Hiduplah Indonesia Raya

Posted on January 20, 2014

0



Mahameru 2008 (dok klosetide)

Mahameru 2008 (dok klosetide)

MERDEKA!

Pekik kemerdekaan Gue itu sontak membuat seorang kakek tua itu terbangun dari tidur pulasnya. Dia pun tergelagap. Belingsatan. Panik.

Kakek gaek itupun terlelap lagi. Menyambung kembali mimpinya yang terputus. Sebelum akhirnya godaan pun datang kembali.

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Disanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Terdengar lagu Indonesia Raya berkibar dan bendera merah putih gak berkumandang. O, itu kebalik. Ah, kalian tahulah mana yang benar. Itu lagu keluar dari ringtone hape Gue. Sebelum akhirnya hape menyanyikan lagu Indonesia Raya sampai tuntas si kakek bangun lagi. Dia bangun dan langsung menghormat. Kemudian dia celingak-celinguk. Bingung. Penasaran dari mana suara lagu tadi berasal.

Ringtone Gue matiin sesaat setelah si kakek menghormat. Hari ini adalah tanggal 14 Agustus. Sebentar lagi HUT kemerdekaan Republik Indonesia. Jadi ringtone hape pun Gue sesuaikan dengan nuansa kemerdekaan.

“Tanggal 17 agustus itu hari apa ya, Kek?” Itu Gue nanya sama si kakek yang duduk di depan Gue.

“Hari kemerdekaan Indonesia, Dek.” Si kakek menjawab dengan lantang dan gagah layaknya seorang veteran perang kemerdekaan. Sambil masih mengucek-kucek matanya. Matanya kelihatan habis bangun tidur. Matanya putih dan ditengahnya ada bulatan hitam.

“Bukan. Maksudnya hari apa?”

“Iya, hari ulang tahun Republik Indonesia.” Si kakek mengulangi jawabannya.

Dilihat dari posturnya si kakek kayaknya berusia dibawah dua ratus lima puluh tahun. Tapi, diatas enam tahun mungkin. Rambutnya udah memutih. Mungkin jarang shampoan. Dia pasti angkatan 45. Atau mungkin juga angkatan pujangga baru. Entahlah. Soalnya Gue belum sempat nanya.

“Maksudnya hari senin, selasa, atau jumat ya, Kek?”

“O, kayaknya hari selasa, Dek.” Jawab si kakek spekulatif.

“Eh, kayaknya senin deh, Kek. Soalnya khan biasanya upacara itu hari senin, bukan selasa.”

“O, iya ya. Upacara bendera biasanya hari senin ya.” Si kakek iya iya aja.

“Kakek mau ikut upacara juga?” Gue nanya lagi. Gue berharap bisa ikut si kakek upacara.

“Iya, Dek. Kakek ini khan pejuang dulu saat merebut kemerdekaan.” Jawab si kakek gagah. Dadanya tegap. Mukanya tegas. Tangannya dua. Dan kakinya juga dua.

“Wah hebat ya kakek ini. Saya juga pejuang lho, Kek.” Gue mulai membuka hati. Rasanya hati ini mendadak kepingin curhat.

“O, iya toh?” Si kakek akhirnya pingin tahu juga.

“Iya, Kek. Pejuang saat merebut seorang gadis dari pacarnya yang sah.” Ah, Gue keceplosan. Si kakek emang jago mengulik isi hati ini.

“Hehe. Bagus. Anak muda itu harus juga punya semangat juang. Ya semangat juang buat apapun yang diyakininya. Kakek juga kadang masih suka miris kalo lihat kondisi bangsa akhir-akhir ini.” Si kakek berpidato di hari kemerdekaan.

“Saya juga suka miris, Kek. Kadang suka pingin nangis juga. Apalagi kalo lagi miris bawang. Bawaannya sedih.”

“Itu ngiris. Bukan miris. Dodol!” Itu suara Farhan dari samping. Dia menyambar saja kayak kilat. Setelah itu dia merem lagi.

O, iya, kalian masih ingat khan sama Farhan? Ah, pasti ingat. Dia itu sahabat alam yang naik bareng ke Pangrango dan Lawu waktu itu. Nah sekarang dia naik bareng lagi sama Gue. Gue naik bareng Farhan lagi buat yang kesekian kalinya.

