Sebelum Matahari Tenggelam

Posted on February 1, 2014

0



Sebelum Matahari Tenggelam (dok klosetide)

Sebelum Matahari Tenggelam (dok klosetide)

 

01

Pada sebuah gerbong kereta, sepasang suami istri tengah meributkan sesuatu yang tak sepenuhnya aku mengerti. Lebih tepatnya mereka tengah cek-cok. Mereka duduk tepat di seberang bangku yang kududuki.

Sungguh mengganggu. Aku tak tahan mendengar keributan itu. Konsentrasi membacaku jadi tak fokus. Segera kuputuskan untuk mencari tempat duduk lain.

Nampaknya Tuhan tengah berpihak kepadaku. Kini, di seberang tempat dudukku yang baru, seorang gadis berambut ikal panjang nampak serius membaca buku, sama sepertiku. Nampaknya ia pun terusik oleh kegaduhan sepasang suami istri tadi. Kita saling berpandang.

“Tahu yang mereka ributkan?” tanyaku memulai sapaan.

“Iya, tahu.” Jawabnya diiringi senyum.

“Hmm. Apa yang kamu baca?” aku kembali mengulang tanya.

Ia hanya menjawab dengan menunjukan cover depan buku itu. Sebentar, aku paham buku apa itu.

“Buku apa yang kamu baca?” tanyanya sama.

Entah kikuk atau kaget, aku pun sama, hanya menunjukan buku yang kupegang tanpa mau mengucap judul.

Sebelum melanjutkan obrolan, sepasang suami istri tadi nampak gusar. Melewati jalur tengah tempat duduk kita dan keluar. Hal itu cukup mengganggu kita. Akhirnya, aku putuskan untuk mengajaknya ke restorasi. Atau setidaknya tempat yang lebih tenang untuk sekadar berbincang.

“Apa tidak lebih baik kita cari tempat yang lebih tenang?” aku basa-basi. Menawarinya agar turut serta.

“Oke!” satu jawaban pasti yang kuiringi dengan senyumku.

Kita pun beranjak dari tempat duduk. Menuju ke sebuah sisi kereta yang lebih hening.

Meski kereta yang kutumpangi adalah kereta eksekutif, tetap saja guncangannya membuat langkahku sedikit gontai. Harus mencari pegangan untuk merambati lorong gerbong. Kulihat ia pun sama. Bertindak sepertiku. Bahkan langkahnya lebih gontai dariku. Sesekali ia menengok ke belakang, ke arahku, dan tersenyum. Tersipu sebab langkah kecilnya itu menjadi pemandangan yang cukup menggelitik.

“Disini saja.” Ajakku sesaat melihat bangku kedua dari ujung pintu masuk restorasi tak berpenghuni. Aku segera duduk. Kulihat ia tengah sibuk membuka buku menu.

“Orang asli sini?” tanyaku.

“Kenapa menebak seperti itu?” tanyanya balik.

“Hmm. Sebab kamu tahu apa yang mereka perbincangkan tadi.” Balasku.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Iya. Sepasang suami istri yang ribut tadi. Mereka memakai bahasa daerah lokal aku pikir.” Jawabku.

“Oh. Iya,” kemudian melanjutkan, “aku asli sini. Tepatnya dari pesisir utara pulau Jawa.” Jawabnya.

“Dimana?” tanyaku lagi.

“Jepara.”

“Dimana itu?”

“Di Jawa.”

“Iya. Aku tahu itu. Tapi, dimana tepatnya?”

“Tahu Semarang?” tanyanya.

“Iya. Aku tahu.”

“Dekat situ. Ke utara sedikit.”

“Oh, iya.” Aku mengangguk. Meski tak begitu tahu letaknya, kuanggukan saja.

“Kamu orang mana?” tanyanya.

“Hmm. Kira-kira menurutmu?”

“Ih. Ditanya kok malah balik nanya.” Tukasnya diiringi senyum.

“Aku dari Bandung.”

“Asli Bandung?”

“Iya.”

“Tepat dugaanku.”

“Kenapa?”

“Iya. Sebab kamu putih.”

“Lalu, apa hubungannya?”

“Orang Bandung terkenal dengan kulitnya yang putih,” kemudian melanjutkan, “tidak sepertiku, orang Jawa, item.”

“Iya. Tapi, manis.” Cegatku.

Nampaknya ucapanku membuat ia sedikit tercekat. Bergeming dan menatapku malu. Entah kenapa kata “manis” menjadi pilihan kataku untuk mendeskripsikannya. Terkadang spontanitas adalah kejujuran yang terasa seksi. Dia memang sawo matang. Tapi, dengan itu, nampak sekali keindahan parasnya yang lugu.

