Balada Seorang Serdadu

Posted on January 16, 2014

0



Balada Seorang Serdadu (dok arsip nasional)

Balada Seorang Serdadu (dok arsip nasional)

Aku masih ingat lebaran yang lalu. Idul Fitri yang kita rayakan bersama. Kamu memasak ketupat opor kesukaanku. Dan aku pun melahapnya hingga tak tersisa secuil pun. Kita arungi satu malam dimusim penghujan itu dengan kemesraan. Kamu membelaiku dengan sejuta kasih sayang. Aku pun berlaku demikian kepadamu.

Kamu tahu? Dingin renyai hujan berubah menjadi kehangatan tiada tara malam itu. Kita berdua memandangi rinai hujan yang jatuh tanpa keresahan. Asyik bercanda ditengah hangat malam. Dan, yang lebih membahagiakanku, keberadaan kamu di sisiku saat itu.

Rasanya sekarang aku kepingin mengulangi saat-saat itu bersamamu. Suatu malam setahun silam. Sama, kini rinai hujan pun turun, melumuri batang-batang pepohonan yang berdiri kokoh di seberang jalanan setapak nun bisu. Hembus sepoi angin perlahan tapi pasti menggoyang rintik air yang turun menghampiri bumi. Seketika, menyeruak bau tanah basah. Aku rindu bau itu seberat rindunya hati ini kepadamu. Seperti mencium aroma surgawi yang sudah lama hilang. Aku peluk mesra erat-erat kehadirannya. Sungguh nyamannya.

Dari kejauhan sana aku seperti sayup-sayup mendengar alunan musik berirama sendu. Alunan itu kian menambah sendu dan syahdu hati. Ah, mungkin itu halusinasiku saja. Toh, disini aku masih terduduk. Diam tak bergerak. Sendiri pula.

Bulir air hujan masih saja menggurat punggung daun pisang. Ia seperti sedang melukis wajahmu yang ayu. Membentuk segurat senyum manismu. Hei Nona, kamu ada disini. Hadir tepat di depan kamp-ku. Aku melihatmu tersenyum lewat lukisan daun pisang basah yang terpapar oleh nyala sigi itu.

Seperti tak sengaja bibir ini tertarik menyamping dua senti. Aku menyambut senyummu. Bolehkah aku menyapamu? Atau hanya sekadar berbincang? Uh, kenapa juga aku mesti bertanya. Ini kebiasaan burukku, yang sering bertele dengan keraguan. Toh, hanya menyapa dan berbincang ringan. Lalu, apa salahnya? Langsung saja. Biarkan semua kata mengalir layaknya air di tepian sungai saat musim tanam tiba.

Baiklah. Kita mulai dulu dengan canda. Lalu pelan-pelan tawa terukir. Kehangatan mulai terasa. Kemesraan pelan-pelan merambat masuk lewat sela-sela jari, meringsek masuk ke dalam nadi. Lalu, membungkus seluruh raga. Obrolan kita benar-benar membuat bongkahan es dihati ini seketika meleleh. Kemudian, pelan-pelan bayanganmu menjadi samar-samar. Lantas sekejap menghilang.

Hei.. Kenapa pergi? Aku belum puas dengan kehangatan ini. Mari sini, kita ulangi kemesraan tadi. Mari berbicang lagi soal pagi. Tentang bagaimana sang mentari membuka hari. Tentang sore yang kian hari kian melankolis. Tentang bintang dan rembulan yang mesra bersahabat semenjak dulu kala. Tentang birunya langit dan goresan crayon putih awan padanya. Mari sini, Kasihku.

Kamu terlalu cepat pergi. Melenggang seiring hujan berhenti. Tapi, meski begitu aku masih disini. Menunggu renyai hujan, bau tanah basah, lukisan bulir air di daun pisang, datang kembali esok pagi. Kembali dengan senyuman dari bibir kecil manismu. Kini, hujan pergi. Bayanganmu pun ikut serta dihapus oleh kalutnya malam yang kian pekat.

Kamu adalah segalanya bagiku, Kartini. Mutiara ditengah samudera luas menghampar. Air penghilang haus ditengah dahaga yang melanda. Selimut ditengah lautan salju. Kamu adalah lautan imajiku. Kamu adalah masa depanku. Harapan dikala sepi melanda seperti ini dan halusinasi kian parah menyerang otakku.