“Hehe. Adek kuliah atau sekolah atau udah kerja?” Si kakek mengalihkan topik pembicaraan miris bawang. Sedikit menghiraukan keseriusan Gue tadi.

“Kuliah, Kek.”

“Oalah. Ngambil apa?”

“Ngambil hikmahnya, Kek. Kata ibu apapun yang terjadi harus bisa diambil hikmahnya. Iya gak, Kek?”

“Iya. Pasti selalu ada hikmah dibalik kejadian. Hidup itu ibarat perjuangan. Hehe.” Si kakek emang pejuang sejati. Dia terkekeh lagi.

“Bukannya yang perjuangan itu PDI ya, Kek?”

Si kakek gak menjawab. Mungkin dia gak dengar pertanyaan kencang Gue barusan. Atau mungkin dia lagi gak konsentrasi menahan amarahnya. Entahlah. Dia pun diam. Memaku membisu. Dan kita diam-diaman. Kayak pasangan muda-mudi yang lagi saling sensi. Berhadapan tapi saling melempar muka. Itulah kita, Gue dan si kakek.

Kereta api Matarmaja jurusan Jakarta-Malang pun melaju maju. Membawa ratusan penumpang. Ada orang Aceh, Padang, Palembang, Medan, Bali, Pemalang, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, dan Tegal. Itu mungkin. Soalnya Gue gak ngecek satu persatu penumpangnya pada berdomisili dimana. Biarlah petugas catatan sipil dan petugas dinas kependudukan yang mengeceknya.

Kali ini Farhan ngajak abangnya. Abangnya itu cowok. Namanya Khemal. Khemal itu kakaknya Farhan. Farhan itu kuliahnya di Bandung. Dia kuliah di universitas. Dia gak satu kampus sama kakaknya, Khemal. Soalnya Khemal kuliahnya di Jakarta. Jadi mereka beda universitas. Tapi, mereka sama-sama kuliah. Dan kuliahnya itu di Indonesia. Indonesia itu di sini, di dalam negeri sendiri bukan di luar negeri orang lain.

Khemal mengaku sayang benget sama Farhan. Soalnya dia adalah kakaknya Farhan. Sampai-sampai diajak ke Semeru pun dia mau. Katanya bukti kasih sayang seorang kakak kepada adiknya adalah mau kalau diajak kemanapun. Beda banget sama si Iyan teman Gue dari Bandung. Si Iyan malah mengaku gak sayang sama adeknya. Pas Gue tanya kenapa bisa kayak gitu. Jawaban si Iyan enteng, soalnya dia anak tunggal. Iyan emang kejam.

Kereta berangkat dari stasiun Jatinegara pukul siang. Gue lupa pukul berapa tadi kereta mulai melaju yang Gue ingat pokoknya siang hari. Gue tahu siang karena dengar azan zuhur. Dan Gue tahu itu dari sejak sebelum Gue masuk SD. Kata pak petugas kereta api perjalanan kereta Jakarta-Malang bakal memakan waktu. Hebatnya kereta sekarang, bahan bakarnya adalah waktu. Katanya juga bakal lebih dari dua puluh jam untuk sampai di Kota Apel itu. Sampai sini Gue gak percaya. Karena sampai detik ini alhamdulillah hanya Tuhan yang Gue percayai.

Sekarang baru sampai di stasiun Tegal. Ini adalah tempat lahir Gue. Gue lahir di Tegal. Tapi, di rumah bukan di stasiun. Karena di stasiun gak ada dukun beranak waktu itu. Perjalanan baru sepertiga. Masih ada dua pertiga lagi. Uh, masih jauh ternyata. Lalu daripada bete mending ngopi-ngopi. Farhan pun bangun mendengar kata kopi.

“Kopi, Mas.” Farhan memesan kopi kepada seorang laki-laki penjual pop mie. Mendengar teriakan si mas penjual pop mie Farhan langsung bangun. Dan, memesan kopi. Biasanya penjual pop mie itu menjual kopi juga. Soalnya dia bawa termos. Isinya pasti air panas.

