Pengecut Bimbang

Posted on January 22, 2014

0



Pengecut Bimbang (dok klosetide)

Pengecut Bimbang (dok klosetide)

 

Udara pagi terasa hangat dipapar oleh mentari. Memasuki pelan-pelan pori-pori kulit lalu menyapa hati. Kilau emas mentari memandikan alam sekitar. Menjadikannya hidup dan berseri asri. Semilir bayu menggoyang permukaan air danau dan membuat riaknya menari-nari lembut. Membuat dedaunan turut ikut bergoyang kalem. Gemerisik daun bambu yang bergesekan yang tak beraturan menjadi backsound. Sayup-sayup terdengar indah meskipun tanpa ritme nada. Berpadu harmonis dengan makhluk alam lainnya membentuk simfoni pagi.

Aku masih tepekur di bawah pohon akasia yang rimbun itu. Mataku menerawang jauh melihat ke atas lautan air danau yang tenang. Pandanganku memang kosong, tapi pikiranku tidak. Pikiran dan hatiku masih bersamanya. Melamunkan sisa-sisa kisah hasrat hati semalam bersamanya. Berdiri di atas puing-puing khayal akan sebuah masa depan cerah bersamanya.

Suara hatiku berbincang lirih dengan alam. Seisi alam sekitar seakan bersatu mengajakku bercanda. Namun, aku belum juga bersemangat menuruti ajakannya itu. Dia hanya ingin berbincang saja denganku. Energiku belum terkumpul semuanya. Sang hati dan pikiranku masih tak berada di tempatnya. Keduanya tengah berkelana dengan orang lain. Seberapapun kuatnya alam merayuku, aku takkan tergoda sama sekali untuk meladeni candaannya. Belum saatnya, mungkin nanti.

Sekali lagi, cuma pingin sekadar berbincang dari hati ke hati. Jika alam sekitarnya belum mau mendengar, maka baiklah. Akan kucoba menyampaikan hasrat ini kepada gugusan bintang di atas sana. Di angkasa yang mahaluas dan tak terbatas, semoga akan ada teman yang mau mendengar serius, bukan malah meledek.

Khayalku mengembara bersama hangatnya mentari. Menerobos angkasa raya menemui gugus bintang-bintang di galaksi. Menyampaikan isi hatiku kepada andromeda dan pegasus. Keduanya sepertinya mengerti akan sisi hatiku itu. Berekspektasi ia akan mendengarkan dengan seksama dan khidmat. Hanya ingin didengar saja curahan hatiku. Tak berharap jauh akan sebuah janji darinya. Sebab, dalam situasi seperti ini janji hanya akan membawaku ke dalam jurang ketidakpastian. Dan itu bukanlah solusi yang dinanti.

“Cobalah mengajak alam sekitarmu untuk berdiskusi lewat hati ke hati tentang mimpi.”

Usai berbincang dan menitipkan salam untuk gugusan bintang, khayal kembali lagi ke bumi. Menuruti apa kata gemintang di angkasa. Mencoba mengikuti nasihatnya untuk berbincang-bincang dengan keadaan alam sekitar.

Langsung saja khayal kembali mengajak hati dan pikiran untuk turut serta. Turun meluncur ke bawah rindangnya pohon akasia. Menikmati sajian panorama alam sekitar. Bercanda dengan riak air danau. Berkelakar dengan gemerisik dedaunan yang bergesek. Bernyanyi dengan semilir bayu yang wara-wiri, berlarian kesana-kemari tak kenal capek. Bermain bersama hangat dan kemilau emas mentari pagi. Berdendang dengan cericit burung gereja yang hilir mudik mencari sarapan paginya. Mengakrabi alam sekitarnya dengan kata-kata hati dan candaan lembut.

Siapa tahu mereka itu juga pendengar yang baik di saat kalut menggelayut? Aku hanya butuh teman untuk sekadar mendengarkannya bercerita. Bukan sebuah solusi ataupun saran yang dimintaku. Hanya mendengarkan saja dengan setia dan seksama.

Bukan kebiasaanku mencurahkan hati dengan manusia lain. Kebiasaanku adalah mencurahkan segala isi hati dan segala yang mengganjal pikiranku dengan alam. Sebab ia lah satu-satunya yang mau mendengarkan, tidak seperti manusia yang kadangkala suka ingkar dan tak mau mendengar.