Andai saja kamu tahu itu. Kamu pasti mengerti akan keadaanku disini. Keadaan dimana hampir tidak ada suatu kepastian yang hadir. Harapan pun enggan berpihak. Aku bisa mati esok, satu jam kemudian, bahkan sedetik setelah aku menuliskan catatan sederhana ini. Semuanya serba mungkin pada saat-saat seperti ini.

Aku tidak ingin bercanda malam ini. Sebab terlalu sayang aku lewatkan malam untuk sekadar berlelucon. Aku ingin berbicara dengan hati kepadamu lewat tulisan ini. Karena aku sendiri tak yakin apakah dapat bertemu denganmu lagi nanti.

Aku begitu pesimis sekarang. Berbeda dengan aku, Arief, yang dulu begitu optimis dan yakin dalam mengarungi bahtera hidup bersamamu. Sekarang, aku menjadi seperti ini karena kamu tak disampingku lagi. Dan, mungkin untuk selamanya.

Aku berpikir seolah-olah hidup hanya dalam hitungan detik lagi. Aku di sini bersama rombongan kompi-ku. Bersama di belantara rimba raya. Belantara yang dikelilingi aroma kematian. Tugasku adalah membunuh. Ya, membunuh kompeni yang lewat mendekatiku. Atau membunuh siapa saja. Sebab dalam getir gulita seperti ini semua menjadi serupa. Ah, kamu pasti juga tahu bagaimana beringasnya Belanda dalam melancarkan agresinya.

Dan, asal kamu tahu, disini antara kawan dan lawan sama saja. Barangkali pikiran dan jiwa ini telah diselimuti oleh ketakutan yang begitu merajai. Ketakutan yang hampir-hampir tak masuk akal menurutku sendiri.

Kartini, apalah arti hidupku kini jika dibandingkan dengan purnama berusia jutaan tahun. Bulat rembulan tepat berada diatas kepalaku malam ini. Ia hadir sesaat setelah hujan menyapa malam. Ia menjadi sedikit penghangat malam dinginku kali ini. Ia indah. Sama sepertimu. Aku memamandangnya lekat-lekat. Seperti tak ingin lepas dari memandangnya. Kedua bola mataku seakan tersandera, sama seperti ketika aku memandangimu, Kasih. Kamu tak beda dengannya dalam soal cinta. Selalu diliputi oleh keindahan dan kesejukan bak embun pagi. Aku merasa sebentar lagi, mungkin dalam hitungan detik, aku dekat dengannya. Dekat denganmu.

Aku sangat berhutang kepadanya. Berhutang kedamaian dan secercah keindahan. Dan, kamulah yang tetap menjadi keindahan dan keanggunan bersanding dengan rembulan malam ini. Keduanya kekal dikejauahan sana. Berbeda dengan aku yang seperti bulir debu di alam raya ini.

Di sekelilingku hanya ada mayat-mayat yang tak terurus. Mereka yang masih hidup semakin kurus. Menunggu peluru yang sebentar lagi pasti menembus. Angin kehampaan begitu kencang berhembus. Membawa serta keyakinanku untuk tetap hidup terus. Semuanya itu telah terhapus dan tergerus.

Pagi, siang, ataupun malam, di sini tak ada beda. Setiap detik diisi dengan desingan peluru dan letupan mortir. Begitu mengganggu layaknya suara nyamuk yang setiap malam mengganggu tidurku. Tanah di sini berwarna merah, tidak seperti di tempat kita, Dukuh Rejo. Disana tanah masih tetap coklat dengan baunya yang khas. Disini berwarna merah sebab disiram darah tentara yang gugur. Baunya pun membuat mual dan ingin muntah.

Untung. Aku masih menyimpan fotomu di dalam dompet kumalku. Foto yang sewindu lalu aku ambil secara diam-diam dari kamarmu. Kamu saat itu tak menyadarinya, kalau foto yang kamu lihat saat membuka dompetku itu aku ambil tanpa bilang kepadamu sebelumnya. Namun, pasti kamu akan ikhlas walaupun aku mengambilnya tanpa sepengetahuanmu. Toh, kamu tetap ikhlas saat kamu tahu bahwa hatimu telah kurampas dulu.