“Berapa, Mas?” Tanya si mas penjual pop mie yang ngejual kopi juga ternyata.

“Satu aja.” Jawab Farhan yang memesan kopi ke penjual pop mie.

Si mas penjual pop mie lalu membuatkan pesanan kopinya Farhan. Karena ada pesanan kopi si penjual pop mie langsung membuatkan kopi pesanannya.

Farhan itu kopiholic. Gue itung-itung dia udah ratusan bahkan ribuan kali ngopi, sejak SD. Makanya wajar kalau teman-temannya memanggilnya dengan sebutan ‘Pelor’, singkatan dari nempel molor. Kalian pasti nanya apa hubungan antara kopi dan molor? Biar Gue aja yang nanya langsung ke Farhan. Pas ditanya kenapa bisa begitu katanya itu adalah efek kopi. Banyak ngopi banyak tidur. Benar juga kata orang Arab.

Selesai bertransaksi dengan si mas penjual pop mie Farhan ngopi. Melihat dia ngopi Gue haus. Lalu Gue pun pingin. Gue lalu meminta kopi, tanpa rasa malu. Ngapain pake malu sama Farhan. Farhan memberi kopinya. Setelah diberi Gue menerima. Kemudian Gue meminumnya. Setelah diminum kopi habis. Gelas menjadi kosong kembali. Dan, akhirnya kereta pun sampai Semarang.

Di semarang kereta menurunkan penumpang dan menaikan pedagang asongan. Lalu kereta melaju kembali setelah istirahat sebentar di Semarang. Pedagang asongan kembali berlalu-lalang di dalam gerbong kereta. Dia gak capek-capeknya menjajakan jualannya. Kalau dia capek dia pasti berhenti. Kalau dia gak berhenti menjajajkan jualannya pasti dia belum capek. Dan Farhan pun kembali tergoda.

“Kopi, Mas.” Itu Farhan yang pingin ngopi lagi.

“Berapa, Mas?” Si Mas bertanya dengan pertanyaan yang sama, tapi orangnya berbeda. Kali ini si mas adalah benar penjual kopi, bukan pop mie.

“Airnya aja, Mas.” Farhan pingin beli air panasnya aja katanya.

“Gak sama kopinya aja sekalian, Mas?” Si mas protes keras.

“Kopinya saya punya, Mas. Saya beli air panasnya aja.” Farhan ngeyel.

“Wah, maaf, Mas. Bukannya gak boleh. Tapi, jujur saya jualan kopi, bukan jualan air panas, Mas.” Si mas akhirnya berterus terang kepada Farhan. Dia itu emang jual kopi plus air panasnya juga bukan jualan air panas tok. Jadi Farhan harusnya beli sepaket, kopi dan air panasnya sekalian.

Si mas penjual kopi dan air panas itu emang pintar banget. Dia udah mengatur strategi jualannya. Kalau dia jual air panasnya aja, sedangkan kopinya gak dijual sekalian nanti jadinya dia disebut penjual air panas. Kalau dia jual kopinya aja gak sekalian air panasnya buat apa coba? Gak enak minum kopi doang gak pake air panasnya.

Si mas penjual kopi seduh, kopi sachet dan air panas, pun pergi meninggalkan Farhan yang masih melongo takjub. Ternyata dia itu jualan kopi seduh bukan cuma jual kopinya atau air panasnya tok. Farhan kecewa. Sedangkan kereta sampai di stasiun Malang.

Kita bertiga turun dari kereta. Karena kereta udah mentok dan gak kemana-kemana lagi. Tujuan akhirnya adalah Malang. Dan di sinilah Malang itu berada. Udaranya sejuk. Malang itu hampir sama kayak di Bandung ternyata. Bedanya, kalau Bandung itu Kota Kembang, Wamena itu adanya di Papua.

Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Tumpang. Dengan menggunakan sesosok angkot kami bertiga ke sana. Sekira satu jam-an kami sampai di Tumpang dengan menumpang angkot. Tiba di Tumpang kita makan dan belanja ke pasar. Kalian masih pingin tahu kami belanja apa aja buat pendakian kali ini? Itu rahasia. Pokoknya kita beli sayur mayur dan lauk pauk plus kerupuk. Kerupuk itu renyah. Soalnya orang Indonesia gak bisa makan tanpa nasi.

