Tangan-tangan Setan

Posted on January 31, 2014

0



Jalan Desa (dok klosetide)

Jalan Desa (dok klosetide)

Benar-benar kematian berantai. Kemarin pagi ada lagi yang mati. Belakangan baru aku tahu namanya Pak Kusno. Ia adalah seorang lebai desa, seorang aparat desa yang mengurusi urusan keagamaan. Sebab ia meninggal adalah batu jalan desa. Katanya ada batu seukuran bola tenis yang terbaring iseng di jalan maut itu. Tak sengaja, ia menggilasnya. Lalu dia terpental dari sepeda ontelnya. Jatuh, pelipis kirinya beradu dengan batu. Dan, seketika mati.

Sudah menjadi kebiasaannya lewat jalan itu. Dan biasanya tak mengapa. Tapi, sial saja senin pagi itu, ia harus beradu dengan batu. Mungkin sudah nahasnya.

Maut memang misterius. Kematian Pak Kusno sungguh tak disangka dan dinyana. Jumat lalu masih aku ingat ia menjadi khotib sekaligus imam saat Salat Jumat. Artinya hanya berselang tiga hari ia mati setelah memberikan khotbah dan mengimami jamaah desa ini. Memang ini sudah menjadi suratan takdir.

Saat khotbah jumat lalu sempat disinggung olehnya soal takdir. Katanya yang namanya lahir, mati, rejeki, jodoh, itu sudah diatur-Nya. Manusia tinggal menuruti saja. Nrimo ing pandum. Pasrah kepada Sang Penulis Takdir.

Dan kematian Pak Kusno yang serba tiba-tiba itu juga jawaban atas takdir adanya. Tak ada yang kuasa menolaknya. Orang-orang desa jelas tahu hal itu. Sebab mereka juga bilang mengimani adanya qada dan qadar.

Dan oleh karenanya mereka membuat ritual, tepat di jalanan Pak Kusno meregang nyawa. Sesajen dihidangkan. Kembang tujuh rupa ditaburkan. Doa-doa dipanjatkan. Jampi-jampi dirapalkan. Warga desa memang kompak dalam melakukan praktik klenik seperti itu.

Dengar-dengar itu dilakukan sebagai ikhtiar agar arwahnya tidak gentayangan dan mengejar-ngejar orang desa yang lewat, iseng benar. Ki Marjoko, kamitua desa, bilang itu sebagai tolak bala; biar tak ada lagi korban jiwa berikutnya di jalan desa itu. Bahkan ia juga menyuruh warga untuk memberi sesajen ke makam Ki Ronggoselo, seorang baureksa desa Karangjati ini. Katanya, agar Ki Ronggoselo selalu melindungi dan menjauhkan desa ini dari segala bala dan bencana. Petuah Ki Marjoko memang selalu bernas.

Jalan ke desa Karangjati. Jalan yang sering meminta tumbal warga itu memang letaknya di ujung desa—pintu masuknya orang-orang ke desaku. Tepat bersebelahan dengan Pekuburan Alas Jati, dimana Ki Ronggoselo dikebumikan. Kata orang-orang sekitar jalan desa itu angker. Bukan karena letaknya saja yang dekat kuburan, tapi sepanjang jalanan itu juga tak berpenerang. Uh, sungguh gelap gulita jika malam menjelang.

Bukan karena kemalasan warga atau sebab minimnya uang kas desa untuk memberinya pelita. Sudah berkali-kali dipasang lampu jalan, tapi toh mati juga. Entah kenapa. Seperti jajan saja, baru diganti seminggu sudah mati lagi. Capek, akhirnya dibiarkan saja sampai akhirnya korban pun berjatuhan. Dan terakhir adalah Pak Kusno—yang sepengetahuanku ia adalah korban kelima dalam kurun waktu setahun terakhir ini.

Benar-benar jalan maut. Batu-batu sudah mulai keluar bermunculan dari tempat yang semestinya. Lapisan aspal sudah mulai keriput bak kulit nenek-nenek. Jalanan jadi semrawut. Belum lagi jika hujan. Jalanan mendadak acak adut. Berantakan seperti kapal pecah. Semuanya jadi bergoyang seiring alunan rintik hujan. Laksana berjalan di kampung dangdut saat hujan mengguyur jalanan. Licin di sana-sini. Jangankan untuk dilewati oleh manusia, semut pun malas meliriknya.