“Mulailah bercerita, Kawan. Kami semua adalah kawanmu yang setia dan mau mendengar. Kami berjanji tak akan pernah ingkar.” Suara Burung Gereja terdengar lantang. Ia mengatasnamakan seisi alam sekitar, danau, bayu, dedaunan, riak air, rerimbun pohon-pohon, dengan memakai kata ‘kami’. Menyuruhku untuk bercerita.

“Baiklah, Kawan. Semuanya aku minta untuk khidmat. Tak ada suara dan gerakan lainnya sebelum kukomando. Deal?” Pintaku.

“OK! Kami sepakat.” Suara Burung Gereja menyepakati. Tanpa terlebih dulu meminta kesepakatan dari yang lainnya, sebab ia tahu betul semua kawan-kawannya pasti bakal serempak idem dengannya.

“Semalam aku bertemu dengan sesosok bidadari surga. Ah, sebagian darimu pasti sudah tahu itu. Waktu itu, ada angin malam, burung hantu, pekat malam, rembulan, dan gemintang, yang hadir menjadi saksinya. Tapi, sekarang mereka tak muncul. Sudahlah. Mereka semua itu angkuh dan pongah. Hanya mau menertawaiku semalam. Bukan menyemangatiku sama sekali. Setidaknya mereka itu menenangkanku dan mencarikan solusi untukku. Tapi, mana? Tak ada sama sekali. Sekali lagi mereka cuma menertawaiku. Aku kesal. Dan, kini aku terpuruk.”

Burung Gereja dan pasukannya hanya diam. Mereka benar-benar menepati janjinya. Hanya sekadar mendengar. Tak ada gerakan berarti ataupun suara sumbang darinya.

“Lalu, Bidadari itu menantangku. Ia tak segan untuk bercerita tentangnya. Ia tak malu untuk langsung berterus terang akan alasannya turun ke bumi dan menyapaku. Aku rasa ia telah menggodaku. Dan, Aku sadar akan hal itu. Ia terus merayuku dengan paras ayunya. Ah, Aku ini lelaki biasa, dan hanya seorang manusia. Melihat pesonanya, jujur Aku tergoda. Aku terpesona pada pandangan pertamaku.”

Kulihatnya mereka makin antusias mendengarkan. Tak ada sepatah katapun dari mereka. Jangankan kata, gerakan pun praktis tak muncul, selain hanya gerakan dada saat mereka menarik napas dan kedipan mata reflek semata.

“Ia menantangku lagi dengan tantangan yang lebih berat lagi. Ia bilang dengan sadar jika ia tak mau melepas hatinya sembarangan kepada siapapun. Ia berujar soal prinsipnya yang tak mau menjalin kasih semu. Ia menginginkan seorang lelaki yang berani. Berani langsung menikahinya. Bukan hanya lelaki yang sekadar iseng yang maunya cuma bermain nafsu belaka.”

Burung Gereja dan pasukannya tepekur. Mereka khidmat mendengarkan ceritaku. Masih belum berani menampakan giginya dan bersuara atau bertanya.

“Hmm.. Yang aku tak habis pikir, ada saja bidadari yang seperti itu. Bidadari yang aneh yang hobinya menggoda. Ya, aku memang paham jika ia itu memang ayu. Otaknya brilian. Kharismanya memang sungguh luar biasa. Membius mata lelaki yang memandang, termasukku. Dan, yang aku heran, kenapa Tuhan mengutusnya ke bumi bertemu denganku. Kenapa ia tak diam saja di kahyangan. Tenang dan damai bersama malaikat di sana. Kenapa harus menemuiku dan mau saat kuajaknya jalan-jalan di bumi yang fana ini. Ataukah mungkin di kahyangan sana tak ada lagi malaikat yang mampu menaklukannya dan menundukan hatinya?”

Kini, Burung Gereja manggut-manggut. Nampaknya ia dan pasukannya sepakat dengan kalimatku yang terakhir. Aku hanya menduganya. Berprasangka positif terhadapnya dan pasukannya saja.

Tapi, mereka juga punya mulut dan berhak bersuara dengan mulutnya itu. Kuajak saja mereka untuk berbincang, sesuai dengan niatku awal.

“Silakan kalian bersuara.”

Mereka tak langsung bersuara. Danau, dedaunan, bayu, mentari, riak air, rimbun pohon, dan burung gereja, masih menunggu. Menantikan siapa yang bakal bersuara memulai perbincangan. Menunggu inisiatif Burung Gereja, sebagai komandan, untuk mengawali. Dan, nampaknya Burung Gereja pun paham dengan situasi itu.