Setelah persiapan selesai kami melanjutkan perjalanan lagi ke base camp pendakian di Ranu Pani. Dari Tumpang kami naik mobil off road. Akhirnya Gue naik mobil itu juga. Cita-cita Gue akhirnya tercapai. Terimakasih Tuhan.

Di tengah jalan mobil berhenti. Padahal udah jelas-jelas ada larangan gak boleh berhenti di tengah jalan. Apalagi parkir di tengah jalan. Untungnya gak ada polisi waktu itu. Gue dan Farhan dan Khemal pun turun. Ternyata kami harus registrasi terlebih dahulu. Soal yang kayak gini-gini, registrasi, Farhan lah jagonya. Sebab dialah satu diantara kami bertiga yang paling lama kuliahnya.

Keluar dari ruang registrasi Farhan cemberut. Mukanya kusam, soalnya jarang mandi. Ternyata kuota untuk pendakian ke puncak Semeru, Mahameru, telah habis. Hanya enam ratus pendaki aja yang dibolehkan muncak. Kalian tahu apa itu muncak? Muncak itu kata kerja dari puncak. Puncak itu kata benda. Coba aja cari di tesaurus atau KBBI. KBBI itu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau yang nilai pelajaran Bahasa Indonesianya sembilan pasti tahu apa itu kuota.

Kami adalah pendaki ke enam ratus dua puluh satu. Itu artinya kami gak masuk kuota. Itu sama saja kami gak diperbolehkan ke puncak Semeru. Cuma boleh sampai Kalimati. Kalimati itu pos setelah Ranu Kumbolo dan sebelum Arcopodo. Jadi kami gak boleh ngedaki sampai puncak Mahameru. Itulah kesimpulannya.

Bagi mereka yang diperbolehkan ke puncak mendapatkan blangko hijau. Sedangkan kami mendapat blangko merah. Itu artinya kami benar-benar gak bisa muncak. Oh, iya, blangko itu adalah surat isian. Semacam formulir pendaftaran. Warnanya ada dua, merah dan hijau. Merah itu berhenti, hijau itu jalan terus. Kalau ke kiri jalan terus gak usah mengikuti lampu.

Mendengar kabar berita itu kami biasa-biasa aja. Sedikit syok. Tapi, sisanya biasa aja. Syoknya karena kami jauh-jauh dari Bandung dan ternyata gak diperbolehkan naik sampai ke puncak Mahameru. Coba deh kalian bayangin betapa nelangsanya kami? Di sisi lain kami biasa aja, karena kami masih di Indonesia. Di Indonesia aturan mana sih yang gak bisa dilobi? Semuanya bisa diatur, asal ada hepeng—duit.

Lalu mobil pun berjalan lagi. Perjalanan menggunakan Land Cruiser kembali memakan waktu, bukan makan solar. Melalui jalan berkelok dan berliku kami melewati daerah yang bernama Pananjakan. Di sana kalian bisa menikmati sunrise Bromo yang eksotis banget. Daerah itu masuk ke dalam kawasan TNBTS—Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Daerahnya indah sebab gak ada pedagang asongan yang lewat, kayak di kereta Matarmaja tadi.

Setelah mengarungi waktu dua jam setengah kami sampai di daerah yang sudah diberi nama sebelum kami dilahirkan ke dunia ini dengan nama Ranu Pani. Kami tahu itu Ranu Pani dari tulisan gede banget yang tertulis di dinding sebuah bangunan mirip kantor. Kami turun sedangkan hari udah sore.

Jam menunjukan pukul empat sore Waktu Indonesia Ranu Pani. Farhan masuk ke dalam kantor. Gue lupa nama kantornya. Pokoknya itu bangunan yang emang mirip kantor. Soalnya ada tulisannya: kantor. Di sana Farhan menyerahkan blangko registrasi yang berwarna merah. Lalu petugas kantor yang Gue lupa namanya itu memeriksa satu persatu barang bawaan kami. Setelah dia selesai memeriksa kami pun santai.

