Kumbang dan Kembangnya

Posted on February 8, 2014

0



kumbang & kembang (dok google)

kumbang & kembang (dok google)

Panggil aja dia Kumbang. Kumbang bukanlah nama sebenarnya. Kumbang itu adalah sejenis lebah atau tawon. Dan Kumbang yang ini adalah seorang laki-laki yang gak mau disebutin identitasnya. Namanya minta disamarkan. Soalnya dia kepingin ceritanya ini dirahasiakan. Tapi, akhirnya Gue tulis juga. Ah, yang penting identitasnya masih aman dan terkendali. Cuma ceritanya aja yang Gue bongkar-bongkar di sini.

Pagi itu Kumbang datang pagi-pagi. Dia datang saat Gue tengah bugil. Bugilnya di kamar mandi soalnya Gue lagi mandi. Beberapa menit dia harus nunggu Gue beres mandi. Dan beberapa menit kemudian Gue keluar dari kamar mandi dan masih bugil. Hanya bersarungkan handuk tok. Dan Gue keluar. Tapi, masih di dalam kamar. Sebab Gue bukanlah seorang eksibisionis yang menjajakan anggota tubuhnya di tempat umum.

Kumbang masuk ke kamar setelah Gue suruh dia masuk. Dia mangaku-ngaku kenal dengan Gue. Siapa dia? Untung aja dia datang sendiri dan gak bawa anak. Coba kalau dia datang bawa anak pasti Gue dituduh sebagai bapak dari anak itu. Kumbang pun duduk di pangkuan lantai kamar. Lesehan.

Gue udah pake baju dan celana dan Gue siap menghadapi Kumbang. Satu lawan satu. Dan Gue rasa kita seimbang jika melihat dari postur tubuh yang sama-sama seksi dan six packs. Pagi ini dia datang buat mencurahkan isi hatinya sama Gue. Itu artinya Gue harus bersiap-siap jadi seorang Pelacur alias pelayan curhat. Gue menyediakan kuping Gue buat tempatnya bercurhat ria.

“Gue kurang apa?”

Itu Kumbang yang bilang kayak gitu. Dia curhat soal hubungannya dengan pasangannya dan katanya, ‘Gue kurang apa?’. Mana Gue tahu. Gue jawab begitu adanya. Sebab Gue belum tahu duduk persoalannya ujug-ujug aja dia bertanya kayak gitu.

“Gue udah ngasih apa yang dia mau. Apapun yang dia pingini gue pasti beri.”

Itu masih kata Kumbang lagi. Dia katanya memberikan apa aja yang dimaui oleh pasangannya itu. Apapun itu dia kasih.

“Uang gue kasih. Cinta gue beri. Bahkan nyawa kalau dia minta juga bakal gue kasih.”

Itu juga kata Kumbang lagi. Dia mengaku bakal ngorbanin apapun, baik yang pasangannya minta ataupun gak dimintanya. Kumbang emang sosok lelaki ilegal, eh ideal. Pasangannya harusnya merasa beruntung bisa dapatin dia. Dasar pasangan yang gak mau diuntung, maunya malah buntung. Puntung rokoknya dia taruh di asbak. Rokoknya udah habis. Soalnya dia ngomong sambil kelepas-kelepus.

“Sekarang gue malah didiemin kayak gini. Dia gak pernah bales SMS. Dia juga gak mau jawab telepon dari gue.”

Itu lagi-lagi Kumbang yang bilang. Dia jujur udah didiemin pasangannya beberapa hari ini. Makanya dia lari ke Gue. Dan Gue dijadiin pelarian oleh dia. Katanya si doi gak pernah bales SMS-nya dan gak mau ngangkatin jemurannya. Berkali-kali dia nelpon dan gak diangkatnya.

“Gue salah apa sama dia?”

Itu masih Kumbang yang bertanya. Gue gak bisa jawab. Sebab dia bertanya pada dirinya sendiri sebetulnya. Mungkin dia salah makan obat pagi ini. Atau dia mungkin salah kaprah menghadapi kehidupan ini yang begitu kompleksnya. Mana Gue tahu. Gue hanya bisa menyediakan kedua kuping Gue buat mendengarnya. Jikalau dia cewek Gue pasti udah menyediakan bahu Gue juga. Sayang dia itu Kumbang.

