Tuyul-tuyulan

Posted on January 28, 2014

0



Tuyul-tuyulan (dok klosetide)

Tuyul-tuyulan (dok klosetide)

“Om, ayo maen bola lagi, Om.”

Begitu ajak Daud, Diki, Arya, dan Jun. Siapakah gerangan Om yang dimaksud? Oh, ternyata Om yang dimaksud itu tak lain dan tak bukan adalah Gue sendiri. Sudah setua itukah Gue sehingga dipanggil dengan sebutan Om? Tentu saja tidak. Sebab panggilan untuk orang yang tua banget adalah Kek atau Mbah.

Daud, Diki, Arya, dan Jun, adalah anak yang entah datang darimana sudah ada semenjak Gue pindah ke komplek ini. Dan meski gak terlalu lucu, keempatnya mengingatkan Gue sama grup lawak era 90-an yang namanya Empat Sekawan, Dery, Eman, Ginanjar, dan Qomar. Bedanya cuma satu. Jika Empat Sekawan Dery Cs berusia lebih dari 40 tahun, maka empat sekawanan Daud Cs usianya masih dibawah 15 tahun.

Hari menjelang sore ketika empat sekawanan Daud, Diki, Arya, dan Jun, mengajak Gue main bola di lapangan komplek. Gue memang mengidolakan Crhistiano Ronaldo, tapi Gue gak sejago dia. Entahlah. Jujur Gue gak bakat main bola. Gue lebih jago kalau mungutin bola kalau ada pertandingan bola.

“Kamu sukanya tim apa, Daud?” Itu Gue yang nanya ke Daud.

“Barcelona, Om.” Itu Daud yang jawab. Katanya dia ngefans sama Barcelona, meskipun dia kali ini pakai baju Persib.

“Aku juga Barcelona, Om.” Itu Diki yang jawab. Kenapa Diki sama-sama ngefans dengan Barcelona sama dengan Daud? Apakah keduanya telah janjian? Oh, ternyata Daud dan Diki adalah saudara. Daud adalah kakaknya Diki. Otomatis, dan mau tidak mau, Diki adalah adiknya Daud. Pantas aja kompak.

“Aku mah Chelsea, Om.” Itu Arya yang jawab.

“Aku AC Milan, Om.” Itu Jun yang jawab.

“Kalo Om apa klub favoritnya, Om?”

“Real Masjid.” Itu Gue yang jawab asal.

“Hahaha..” Keempatnya kompak terkekeh. Mereka ketawa setelah mendengar klub favorit Gue, Real Masjid.

“Real Madrid meureun.” Itu koreksi dari Daud. Meureun itu bahasa Sunda artinya mungkin.

“Iya Real Madrid, Om. Bukan Real Masjid.” Itu Diki yang bilang. Dia dari tadi selalu idem dengan Daud, kakaknya. Mungkin ayah dan ibu mereka saat ngelahirin punya impian jika anak-anak mereka nantinya harus saling kompak.

“Ih, Si Om mah ngaco.” Itu Arya yang bilang kalau Gue itu ngaco. Sial. Laksana guru kencing berdiri, dua tiga pulau terlampaui. Baru kali ini Gue dibilang ngaco sama anak usia dibawah 15 tahun. Padahal Gue ngerasa bener-bener aja dan gak pernah ngaco.

“Iya, Om. Masjid mah yang suka buat salat.” Itu yang yang bilang.

Iya Gue juga tahu Jun kalau masjid itu buat salat. Mana ada masjid buat main bola. Ah, si Jun memang ngaco. Lebih ngaco dari Gue ternyata. Ckck. Kasihan dia. Masih usia belia udah ngaco, gimana entar kalau udah gede.

Mereka memang jago main bola. Soalnya sepulang sekolah mereka selalu main bola. Dan karena sekarang tiap rumah udah ada tivi, maka gak heran kalau mereka juga ternyata hapal dengan nama-nama klub bola luar negeri. Hmm. Berarti Gue harus lebih berhati-hati lagi kalau mau ngomong soal bola di depan mereka.

OK. Daripada ngomongin bola dan ketimbang main bola beneran mending gak usah main. Soalnya kalau beneran main bola dan meladeni permainan mereka bisa berabeh. Bertanding melawan anak-anak laksana makan buah simalakama. Kalau Gue yang kalah, Gue malu karena usia Gue jauh diatas mereka. Kalau Gue yang menang, ah itu wajar. Gak ada bangganya sama sekali. Jadi mending jangan main bola.

“Kalian bisa maen kartu gak?” Itu Gue yang nanya ke mereka.

“Bisa, Om.”

“Bisa.”

“Maen apa, Om?”

“Iya maen apa?”

“Ya maen kartu. Masa maen mata.” Itu Gue yang bilang. Padahal barusan Gue bilang maen kartu. Eh, ada yang nanya maen apa. Ah, dasar anak-anak.