“Jadi, kamu mau kemana?” tanyanya disela lamunan.

“Aku mau ke Jogja.”

“Aku juga pingin ke Jogja. Tapi..”

“Tapi kenapa?” cegatku.

“Aku harus segera ke rumah. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan.”

“Kenapa gak coba sejam atau dua jam sebentar menikmati indahnya kota jogja?”

“Hmm.” Iya tak pasti menjawab. Tapi, yang kutahu dia terlihat tertarik dengan usulku itu.

“Kamu naik dari mana?” tanyaku lagi.

“Dari Bandung. Stasiun Kota.”

“Oh Stasiun Hall?”

“Iya. Kamu?”

“Sama. Dari situ juga.”

“Kemana tujuanmu?” tanyanya cepat.

“Bukannya udah aku jawab tadi, ya?”

“Oh iya. Jogja!” cepat dia menyambar.

Dia nampak gugup. Aku pun sama. Tapi, kegugupannya melebihi punyaku. Itulah perempuan yang memang lebih ekspresif. Terutama dalam mengungkapkan kegugupannya.

“Liburan?” tanyanya.

“Sebenarnya aku mau ke Semarang menemui temanku disana? Tapi..”

“Tapi kenapa?” sambarnya.

“Entah kenapa Jogja menjadi penyihir buatku.”

“Penyihir?”

“Ia seperti punya mantra yang mampu memelet setiap orang yang pernah mengunjunginya. Termasuk aku.”

“Jadi, kamu mau jalan-jalan dulu di Jogja?”

“Tepatnya pingin makan di angkringan, menikmati kopi joss, sambil nongkrong di sudut Malioboro.”

“Aku juga berpikiran sama. Jogja seperti rumah keduaku. Bukan karena aku kuliah disana. Tapi, lebih karena suasananya yang ramah sehingga membuat betah.”

“Kita sama.”

“Sama kenapa?”

“Eh. Anu.. Ee.. Iya sama punya pikiran kayak gitu,” aku tercekat. Gugup, kemudian melanjutkan, “kok bisa sama ya?”

“Hehe..” dia hanya melempar senyumnya.

“Lalu, kenapa gak pake pesawat biar lebih cepat?”

“Hmm. Entah kenapa aku suka dengan kereta. Bepergian memakai kereta lebih nyaman ketimbang dengan pesawat atau bus.”

“Kamu sendiri gimana?”

“Gimana apanya?”

“Kenapa memakai kereta?”

“Simpel. Karena leih murah. Hehe..”

“Benar sekali. Aku sebenarnya juga lebih memilih memakai kereta ekonomi daripada eksekutif atau bisnis. Temanku pernah bilang jika kita pingin melihat sebenar-benarnya Indonesia, maka pakailah kereta ekonomi. Dimana disana kamu harus berbagi ruang, bukan hanya dengan manusia, tapi dengan ayamlah, kambinglah, sepedalah, dan berdesakan dengan mahluk-mahluk dari seluruh penjuru tanah air. Kamu setuju?”

“Iya. Aku juga sama. Kereta kelas ekonomi yang ekonomis biasanya jadi pilihan utamaku. Tapi, karena ayahku tahu aku bakal naik kereta, jadi ia membelikanku tiket eksekutif.”

“Lebih tepatnya karena bisa jajan sepanjang waktu.”

“Hehe..”

Jam demi jam berlalu. Tak terasa. Kereta berhenti sejenak di stasiun Purwokerto. Sudah setengah perjalanan. Kira-kira 5 jam lagi sampai di Jogja.

“Wah udah Purwokerto. Sebentar lagi kita sampai. Gak kerasa ya?”

“Kamu masih kuliah?” tanyaku.

“Iya.”

“Dimana?”

“Di UGM, Jurusan Psikologi.”

“Wow. Great! Yo are a smart girl

“Kenapa?” dia tersipu.

“Karena gak gampang masuk di universitas ternama dengan jurusan ternama juga.”

“Ah, enggak. Biasa aja kok.”

“Buatku itu luar biasa.”

“Kamu sendiri?”

“Aku juga masih kuliah.”

“Dimana?”

“Hmm. Di universitas biasa dan jurusan biasa pula.”

“Emang ada gitu jurusan dan universitas biasa?”

“Hehe.. Aku kuliah di Undip.”