Setelah pertanyaan itu terlontar Kumbang lalu diam. Diam seribu bahasa. Dia gak ngomong lagi. Hanya menunduk. Dia sedih. Mungkin uangnya jatuh ke bawah. Dan Gue pun hanya bisa menatapnya. Gue belum bisa berkata-kata. Soalnya mungkin dia gak butuh.

Suasana masih hening. Sehening suasana kuburan. Tapi, sekarang kuburan udah rame. Rame oleh mayat-mayat dan hantu-hantu yang bergentayangan. Ih, serem. Ah, ini pasti efek seusai nonton film Malam 1 Suro-nya Suzana. Pikiran Gue jadinya jorok melulu.

Akhirnya Gue berbicara juga. Kata-kata tanpa disengaja keluar dari mulut Gue yang sensual ini.

“Boleh tahu gak siapa dia?”

Itu Gue yang bertanya. Kenapa Gue harus tanya siapa dia soalnya biar lebih jelas. Siapa tahu Gue bisa bantu. Atau siapa tahu pasangannya itu adalah teman cowok Gue dan Gue tahu. Jadi biar enak saling terbuka.

Kumbang gak langsung menjawabnya. Dia cuma menatap Gue tajam dengan kedua matanya sendiri. Seketika itu Gue takut. Bulu jempol kaki mendadak merinding. Tatapannya itu kayak tatapan mata seekor macan jantan yang mau menerkam macan jantan lainnya. Gue takut bukan kepalang.

“Lo pasti tahu siapa dia kok.”

Dia bilang kayak gitu. Gue pasti tahu. Tapi, siapa kah gerangan yang Gue tahu itu? Ketimbang penasaran mending gentayangan.

“Siapa?” Ih Gue jadi penasaran gitu. Pengin tahu aja Gue sama urusan orang lain ya. Ya amplop.

“Mansyur.” Kumbang menjawab nama itu. Mukanya menunduk lagi. Antara sedih dan malu, dan malu-maluin.

Hah?

Mansyur?

Itu Gue tercengang. Seakan gak percaya. Seperti petir menyambar si sundal bolong. Mampus tuh si sundal bolong kesamber gledek. Mansyur itu adalah nama samaran. Itu bukan nama yang sebenarnya. Gue merahasiakannya demi melindungi si narasumber.

Lalu Kumbang pun pulang tanpa permisi. Setelah curhat panjang lebar soal pasangannya yang ternyata cowok juga dia langsung pergi. Benar dugaan Gue. Dia gak perlu jawaban atas tanya yang diajukannya. Dia hanya butuh didengar. Dan soal mendengar kuping lah rajanya.

Bukankah Mansyur itu adalah nama cowok? Oh, kenapa Kumbang menaksir si Mansyur yang sama-sama cowok itu? Kenapa cowok harus mencari pasangan yang cowok juga? Bukankah itu namanya semangka makan semangka? Bukankah masih banyak cewek yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini dari Sabang sampai Antartika?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih aja bersemayam dalam kuburan batin Gue. Pertanyaan itu gak Gue tanyakan langsung kepada tersangkanya pagi itu. Soalnya Kumbang gak ngasih kesempatan Gue buat menginterogasinya.

Seperti halnya Sumanto, Kumbang juga pelaku kanibalisme. Cowok makan cowok. Bukankah itu adalah kanibalisme jenis baru? Oh, si Kumbang yang ternyata menyukai Bunga Bangke itu adalah temen Gue sendiri. Oh, my gosh.

Kumbang ternyata adalah seorang cowok sukses=suka sesama. Maka, janganlah mendekati cowok-cowok sukses itu, wahai engkau para gadis. Sebab kalian pasti gak bakal bahagia dunia akhirat dengan cowok yang nyetrumnya sama cowok lagi.

