Perempuan Dalam Pasung

Posted on February 4, 2014

0



Gubuk (dok klosetide)

Gubuk (dok klosetide)

PADA sebuah gubuk, yang dindingnya terbuat dari geribik bambu dan atapnya tersusun dari ilalang yang bersijalin, terpasung seorang perempuan gagu tanpa kesadaran. Ia kini hanya mampu diam dalam pasrah. Pun ketika seekor nyamuk blirik yang perutnya telah terisi penuh oleh darah hinggap di pipinya, ia bergeming.

Serangga bubuk dan anai-anai telah meremukkan tiang-tiang gubuknya yang terbuat dari bambu. Sengat matahari dan bulir-bulir air hujan bergiliran merontokkan atapnya yang tersusun dari jalinan ilalang itu. Tinggal menunggu roboh saja.

Dua buah gelugu besar yang telah diberi lubang mengapit erat kedua kakinya yang telah baal. Lepas setahun ini ia melangsungkan hidup dalam pasungan. Merambati malam-malamnya dengan hanya bertemankan lolong anjing hutan yang mencekam dan suara burung jampuk yang seperti mengancam.

Perempuan gagu, yang telah lenyap akal budinya, dalam kungkung pasung itu adalah Begu. Ia demikian kusut. Kerut-kerut di wajahnya yang telah lusuh mengabarkan senja usianya. Warna putih telah mendominasi rambutnya yang awut-awutan. Mukanya coreng moreng. Dan, kenaannya compang-camping. Sudah tidak nampak lagi paras ayu sisa kejayaan masa mudanya dulu.

Mulutnya terus berkecumik tanpa mampu dimengerti oleh siapapun. Sesekali ia asyik meringkik cekikikan. Lalu tiba-tiba saja matanya sembab berlinang.

Di bawah temaram rembulan sabit yang menembus melalui sela-sela rapuh atap ilalang itu, Begu termangu. Keadaan janda renta beranak satu itu amatlah nelangsa. Gubuk reot mininya tak berpelita. Tak ada ceplik—lampu minyak bersumbu, apalagi patromaks menerangi kesendiriannya yang sunyi.

Beruntung ia jika tiba tengah bulan, purnama ikut menjadi penerangnya. Itu juga andaikata hujan tak menyapa. Jika hujan benar-benar menyapa malamnya, maka sudah dapat dipastikan ia bakal kedinginan dan beku dalam kegelapan.

Seisi alam ikut bisu dan tak mampu berbuat apa-apa selain menyaksikan ceracau ratap pilunya itu, termasuk anak kandungnya sendiri.

***

Siapa sangka jika sebelumnya Begu adalah seorang yang penyayang—lazimnya rasa sayang seorang ibu lainnya yang ditunjukan kepada anak kandungnya sendiri. Rasa sayangnya itu diejawantahkan lewat dekapan rumah tangga yang tenteram, ia dan anak semata wayangnya, Gutin. Semenjak suaminya tiada berpuluh tahun silam praktis ia dipaksa membesarkan anaknya seorang diri.

Gutin pun tumbuh menjadi seorang perawan yang menawan. Sehingga membuat Rasmawi, seorang belantik, tertarik. Saat usianya belum genap 17 tahun Rasmawi resmi mengawini perawan kencur itu secara adat desa.

Rasmawi memang seorang belantik yang licik. Maskawin seekor kambing dijadikannya alat tukar keperawanan sekaligus kemolekan tubuh belia Gutin. Setelah mendapatkan kepuasan ia lalu menghilang bak setan tanpa jejak meninggalkan istrinya. Tak ada sepeserpun bekal penghidupan sepeninggalnya. Gutin menjadi sangat terpukul. Belum genap satu tahun ia mengecap manis kehidupan, kini ia harus terempas ke balik tabir kepahitan.

Menjalani hidup sebagai janda kembang bukan perkara mudah. Prasangka yang bukan-bukan, bahkan seringkali berujung serapah, tak jarang menghantam muka Gutin. Dia dianggapnya sampah yang telah mengotori desa dengan perilaku asusilanya—menggoda suami orang.

Janda kembang itu memang tak ada bandingan, belia usianya dan tubuhnya sintal. Jika dia lewat, berpasang mata lelaki memandanginya lekat-lekat bokongnya yang aduhai. Hmm. Istri mana yang sudi membiarkan para suaminya bermain nafsu dengan perempuan lain—meskipun baru sebatas nakal indra penglihat saja.