“Lalu?”

“Lalu apa maksudmu, Burung Gereja?”

“Bagaimana hasrat hatimu, Kawan? Dari tadi kau hanya bercerita tentangnya dan isi hatinya. Sedangkan hasrat dan tentangmu, apa yang kau inginkan belum juga kau utarakan. Sekarang giliranmu.” Burung Gereja akhirnya bersuara panjang lebar. Menantangku untuk berbicara isi hati.

“Aku sudah bilang tadi. Aku ini cuma lelaki biasa yang masih suka lawan jenis. Apalagi dengan sesosok bidadari yang ayu itu. Di depannya Aku sungguh takluk. Meskipun sampai sekarang Aku belum mampu menaklukannya, terutama prinsipnya untuk tak sembarangan melepas hati. Tak usahlah kau tahu atas alasanku menyukainya, sebab kau pasti sudah tahu betul. Aku yakin, jika ada betina cantik mendekatimu Burung Gereja, kau juga pasti luluh juga khan? Aku pun demikian. Bukan hanya soal parasnya saja, hati, pikiran, otak, prinsip, dan jiwanya pun ayu. Bagaimana aku tak tergila-gila dengannya. Coba kau pikirkan itu.”

“Lantas, apa tindakanmu selanjutnya, Kawan? Akankah kau diam saja?” Tanya Burung Gereja makin serius.

“Justru itu aku mengadu. Aku bingung. Benar-benar kalut. Aku takut jika ia tak jadi aku akuisisi. Aku tak sanggup membayangkan. Sudah kadung suka mau diapain lagi. Tapi, di sisi lain, Aku belum sanggup menepati prinsipnya. Terus terang, berat buatku menepatinya. Aku suka sekali tantangan. Tapi, tantangan yang ia ajukan sungguh berat dan di luar nalarku. Menikah itu suatu tantangan yang dahsyat. Tak sembarangan. Aku tak cukup modal untuk menepatinya. Semuanya harus ditukar dengan segepok materi. Urusan katering, sewa gedung, sound system, pelaminan, penghulu, dan mas kawin, itu harus berbayar. Aku belum mampu. Belum lagi soal izin orang tuaku dan orang tuanya. Ah, ribet pokoknya.”

“Ya sudah lepaskan lah bidadari itu.”

“Kurang ajar kau ini. Berani-beraninya kau bilang seperti itu. Hah!” Aku membentaknya keras. Aku kesal dengan ucapannya itu.

“Hahaha.” Ia malah terbahak keras.

“Kau sama saja dengan malam dan kawan-kawannya. Hanya bisa menertawaiku saja. Aku salah memilih kawan.”

“Hmm.. Sudah kutebak kau bakal marah. Sekarang Aku tahu bahwa kau memang mencintainya. Bukan hanya sekadar suka, tapi kau telah cinta. Soal ia yang melepas panah asmara atau tidak, itu bukan persoalan. Persoalannya adalah kau. Kau tak berani mengambil langkah. Jika memang ia berharga, maka kejarlah. Perjuangkan ia.”

Seekor burung gereja kecil datang. Menjelang seekor burung gereja yang lebih tua, ayahnya. Burung gereja tua nampak gusar sesaat setelah si kecil membisikinya.

“Aku harus undur diri, Kawan. Istriku tengah sakit, dan Aku harus mencarikan obat untuk sakitnya itu. Aku akan segera terbang menyusulnya di rumah dengan anakku ini. Pesanku, dan yang pasukan yang lainnya, cuma satu, beranilah berjuang jika itu memang pantas diperjuangkan. Kau tidak akan merasakan manisnya kemenangan tanpa perjuangan, Kawan. Selamat tinggal.”

Ia pun terbang tinggi membawa serta anaknya yang terbang di belakangnya. Pasukannya membubarkan diri seiring kepergiannya itu. Danau kembali bercanda dengan riak air. Dedaunan kembali berisik gemerisik bergesekan. Bayu kembali hilir mudik. Mentari kian gagah menuju puncak hari. Pohon akasia memulai tarinya kembali. Dan, semuanya pun semarak menyambut siang.

Aku masih tepekur di sini. Kalimat terakhir Burung Gereja masih kurenungkan: Perjuangan. Satu kata yang sungguh menendang nuraniku. Aku ingin sekali menikmati kemenangan. Dan, benar katanya. Bagaimana aku bakal meneguk manis kemenangan jika berjuang saja aku tak berani?