Orang Bandung Juga Boleh

Posted on January 6, 2014

0



gn. slamet (dok klosetide)

gn. slamet (dok klosetide)

Dimanakah kamu akan menghabiskan akhir tahunmu?

Pertanyaan itu juga yang sukar Gue jawab. Hingga pada akhirnya hati berketetapan untuk memilih mengisi libur akhir tahun di ketinggian juga. Liburan di pantai terlalu mudah sebab gak butuh tenda dan peluh sama sekali. Dan yang lebih utama lagi, di pantai itu adanya laut, air, ombak, karang, dan pasir. Sedangkan di ketinggian ada bintang, bulan, padi, dan kapas, itulah simbol salah satu partai di Indonesia.

Musim duren segera tiba. Itu artinya Gue harus segera bersiap mendaki. Siapa tahu nemu duren di gunung. Dan pada akhirnya Slamet menjadi tujuan berikutnya dari wisata kegunungan Gue.

Slamet adalah nama tetangga samping rumah. Dia adalah seorang yang berperawakan tinggi dan berkumis tipis. Kerjaannya sebagai satpam. Pendapatannya mungkin aja pas-pasan. Dan sayangnya, bukan Slamet itu yang Gue mau daki. Yang mau didaki adalah Slamet yang adalah nama gunung. Persiapan demi persiapan pun disiapkan agar Gue dapat bersiap-siap. Segala perlengkapan pendakian yang tercecer dimana aja dan dipinjam oleh siapa aja Gue kumpulin lagi. Akhirnya mereka berkumpul setelah Gue kumpulin.

Gunung Slamet terletak di bumi dan bukan di mars asal kalian tahu. Konon gunung Slamet adalah gunung terbesar di Pulau Jawa jika dilihat dari lingkar gunungnya. Gunung Slamet itu gemuk. Dan yang gemuk itu biasanya seksi. Oleh karena itulah dia Gue daki.

Kini giliran siapa yang mau Gue daki? Biasanya sulit sekali mengajak teman untuk mengisi waktu liburan di penghujung tahun. Soalnya mereka pasti udah punya agenda masing-masing. Ada yang pergi dengan pasangannya, pergi dengan ayah ibunya, pergi dengan sahabatnya, dan ada yang pergi dengan ojek atau pembantunya. Dan benar juga. Gue kesulitan mencari orang yang mau Gue salurin jadi TKI di Amerika.

Dicari segera orang-orang yang rela berjihad dan berperang melawan nafsu dan egonya demi nusa dan bangsa.

Pengumuman itupun tersebar di seluruh pelosok dan penjuru tanah air setelah Gue sebar. Mungkin orang-orang di Somalia, Irak, China, Tajikistan, Siberia, Kosovo, Bosnia, Tanzania,Trinidan and Tobago, dan Tahiti, membacanya. Mungkin juga orang-orang PBB yang membacanya. Semoga aja. Jika iya, maka Gue harus bersiap salah satu dari mereka bakal ikut pendakian kali ini ke Slamet.

Hari demi hari berganti. Sedangkan baju, celana luar dan dalem ini belumlah diganti. Maklum, ongkos laundry sungguh mahal. Jadi, daripada dicuci mendingan dipelihara hingga benar-benar bau keringat baru kemudian dicuci lagi. Ih, sungguh jorok babi itu.

Sementara itu hanya ada dua manusia yang mengabari untuk ikut serta. Mereka adalah Maul dan Panji. Keduanya adalah pemuda asli Indonesia. Jadi, harapan Gue bakal ada pemuda dari tanah dan negara seberang tidaklah terkabul. Never mind.

Bersiap-siaplah dan persiapkan apa yang harus dipersiapkan agar kalian benar-benar siap siaga.