Kupandangi fotomu. Tetap mata ini tak beranjak dari senyummu yang tersungging dari mulut kecilmu. Kupandangi lama-lama. Tak peduli di luar sana suara desingan peluru dan erangan orang-orang yang meregang nyawa begitu mengganggu pendengaranku.

Sesaat aku teringat pengalaman kita kala itu. Kita bersama disuatu sore musim kemarau pada tahun-tahun sebelum Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Suasana saat itu dipenuhi dengan kedamaian dan kehangatan kasih sayang. Aku ingat setiap kata yang keluar dari mulut manismu.

“Jangan pernah meninggalkanku lagi”, bujukmu sambil kedua telapak lenganmu memegang mukaku, “jangan pernah beranjak dari sisiku, Mas”.

Aku seperti kehabisan kata. Hampir-hampir aku tak dapat bicara.

“Aku tidak akan pernah jauh walau sedetik pun darimu, kasihku”, bisikku dalam hati.

Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Sebab aku sadar bahwa kata-kata tak akan sanggup mewakili perasaanku saat itu. Cukup dengan kecupan dikeningmu. Sebuah balasan penuh makna yang mewakili rasa sayangku kepadamu.

Kita berada di tengah lembah cinta yang sedang mengembang. Di temani lembayung senja yang menggantung pada ranting pohon yang kerontang. Menyemburatkan warna merah menerobos cakrawala yang membentang. Berdua ditemani celotehan sumbang burung-burung yang terbang. Berbicara lewat hati tanpa bimbang. Hanya sedikit kata yang terbuang. Sampai tiba malam menjelang. Aku rindu saat-saat itu, Kartini sayang.

Namun, hidupku kini penuh kehampaan di sini. Kita berjarak puluhan kilometer kini. Perjumpaan denganmu hanya mimpi. Walau enggan, tapi aku begitu meyakini. Malam-malamku kini hanya ditemani oleh malaikat maut yang senantiasa mengintai. Kapanpun ia mau ia bebas menarikku ke dalam kegelapan malam sesuka hati.

Setiap surat yang aku terima darimu, aku selalu merasakan kedamaian disetiap kata-kata yang kamu tulis. Aku yakin bahwa kamu selalu mengharapkan kepulanganku. Agar kita bisa bersanding lagi seperti sedia kala. Aku maklumi itu. Aku pun berharap sama sepertimu. Segera pulang untuk kemudian kembali merajut benang-benang kasih yang sempat kita rajut dahulu.

Aku menyesal tak dapat memanfaatkan waktu libur kompiku dulu. Seharusnya aku hargai waktu dengan memanfaatkannya berdua denganmu. Tapi, aku malah asyik dengan kawan-kawanku. Andai waktu dapat terulang.

Uh, sekarang aku serahkan sepenuhnya hidupku pada takdir.

Aku jadi sangat menghargai apa itu harapan. Harapan adalah nyawa. Menjadi semangat hidup. Apalagi untuk malam-malam disini yang berlalu begitu getir.

Aku selalu dan tiada hentinya menghibur diri. Sebab disini, di tanah yang semuanya kelam tidak ada yang dapat menghiburku selain diriku sendiri. Itu pun harus dengan memaksa hati. Daripada aku harus selalu bersedih. Toh, aku adalah seorang yang tinggal menunggu mati. Seorang yang kini berada di Vordersten Front untuk mati.

Aku ceritakan kepadamu bagaimana kondisi tubuhku kini. Begini. Dua ruas jari kelingking kananku hilang. Satu ruas jari telunjukku di tangan yang sama pun lepas bagai puntung. Itu masih mending. Di tangan sebelah kiri lebih sadis. Dua jariku, kelingking dan jari manisku telah habis. Sekarang tinggal ada tiga jari di lengan kiriku. Itupun yang telunjuk kemungkinan besar akan menyusul habis. Dalam hitungan detik ke depan aku rasa. Ujungnya sudah menghitam dan mati rasa. Tinggal menunggu lepas saja. Satu persatu anggota tubuhku hilang dan habis. Itu semua karena terkena mortir dan peluru yang ganas. Wajar saja jika tulisanku sekarang menjadi tidak sebagus dahulu. Dimana masih lengkap jari-jariku. Aku baru menyadarinya ternyata. Tak tahu apakah masih layak dikatakan tubuh atau puntung.