Mulut orang-orang desa, terutama para wanita yang telah bersuami, makin nyinyir saja. Ngerasani—bergosip, tentangnya adalah sarapan mereka. Yang paling bersemangat adalah Ruti, istri seorang carik desa. Entah oleh sebab apa ia selalu melampiaskan kekesalannya, biasanya sehabis cek-cok dengan suaminya, kepada sang janda kembang.

“Dasar perempuan sundal!” Maki Ruti.

“Siapa yang sampean maksud, Yuk?” Ning, seorang tetangganya ikut nimbrung ngerasani di rumahnya.

“Siapa lagi kalau bukan Gutin, anak si gagu itu.” Tukas Ruti.

“Oalah. Kalau ngomong mbok ya yang benar, Yuk. Jangan menyebar isu.” Hardik Tarti, seorang tetangganya lagi.

“Lho wong nyata-nyata dia sudah menggoda Kang Lupit, suamiku kok.”

“Lha itu mungkin suami sampean saja yang nakal toh, Yuk.” Tuduh Ning sambil terkekeh. Ia tak sepenuhnya mau menuduh, lebih tepatnya sekadar guyon, “Hehe..”

“Huss.. Kamu itu jangan memperkeruh suasana toh, Ning.” Sergah Tarti.

Ndak mungkin. Kucing ndak bakalan celingak-celinguk kalau ndak diiming-imingi ikan asin.” Ruti nampaknya terlalu serius sehingga tak meladeni ajakan guyon Ning.

“Tapi kucing sekarang lain, Mbakyu. Justru kucingnya sendiri yang mengendus-endus bau ikan asin itu.” Ning makin iseng saja. Ia telah menyiram bara dengan bensin, “Kucing khan memang doyan ikan asin.”

Ruti tersentak. Tapi, ia tak berkutik saat Ning berucap demikian. Mungkin ia tengah meresapi kalimatnya tadi.

“Hati-hati mulutmu bicara, Ning. Siapa tahu suamimu juga doyan sama ikan asin itu.” Tarti meluapkan kekesalannya kepada Ning yang mulutnya semakin menjadi-jadi.

“Huss.. Sembarangan sampean, Yuk.” Sergah Ning. Ia juga pasti tak suka suaminya dituduh seperti itu oleh Tarti.

“Lho siapa tahu toh? Lelaki mana yang ndak tergoda sama tubuh janda kembang macam Gutin yang bahenol itu?” Giliran Tarti yang menyerang Ning.

Sementara itu Ruti masih terdiam dalam simpuhnya.

Dan agaknya itu menjadi semacam sambungrasa antarwanita yang telah bersuami. Gutin menjadi kambing hitam atas disharmoninya hubungan rumah tangga orang lain.

Di saat Gutin bersimpuh tak berdaya di bawah lembah cerca, maka di atas bukit sakit hati seorang Begu lunglai berdiri. Kegetiran menyelimutinya. Ibu mana yang tak teriris hatinya menyaksikan darah dagingnya hanya menjadi bahan gunjingan.

Dalam kubangan kawah sakit hatinya itu terselip magma kekesalan.

Hingga tiba saatnya magma kekesalan pun pecah, dan menyemburkan lava pijar yang dahsyat. Begu kalap. Amarahnya tak terkontrol. Begu yang saat itu mendengar Ruti dan tetangganya mempergunjingkan anaknya itu langsung bertindak.

Letupan emosinya seketika ditumpahkan kepada Ruti. Dijenggutnya rambut Ruti yang panjang menjuntai hingga menutupi punggungnya yang langsat. Kemben yang membalut tubuhnya ditariknya kuat-kuat. Tak kuasa Ruti menolak. Semakin ia keras berusaha melepaskan diri Begu makin beringas.

Ruti ditinggalkan begitu saja tergolek bersimbah darah di pelataran rumahnya. Ia masih meraung-raung minta ampun.

Selesai urusan dengan Ruti, Begu mengalihkan api amarah pada rumahnya. Ia menuju dapur rumah untuk mengambil korek api dan dirigen minyak tanah.

Ia kini siap dengan aksi berikutnya: membakar rumah. Tak lama nampak percik api dari bilik rumah yang terbakar. Kepulan asap putih dengan segera membumbung tinggi. Dan tak sampai satu menit bagian belakang rumah itupun sudah berkalang asap pekat.

Tak ada yang bisa dilakukan oleh Tarti dan Ning atas kekalapan Begu itu kecuali hanya berteriak meminta pertolongan.

Sontak beberapa warga desa berlarian mendatangi sumber kericuhan. Sementara beberapa orang menyelamatkan Ruti yang tergolek remuk tak berdaya oleh amuk Begu, beberapa yang lainnya sigap mengambil air dari sumur di belakang rumah dengan wadah seadanya. Apa lacur, jilatan api yang besar itu bukanlah lawan sepadan mereka. Dengan cepat api telah meluluhlantakan bangunan rumah kayu itu sehingga menjadi abu, dan menyatu dengan tanah.

