putih keabu-abuan menutupi membran transparan lensa mata sebelah kirinya.

Baru beberapa depa, langkah gontainya langsung disambut oleh Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo. Keempat bocah yang masih telanjang bulat itu bersirebut membawakan arit dan keranjang rumput, mengambil alih bebannya.

Meski pandangan dan pendengarannya tak lagi tajam, namun ia mampu merasakan kehadiran Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo. Dan melihat polah tingkah bocah-bocah itu Mbah Mo hanya melempar senyum. Ia memahaminya laiknya seorang kakek yang memaklumi kenakalan cucu-cucunya yang masih bocah. Arit dan keranjang rumputnya beralih tangan sekarang.

Pada sebuah tanah lapang berumput, sebelah sawah yang bulir-bulir padinya telah berisi penuh, ia menyabit rerumputan untuk bekal perut Slenteng—sapinya. Sebuah aktivitas rutinnya selepas pulang dari menjual hasil kebunnya ke tanah seberang. Mbah Mo tak pernah lupa memberikan bahan bakar kepada Slenteng, kendaraan satu-satunya.

Dan Mbah Mo juga tak pernah kesal jika ternyata keempat bocah itu, yang tadi berniat membantunya, malah bermain-main berguling-guling di atas hamparan hijau rumput yang ia akan babat. Mbah Mo memang bersahabat lewat kebersahajaannya. Senyum hangat selalu menghiasi bibirnya, menampakkan sisi kedamaian lembayung senjakala bagi siapa saja yang melihatnya.

Aritannya usai sudah petang ini. Seakan hapal betul akan takaran perut Slenteng Mbah Mo mengakhiri sabitannya meski keranjangnya belum penuh terisi rumput. Duganya rumput itu sudah cukup untuk bekal perut sapinya petang ini, mungkin cukup hingga esok pagi.

Ia sabar mengangkat tubuhnya yang telah adar. Melihatnya berdiri bertumpu kaki keempat bocah itu cekat mengangkat keranjang rumput yang terisi setengah itu.

Sepasukan burung kuntul terbang menembus gumpalan awan putih menuju ke barat. Disusul kemudian oleh kumandang azan magrib yang sayup-sayup merambat hinggap di telinga dari kejauhan. Sang surya telah sepenuhnya tenggelam, namun segurat cahaya jingga masih membekas sepeninggalnya.

Mbah Mo kembali beringsut menuju pedatinya berdiam. Keempat bocah yang tadi menemaninya pun turut serta. Menjadi ekor di belakang sosok keriput yang berjalan alon bak siput. Hanya sebentar sebelum akhirnya mereka tak sabar dan mendahuluinya di depan. Keempatnya saling kejar meninggalkan Mbah Mo di belakang. Rerumputan yang terkandung di dalam keranjang bambunya pun berhambur tercecer. Tak terbersit sewot sedikitpun dalam hatinya. Sekali lagi, Mbah Mo hanya mengulum senyum mengetahui hasil sabitannya itu berkurang drastis. Paling nanti Slenteng harus legowo jatah makannya berkurang oleh ulah bocah-bocah itu.

Satu per satu bocah-bocah itu melompat naik. Dan sang sais pun harus rela ketika kemudian ia menjumpai pedatinya telah penuh oleh penumpang: Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo. Mbah Mo harus siap berbagi tempat dan berdempet dengan Lanang dan Taryo yang duduk di bangku kemudinya. Sedangkan Sarkam dan Sahroni duduk di belakang memunggungi ketiganya yang duduk di depan.

Roda pedati pelan melindas jalanan berbatu. Kedua rodanya yang terbuat dari kayu itu berdecit setiap kali beradu kuat dengan batu-batu. Menambah syahdu nyanyian makhluk-makhluk petang yang mulai bermunculan sepanjang pematang. Seisi pedati dibuat terlunta-lunta bergoyang kesana-kemari oleh laju pedati yang limbung. Slenteng lah yang dipaksa bekerja ektra. Bebannya kini bertambah berat oleh tubuh-tubuh mungil yang mengisi gerbong pedati itu.