Tapi, biar bagaimanapun juga aku tetaplah bangga. Kebanggaan yang tentu beralasan. Bagaimana tidak, aku berada di dalam pasukan yang langsung dipimpin oleh seorang jenderal yang luar biasa. Dibalik raga kerempeng dan lemah itu semua pasukan patuh kepadanya, termasuk diriku. Ia adalah Jenderal pertama sekaligus termuda yang pernah dimiliki negeri ini. Indonesia jelas bangga pernah melahirkan teladan yang tangguh seperti Jenderal Sudirman.

Kamu mungkin tahu jika kondisinya begitu lemah karena menderita sakit tuberkulosis yang parah. Tapi, ia tetap saja keras kepala memimpin perang gerilya berbulan-bulan lamanya melawan agresi militer Belanda yang kedua ini. Paru-paru tinggal sebelah kok ya masih kelayapan di hutan, Dan (Komandan, red). Sehingga harus ditandu kesana kemari oleh loyalisnya itu. Dasar Jenderal keras kepala!

Asal kamu tahu, sejatinya ia baru saja keluar rumah sakit sebab benalu yang masih saja bandel menempel di paru-parunya. Praktis jika keadaannya itu tak mengijinkannya untuk keluar rumah. Tapi, aku paham jika kemudian keadaan menjadi serbarumit. Yogyakarta dikepung. Dwi tunggal pun ditawan. Meski sebelumnya Sukarno melarangnya untuk berperang dan menjalani perawatan, namun ia mengindahkan perintah sang atasan. Belakangan aku tahu dari desas desus disini jika itu bukan maksud ia ingkar. Naluri sebagai pejuang, dan (lebih-lebih) kecintaannya kepada bangsa lah yang menyebabkan penolakan itu. Ia cinta kepada Sukarno. Tapi, ia lebih cinta kepada bangsa dan negaranya. Mungkin dalam hatinya lirih berucap, Sukarno tetaplah manusia yang kapan saja mati. Tapi, Indonesia tak akan pernah mati.

Lantas, bergerilya adalah keputusan terbaik yang diambilnya—meski dengan ditandu. Pak Dirman menyelipkan kerisnya dalam jubah kebesarannya. Berangkat memimpin pasukan kami untuk melakukan perang gerilya. Melintasi hutan yang satu ke hutan yang lain. Berpindah bukit ke bukit. Menarik napas menjadi aktivitas yang sangat sulit, sepertinya paru-paru ini terjepit. Sekali lagi, tak pernah kujumpai ia berkeluh kesah dan mengeluh.

Fisik boleh saja tercekik. Tapi, seorang pemimpin adalah seorang pengatur strategi. Dan, lebih dari seorang pemimpin besar, Pak Dirman adalah seorang kekasih rakyat Indonesia.

Kasihku, Kartini.

Aku ingin berbagi cerita denganmu. Telah banyak yang aku alami disini, selama hampir sewindu bergerilya dan mengendap-endap. Aku juga ingin berbagi tentang siapa aku dan darimana aku. Tentu belum banyak yang aku ceritakan kepadamu dulu. Pertemuan singkat kita yang hanya dua bulan tak akan cukup untuk saling berbagi dan mengenal. Belum lagi dengan kurangnya intensitas kita untuk berbincang. Barangkali karena kamu terlalu indah buatku, sehingga bibir dan lidah ini terasa kelu jika akan memulai berbicara di depanmu. Dan sekarang, mumpung aku dapat menulis di buku catatanku, aku tuliskan pengalamanku seperti itu. Semoga kamu mengerti, Kartiniku.

Pepatah pernah bilang, selalu ada jalan menuju Roma. Namun, aku yakin dengan keyakinan yang sejati bahwa tidak ada jalan keluar dari kepungan serdadu Belanda yang bengis! Aku meyakininya sepenuhnya. Hanya ada satu jalan di sini. Jalan menuju kematian.