Peristiwa yang terjadi setahun silam itu sudah cukup membelalakan mata warga desa. Sekaligus dijadikan semacam eksepsi untuk mengalienasi Begu, yang dianggapnya telah menjelma menjadi seekor naga bersungut dua, yang penuh amarah, yang kapan saja bisa mengancam keselamatan nyawa manusia.

Semenjak peristiwa itu Begu teralienasi dari dunia luar. Ia dipaksa hidup dalam kerangkeng pasung.

***

Suara gangsir terdengar mendesir. Lamat-lamat suaranya merambat melalui angin yang berhembus dingin. Selepas hujan sore tadi pedukuhan mini itu menjadi sunyi senyap. Selalu saja, selepas azan maghrib raib sudah tidak ada kehidupan di halaman luar pedukuhan.

Dalam pekat malam, ketika binar bintang dan rembulan tak sanggup menembus kelam mendung, seorang lelaki setengah baya nampak mengarahkan kakinya ke arah rumah Gutin—yang kini sendiri. Lelaki itu adalah Lupit, seorang carik desa.

Langkah kakinya yang gontai memecah keheningan malam. Karena gulita pijakan kakinya tak terarah sehingga berkecipak menginjak kubangan lumpur pada jalanan yang becek. Lumpur pun menciprat ke segala arah mengotori celananya.

Keheningan suasana sekitar bukan malah menyurutkan langkah Lupit. Tua bangka tengik itu justru menganggapnya sebagai kesempatan. Ya. Apalagi jika bukan kesempatannya untuk memadu temu sekaligus memperturutkan nafsu dengan sang janda kembang. Obat dari segala rasa dingin adalah berselimut.

Yang dituju pun hadir di depan mata. Rumah di bawah lembah itu nampak menyatu dengan rimba. Hanya ceplik kecil sebagai penerang alakadarnya. Sisanya, hanya ada suara riak air dari sungai kecil yang mengalir di sebelah rumah. Dan gemerisik dedaunan yang bergesek tersapu angin.

Pintu terketuk dari luar. Seorang lelaki, yang bibirnya menggamit lintingan tembakau dengan bara kecil di ujungnya, berdiri di balik pintu. Sesaat kemudian, kelepus asap putih dihembuskan oleh mulutnya.

Ah, sang tuan rumah sudah menebaknya siapa gerangan sosok yang teronggok dari balik pintu itu. Sebelum ketukan berikutnya berbunyi, Gutin sigap bertindak. Pintu telah terbuka.

Sebelum masuk Lupit sempatkan menengok ke arah belakang, memastikan jika tak ada mata yang mengamatinya. Selepas tamu yang ditunggu benar-benar masuk Gutin mengedarkan pandang pada sekitar luar rumahnya, memastikan pula jika tak ada mata yang mengamati jejak kedatangan Lupit malam itu. Setelah itu, dia menutup pintu rapat-rapat. Menguncinya dari dalam.

Sampean datang sendiri bukan?” Tanya Gutin gugup.

Lupit hanya mengangguk cepat, dan anggukannya itu mencipratkan bulir-bulir air dari rambutnya yang kuyup. Segera dilepasnya kemeja yang telah basah oleh serbuan rintik hujan. Celananya yang sudah setengah basah, bahkan bagian bawah lututnya sudah bercorak lumpur, turut dilepasnya pula. Kini ia hanya mengenakan celana kolor dan kaos singlet sebagai penutup bagian atas tubuhnya.

Melihat Lupit diselimuti oleh kuyup Gutin bertindak. Dia beranjak ke belakang rumahnya dan mengambilkan handuk untuknya. Usai itu, ia menuju dapurnya. Memanaskan air dan menyiapkan gelas serta kopi hitam. Maksudnya adalah membuatkan tamunya itu minum.

Ndak usah repot-repot, Tin.” Cegah Lupit. Ia tahu jika sang tuan rumah sedang membuatkannya minuman. Denting gelas beling yang beradu dengan sendok mengisyaratkan itu.

Cegah Lupit nampaknya sia-sia. Gutin telah siap dengan segelas kopi hangat yang dia bawa di atas baki kayu.

Monggo, Pak.”

“Ah, kamu repot-repot, Tin. Duduk saja sini, Nduk.”