Sesudah ashar menjelang magrib kami bertiga berangkat. Berangkat mulai mendaki. Semeru sore itu adalah sebuah pemandangan yang basah oleh sisa air hujan. Bau tanah basah membuat kami mendadak rindu ketinggian. Bayangan akan segelas coklat hangat, secangkir kopi item, dan sepiring tempe mendoan, segera memacu kami untuk semangat melangkahkan kaki. Pelan-pelan udara dingin masuk menembus pori-pori kulit.

Angin semakin kencang berhembus dan kami pun sampai di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah nama sebuah danau, sedangkan Rano Karno adalah nama asli Si Doel. Setelah lima jam berjalan dari Ranu Pani akhirnya Ranu Kumbolo dijelang. Hamparan air dalam wadah cekungan tanah yang luas terhampar di sana. Airnya memantulkan cahaya bulan yang waktu itu lagi dalam keadaan telanjang bulat.

Oh, indahnya Ranu Kumbolo.

Kami segera mengayunkan langkah menuju ke tepian danau. Di sana kami membangun rumah. Dengan peralatan sederhana yang bernama tenda. Kami alasi bangunan itu dengan menggunakan marmer yang namanya adalah matras. Setelah itu bangunan itu kami atapi dengan genteng pilihan dari Jatiwangi yang biasa dikenal dengan nama fly sit. Di depan bangunan yang bernama tenda itu tersaji hamparan air dengan riak tenangnya ala Ranu Kumbolo.

Di atas sana rembulan dan gemintang bercengkrama. Saling goda dan saling rayu. Kerlipnya adalah lampu penerang semesta, yang tanpa bahan bakar namun abadi. Kami ngopi-ngopi bertemankan cahayanya. Perlahan dingin menusuk kalbu. Sesaat kemudian Farhan membuat api unggun. Rasanya kami gak pingin Dian Sastro ataupun Nicole Kidman jika udah seperti ini.

Lepas jam sebelas malam kami beristirahat. Istirahat itu adalah tidur. Tidur itu adalah memeremkan mata. Dan merem adalah antonim dari melek. Kami masukan raga ke dalam kantong tidur masing-masing. Setelah itu lampu kami matikan. Farhan dan Khemal udah tertidur. Sedangkan Gue masih melek.

Entah kenapa dingin Ranu Kumbolo itu luar biasa. Dan Gue pun berdoa supaya Tuhan segera mematikan AC atau pendingin ruangan atau apapun itu yang mendinginkan seisi tenda kami. Amin. Tapi, meski udah diamini dingin makin merajalela. Dan Gue pun tidur berselimut sarung.

Pagi pun datang. Hari ini adalah tanggal 16 agustus. Besok adalah tanggal 17 agustus. Dan lusa itu tanggal 18 agustus. Ah, kalian juga tahu itu. Kami harus segera beranjak ke Kalimati. Biar rencana untuk upacara bendera 17 agustus di puncak Mahameru bisa terlaksana sesuai jadwal.

Setelah ngopi dan gosok gigi kami gak sempet mandi. Soalnya dingin banget. Suhunya mungkin dibawah nol derajat. Soalnya tadi barusan Gue ngerebus telor dan langsung mateng. Ngerebusnya di atas panci. Pancinya berisi air mendidih. Mendidih karena dipanasi. Setelah telor mateng kami sarapan. Dan setelah itu kami pergi lagi.

Sebelum meninggalkan Ranu Kumbolo Gue sempatkan diri untuk menghormat bendera merah putih yang terpasang tinggi pada sebuah tiang di sana. Seusai itu Gue mengheningkan terima kasih. Atas jasa-jasa para bapak bangsalah Indonesia dapat merdeka.

Merdeka!

Dan Gue menuju ke Tanjakan Cinta. Di sana Gue berjalan menanjak. Namanya juga tanjakan. Kalau turunan pasti menurun. Kalau mendatar itu kolom dalam Teka-teki Silang.