Aku yang payah. Pagi buta harus mengayuh sepeda ke sekolah. Pulang, kadang malam dan harus bersusah-susah.

Bisa dibayangkan, harus bersepeda di jalanan berbatu dan tanpa lampu. Alangkah sialnya aku. Lebih kasian lagi adalah sepedaku. Saban hari harus berjibaku dengan kerasnya batu jalanan itu.

Laksana makan buah simalakama. Entah apa rasanya. Melihat batang hidungnya buah itu saja aku belum pernah. Tapi, dengar-dengar seperti itu peribahasanya. Dimakan pahit, dibuang sayang. Apa lacur, dilewati salah, tak dilewati, lalu mau lewat jalan mana? Serbasalah jadinya.

Yang lebih mengerikan lagi adalah cerita soal makhluk penunggu jalan desa itu. Buatku cerita tentang hantu penunggu jalan itu cukup berefek. Biasanya, selepas pulang sekolah aku masih bisa mengikuti kegiatan ektrakurikuler dan berani pulang petang. Tapi, semenjak rumor soal hantu yang sering meminta tumbal di jalan desa itu berhembus kencang, nyaliku mendadak ciut. Kelelakianku menjadi kecut. Tak berani lagi aku pulang petang. Kadang pulang selepas adzan Maghrib pun aku ketar-ketir. Bulu kudukku suka tiba-tiba merinding. Apalagi jika malam jumat kliwon. Ah, mending tak usah pulang sekalian.

Acara televisi di saluran 3 juga suka resek. Tahu sendiri, tontonan di saluran televisi swasta itu selalu menakut-nakuti penontonnya. Masifnya tayangan televisi dalam mengeksploitasi hantu saat malam jumat kliwon ikut menambah kisruh relung imajinasiku saja. Parahnya lagi acara di televisi itu juga mengajarkan kebohongan: tips menghibur hantu biar tidak marah.

Pantas saja, jalan maut itu kini ramai oleh sesajen. Kembang tujuh rupa kayaknya menjadi hiasan sudut jalanan. Konon itu untuk menghibur hantu-hantu di sana. Biar mereka tak lagi makan orang. Mungkin hantu-hantu sekarang butuh hiburan.

Belajar dari pengalaman, warga pun disiplin dalam memberi makan hantu-hantu itu. Soal ini, aku mungkin belum cukup umur. Aku masih anak ingusan, jadi nalar ini tak sampai dalam menjangkaunya. Lagian di sekolah juga tidak diajarkan tentang ilmu gaib.

Aku kadang suka heran. Bukan heran kenapa hantu itu minta makan. Aku maklumi jika soal itu. Toh, dia mahluk Tuhan juga. Jangankan hantu, tumbuhan pun butuh asupan makanan. Tapi, apa benar hantu dan kawan-kawannya itu makan orang? Iseng benar. Kenapa tidak ternak atau tumbuhan saja yang dimakan. Tahu begitu, kenapa juga orang-orang desa masih saja menaburi jalan dengan kembang, tak logis bukan? Bodoh juga hantu itu, mau-maunya dihibur dengan kembang. Ah, entahlah. Kadang setan juga tidak logis. Mengikuti manusia yang tak logis juga.

Itu baru soal makanan. Belum lagi soal kehadirannya yang serbamisterius. Katanya mereka ada, tapi kenapa aku tak pernah melihatnya. Meski takut, aku kadang berharap bisa sebentar melihatnya. Barang semenit juga tak apalah. Penasaran!

Aku pingin tahu si pembunuh misterius itu. Kalau memang benar dia tersangkanya, aku ingin tahu bagaimana dia melakukannya. Apa motifnya? Ini jadi rasa penasaranku yang demen membaca cerita horor dan misteri Hannibal Lecter karya Thomas Harris. Apakah dia secerdas Hannibal Lecter yang dengan dingin membunuh orang tanpa sedikitpun rasa bersalah?

Pasti ini gara-gara novel The Silence of the Lambs yang baru saja selesai kubaca. Jelas ini pengaruh darinya. Laksana seorang Clarice Starling yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Hannibal Lecter. Aku menjadi tertantang dengan semua kasus kematian warga desa yang serbamisterius itu.