Gue tahu sekarang kenapa Kumbang berantem sama pasangannya, Mansyur. Pasti ini gara-gara gak ada yang mau mengalah diantara keduanya. Mengalah siapa yang mau jadi cowok dan siapa yang mau jadi ceweknya. Dalam menjalin hubungan harus ada pembagian tugas. Uh, keduanya sama-sama egois ternyata. Gimana mau langgeng hubungannya.

Gue mendadak langsung inget upil. Soalnya ini Gue lagi asyik ngupil. Gue mencoba berfilosofi sambil ngupil. Kalau dipikir-pikir kekasih itu bukanlah seperti upil. Sebegitu getol dan gencarnya manusia berburu upil ujung-ujungnya pasti dibuang. Gak mungkin dikoleksi tuh upil. Dalam mencari kekasih dan pasangan juga mungkin sama. Bagi sebagian mereka yang gak bertanggung jawab menyamakan mencari pasangan dengan ngupil, dicari dan setelah ketemu dibuang dengan gampangnya. Bukannya malah dipelihara. Kalian mau memelihara upil? Gue sih ogah.

Dan pagi telah terusir oleh siang. Dan siang pun diganti oleh datangnya sore. Sekarang udah malam. Kumbang udah tiada lagi di sini. Tapi, kepergiannya itu meninggalkan jejak-jejak kemisteriusan yang dalam. Dan Gue gak mau banyak bertanya kepadanya. Takut dia jatuh cinta sama Gue. Mending jatuh cinta sama Dian Sastro daripada sama si Kumbang.

Sampe-sampe Gue lupa kalau hari ini adalah hari kamis malam jumat. Dan malam ini adalah malam jumat kliwon. Biasanya kalau malam jumat kliwon banyak tukang sate lewat depan kosan. Gue lapar karena belum makan. Jadi Gue sangat berharap jika di malam jumat ini datang seorang bapak penjual satu dari Madura itu.

Eh, kenapa Gue ujug-ujug tahu kalau si bapak itu dari Madura ya? Mungkin karena si bapak suka berteriak, ‘Te.. Sate..’. Itulah kenapa di Madura gak ada TK, yang ada hanyalah TN—Taman Nak-kanak.

Gue pun berganti menu makan malam akhirnya. Kali ini hanya makan nasi goreng ala gerobak. Beres makan itu Gue masuk kamar lagi. Dan sesaat kemudian pintu kamar pun di ketok mejik. Ada tamu yang datang berkunjung.

Gue buka pelan-pelan itu pintu. Dan ternyata ada beberapa makhluk yang nongol dari balik pintu itu. Mereka membawa tas ransel pada punggungnya masing-masing. Dari pakaian dan bawaan yang mereka sandang rasa-rasanya mereka mau ngajak Gue Yasinan—baca Yasin.

Tapi, ternyata Gue salah menduga. Gue baru ingat kalau malam jumat ini Gue udah janji sama mereka buat mendaki ke gunung Manglayang. Ah, kenapa Gue menjadi pelupa kayak gini? Jangan-jangan gara-gara si Kumbang yang eksentrik itu. Bisa jadi. Yang jelas sekarang Gue harus bersiap karena Gue udah janji mendaki bareng mereka.

Sementara Gue berdandan, Riandi, Soleh, Iky, dan Fandy, duduk di sebuah bangku panjang depan kamar kosan. Mereka itu tetangga samping kamar Gue. Ngapain mereka nunggu di situ? Entahlah. Mungkin karena mereka kepingin. Dan Gue gak bisa bertanya kenapa sebab Gue masih sibuk mendandani diri untuk bersiap mendaki.

Sahabat alam yang mendaki Manglayang kali ini ada empat orang; Riandi, Soleh, Iky, dan Fandy. Gak lupa Gue absen satu persatu mereka itu. Pertama adalah Riandi. Dia adalah seorang yang berjenis kelamin laki-laki. Dia Alhamdulillah masih normal, bukan dari jenis si Kumbang tadi. Soalnya dia punya pacar. Dan pacarnya itu berkerudung. Kalau berkerudung itu pasti cewek. Kecuali bencong yang suka ngamen di depan gerbang Unpad itu. Dia itu pengecualian.