Pagi tadi ada yang mati lagi. Sersan Roni, seorang tentara yang dahulu gagah pemberani, pun begitu aku kagumi sekarang terkulai tak berdaya. Tubuhnya melenguh lunglai diselimuti tanah basah. Dadanya tertembus peluru tentara kompeni. Darahnya mengucur deras seketika. Anggota tubuhnya masih utuh, berbeda dengan kebanyakan yang mati sebelumnya. “Ia masih beruntung, gerutuku dalam hati. Mungkin karena ia mati dengan anggota tubuh yang masih lengkap. “Ah, tapi sama saja. Ia tetap mati, tak bernyawa, lanjutku kemudian. Hancur atau utuh ia tetaplah mayat sekarang.

Kematian bukanlah hal yang asing di sini. Satu persatu berjatuhan bagai nyamuk-nyamuk. Bergeletakan di mana-mana. Buntung tanpa tangan atau kaki. Tubuh tanpa kepala. Isi perut yang terburai keluar dengan rongga yang menganga. Tak ada yang peduli untuk menguburkannya. Kematian yang hanya cocok untuk landa-landa (Belanda: Jawa) bangsat yang menjajah bumi pertiwi ini.

Aku pun tinggal menunggu giliran. Berharap cemas kapan saatku tiba. Nasib kematianku juga pasti tak akan jauh berbeda dengan yang lainnya. Pasti. Mau bagaimana lagi, pasokan logistik telah berhenti.

Dalam hidupku baru kali ini aku merasakan keputusasaan yang begitu menjadi. Aku menemukan diriku menjadi begitu putus asa kini. Aku tak kenal lagi dengan harapan. Tidak ada lagi keyakinan dan keoptimisan yang mau hinggap dalam hati dan pikiranku. Mereka satu persatu menjauhiku dan perlahan meninggalkanku. Asa menjadi makhluk asing. Mereka pergi meninggalkanku dan kalah oleh kebengisan kelam perang. Semuanya menjadi buruk. Dan ketika sudah seperti itu, kata-kata pun tak akan sanggup merubahnya menjadi lebih baik. Secercah cahaya kehidupan telah raib. Hanya dingin, lapar, sedih, ragu, dan putus asa lah yang sekarang menjadi teman-teman sejatiku.

Sekarang aku sepenuhnya yakin bahwa yang hidup pasti akan mati. Setidaknya ada hal yang aku percayai daripada tidak ada sama sekali. Paling tidak ada hal yang dapat menenangkanku sejenak dari bengisnya dingin dan kejinya rasa lapar. Selain juga kedamaian dan ketenangan saat melamunkanmu, Kartini.

Meski begitu, aku masih tetap bersyukur dengan keadaanku sekarang. Bersyukur jika dibandingkan dengan kawan-kawanku yang lain. Kami sekarang berada di tepi Sungai Progo. Setidaknya sedikit lebih tenang dibandingkan dengan mereka yang berada di lapang terbuka. Mereka tidak sebaik keadaan kami kini. Sebab mereka berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata kompeni yang kapanpun siap meledakkan isi kepala mereka.

Aku memikirkanmu dan memikirkan ayah ibuku di rumah. Tapi apakah kamu dan mereka juga memikirkanku? Entahlah. Aku tak peduli. Paling tidak di dalam 24 jam waktuku kini, aku ada kerjaan yang dapat menenangkanku walau sejenak. Sebab melamun dapat meningkatkan otak seseorang untuk bekerja lebih kreatif dan produktif.

Musim penghujan kembali menjelang, perlahan namun pasti menusuk seluruh pori-pori kulitku, tanpa seinci pun ruang yang hangat di tubuhku. Dedaunan memerah, menguning, dan terjatuh berguguran ke tanah. Usang oleh waktu yang kejam.

Serdadu Belanda terus menerobos ke hutan. Mencari gerilyawan yang mengumpet di hutan. Sebentar lagi mereka sampai dan habislah kami semua. Mereka jutaan kali lebih kuat daripada kami. Mereka sungguh orang-orang terlatih dengan senjata otomatis yang mumpuni pula. Beda dengan kami yang hanya memegang bedil rakitan dan belati. Ini benar-benar sebuah tragedi.