“Maksudnya maen apa? Maen kartu khan banyak. Ada poker, remi, tuyul-tuyulan.”

“Tuyul-tuyulan aja.” Gue mengusulkan. Kalau main poker Gue udah tahu. Main remi juga sama. Tapi, tuyul-tuyulan? Apakah itu?

Gue masuk ke dalam buat ngambil kartu remi. Setelah remi berhasil Gue ambil lalu Gue keluar lagi. Dan sekarang kartu remi udah ada di tangan mereka. Mereka yang main Gue yang nonton.

Dengan sigapnya Diki merapikan kartu remi yang acak-acakan sisa dimainkan semalam. Setelah rapi dia mengocoknya. Kartu pun terkocok.

“Om, maen juga gak?” Itu Daud yang nanya ke Gue.

“Gak ah. Om jadi wasit aja. Biar gak ada yang maen curang.”

“O ya udah.”

Mereka pun memegang kartu masing-masing. Permainan Tuyul-tuyulan langsung dimainkan. Dan Gue melaksanakan tugas Gue, jadi wasit.

Tuyul-tuyulan adalah permainan kartu dengan cara mencomot kartu lawan. Dengan satu kartu menjadi tuyulnya dan diumpetin. Tuyulnya dibuka saat permainan berakhir. Siapa yang menyimpan kartu yang sama dengan tuyulnya, maka dialah yang kalah.

Dalam waktu yang bersamaan Daud mengambil satu kartu Diki, lawan yang ada di sebelah kanannya. Diki mengambil kartu milik Arya, lawan di sebelah kanannya. Arya mengambil kartu milik Jun. Dan Jun mengambil kartu milik Daud. Tugasnya adalah mengumpulkan kartu dengan angka yang sama. Jika ada kartu yang sama maka kartu itu diturunkan dari pegangan masing-masing.

Permainan pertama usai. Daud kalah. Ternyata dia memegang kartu yang dijadikan tuyul. Permainan kedua dilangsungkan. Kali ini Diki yang kalah. Benar-benar kompak. Adik kakak kalah dalam satu kali pertandingan. Ngidam apa ibu mereka itu?

Gue melihat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tapi, permainan nampaknya kurang seru. Hanya itu-itu saja. Gimana caranya biar tambah seru?

“Sekarang yang kalah dihukum. Mukanya dicoret pake spidol ya.” Itu Gue yang ngusulin. Sebagai wasit yang bertanggung jawab Gue harus membuat pertandingan makin seru. Kasihan penonton nanti jika pertandingan yang tersaji biasa-biasa aja. Kayak nonton bola, kalau gak ada gol maka pertandingan jadi hambar.

“Pake bedak aja, Om.”

“Iya pake bedak, Om. Jangan spidol.”

“Biar kayak badut mukanya belepotan.”

Ternyata mereka menyetujui saran wasit untuk menghukum yang kalah. Tapi, bukan dengan spidol. Melainkan pakai bedak. Baiklah. Gue turuti aja kemauan mereka. Kalau gak takutnya mereka nangis dan lapor ke Pak RT. Bisa-bisa Gue gak bisa bikin KTP dan surat keterangan domisili.

Gue masuk ke dalam dan mencari-cari dimana gerangan bedak berada. Sialnya gak ketemu. Lalu Gue berpikir: Gue khan cowok, sejak kapan Gue bedakan? Tak ada bedak terigu pun jadi. OK.

“Ini dia bedaknya. Ayo maen lagi. Sekarang udah mulai dihukum yang kalah ya.”

Mereka pun melanjutkan pertandingan. Mereka nampak lebih serius dari sebelumnya. Mungkin takut kalah dan nanti dibedakin. Meskipun belum menginjak dewasa, tapi kayaknya mereka malu kalau harus dibedakin. Rasa malu udah tumbuh dalam diri seorang cowok semenjak kecil ternyata.

“Daud kalah.. Daud kalah..”

Semuanya berteriak girang. Daud kalah. Dan sesuai peraturan pertandingan, maka dia harus dibedakin oleh ketiga lawannya. Diki, Arya, dan Jun, pun ambil bagian. Jari-jari mereka dicelupin ke dalam wadah yang berisi terigu. Dan dalam waktu sekejap muka Daud udah penuh dengan coreng moreng. Oh, wahai Daud, apakah ibumu mengajarkanmu untuk menjadi cowok pesolek?

Seiring dengan permainan yang makin seru, seorang diantara mereka nyeletuk.

“Kok kayak bukan bedak ya?”

“Iya. Kayak bau terigu.”

“Iya bener terigu.”

“Ini terigu ya, Om?”

Ah, sial. Mereka ternyata sadar jika yang dipakai buat mencoreng muka itu adalah bukan bedak, melainkan terigu.