Berikutnya ada Soleh. Soleh adalah sahabat dekat Riandi. Keduanya satu sekolahan di universitas. Anak yang sekolah di sebuah universitas biasanya disebut mahasiswa. Keduanya dari Fakultas yang sama, yakni Fakultas Peternakan. Asal keduanya pun sama, sama-sama dari Sukabumi. Eh, ada hubungan apa ya mereka dengan Teh Heppy Salma dan Teh Deasy Ratnasari? Mungkin mereka bersaudara beda ayah beda ibu. Mungkin.

Terus ada Iky. Iky adalah adek kelas Riandi dan Soleh. Sama-sama kuliah di fakultas yang setiap hari mempelajari kebinatangan itu. Kuliahnya di Bandung. Ngomong-ngomong soal Iky, Gue salut sama dia lho. Dari kecil katanya dia udah hapal dan fasih berbicara bahasa Minang. Padahal dia kuliahnya di Bandung. Di Bandung khan bahasanya Sunda. Selidik punya selidik dia itu emang berasal dari Sumatera Barat. Di Sumbar bahasa yang dipakai khan emang bahasa Minang. Ah, Gue mungkin harus baca lagi buku sejarah SD.

Dan terakhir ada Fandy. Fandy ini temannya Iky. Makanya jangan heran jika dia juga semenjak kecil udah fasih ngomong Minang. Soalnya dia juga dari Minangkabau, Sumbar. Selain sekampung Fandy dan Iky juga satu kampus. Keduanya sama-sama sekolah di peternakan. Dan keduanya juga adalah adik kelas Riandi dan Soleh. Oh, dunia ini emang bulat ternyata.

Riandi, Soleh, Iky, Fandy, dan Gue sendiri, kami adalah segerombolan lelaki belia yang menamakan dirinya sebagai Laskar Pendaki. Dan, malam ini, kami siap untuk menaklukan Gunung Manglayang di seberang.

Semuanya udah siap mendaki. Tinggal Gue yang masih nyari dimanakah sarung Gue bersembunyi. Mendaki gunung tanpa bawa sarung itu ibarat mencari kutu di tumpukan jerami. Gue bisa kedinginan dan hipotermi. Dan sebelum ketemu tuh sarung Gue gak bakal berangkat mendaki.

Perjalanan pun akhirnya dimulai setelah sarung diketemukan di dalam tumpukan pakaian kotor Gue. Oh, malang benar nasibmu, Rung. Kami bergegas mencegat angkot di pinggir jalan raya. Gue melangkah paling awal diikuti oleh Riandi. Lalu di belakang Riandi ada seorang Soleh. Dan di belakangnya lagi ada Iky di situ. Di belakang Iky ada Fandy. Mungkin di belakang Fandy ada Sandi, Jaki, Jono, Joko, Acep, Acil, Budi, Santo, Ujang, Yana, Nanang, Yogi, Slamet, dan mungkin Andi.

Setelah sampai di pinggir jalan raya kami berjejer, membentuk satu saf barisan. Kami bukan mau salat di pinggir jalan raya ini. Kami hanya mau menyetop angkot yang lewat. Dan angkot itu nanti kami sewa beserta sopir-sopirnya sekalian. Kalo nyewa angkotnya doang lalu siapa yang mau menakhodai? Diantara kami gak ada yang bercita-cita jadi sopir soalnya. Padahal profesi sopir adalah mulia. Dia mengabdi kepada para penumpangnya yang telah membayarnya tentu saja.

Angkot datang dan setelah itu kami dan pak sopir angkot terlibat percekcokan. Kami cek-cok tawar menawar harga yang cocok. Setelah baku mulut cukup lama, kami pun akhirnya sepakat. Menyepakati ongkos dari tempat kami berdiri ini menuju ke Baru Beureum kira-kira dua puluh ribu perak. Deal.