Farhan dan Khemal katanya minta gak disapa saat melewati Tanjakan Cinta. Mereka berdua punya sebuah harapan masing-masing. Dan, konon katanya jika kita berharap sambil berjalan tanpa menoleh dan berhenti di Tanjakan Cinta, maka harapan kita itu bakal terkabul. Padahal yang diperlukan buat mencapai harapan dan mimpi adalah keyakinan dan kerja keras, bukan mempercayai mitos. Tapi, Farhan dan Khemal percaya, sedangkan Gue perjaka.

Tanjakan Cinta dilalui tanpa tantangan berarti. Setelah itu kami melewati tanah yang begitu luas yang terkenal dengan nama Oro-Oro Ombo. Seperti savana atau mungkin padang stepa. Rumput-rumput liar tumbuh seukuran leher. Leher kambing maksudnya. Oro-Oro Ombo menyajikan satu pemandangan yang sungguh membuai mata.

Kami memasuki hutan setelah Oro-Oro Ombo terlewati. Sejam kemudian sampailah kami di tempat bernama Kalimati. Kali itu sungai. Sedangkan mati itu sakit, katanya. Jadi Kalimati adalah sungai yang udah lama kering. Keringnya dari kapan? Entahlah. Hanya si kali yang tahu.

Di Kalimati kami nge-camp. Gak kerasa udah lima jam kami berjalan dari Ranu Kumbolo. Gak kerasa terutama bagi kalian yang membaca tulisan ini. Bagi Gue itu sungguh kerasa banget. Capek. Punggung berasa menggendong pocong. Berat. Tapi, asyik. Soalnya di Kalimati itu pemandangannya gak kalah eksotisnya dengan Taman Gantung di Babilonia dulu. Indah banget.

Kami bermalam di Kalimati. Maksudnya menunggu sampai nanti dini hari untuk muncak. Muncak? Bukannya tadi blangkonya merah ya? Itu khan berarti gak boleh muncak. Betul. Tapi, sekali lagi ini masih di Indonesia. Segalanya bisa aja terjadi dan mungkin. Kami tunggu aja nanti.

Setelah sejenak beristirahat dan meluruskan otot-otot badan sampailah pada dini hari. Jam menunjukan pukul satu dini hari Waktu Indonesia Kalimati. Itu artinya kami harus segera bersiap muncak. Berdasarkan perhitungan dari Badan Meteorologi dan Geofisika dan juga Pusat Vulkanologi dan Meteorologi Bencana Geologi perjalanan dari Kalimati sampai ke puncak dapat ditempuh dengan lima jam waktu normal. Waktu normal itu ditempuh melalui perjalanan darat, bukan laut ataupun udara. Akhirnya kami bersiap.

Pada sebuah janji yang telah terucap kami melangkah. Dini hari di Kalimati adalah malam hari di Gurun Ghobi. Dinginnya minta sumbangan. Gue berpakaian serbatebal. Memakai kaos oblong dan celana bolong, yang dilapisi lagi oleh jaket. Dan juga berkupluk. Farhan dan Khemal lebih tebal lagi pakaiannya. Mereka bahkan pakai kaos singlet dan celana pendek, yang didobel dengan jaket pula. Melajulah kami ke sana ke sebuah puncak yang diisi oleh para Dewa, Mahameru.

“Anda gak boleh naik ke puncak. Hanya boleh sampe Arcopodo.” Itu peringatan dari seorang laki-laki berkupluk dan berkumis tipis yang mukanya mirip Clark Gabler dalam film Gone With The Wind itu. Dia mengaku sebagai petugas TNBTS. Katanya kami gak boleh ke puncak soalnya blangkonya merah. Dan kalau merah berarti harus berhenti. Kalo ijo jalan terus aja.

“Tapi, khan..” Farhan menyela. Dan belum rampung omongannya si bapak petugas langsung memotongnya.

“Grrr.. Gak ada tapi tapi. Pokoknya gak boleh ke puncak.” Dia menggertak lagi.

Gue akhirnya turun gunung menyelesaikan kekisruhan itu.

“Iya, Pak. Kita gak muncak kok. Kita cuma mau camping ceria aja kok, Pak.” Gue bilang jujur. Emang camping itu selalu buat hati jadi ceria.

“Ya udah. Silakan kalo mau camping ceria. Tapi sampe Arcopodo aja ya?”