Di kota Yogyakarta langit-langit pasti dihiasi dengan pijar mesiu, desingan peluru dan kilat cahaya meriam. Ah, aku ingin cepat-cepat tertidur. Sebab menurutku, tidur adalah satu-satunya obat penawar rasa lapar. Berharap setelah bangun nanti perutku tak lagi merasakan lapar yang menggigit. Terkadang juga aku takut tidur. Bukan karena aku pengidap insomnia. Ini lebih kepada ketakutan akan maut yang selalu mengintai. Aku takut aku tidak akan bangun kembali dan menyaksikan hari esok ketika aku tertidur. Aku menjadi begitu pengecut.

Tak ada bahan makanan di sini. Tak ada minuman pula. Kami seperti sisa. Segerombolan serdadu yang kehilangan induk. Sedangkan, pasokan makanan tak sampai kesini. Itu artinya kami harus bertahan hidup sendiri. Kadang kami hanya memakan tanaman rambat atau umbi-umbian di hutan. Mafhum, tubuhku kian hari kian menyusut. Pipiku tak lagi kencang, perlahan cekung mirip cekungan sendok. Mataku tampak menonjol dari rongganya. Dan, dahi yang sedikit melorot.

Padahal usiaku baru genap 37 tahun 30 Desember nanti. Kamu pasti ingat itu—hari ulang tahunku. Tiap pagi menjelang, kerjaanku adalah mengencangkan ikat pinggang. Satu pagi naik satu lubang di ikat pinggangku. Pinggangku semakin mengecil. Itu juga salah satu caraku untuk menahan rasa lapar tentunya. Berat badanku kini hanya tinggal sepertiga berat badan normalku.

Kasihku, Kartini.

Beberapa minggu lagi ramadan tiba. Maaf, puasa kali ini aku tak di sampingmu, Kartini. Tapi sudahlah. Semuanya telah terjadi, dan semuanya pun pasti akan berlalu. Tetaplah membuat kejutan hari raya. Buatlah ketupat opor yang menjadi santapan favoritku. Masih ada uang untuk membeli bahan-bahan itu, khan? Aku harap masih ada sisa.

Oh iya, jika kurang ambillah uang di celengan tanah diatas lemari bajuku. Aku pasti tidak berada disana saat hari bahagia itu tiba. Namun, tak apalah kamu memasak seperti biasa. Walau hanya sebatas simbol, tapi itu buatku berarti dan menjadikanku sedikit tenang. Kalau tidak ada uang, bolehlah kamu pinjam dulu ke keluarga Pak Sudi. Ia adalah keluarga berada, tetanggaku. Aku kenal baik dengannya. Jadi aku pikir tidak ada salahnya kamu pinjam kepadanya dulu.

Saat kamu menerima catatan kecilku ini, aku pasti telah berada di alam dan dimensi lain. Aku hanya bisa mengirimimu senyum dan bayangan saat kamu membacanya. Bacalah dengan mesra seperti saat kamu memelukku musim kemarau sewindu lalu. Yakinilah bahwa aku berjuang untuk Negeriku Tercinta, Indonesia.

Maaf kasih, aku terlalu panjang dalam mengurai kata. Bukan kebiasaanku seperti ini—kamu pun tahu itu. Mungkin karena ini yang terakhir yang dapat aku berikan kepadamu, Kartini.

Detak jarum jam seperti mengikuti detak jantungku. Bergerak cepat tak berirama. Sebentar lagi mungkin Belanda menyergap kamp. Derap langkah sepatu boot sudah terdengar mendekat. Aku sudahi dulu pertemuan kita kali ini, dan mungkin untuk selamanya. Tapi, aku tetap yakin. Ketika saat ini kita kehilangan, semoga kehilangan kita itu punya makna untuk generasi selanjutnya. Kehidupan dan dunia ini rapuh. Jadi butuh orang-orang tangguh—seperti halnya Sang Jenderal.

Selamat tinggal kasih. Terima kasih atas kasih sayangmu kepadaku. Semuanya akan berlalu. Tapi, tidak bagi cinta kita yang akan tetap kekal. Senyum dan uluran tanganmu membantuku untuk menyeberang jembatan akhir kehidupan ini.

 

Yogyakarta, 1949

Kekasihmu,

Kopral Arief

Posted in: Short Story