Kami lalu naik angkot yang udah disewa itu. Karena ongkosnya adalah dua puluh ribu perak, dan kami itu berlima, maka seorang-seorang harus bayar empat ribu perak. Sebab dua puluh ribu dibagi lima sama dengan empat ribu. Ah, itu anak SD juga tahu. Kami pun akhirnya membayar iuran. Padahal kata iuran itu adalah milik TVRI—Televisi Rebutan Iuran.

Angkot melaju santai bagai kuda, yang dibandulin sama pesawat ulang alik. Jalanan udah mulai menanjak. Dari Jatinangor tepatnya dari gerbang Unpad angkot melaju menuju Kirpay—Kiara Payung. Kirpay adalah nama buper alias bumi perkemahan. Beberapa waktu lalu bahkan ada yang camping ceria di situ. Ah, itu gak penting. Setelah melewati Kirpay angkot lalu melaju lagi ke Baru Beureum.

Baru Beureum adalah nama daerah di kawasan sini. Bagi para penempuh rimba yang mendaki Manglayang dari jalur Jatinangor tentu harus melewati daerah yang satu itu. Gunung Manglayang emang bisa ditempuh dari berbagai jalan. Setidaknya ada dua jalur yang Gue tahu. Pertama dari Jatinangor via Baru Beureum. Dan yang kedua adalah dari jalur Bandung. Kalau jalur yang dari Bandung itu Gue gak begitu tahu, jadi Gue gak bakalan menceritakannya. Takut nanti dibilang sok tahu.

Angkot udah mau masuk ke Baru Beureum sebelum akhirnya si bapak sopir itu menghentikan lajunya. Mesin angkot mati. Kayaknya si angkot gak kuat mendaki lebih tinggi lagi. Jalanan di sini emang ekstrim. Curam, menanjak, dan licin. Banyak batu-batunya kayak di Pakistan sana. Dan kami pun akhirnya harus rela turun di situ, di tempat si angkot udah gak kuat lagi menanjak.

Kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Baru Beureum cukup asing bagi kami dan terutama sekali buat Gue pribadi. Ini kali pertama kami mendaki kemari. Soal pendakian pun kami masih awam. Apalagi soal Manglayang yang emang baru kali ini kami mau daki. Kami ibarat bayi yang masih merah. Meski begitu, kami sedang beranjak tumbuh dan lagi lucu-lucunya. Pokoknya ngegemesin deh.

Senter kami nyalakan. Malam makin pekat saja. Di kanan kiri kami hanya ada kodok, keong, bancet, jangkrik, tikus, ulat, rayap, dan ular. Udah gak ada lagi kehidupan penduduk di sini. Gak ada satupun rumah yang berdiri di tanah berlumpur dan berbatu ini. Hanya ada sawah dan ladang penduduk yang sunyi sepi senyap.

Bulu ketek Gue seakan merinding. Ini karena tanah yang dijejaki udah makin tinggi. Setengah jam udah berlalu pergi. Dan kami masih menapaki tanah yang seperti ini. Gerbang Manglayang belumlah dimasuki.

Jarum jam udah bertengger di angka 11 Waktu Indonesia Baru Beureum. Itu tadi Gue tahu setelah men-deleng jam di hape Gue. Langkah kami percepat lagi. Kami pingin segera sampai ke puncak.

Puncak?

Wong gerbang pendakian aja belum nongol kok malah menyindir-nyindir puncak yang entah dimana.

Tiba-tiba kami sampai di sebuah bangunan berdinding geribik di kaki Manglayang. Itu sebenarnya gak tiba-tiba soalnya kami ke situ dengan perjuangan yang panjang dan melelahkan. Ternyata itu adalah sebuah warung tempat gorengan, mie rebus, kopi, teh, nasi, dan lauk pauk dijajakan dan dijual. Dan warung itulah yang pada akhirnya kami sambangi. Kami masuk aja ke dalam warung itu tanpa permisi.