Kami pun melangkah lagi untuk camping ceria. Setelah menginjakkan kaki di Arcopodo, tiba-tiba Gue kepingin naik ke tempat yang tinggi lagi. Uh, dasar manusia yang selalu kepingin melulu menuruti nafsu.

Arcopodo bukan tempat yang paling tinggi di Semeru. Apalagi banyak orang yang masih terus naik. Masa iya kita cuma bengong dan lihatin mereka pada naik. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan tanpa berusaha menyinggung pihak lain, terutama kepada bapak berkumis tipis yang tadi mirip Clark Gabler itu.

Semangat Gue makin full menjelang puncak. Kali ini bukan medan berbatu atau berlumpur atau berhutan lagi yang dilewati. Lepas dari Cemoro Tunggal trek hanya berisi lautan pasir tok. Tapi, semangat masih menyala. Jadi, hajar jalanan!

Tujuh belas agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Itu bukan suara ringtone hape. Itu adalah suara yang keluar dari mulut Gue. Tapi, sampai sini Gue lupa lirik berikutnya.

“Mas Khemal, kalo Zimbabwe tahun berapa ya merdekanya?”

Mas Khemal gak langsung menjawab. Mungkin dia masih mencari jawabannya.

“Hmm.. Gak tahu, Bro.” Akhirnya dia jawab juga pertanyaan sulit Gue itu.

“O, gak tahu ya. Ya udah gak apa-apa.” Gue bilang gitu ke dia. Tapi, Gue kayaknya belum puas dengan jawaban tadi.

“Yang bacain teks proklamsi itu Bung Karno khan ya?”

“Iya.” Dia menjawab cepat. Posisinya di belakang Gue. Tapi kali itu kita sama-sama berhenti. Ngobrol dulu bentar.

“Kalo yang ngetik itu Sayuti Melik khan ya?”

“Hmm.. Iya. Iya.”

“Makasih, Mas.”

“Iya, sama-sama.”

Gue baru ketemu sama Mas Khemal. Jadi Gue harus mengakrabinya. Soalnya dia itu kakaknya Farhan. Dan Gue bukan adiknya. Adiknya adalah Farhan. Dan Farhan itu teman Gue.

“O, iya, Mas. Kalo mesin tiknya punya siapa ya?”

“Wah gak tahu euy.”

“O, ya udah. Makasih, Mas.”

“Iya. Sama-sama.”

Gue melangkah lagi. Dan Mas Khemal pun sama. Farhan masih di belakang sana. Tapi, dia juga masih melangkah, gak tidur. Dan Gue nyanyi lagi.

Hari merdeka nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia

Merdeka..

Gue nyanyi. Buat membakar kalori.

Puncak samar-samar terlihat di balik kegelapan langit dini hari. Gue terus melangkah. Ternyata melangkahkan kaki di trek pasir itu gak mudah. Satu langkah maju harus dibalas dengan dua langkah mundur. Tapi, itulah seninya mendaki. Sekali lagi, semuanya itu adalah tantangan, bukan hambatan apalagi persoalan sama sekali. Lanjutkan, Gan!

Cahaya rembulan perlahan redup terganti oleh sinar mentari. Hanya tinggal beberapa langkah ke depan. Dan puncak digapai.

Benar sudah. Akhirnya semeter terakhir tertapaki. Udah gak ada tanah yang lebih tinggi lagi. Inilah yang namanya Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa. Gue pun bersujud di sana. Di tempat tertinggi di Pulau Jawa. Dan akhirnya Gue memecahkan rekor juga, meski cuma beberapa detik, sebagai manusia tertinggi di Jawa.

Gue berdiri di samping nisan In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang teronggok di Mahameru. Gak jauh darinya bendera Merah Putih telah terkibar gagah. Gue menghormat kepada sang saka merah putih. Lagu Indonesia Raya berkumandang dari mulut-mulut para pendaki yang memadati puncak.

Merdeka!

Inilah Indonesia. Sebuah tanah kejayaan dan segala kesucian.

Hiduplah Indonesia Raya..

 

Gunung Semeru. 2008

Posted in: Expedition