Angin petang yang membawa hawa dingin menampar raga polos keempat bocah itu. Jarak yang membentang menuju rumah mereka tak seberapa memang. Jika saja mereka menempuhnya dengan berjalan kaki, maka akan lebih cepat sampai. Tapi, bukan soal durasi tempuh keempatnya menumpang pedati. Adalah Mbah Mo yang membuat mereka melupakan waktu untuk sampai ke rumah. Di balik sosok yang merongsok itu terselip kedamaian. Ia mampu membuat betah jiwa-jiwa yang kesepian. Hati bocah-bocah itu tenteram ketika bersanding di sampingnya.

Pedati kembali terhenti. Pada sebuah surau kecil yang menyempil diantara rumah warga itu Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo, turun dari atas pedati.

Maturnuwun, Mbah Mo.” Keempatnya serempak berucap terimakasih.

“Hei.. Sebentar dulu.” Cegat Mbah Mo. Ia lantas meraba dinding pedatinya. Nampak mengambil sesuatu yang terselip di sela-sela anyaman bilik bambu pedatinya itu. Lekas-lekas ia menyelonongkan empat buah pak-pak-dor—sejenis bedil-bedilan dari bambu, kepada keempatnya.

Mbah Mo memberikan kejutan.

“Hore.. Aku dapat bedil-bedilan dari Mbah Mo.”

“Aku juga dapat.”

“Hore..”

Keempatnya menyambut gembira hadiah itu. Lalu lintang pukang berlari riang menuju rumah masing-masing, sambil petentengan menyandang bedil bak tentara yang siap berperang di medan pertempuran.

Pecut kembali dilecutkan di atas punggung Slenteng. Pedati pun melaju kembali menyongsong ujung desa. Mengantarkan sang sais kembali ke peraduannya.

***

Ganjil betul kali ini. Tak biasanya Mbah Mo dan pedatinya terlambat lewat. Azan magrib mungkin bakal berkumandang dalam hitungan menit kedepan. Tapi, pedati Mbah Mo belum juga hadir menyapa.

Kemanakah ia?

Tanya tentang ketidakhadirannya menjadi bahan celotehan pun kegundahan Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo. Empat sekawan itu terancam oleh petang yang sebentar lagi bersambang. Sedangkan yang dinanti belum juga menampakan diri.

“Mbah Mo mungkin sudah pulang.”

“Ya. Mungkin kita tidak melihatnya lewat.”

“Bagaimana kita pulang, Nang?” Tanya Sahroni kepada Lanang. Tanpa jawaban dengan kata-kata Lanang lunglai melangkah gontai. Itu sudah cukup bagi Sahroni, Sarkam, dan Taryo, untuk mengekornya di belakang. Kelincahan yang biasa mereka tunjukan kini mendadak rontok.

“Andai saja ada Mbah Mo.” Lirih batin mereka berbisik.

Mbah Mo memang sosok yang ngayomi. Gerik lakunya mampu menyentuh hati orang lain, terutama anak-anak kecil. Bagi Lanang, Sahroni, Sarkam, dan Taryo, ia laksana sahabat yang mampu mengimbangi nurani kebocahannya, sekaligus menjadi pahlawan yang banyak jasanya. Masih membekas dalam relung ingatan mereka saat ia memberikan kejutan pak-pak-dor. Entah kenapa bedil-bedilan bambu buatan Mbah Mo selalu bagus. Suaranya nyaring menendang gendang telinga. Lesat pelurunya juga cepat. Kalau mengenai badan maka bisa bentol kemerahan. Rasa nyerinya seperti tersengat oleh karet gelang. Ketulusannya itu terekam jelas dalam pita imajinasi mereka.