Begitulah bunyi pengumuman kedua yang Gue kirimkan kepada peserta yang lolos audisi dan terpilih, Maul dan Panji. Keduanya bakal mewakili kota kelahiran masing-masing. Keduanya bakal berlomba di Purbalingga demi memperebutkan hadiah tunai berupa kebanggaan dan sebuah penghargaan menjadi manusia tertinggi di Jawa Tengah. Maul dan Panji mulai deg-degan. Kompetisi ini gak main-main. Sehingga butuh persiapan fisik dan mental yang luar biasa juga.

Pada hari yang dijanjikan mereka berdua tiba. Tiba-tiba keduanya datang soalnya telah diundang. Keduanya memenuhi undangan yang udah mereka terima. Dengan membawa beban masing-masing di punggungnya mereka terengah-engah. Maklum, capek. Gue pun menyambutnya dengan rasa haru dan bahagia. Ah, begitulah rasanya kayak menyambut kedatangan rombongan jamaah haji.

Maul dan Panji adalah dua makhluk berbeda nama. Maul adalah seorang remaja tanggung. Tanggung jawabnya tinggi sebagai anak bagi orang tuanya. Harus membawa nama baik keluarga. Dia dibesarkan ditengah keluarganya sendiri, bukan keluarga orang lain. Dari kecil Maul telah mengenyam pendidikan TK—Taman Kanak-kanak, gak langsung ke jenjang perguruan tinggi. Cita-citanya dari kecil adalah pingin melamar anak gadis orang. Dan impiannya itulah yang sampai sekarang belum tercapai. Mungkin nanti. Kasihan dia.

Kedua adalah Panji. Sahabat alam yang satu ini satu kampus dengan Maul. Panji adalah seorang yang takut ular, apalagi jika ular itu berbisa. Meski begitu dia gak takut sama sekali dengan marmut ataupun kelinci. Katanya kedua binatang itu lucu-lucu, jadi kenapa harus takut? Makanan favorit remaja yang satu itu adalah nasi dengan lauk. Tanpa lauk nasi bakal menjadi nasi tok. Hambar. Bagi orang tuanya Panji adalah laki-laki yang baik. Keluarga mana yang bilang bahwa salah satu anaknya itu jahat? Ya, seperti itulah Panji yang semenjak menginjak usia sepuluh tahun udah gak menyusu pada ibunya lagi.

Maul dan Panji adalah dua sejoli bukan suami istri. Keduanya adalah sahabat alam yang bakal ikut pendakian ke Slamet kali ini. Dan dengan bekal ilmu yang mereka miliki pastinya mereka gak akan kesusahan mendapatkan calon istri. Gue yakin sih begitu. Semoga aja di Slamet ada secercah harapan itu. Amin.

Pagi hari mereka udah mendatangi tempat indekos Gue. Di sana mereka duduk. Bosan duduk mereka selonjoron. Bosan selonjoran mereka menyetel musik. Pokoknya mereka itu suka gampang bosan. Dan Gue pun bosan melihat mereka yang sukanya bosan melulu. Akhirnya demi menghilangkan kebosanan kami bersiap. Menenteng barang bawaan masing-masing dan pergi menyeberang ke jalan raya.

Kami bertiga menyetop bus. Bus jurusan Bandung-Purbalingga akan menjadi tunggangan kami. Dan gak lama datanglah sekotak bus dari arah seberang. Bus itu berjudul Goodwill. Sebuah niat baik kami tumpangi. Semoga bus ini emang benar-benar ber-goodwill. Tapi, ternyata gak demikian adanya. Kami tetaplah membayar uang kepada kondekturnya. Uh, sungguh bus Goodwill hanya sebatas nama, gak ber-goodwill sama sekali.