Di dalam warung ada seorang ibu-ibu senja. Si ibu itu pasti penjualnya. Soalnya tadi si ibu itu menawari kami dengan mie rebus, kopi, teh, gorengan, dan sebagainya. Dia pasti jualan, bukan lagi amal atau charity. Kami pun menikmati sajian berbayar itu dengan damai ditemani oleh gemericik air kali di belakang warung.

Gak lupa kami menghitung apa yang tadi udah kami telan dengan mulut masing-masing. Setelah itu kami gak lupa juga membayarnya sebab semua itu adalah jualan yang gak gratis sama sekali. Si ibu itu jualan karena buat memenuhi kebutuhan hidupanya. Bukan sekadar hobi atau memenuhi passion-nya semata.

Kami segera mengisi botol-botol kosong sebagai persiapan mendaki kali ini. Beberapa botol telah terisi dan kami siap mendaki di titik 0 km Gunung Manglayang. Soleh lalu memimpin doa bersama. Diantara kami berempat yang kayaknya paling soleh adalah si Soleh itu. Soalnya namanya aja udah soleh. Oh, si Soleh yang beneran soleh.

Kami pun melangkah naik. Pelan-pelan sekali. Sebab jalanan langsung menanjak ekstrim. Ternyata Manglayang itu sama kayak Everest, Vinsion Masive, Elbrus, K2, Cartenz, dan gunung-gunung yang lainnya di dunia ini. Sama-sama menanjak.

Kira-kira apa yang ada di benak Sang Pencipta saat menciptakan gunung ya?

Konon, menurut sumber yang ngacak, Manglayang itu berarti melayang. Gunung Manglayang seperti melayang jika dilihat dari Arab Saudi. Apalagi saat kabut tipis dan awan putih menutupi kaki dan bagian lembahnya. Kayak segunduk tanah yang terbang melayang di atas awan. Mungkin karena itulah disebut Manglayang. Kayak negeri kahyangan. Atau seperti Negeri Di Atas Awan-nya Katon Bagaskara.

Kami melewati jalanan yang agak landai. Seusai itu kami pun beristirahat. Kami baru beristirahat setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam. Nafas mendadak ngos-ngosan. Soalnya capek. Kami mengambil botol masing-masing dan mulai meminum air dari dalamnya. Sungguh segar air sungai ini.

Setelah sembilan menit lebih tiga puluh satu detik kami mengangkat badan dan beban lagi. Tujuan kami bukanlah sampai di sini tok. Tapi, puncak. Kami segera bergegas lagi. Malam udah larut. Mata udah mulai ngantuk. Dan dunia ini makin karut marut.

Melewati jalan yang semakin ekstrim ini kami gak mengeluh. Gak keluar sepeser pun kata-kata keluhan dari mulut mereka yang dower dan mulut Gue yang sensual. Riandi, Soleh, Iky, dan Fandy pun sama. Sama-sama laki-laki dan mendaki pertama kalinya ke sini. Biar pun capek kami gak mau menyerah dan mengeluh. Malu sama kerbau yang udah capek-capek membajak sawah para petani yang padinya kami konsumsi. Kerbau aja gak ngeluh masa manusia ngeluh sih.

“Eh, enakan mana ngebajak sawah pake traktor atau pake kerbau, Leh?” Itu Gue yang bertanya ke kerbau tentang Soleh. Eh, kebalik, bertanya ke Soleh tentang kerbau.

“Enakan pake traktor lah.” Itu si Soleh yang ngejawab. Sebelumnya dia menghentikan langkahnya dan nengok ke arah Gue yang berada tepat di belakangnya.

Soleh mungkin satu-satunya mahasiswa ilmu peternakan yang sama sekali gak mendukung eksploitasi binatang demi nafsu manusia. Buktinya dia lebih milih traktor ketimbang kerbau buat ngebajak sawah.

“Kenapa?” Itu Gue bertanya kenapa soalnya pingin tahu alasannya.

“Lebih cepet.” Soleh menjawab cepat. Katanya traktor lebih cepat daripada kerbau. Dan kerbau itu pasti lebih besar daripada semut.

“Bukannya lebih cepet pake pesawat ya daripada pake traktor?” Gue nanya lagi pendapatnya. Menurut Gue sih lebih cepat pake pesawat ketimbang pake traktor.