Agaknya kalimat ‘Andai saja ada Mbah Mo’ menjadi semacam pengharapan yang pantas yang keluar dari mulut nurani bocah-bocah itu. Mbah Mo adalah sosok yang selalu dinantikan dan diharapkan kehadirannya. Tanpanya adalah sepi tak bertepi.

Adalah minggu sore ketika akhirnya ketakutan yang selama ini mereka khawatirkan benar-benar terjadi. Pulang petang tanpa diantar oleh pedati goyang Mbah Mo. Apa boleh buat, berjalan kaki menuju kampung harus mereka tempuh.

Baru hari ini Mbah Mo absen menemani kepulangan mereka usai bermain air di kali. Tapi, terasa sungguh ganjil. Pasalnya kebaikannya yang tanpa pamrih itu tak mampu ditandingi oleh siapapun—bahkan mungkin oleh orang tua mereka sendiri.

Mbah Mo memang dewa penolong sekaligus penghibur di kala sunyi. Meski ia seakan terlupakan oleh para tetangganya, tapi oleh keempat kawanan bocah itu sosoknya tetaplah bakal abadi.

***

Seekor burung gagak terbang menerjang kelam malam. Berseliweran tak tentu arah di atas atap bilik bersahaja milik Mbah Mo. Enggan tenang dalam kesendiriannya semenjak tadi petang. Koaknya yang nyaring menjadi warna suasana malam yang kian mencekam.

Sudah dua hari ini Mbah Mo tergolek lemas di atas amben reotnya. Selepas pulang kemarin ia langsung merebah. Tubuhnya yang doyong saat berdiri kini terkulai bak udang kering melengkung di atas pembaringan.

Sosok sepuh itu memang hidup rekasa sebatang kara. Kepapaan memaksa istrinya meninggalkannya berpuluh tahun silam. Menjalani hidup sendiri, tanpa istri dan karunia anak, menempa Mbah Mo untuk mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan hari-hari senjanya ia tak mau mengharapkan uluran tangan dari para tetangga. Raganya memang renta, tapi semangatnya masih perkasa.

Setiap hari Mbah Mo pulang pergi dari desa ke kota. Ia memenuhi keperluan hidupnya dengan cara berkebun apa saja. Sepetak tanah yang dimilikinya adalah bekal hidupnya. Hasil panen seperti ubi, pisang, pepaya, dan beberapa ekor unggas ternaknya, ia jual ke pasar yang berada di kota. Berpuluh kilometer harus ditempuhnya dengan berkendara pedati setiap harinya. Slenteng-lah yang selama ini menjadi teman setianya. Mengantarkan sang tuan kemanapun ia menginginkannya.

Tapi, malam ini Mbah Mo tak seperkasa biasanya. Ia hanya tergolek di tempat tidurnya. Tak ada selimut ataupun bantal sebagai sandaran kepalanya. Mukanya pasi. Tubuhnya garing seperti mayat yang dikeringkan.

Keempat bocah yang menemani sorenya dua hari lalu tak menangkap akan pertanda ini. Mungkin naluri kekanakan mereka belum awas menangkap pertanda semacam ini secara jeli.

Mbah Mo kembali sendiri di dekap oleh sunyi. Malam ini mungkin hanya Slenteng, yang tinggal dalam kandang di sebelah biliknya, saja yang menemani. Ia harus sudi menelan kegetiran seorang diri. Tak ada canda riang bocah-bocah kecil itu lagi.

Tubuhnya telah dingin. Hening.[]

 

Keterangan: Pak-pak-dor adalah semacam bedil-bedilan yang terbuat dari satu ruas bambu utuh seukuran jempol orang dewasa. Panjangnya tak lebih dari 50 cm, yang dipotong menjadi dua bagian, pendek (15 cm) sebagai pegangannya dan panjang (35 cm) sebagai moncongnya. Pelurunya adalah bunga pohon selong yang belum mekar. Bisa juga kertas yang telah dibulatkan kecil-kecil dan telah dibasahi air terlebih dulu.

Posted in: Short Story