Bus melaju dan Srimulat pun melucu. Perjalanan kali ini cukup jauh. Beberapa kota bakal dilewati. Beberapa nama seperti Paris, Milan, Wina, Madrid, Venezia, Barcelona, Denmark, Helsinski, adalah nama-nama kota di Eropa. Dan Sumedang, Majalengka, Cirebon, Brebes, Tegal, Bumiayu, Banyumas, Purwokerto, Purbalingga, adalah nama-nama kota yang bakal bus ini lalui. Jauhnya perjalanan kali ini emang gak sejauh perjalanan dari Mekah ke Madinah.

Aroma pantura sesaat dijelang. Bau laut menyeruak di ujung lubang hidung. O, iya Cirebon itu khan terkenal sebagai penghasil terasi. Itu artinya sekarang bus udah lewat Cirebon. Sesaat kemudian aroma berganti dari terasi menjadi telor asin. Ah, ini pasti udah di Brebes. Semua orang juga tahu kalo Brebes adalah kota penghasil bawang. Melangkah lagi ke timur, aroma pun berganti. Berganti menjadi aroma oreg tempe, sayur asem, sayur lodeh, tempe goreng, tahu aci, dan teh poci. Itulah komposisi warteg.

Bus sampe juga di Tegal. Kami turun sejenak di sini. Di kota bahari ini kami turun. Mengisi perut di kota kelahiran. Kami bertiga mencari rumah makan Padang. Eh, kenapa juga mencari warung makan Padang, ini khan di Tegal. Kami pun akhirnya beralih selera. Warteg lah yang kami cari pada akhirnya. Tapi, sayang, mencari warteg di Tegal susahnya minta gendong. Semua rumah makan gak ada yang bertuliskan warteg. Lalu, Gue pun inget. Ngapain pake nama warung Tegal. Ini khan jelas-jelas udah di Tegal. Jadi, semua warung ya pasti warung Tegal. Ada ataupun gak ada tulisan warung Tegalnya tetaplah itu warteg.

Hidup warteg!

Di sana kami melepas rasa lapar. Bersama tempe oreg, telor asin, sayur asem, dan teh manis anget. Oh, puasnya perut ini. Senangnya hati ini kembali berlabuh di tanah kelahiran Tegal tercinta. Sayang seribu sayang, ini hanya sebentar. Sebab kami ingat harus melanjutkan perjalanan lagi ke tanah seberang, Purbalingga.

Usai makan siang kami pun kenyang. Perjalanan selanjutnya adalah terminal Tegal. Di sana kami menaiki bus ke arah Purwokerto. Setelah kami naik bus pun melaju kencang. Hanya dengan dua puluh ribu aja kami sampai juga di Purwokerto, kotanya Mbah Dirman—Jenderal Sudirman.

Di Purwokerto kami sejenak beristirahat. Hari itu udah malem. Untuk sampai ke Purbalingga masih beberapa kilometer lagi. Dan itu gak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki. Kami harus naik angkutan umum lagi. Tapi, sayangnya angkutan itu udah gak beredar semalam ini. Itu kata bapak-bapak di sana. Bapak-bapak di sana ada yang mengaku sebagai kondektur, calo, sopir, pedagang asongan, dan preman yang memakai seragam.

Kami pun harus rela menunggu hingga esok paginya. Malam ini kami harus bermalam. Tapi, dimana? Mungkin kalian pun bakal bertanya demikian. Kami juga sama. Sama-sama bertanya dimanakah tempat yang layak yang kami bakal tiduri itu? Biarlah Tuhan yang menjawabnya. Oh, Tuhan berilah kami jawaban secepatnya.

Gak sabar karena lama menunggu jawaban dari Tuhan Gue pun berinisiatif untuk ke musala. Di sana kami bisa salat dan beribadah. Di sebuah musala yang ada tulisan ‘Dilarang Tidur’ terminal Purwokerto itu kami berlabuh. Setelah beribadah menyembah-Nya kami selonjoran kaki. Sedikit membaringkan badan.

Tapi, kami gak tidur kok, Pak Marbot. Beneran deh. Swear. Paling juga tidur-tidur ayam kok.