“Itu bedak kok.” Itu Gue yang ngomong ke mereka.

“Tapi kok baunya kayak terigu, Om?”

Mereka masih skeptis. Penciuman mereka sangat tajam. Sehingga mampu membedakan antara bau bedak atau terigu. Mungkin Gue udah lupa gimana bau bedak itu. Maklum, Gue udah lama gak bedakan.

“Ah, iya. Om lupa. Om belum beli bedak lagi. Soalnya di warung Bu Maman gak ada bedak. Adanya terigu. Jadi ya Om beli terigu aja. Khan sama-sama putih.” Itu Gue yang bilang. Kalian pasti gak tahu siapa itu Bu Maman? Bu Maman adalah seorang perempuan lebih dari setengah baya. Bu Maman punya warung kelontongan yang jual sayur mayur dan lauk pauk. Dia menjadi semacam Alfamart di komplek sini. Sayangnya dia gak jual bedak. Jualnya cuma sayur asem, sayur sop, jengkol, ikan asin, ikan lele, dan pete.

Bu Maman udah ibu-ibu makanya dipanggil Bu. Maman itu bukanlah namanya yang sebenarnya. Maman itu nama suaminya, Pak Maman. Karena Bu Maman adalah istri Pak Maman, maka dia pun dipanggil Bu Maman. Ternyata selain Daud dan Diki, Bu Maman dan Pak Maman juga kompak ya. Sama-sama dipanggil sama. Hidup Bu Maman!

OK. Lupakan Bu Maman dan Pak Maman yang sedang kasamaran. Kita kembali ke permainan.

Mendengar penjelasan Gue itu mereka manggut-manggut aja. Pasti mereka juga gak tahu siapa Bu Maman itu. Dan mereka pasti juga gak tahu kalau ternyata Bu Maman adalah istrinya Pak Maman. Emangnya kalau mereka tahu kenapa? Ya gak apa-apa sih. Tapi khan mereka masih kecil, jadi gak usah harus tahu urusan Bu Maman dan Pak Maman yang suka melakukan urusan-urusan orang dewasa.

Permainan berlanjut lagi dan lagi. Sekarang muka mereka sudah coreng moreng. Hanya satu anak yang mukanya masih bersih. Dialah Arya. Entah kenapa dia gak pernah kalah. Mungkin bapaknya mengajarinya di rumah bagaimana strategi menang dalam permainan Tuyul-tuyulan.

Dan sebagai wasit Gue penasaran. Benar-benar gak pernah kalah meskipun pertandingan udah berjalan berpuluh-puluh kali putaran. Apakah dia memang diciptakan untuk menjadi seorang Tuyul?

Gue menyelidikinya. Gue melihat dengan cermat dan seksama cara dia bermain. Oh, ternyata ketemu penyebabnya. Dia main curang. Saat teman-temannya lengah dan terlalu konsentrasi dengan kartunya Arya membuka kartu yang menjadi Tuyul. Dia buka pelan-pelan dan dengan gerak-gerik yang gak terlalu mencurigakan lawan. Hmm. Masih kecil udah main curang dia.

Mengetahui hal itu Gue sebagai wasit lalu memegang kartu yang menjadi tuyul, yang sebelumnya ada di sebelah Arya. Biar permainan lebih fair. Sebentar lagi pasti Arya kalah. Soalnya dia udah gak bisa main curang lagi.

Dan hingga permainan hampir berakhir Arya tetap menang. Gak pernah kalah sekalipun. Oh, memang dia jago. Andai saja ada olimpiade Tuyul-tuyulan, maka dia pasti bisa juara.

Arya ketawa puas atas jerih payahnya menjadi pemenang. Sedangkan Daud, Diki, dan Jun, nampak bersungut-sungut. Muka mereka coreng moreng. Berbeda sekali dengan muka Arya yang bersih tanpa noda. Mereka kesal. Mata Jun melirik ke arah Daud dan Diki. Nampaknya mereka main kode-kodean. Apakah yang mereka rencanakan?

Jun dengan sigap memegang badan Arya. Sesaat kemudian dia menguncinya dan menjatuhkan tubuh Arya. Diki memegangi kakinya. Dan Daun mengambil terigu dalam wadah. Melihat Arya yang gak berkutik ketiganya pun puas melumuri wajah Arya dengan terigu. Kini dia sama dengan teman-temannya. Mukanya berlepotan coreng moreng.

“Hahaha..”

Ketiganya terkekeh puas melihat Arya menderita. Gue lalu masuk ke dalam dan mengambil kamera. Gue jepret wajah mereka yang coreng moreng itu. Sebagai kenang-kenangan di usia tua. Dan sebagai pengingat jika masa kanak-kanak adalah masa yang paling bikin kangen. Masa dimana rasa malu dan rasa takut hampir gak ada sama sekali dalam mencoba hal-hal baru.

 

Posted in: Short Story