Mungkin Clarice Starling telah menitis kepadaku. Dan aku seakan diberikan mandat olehnya untuk menyelidiki kasus ini. Misiku memecahkan misteri kematian berantai yang terjadi di jalan desa ini. Apakah semua itu ulah hantu ataukah ulah manusia yang terlambat memberi sesajen kepada Ki Ronggoselo sehingga ia marah dan meminta tumbal, atau jangan-jangan memang sudah takdir kematian mereka itu?

***

Dan kemarin malam prahara rumah tangga orang tuaku pun berulang. Ayah ibuku cek-cok lagi. Adalah ulah ibuku yang melabrak ayah saat mengetahuinya pulang larut malam. Aku seperti bosan mendengarnya. Sebetulnya aku tak sengaja mendengarnya. Ah, bagaimana tak terdengar, wong kita tinggal satu atap dan dalam dimensi ruang yang sama. Tak sengaja didengar pun pasti bakal terdengar—meski kadang aku suka menghindar keluar jika perang sudah menggelegar.

“Urusan jalan itu khan urusan orang banyak.” Begitu kata ayahku, menenangkan ibuku yang terlanjur mencak-mencak.

Ternyata bukan soal keterlambatan Ayahku pulang yang menjadi pangkal kemarahannya. Pemicunya adalah urusan nafkah. Kata ibuku, ayah terlambat memberinya nafkah. Kebiasaannya, tiap awal bulan sebelum tanggal tujuh ayah sudah memberinya uang belanja. Tapi, bulan ini dia terlambat.

Sekarang bahkan sudah tanggal sepuluh. Dan uang belanja pun tak kunjung sampai di tangannya. Bagaimana dapur bisa ngebul? Rumah tangga juga butuh bahan bakar.

Menanggapi itu, ayahku punya kilah. Dia bilang gajinya terlambat turun. Mungkin itu yang namanya hukum sebab akibat yang kupelajari di sekolah: uang gaji bulanannya terhambat, jadi uang belanja juga terlambat.

Ibuku memang tak berani mengusiknya—atau memang tak ada niat untuk menelisiknya? Kantor punya sendiri, kenapa harus terlambat gajian. Kenapa bisa terhambat padahal selama ini ayah selalu pulang terlambat (lembur). Bukannya dihadiahi bonus atau aplaus, eh malah gajinya yang tergerus.

Kalau ibuku saja tak mau tahu, atau tak berani bertanya, apakah aku harus bertanya demikian kepada ayahku? Biarlah itu menjadi urusan orang tuaku. Aku tak mau ambil pusing. Dan aku juga tak mau ikut campur urusan orang dewasa. Sudahlah. Biar jadi urusan mereka berdua. Anak kecil, aku, tahu apa. Begitu pasti nanti kata mereka.

Usiaku sudah memasuki 17 tahun. Setidaknya aku sudah bukan anak-anak lagi. Tapi, Ayahku masih menganggapku anak kecil. Dan anak kecil tak boleh ikut campur urusan rumah tangga orang tua. Apalagi menyangkut urusan kantor kontraktor tempat ayahku mengais rezeki itu.

Tapi, aku menganggap ini sebagai urusan yang penting. Bahkan sangat serius. Masalah mereka itu juga menyangkut masa depanku.

Bagaimana tidak? Setiap mereka cek-cok beberapa hari setelahnya pasti saling diam. Ayahku tak menegur ibuku hingga beberapa hari. Begitu pula sebaliknya. Kalau sudah seperti itu akulah pasti yang kena getahnya. Pola makanku jadi berantakan, belajar juga tak fokus, tidur jadi tak tenang, dan yang terpenting: pasokan amunisi uang jajanku terhambat dan tak selancar biasanya. Bahkan sering dikurangi, atau tak diberi uang jajan sama sekali.

Bagaimana aku bisa tahan jika terus seperti itu?

***

Seperti tak pernah jera, hari ini ayahku bahkan makin menjadi-jadi. Ia membuka pintu disaat ibuku sudah berlabuh ke alam mimpi. Dia pulang larut malam lagi. Sehingga bukan menjadi kejadian yang luar biasa, layaknya kematian berantai di desa ini, jika esok pagi prahara muncul lagi.