Sementara Pak Marbot musala lengah dari pandangnya sebab dia terlalu khusuk menghitung bulir-bulir tasbihnya satu persatu, kami mencuri-curi waktu tidur. Gue tahu jika musala itu tempat ibadah bukan tempat tidur. Tapi, bagaimana dong mata udah tinggal 5 watt? Dan sepasang mata bengis pun mengamati gerak-gerik kami. Oh, sungguh gak enak beristirahat dengan beberapa pasang mata mengamati. Gue pun akhirnya bangun sebab udah puas tidur.

Malam buta Gue terjaga. Hasrat pun pingin ngopi. Ah, Gue keluarin aja kompor gas dalam ransel. Ambil air di tempat wudu dan segera memanaskannya. Dan air mendidih itu berarti udah masak. Kopi item langsung diseduh. Aroma yang dikeluarkan dari cangkir membangunkan makhluk-makhluk di sekitar musala. Maul dan Panji bangun. Pak Marbot pun sama. Pak Markum, Pak Ahmad, Pak Jono, Pak Joko, Bu Paijo, Bu RT, Bu Tukiman, pun turut bangun mendengar gerak-gerik sendok yang beradu dengan cangkir.

Berjuta pasang mata melihat ke arah kami yang tengah asyik ngopi. Ah, mereka pasti pingin. Kami pun menawari mereka. Tapi, mungkin karena mereka malu sehingga mereka pun gak berani meminta. Itulah Indonesia. Yang terdiri dari ratusan ribu pulau dan laut itu. Alamnya yang melimpah ruah sedangkan rakyatnya gak merasakannya. Miris.

Gelaran lapak di musala berakhir seiring azan subuh berkumandang kencang. Pak Marbot azan, sedangkan kami dari Bandung. Waktu azan subuh untuk daerah Purwokerto dan sekitarnya. Untungnya musala itu gak bertuliskan ‘Hanya untuk warga Purwokerto dan sekitarnya’, jadi kami yang dari Bandung pun bisa beribadah di sana.

Selepas subuh ayam lalu berkokok. Itu sebagai pertanda buana membuka hari. Mentari muncul malu-malu di ufuk timur sana. Ia muncul seiring kehidupan terminal yang mulai nampak. Kami harus bersiap. Angkutan umum ke Purbalingga yang pertama kami buru cepat. Seperti gak pingin ketinggalan kami pun berlari memasukinya. Hingga sampai pada akhirnya kami duduk di kursi bukan di meja. Angkutan umum pun melaju.

Jika lancar, maka kami bakal sampai di Purbalingga dalam waktu satu jam setengah lamanya. Bus melaju meninggalkan kota Purwokerto dan memasuki kawasan Purbalingga. Selepas itu bus masuk angin. Angin yang berembus makin sejuk ketika kami memasuki daerah pedesaan. Dan akhirnya bus pun berhenti menurunkan penumpangnya di situ. Di sebuah pom bensin milik Pertamina kami turun. Itu bukanlah akhir perjalanan sebab kami harus melanjutkan lagi perjalanan darat menggunakan mobil pick up ke kaki Slamet. Dan itu masih lumayan jauh jaraknya.

Pick up yang dijanjikan pun tiba. Mobil itu telah berjanji kepada para penumpang setianya kayak penjual sayur, tukang dagang di pasar, petani, dan warga sekitar sana. Kami pun bareng bersama mereka menaiki mobil pick up itu.

Sampai di sebuah pasar mobil berhenti. Agak lama menurunkan penumpangnya. Karena ternyata bapak sopirnya juga jajan dulu di pasar. Melihatnya seperti itu Gue pun tertarik. Kepingin turun dan juga berbelanja sayur mayur. Sayur mayur di sini berbeda dengan sayur mayur di kota. Di sini sayurnya organik. Sedangkan di kota sayurnya pake plastik. Gue pun membeli beberapa benda yang bisa dikonsumsi sebagai bekal logistik.