Dan Soleh pun gak membalas tanya itu. Dia tetap melangkah maju. Gak nengok ke arah Gue secuilpun. Mungkin Soleh sepakat apa kata Gue, pesawat itu lebih cepat daripada traktor. Diamnya itu berarti meng-iyakan.

Dari perbincangan soal traktor dan kerbau itu Gue belajar. Pokoknya jangan ngeluh apapun yang terjadi. Biarpun hujan emas di negeri sendiri dan biarlah hujan batu itu terjadi di negeri orang. Selalu ada udang dibalik batu. Ada makna dibalik derita. Ciri khas orang yang berakal sehat itu adalah mereka yang bersabar dengan penderitaan sesaat. Mereka itu yakin bahwa penderitaan akan berbuah kebaikan yang banyak kelak. Jika dikasih nikmat, maka mereka bakal menahan diri dari kenikmatan sesaat itu. Karena bisa jadi justru kenikmatan itu berakibat pada derita yang luar biasa nantinya.

Jangan jadi banal tentang apa yang menimpa kita sesaat. Ada kunang-kunang dibalik warung remang. Ada hal luar biasa dibalik menjijikannya upil. Asal jangan samakan pasangan kalian dengan upil ya.

Semangat!

Itu pekik semangat yang entah datang dari mana. Mungkin itu suara-suara dari alam gaib. Mungkin mereka sedang menyemangati kami para generasi muda penerus bangsa ini untuk terus bergerak. Singsingkan lengan baju. Mari bergerak maju. Dan kami pun masih asyik duduk-duduk istirahat. Menikmati dinginnya udara malam ini.

Kami lalu mengakhiri kenyamanan ini dan segera melangkahkan kaki lagi. Sebagai generasi muda kami harus bisa keluar dari comfort zone kami ini. Jika terlalu lama terjebak dalam kenyaman pasti jadi ngantuk. Kalo udah ngantuk enaknya itu tidur. Dan Bung Karno dan Bung Hatta tentu aja gak suka jika generasi mudanya loyo kayak gitu.

Melangkah setapak demi setapak. Yang penting tetap melangkah. Nanti juga sampai kok. Semuanya bakal terlewati dan berlalu. Seperti halnya bau kentut yang meski bau tapi hanya bertahan sementara. Bau itu menghilang segera setelah tertiup oleh angin. Dan mari buat bapak-bapak bangsa itu tersenyum melihat generasi mudanya gak patah arang dan gak gampang menyerah.

Sekarang udah lepas dari jam dua belas. Dan udah masuk dalam periode waktu dini hari. Kami capek. Kami lapar. Kami pegal-pegal. Tapi, kami juga pingin segera menikmati hangatnya mie rebus dan secangkir kopi anget di atas sana.

Langkah kami percepat meski medan pendakian makin ekstrim saja. Di depan mata ada sebuah jalur yang dahsyat. Menanjak tajam, tanpa pegangan tumbuhan di kanan kirinya, dan licin pula. Dan itu harus kami lalui. Ah, Bismillah aja.

Akhirnya kami pun dapat melewatinya. Hingga setelah itu kami tiba pada sebuah dataran yang sedikit luas. Dimana di sana udah gak ada tanah yang lebih tinggi lagi buat didaki. Hanya langit bertabur bintang yang menjadi atapnya. Oh, inikah puncak Manglayang yang tinggi itu.

Oh, indahnya.

Puncak Manglayang menyapa kami dengan ramah. Dengan sapuan angin sepoi-sepoi yang dingin. Dan sajian kerlap-kerlip lampu jalanan di bawah sana. Di atasnya langit untung aja cerah dan berbintang.

Dan inilah sebuah mimpi yang kami idam-idamkan dari semenjak SD. Udah dua tahun belakangan kami mendiami tanah ini, dan baru sekarang ini kami bisa mencapai tanah tertingginya.

Terima kasih Manglayang.

 Gunung Manglayang I. 2006

Posted in: Short Story