Ayahku memang pekerja keras. Dia rajin pulang larut dan berangkat saat fajar. Selepas subuh dia sudah angkat kaki dari rumah. Dan tak pernah kurang dari jam sebelas malam dia masuk kolong genteng.

Entah berapa banyak sarana publik yang sudah dia buat, termasuk jalan desa ini. Bukan aku sombong, tapi ayahku boleh dikatakan sebagai pahlawan desa. Warga desa pun sepakat mengakui demikian. Jalanan yang membentang dari ujung ke ujung desa adalah hasil karyanya. Wajar saja jika orang desa begitu menaruh hormat pada sosoknya. Apalagi aku, anaknya satu-satunya, yang sudah pasti menaruh hormat lebih padanya.

Akhir-akhir ini aktivitas kantornya menjadi lebih padat dari biasanya. Katanya ini risiko pekerjaannya sebagai kontraktor jalan. Harus wara-wiri keluar kotalah, lobi sama pemerintahlah, janji dengan kontraktor lainlah, beli aspallah, ah pokonya macam-macam alasannya. Maklum, semua itu katanya urusan publik, jadi harus didahulukan.

Mungkin termasuk untuk urusan yang satu ini, ketika seorang dari balik pekat malam datang mengetuk pintu rumah. Rupanya Pak Eko, kepala desa, yang berkunjung selarut ini. Baru sejenak dia sampai padahal. Dan belum juga sempat selonjoran kaki dia harus menerima tamu; demi urusan publik.

Daripada tak ada kerjaan, mending aku menguping saja pembicaraan keduanya. Mengintip di sela-sela lubang jarum bilik pembatas ruang tamu dan ruang makan rumah.

“Hehe. Jam segini sudah sepi saja. Sudah tidur semuanya toh, Pak Suryo? Tumben. Biasanya Aryo masih melek jam segini.” Pak Eko memulai perbincangan. Aku tahu itu basa-basinya. Mana dia tahu kebiasaanku yang masih melek jam segini?

“Langsung saja ke intinya, Pak Eko.” Ayahku nampak kesal dengan basa-basinya. Tahu rasa dia!

“Hehe. Nyuwun sewu mengganggu sampean malam-malam begini, Pak Suryo.” Pak Eko terlihat belingsatan. Dari tadi tangannya tak lepas dari membenarkan kopiahnya yang miring, “Begini, Pak Suryo. Anu, hehe. Sisanya kok ndak datang-datang toh ya?”

“Sisanya?”

“Hehe. Lho masa sampean lupa. Ya sisa uang dari pembangunan jalan desa itu toh ya. Hehe.” Kekehnya yang kaku itu tak menunjukan wibawanya sedikitpun sebagai kepala desa, setidaknya di depanku saat ini.

“Uang mana lagi, Pak Eko? Sudah habis semuanya untuk membangun jalan.” Ayahku makin kecut saja mukanya.

“Hehe. Ah, masa iya habis.” Dia menyulut kreteknya. Kepul asap putih keluar dari mulutnya, “Wong mandornya saja bilang ke saya kok kalau kontraktornya untung gede. Hehe.”

Ruangan tamu mendadak seperti diselimuti kabut. Aku hanya mampu melihat samar-samar. Jarak pandang menjadi terbatas. Ah, tak apalah. Yang penting aku masih bisa mendengar suara obrolan mereka.

Monggo saja dicek ke kantor kalau sampean ndak percaya, Pak Eko.”

“Hehe. Kalau saya cek nanti sampean malah malu, Pak Suryo.” Kepul asap perlahan hilang. Nampaknya dia menggapai asbak yang ada di depannya dan menancapkan kreteknya yang menjelang habis, “Apa sampean mau jatuh korban lagi gara-gara aspalnya setengah-setengah, ndak toh?”

“Setengah-setengah bagaimana, Pak Eko? Kontraktor kami sudah benar melakukan pekerjaan pembangunan jalan desa itu. Sampean jangan ngawur.” Ayahku makin bersungut-sungut. Dia pasti kesal dengan ucapannya yang ngawur itu.