Pick up melaju lagi. Kali ini pemandangan yang tersaji makin elok dan memesona. Tanah yang ditapaki makin tinggi. Di belakang sana pemandangan pagi kota Purbalingga dan sekitarnya begitu estetik menyandera mata. Hamparan tanah tak bertuan luas terbentang hingga batas cakrawala. Kami pun menikmati sajian alam raya yang sungguh indah itu.

Hingga tiba di suatu desa dengan nama Bambangan kami sampai. Di sinilah nanti kami mulai mendaki. Tapi, sebelumnya kami hinggap dulu di rumah salah seorang warga yang dijadikan base camp pendakian. Kami sungkem dulu kepada parasepuh dan kuncen Slamet. Bersalaman dan mengobrol. Menerima petuah-petuah bijak dari mereka yang telah lebih dulu lahir sehingga udah banyak makan asam garam kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang menimba ilmu di sekolah kehidupan. Kepada mereka itulah kami belajar dan mendengar.

Sungguh mencerahkan mendengarkan pencerahan dari beliau-beliau itu. Sebuah aufklarung kami dapatkan. Pesan moral disampaikan untuk tidak mabuk, tidak berzina, dan tidak sembarangan berbicara di atas sana. Kami pun menuruti. Kami ini seorang pendaki, bukan seorang pesolek. Jadi, kami juga harus benar-benar menjaga sikap ketika berada di alam bebas. Itulah kenapa Tuhan menciptakan alam dan manusia. Agar dijaga dan dikenali, bukan merusaknya.

Kami akhirnya ketularan bijak. Seenggaknya buat beberapa hari ini. Setelah itu kami pun melangkahkan kaki. Langkah demi langkah terlaksana. Meter demi meter tanah kami jejaki. Jalur perladangan penduduk adalah jalur awal yang kami harus lalui. Dan jalur itu sungguh membingungkan karena banyaknya percabangan di sisi kanan dan kiri jalan. Kami harus berhati-hati. Salah memilih jalan bisa menyasar nanti.

Sesekali bertemu dengan para petani dan beberapa orang yang katanya mau berolahraga di sana.

“Duluan, Mas.” Kata seorang bapak yang di tangan kanannya mencekik botol air mineral itu. Dia berkaos dan bercelana training. Gak bawa tas ransel.

“Duluan kemana, Pak?” Gue bertanya sesaat si bapak itu melintas di depan.

“Ke atas. Olah raga, Mas. Biasa.” Si bapak itu menoleh dan menjawab seperti itu. Mukanya masih bersih dan imut. Itu pasti istrinya yang bilang kayak gitu.

“Eh, Pak bentar. Boleh nanya?” Gue mengajukan tanya kepadanya.

“Iya, kenapa?” Si bapak berhenti dan menoleh.

“Kalo orang selain warga sekitar boleh ikut naik gak, Pak?”

“Ya boleh, Mas. Emang Masnya dari mana?”

“Saya dari Bandung, Pak.”

“O, ya boleh dong. Siapapun boleh kok.”

“O. Saya kira cuma orang sini aja yang boleh. Jadi boleh toh, Pak?”

“Iya. Boleh.:

“Matur nuwun, Pak.” Gue berujar. Matur nuwun itu bahasa Jawa. Artinya adalah makasih. Kata ibu harus bilang makasih kalau dikasih kebaikan sama orang lain.

Si bapak pun melanjutkan melangkahkan kakinya. Sebelum jauh Gue pun menghentikannya lagi. Serasa masih ada yang mengganjal di hati ini. Gak pingin ini terus menjadi rasa penasaran Gue pun bertanya lagi.

“Pak, maaf, mau tanya lagi boleh?”

“Iya. Kenapa lagi, Mas?” Si bapak menghentikan laju kakinya. Menoleh dan nampak serius mendengarkan tanya dari mulut Gue yang sensual ini.