Lupit beringsut sedikit dari lincak yang didudukinya. Derit suara pelupuh bambu terdengar riuh. Gutin menangkap jelas maksud pesan itu. Untuk sesaat dia masih ragu—lebih tepatnya ragu-ragu. Pasalnya lincak yang diduduki oleh Lupit itu sempit dan hanya cukup untuknya. Mustahil untuk diduduki berdua—apalagi dia sadar jika bokongnya lebar bak telur dadar.

Hmm. Sudah dapat diduga. Lupit memang pandai bersiasat bejat. Secara sadar ia menyuruh Gutin untuk duduk dengannya dalam satu lincak yang ia sadari pula takkan cukup untuknya dan Gutin. Bukan untuk duduk di sampingnya, melainkan duduk di atas pangkuannya.

Gutin lantas manut saja. Dia kini sudah berada di atas kedua paha kerempeng Lupit: pangku.

“Nah, begini khan kepenak toh.”

Perlahan Lupit mulai menggamit jemari halus Gutin.

Dan kian malam hasrat kotornya kian menggelora. Satu per satu selorohan cabul pun keluar dari mulutnya. Obrolan santai di ruang tamu beranjak menjadi obrolan soal nafsu.

“Kamu tidak sedang merah bukan?”

“Tidak, Pak.” Gutin menjawab pelan.

“Panggil saja aku Mas, biar lebih akrab. Hehe.” Ia terkekeh. Tangannya tak berhenti meremas-remas jari-jemari Gutin, “Tangan kamu dingin benar, Tin. Sini biar Mas angetin.”

Gutin hanya mengangguk sekali. Mulutnya terkatup.

“Kamu tidak sedang merah bukan?” Ia mengulang tanya. Tak sabar, memastikan sekali lagi.

Kali ini Gutin tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggelengkan kepalanya.

Lupit girang bukan main. Mungkin malam ini menjadi rejekinya, Gutin tak sedang merah. Artinya, dia siap melayaninya malam ini.

Gutin masih berada di atas pangkuannya. Makin mesra. Laksana anak ayam yang meringkuk di bawah ketiak induknya, begitulah Gutin yang dengan nyamannya dibelai oleh Lupit. Tubuhnya layu bersandar pada dada lelaki yang tak lagi bugar. Lehernya seakan tak bertulang sehingga kepalanya dibiarkan lunglai di atas pundak kanan Lupit. Dia benamkan dalam-dalam raganya dalam dekap hangat lelaki cabul itu.

Lima tahun menjanda bukan persoalan yang mudah bagi Gutin. Ah, perempuan mana juga yang sanggup menahan hasrat berahinya hingga selama itu. Dan melihat lawan jenis yang punya hasrat yang sama dengannya malam itu adalah ketiban pulung yang tanpa duga. Hasrat keduanya pun bersisambut.

Lupit semakin bersemangat meladeni kepasrahan tubuhnya. Ia terus mengelus-elus wajah Gutin yang halus.

Gutin diam saja saat Lupit kemudian merangkulnya. Membelainya lagi. Dan, pelan-pelan menciumi tengkuknya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Seketika Gutin merasakan bulu kuduknya tegak berjingkatan. Lupit menikmati betul saat napasnya terengah-engah cepat. Jantungnya berdegup kencang. Gutin membiarkan tangan lelaki cabul itu berlaku sembrono di atas lekuk tubuhnya. Dengan cepat mereka telah dikuasai oleh renjana berahi.

Malam kian gelap saja. Langit pun beranjak pekat. Mendung dikandung oleh langit. Sebentar kemudian hujan turun dengan derasnya. Lupit terjebak dalam dekap malam dingin bersama Gutin. Mereka masih di ruang tamu saat petir bergelegar menyambar-nyambar dari luar.

Bosan di ruang tamu, keduanya pun beranjak ke kamar memperturutkan nafsu. Mereka melanjutkan kemesraan dalam selimut remang kamar tidur.

Semuanya berlalu dalam gelap.

Di luar angin barat bertiup menyapu kembang sedap malam membawa serta aroma wangi dari tiap helainya yang telah mekar. Dari kejauhan remang malam kilat nampak patah-patah seperti jepret lampu kamera. Mengukir mega dengan kilaunya.

Suara jangkrik mendesir bersahutan. Hujan masih turun renyai membaluri daun-daun jati. Rinai rintik hujan yang menghujam ke atas seng talang air menyajikan irama tanpa nada tapi terdengar merdu menyaru dengan desah dua sejoli yang tengah memadu berahi.

Ceplik dalam rumah Gutin telah padam. Sumbunya telah kering tak diresapi lagi oleh minyak tanah. Sulang berhenti mewarnai atap rumah dengan jelaganya.

“Ini untuk jajan, Tin.”

Sang tamu mengakhiri jam berkunjungnya.[]

Posted in: Short Story