“Hehe. Saya bukan bocah yang dijajani gulali terus diam lho, Pak Suryo. Saya tahu dana pembangunan jalan desa itu besar. Lha kok baru sebentar dibangun sudah rusak. Aspalnya sudah luntur. Batu-batunya berserakan. Sudah lima korban yang meninggal lho, Pak. Masa iya sampean mau ada korban berikutnya.”

“Siapa tahu itu memang ulah hantu genderuwo penunggu jalan desa itu? Atau karena kemarahan Ki Ronggoselo yang terlambat dikasih sesaji toh?”

“Hehe. Kok sampean jadi ikut-ikutan percaya ocehannya Ki Marjoko toh? Dia itu tak kasih bagian buat ngoceh seperti begitu. Biar warga juga percaya kalau lima orang yang meninggal itu karena ulah jahil genderuwo yang minta tumbal. Ingat, Pak. Semua yang meninggal di jalan desa itu karena kecelakaan. Karena jalannya rusak. Banyak batu dimana-mana. Pak Kusno yang terakhir jadi korban juga sama. Apa sampean ndak lihat kepalanya pecah beradu dengan batu? Jadi, itu murni kecelakaan. Bukan karena ulah genderuwo, tangan-tangan setan, atau bahkan sang baureksa. Jangan menyalahkan setan, Pak Suryo. Hehe.”

Kali ini ayahku terdiam. Tepekur bisu. Tak langsung menjawab ocehan panjang Pak Eko. Tangan kanannya ditempelkannya pada dahi.

Suasana di dalam sini mendadak hening. Keduanya masih terdiam kalem. Belum ada kata-kata lagi yang terdengar. Hanya suara jangkrik yang berdesir terdengar lamat-lamat di kejauhan.

“Lalu buat siapa lagi sampean minta uang, Pak? Memangnya masih ada yang belum kecipratan?” Oh, ayahku memulai lagi.

“Hehe. Anak buah saya khan banyak toh, ndak cuma satu, Pak Suryo. Hehe.” Dia menyulut kreteknya lagi. Entah sudah berapa linting dia membakarnya, “Ada Ketua RT dan Ketua RW. Lalu ada ketua-ketua dusun. Ada perangkat desa juga. Dan, Ki Marjoko juga kebagian. Skenario ini melibatkan banyak pihak. Lho kalau ndak seperti itu, bisa repot toh ya. Ada yang ngoceh sana-sini nanti kalau ada yang ndak kecipratan, benar toh? Hehe.”

“Tapi saya sudah benar-benar ndak ada uang lagi, Pak. Kantor saya bahkan tekor. Harus mengamplop sana-sini. Karyawan saja belum saya bayar bulan ini. Gaji saya tak cukup untuk menalangi gaji mereka semua.”

Ayahku menalangi gaji karyawan? Ah, ternyata itulah jawaban dari kilahnya soal keterlambatan gajinya. Ibuku harus tahu soal ini.

“Hehe. Itu urusan sampean toh, Pak Suryo. Kalau punya rejeki mbok ya bagi-bagi. Kalau bagi-bagi khan jadi berkah, ndak malah jadi musibah. Hehe.”

Asap putih kembali membuat pengap ruangan setelah linting kretek tersulut untuk kesekian kalinya. Aku hampir-hampir terbatuk karena dipaksa menghirupnya. Dengan sekuat tenaga aku harus bisa menahannya. Kalau aku batuk, bisa-bisa intaianku ketahuan sama mereka.

“Hehe. Baiklah, Pak Suryo. Saya tunggu sampai minggu depan sisa uang proyeknya. Kalau sampai minggu depan belum juga ada kabar, saya ndak menjamin urusan ini akan selesai sampai disini saja. Biar pihak yang berwenang yang mengusutnya lebih jauh. Terserah sampean. Monggo.”

Dan selepas sontoloyo itu pergi, ayahku masih terdiam. Duduk tepekur di ruang tamu. Masih belum beranjak dari tempat duduknya.

Sekarang sudah hampir jam dua lewat tengah malam. Sudah hampir satu jam yang lalu sang tamu meninggalkan sang tuan rumah. Tapi, sang tuan rumah, ayahku, masih terdiam bisu di ruang tamu. Layaknya air yang membeku menjadi es batu.[]

Posted in: Short Story