“Gak ada angkutan umum atau ojek ke atas ya, Pak?”

“Wah gak ada toh, Mas. Udah gak ada kendaraan lagi. Harus jalan kaki, Mas. Namanya juga naik gunung. Hehe.” Si bapak menerangkan duduk persoalannya. Ternyata di sini angkot ataupun ojek gak ada sama sekali. Luar biasa.

“Becak juga gak ada, Pak?”

“Gak ada, Mas.” Si bapak menjawab singkat. Mukanya agak lelah. Mungkin lelah menghadapi tanya yang seperti itu.

Si bapak pun melangkah lagi. Kali ini tanpa pamit. Dia melenggang aja. Tanpa permisi untuk yang kedua kali.

“Pak!” Pekik Gue lagi. Dia pun menoleh berat. Mungkin takut lehernya keseleo. Tapi berhenti juga. Dan Gue pun lari menghampirinya di depan. Gue menempuh jarak lima meter ke atas untuk menggapai posisi si bapak itu berdiri.

“Kenapa lagi, Mas? Saya harus buru-buru ke atas. Saya udah ditunggu sama temen-temen saya di sana buat arisan. Gak enak kalo terlambat. Mereka mau mengundi siapa yang dapat arisan minggu depan. Kalo terlambat..” Si bapak berpanjang lebar berfilosofi. Mungkin dia guru SD yang mengajarkan mata pelajaran filsafat. Entahlah.

“Makasih, Pak.” Gue mengucapkan kata yang Gue lupa ngucapin tadi. Dan si bapak hanya diam aja. Dia mengernyitkan dahinya.

“Maksudnya?” Si bapak nampak bingung dengan kata makasih itu.

“Matur nuwun, Pak.” Gue men-translate kata makasih menjadi matur nuwun. Mungkin si bapak itu gak tahu artinya. Setelah itu gak ada respon lagi darinya. Tanpa pamit dan permisi si bapak melangkahkan kakinya lagi. Kali ini langkahnya cepat-cepat. Mungkin dia takut ditanyai lagi. Atau jangan-jangan dia punya pengalaman buruk diinterogasi sama polisi. Mungkin.

Ah, sudahlah. Forget it. Gue melangkah lagi bersama Maul dan Panji. Mereka dari tadi cuma diam aja. Saat Gue mengajukan pertanyaan ke si bapak tadi keduanya hanya membuang muka aja. Mungkin pertanyaan yang tadi ditanyain juga sempat mereka mau tanyakan. Untungnya udah ada Gue yang mewakilinya. Jadi, mereka cuma melongo aja.

Kali ini lepas sudah jalur perladangan. Kami memasuki area hutan lindung yang lebat. Slamet terkenal dengan hutannya yang masih hijau, asri, dan lebat itu. Dibandingkan dengan di tempat lain Slamet lebih hijau. Di sini pohon-pohon masih hidup dan tumbuh subur. Daunnya lebat-lebat. Berbeda sekali dengan pohon-pohon di kota yang udah ditebangin dan dijadikan rumah-rumah. Di kota pohon-pohon mendadak mengecil berukuran mini. Itulah yang disebut dengan bonsai.

Beberapa meter ke depan kami beristirahat. Di sana di tempat yang kesohor dengan nama Pos Mata Air. Katanya ini adalah Pos 5. Mungkin. Sebab gak ada tulisan yang mengatakan demikian. Kami menebak aja berdasarkan peta kontur yang kami bawa. Dan di sini kami beristirahat. Meneguk air dari botol yang telah diisi air minum itu. Hari udah beranjak siang saja. Kami harus terus melangkah.