“Lho! Undip? Bukankah itu di Semarang toh?”

“Di Bandung.”

“Sejak kapan Undip pindah ke Bandung. Setahuku itu pindah ke Tembalang. Tapi, masih di Semarang.”

“Universitas Di Padjadjaran.”

“Haha.. sial!”

“Jangan terlalu serius. Orang serius cepet kawin lho.”

“Hehe..”

“Aku kuliah di Unpad, di Sospol—Sosial Politik.”

“Wah bagus. Calon birokrat dan politikus.”

“Ah, enggak. Biasa saja.”

Kereta masih melaju dengan kecepatan tinggi. Membawa makhluk-makhluk didalamnya ke Kota Sultan. Sudah menjelang sore. Sudah 8 jam dilalui. Sebentar lagi, dan dalam hitungan menit kota yang dituju sampai. Semoga kereta melaju lebih cepat dan tak terlambat seperti biasa.

 

02

Selamat datang di Stasiun Tugu, Jogjakarta.

Suara petugas kereta api membangunkan lamunanku. Aku harus bergegas turun.

“Sebenarnya aku masih pingin ngobrol lebih panjang. Tapi, karena sudah sampai jadi..”

“Jadi kenapa?”

“Hmm.. mau gak kamu turun disini. Ya sekadar satu dua jam jalan-jalan. Menghabiskan waktu sore.”

“Tapi, aku harus cepat-cepat pulang ke rumah.”

“Tapi kamu masih pingin ngobrol juga, khan?”

“”Iya sih. Tapi..”

“Ayolah. Kapan lagi kita ketemu.” Aku terus merayunya untuk turun bareng di Jogja. Kulihat dia berpikir.

“Gimana ya.”

“Ayolah. Kapan lagi kita ketemu.”

“Tapi.. kita mau ngapain aja disini?”

“Menghabiskan waktu aja. Menunggu petang sambil makan nasi kucing di angkringan, mengunjungi keraton, nonton teater, meramal nasib, atau sekadar jalan berdua.”

“OK!”

“Yes!”

Kita pun melangkahkan kaki keluar dari gerbong kereta. Menuruni tangga gerbong dan menuju ke dalam stasiun. Jalan saja, mengalir.

“Mau kemana kita?” tanyanya.

“Langkahkan kaki saja. Gone with the wind.”

“Kayak judul film aja.”

Kita pun keluar stasiun kota. Tak tahu harus kemana. Hanya berjalan. Berdua melangkahkan kaki. Hanya sekadar mengisi waktu. Tepatnya menunggu tujuan berikutnya, ke Semarang, esok paginya.

Aku pun mengajaknya untuk menghabiskan waktunya di Jogja, sebelum petang menjelang. Sekadar jalan, mengunjungi museum, nonton teater, menikmati pasar malam, mengunjungi Taman Pintar, keliling Monumen Tugu, meramal nasib, menikmati bintang di langit kota, atau sekadar melangkahkan kaki berdua.

Merambati detik demi detik hanya dengan kalimat. Kata demi kata keluar tak berarah dari mulut kita. Dari obrolan masa lalu, obrolan tentang keluarga, obrolan tentang aktivitas masing-masing, dan tentunya obrolan soal cinta.

Waktu menjadi tak berarti sama sekali. Tak terasa. Jika sudah dalam keadaan mesra, fokus menjadi hal yang gampang diraih. Semua hal yang merumitkan pikiran seketika lenyap dan hanya terfokus pada kekasihnya.

Malam seperti didesain dengan banyak kerlip bintang yang indah. Terus melangkahkan kaki tanpa arah. Hanya menghabiskan waktu dengan berbincanglah yang dituju. Tak peduli sudah berapa kilometer jarak yang ditempuh sang kaki. Tak jadi soal perut keroncongan dan peluh bercucuran. Toh kita tetap saja asyik ngobrol. Itulah cinta, yang dengannya setiap detik menjadi punya makna. Aku pun tak ambil pusing dengan rasa capek dan lelah efek perjalanan jauh.

“Eh siapa namamu?” tanyanya kemudian.

Berjam-jam kita lalui ternyata kita belum saling kenal. Setidaknya untuk mengenal nama masing-masing. Aneh.

“Oh iya ya, kita belum berkenalan.”

“Namaku Ayu.” Katanya sambil mengulurkan tangan, yang langsung kusambut.

“Aku Tyo.”

So, what we doing next?”

“Menyambut datangnya petang.”

“Ke mana?”

“Malioboro!” jawabku cepat.

 

Posted in: Short Story