Peluh berkeluaran. Keringat berjatuhan. Pakaian kami telah basah olehnya. Slamet sungguh berat medannya. Lebih berat dari Medan di Sumatera Utara. Gak ada jalan berbonus secuilpun. Jalanan selalu menanjak. Gak ada bonus trek sedikit pun. Jalanan datar gak ditemui di sini. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan jalan tol Purbaleunyi—Purwakarta, Bandung, Cileunyi. Di tol jalanan sungguh lurus dan datar. Hanya sesekali aja berkelok dan menanjak atau menurun. Dan ternyata yang mendatar dan menurun itu bukan hanya milik jalan tol, tapi TTS juga.

Kami gak menyerah. Kaki ini gak ada matinya buat bergerak. Jalanan seperti apa aja kami lewati. Kami jadikan semuanya sebagai tantangan bukan rintangan sama sekali. Terlanjur jalan. Jadi, hajar aja jalanan!

Kabut tipis turun pelan-pelan. Di tanah yang kami pijaki ini udara kian tipis. Mungkin tanah udah meninggi. Tanaman pun berubah jenis. Udah gak ada lagi tanaman perdu. Ini artinya udah lebih dari 2.000 MDPL.

Sebentar lagi Pos 7, seperti yang terjelaskan dalam legenda peta Slamet. Di sana kami bakal beristirahat. Tapi, pos yang dinanti belumlah kunjung tiba. Padahal kabut udah makin tebal aja. Pandangan mata terhalang dan hanya beberapa meter aja ke depan. Uh, kabut makin pekat menghalang.

Pos 7 itu pun dijelang. Sebuah bangunan yang gak lebih luas dari lapangan bola dan gak lebih sempit dari kandang kucing ada di depan mata. Gak ada tulisan ataupun keterangan menempel pada dindingnya yang terbuat dari seng. Tapi, sudahlah. Yang jelas itu adalah sebuah tempat yang nyaman buat beristirahat. Kami pun berlabuh pada bangunan yang terlindungi oleh atap dan dindingnya yang seng.

Kami bertiga memasuki camp itu. Di sana kosong. Gak ada satupun makhluk yang bergenre manusia. Hanya ada tikus, cicak, ngengat, semut, kutu, cacing, dan kalong, yang ada. Sisanya adalah kami bertiga. Tenda urung didirikan sebab seisi ruangan terhalang oleh seng yang kokoh. Kami hanya menggelar matras. Dan hampir kelupaan sebelum akhirnya perut kami memainkan sebuah musik klasik bernama keroncong. Bahan makanan yang terbawa beserta semua logistik dan alat masak dikeluarkan. Bersiap kami memasak. Dan kemudian makan.

Jam menunjukan pukul lima sore Waktu Indonesia Pos 7. Di luar sana udara makin dingin. Pandangan mata terhalang oleh kabut yang makin pekat. Jarak pandang mungkin hanya tiga meter aja. Hari mulai gelap. Angin makin kencang menderu bak satu skuadron pesawat jet yang tengah berparade. Amukan badai terasa menggoyang bangunan yang kami tinggali ini. Suasana pun mencekam. Kayak di rumah hantu Dunia Fantasi.

Di dalam pos kami beristirahat. Sesekali tebak-tebakan. Dan sesekali lagi kami main TTS ataupun sudoku. Menghabiskan waktu dengan hanya aktivitas kecil-kecilan. Dan bola ping pong, tenis lapangan, badminton, sepak bola, angkat besi, adalah nama-nama cabang olah raga yang ditandingkan di Sea Games biasanya. Kami gak bisa memainkan semua cabang olah raga itu sebab tempat dan fasilitas yang terbatas. Oleh karena itu, kami hanya mangan, turu, nelek tok—makan, tidur, beol doang.

Menjelang subuh kami bangun. Itu sebelumnya kami tidur dulu beberapa jam. Sebab gak mungkin kami bangun sebelum tidur. Jam dua pagi kami melangkahkan kaki lagi untuk muncak. Menurut perhitungan primbon perjalanan dari Pos 7 ke puncak butuh lima jam. Makanya kami bersiap dari jam dua pagi biar bisa berjumpa dengan sunrise.

Kami mulai muncak. Udara di luaran makin ganas. Badai berkecamuk membabi haram. Babi itu haram. Kambing itu halal. Kami butuh bantuan senter sebab kabut yang menghalangi pandang. Gue, Maul, dan Panji berjalan tertatih dini hari itu. Langkah kami sempoyongan sebab tertiup angin yang kencang lebai. Pos 8 mungkin telah terlewati. Sebentar lagi Pos 9 alias Plawangan.

Hampir jam empat sebelum akhirnya kami sampai di Plawangan. Inilah pos terakhir sebelum puncak. Dan di sinilah vegetasi terakhir hidup. Slamet adalah gunung aktif. Beberapa ratus meter menjelang puncak jalur yang dilewati adalah pasir dan bebatuan. Hampir mirip di Semeru. Bedanya Semeru itu di Jawa Timur. Sedangkan Slamet itu adanya di peta Jawa Tengah.

Konon penamaan Plawangan sendiri berarti pintu. Plawangan berasal dari bahasa Jawa kuno berkata dasar lawang, yang dalam bahasa Jawa berarti pintu. Ada beberapa sumber yang bilang bahwa Plawangan juga berarti pintu gerbang masuk ke dunia lain. Dunianya para gaib. Ada yang meyakininya begitu. Maka dari itu kami pun harus kulonuwunAssalamualaikum, sebelum memasukinya.

Sebentar lagi fajar tiba. Fajar itu adalah nama anak tetangga Gue. Dia itu lagi sekolah SD kelas 6. Dan gak mungkin dia bisa mendaki gunung. Dia pun gak ikut dalam pendakian kali ini. Jadi, kenapa harus menunggu fajar tiba? Gue mulai berhalusinasi jika Fajar sebentar lagi tiba. Ah, lupakan saja. Kami harus tetap melangkah. Dan yang terpenting tetap jaga dan atur ritme langkah kami bertiga. Biar sesuai nada dan biar terjadi harmonisasi. Berasa kayak mau dijuriin sama Trie Utami dan Ahmad Dhani. Padahal gak ada diantara kami bertiga yang bernyanyi.

Kabut makin tebal. Pandang mata makin terhalang oleh kabut tebal itu. Jarak pandang tinggal dua meter. Rasa-rasanya tempat Gue berdiri udah paling tinggi. Inikah puncak? Mungkin. Sebab mata Gue sendiri gak begitu jelas melihat puncak. Ini cuma feeling dan intuisi aja. Soalnya gak ada lagi tempat paling tinggi.

Di tempat kami bertiga berdiri itu hanya ada kabut dan pasir. Mungkin inilah puncak. Kami gak mungkin bisa memastikan lagi. Paling tidak inilah tanah yang paling tinggi yang berhasil kami daki. Kami takut melangkah lebih jauh lagi karena takut terjun dan terjerembab ke dalam panasnya kawah berapi. Di situ tok kami berdiri. Dan itu hanya berlangsung sebentar. Setelah beberapa kali jepretan kamera kami pun menuruni kembali puncak.

Bau belerang makin menyengat. Hari makin siang. Tapi, kabut gak kunjung raib. Bahkan makin tebal. Kami melangkahkan kaki dengan ekstra hati-hati. Menuruni lereng berbatu seperti ini emang harus hati-hati. Salah-salah bisa menginjak batu yang gak kokoh teronggok dan lepas dari posisinya. Bahaya kalau menimpa seseorang di bawahnya.

Kristal tipis es jatuh perlahan. Udara makin dingin. Angin bertiup kencang. Badai datang seperti mengamuk. Membabi haram. Inilah babi yang menjadi musuh kami dan MUI—Majelis Ulama Indonesia. Pantas jika diharamkan, karena ganasnya minta amplop. Oh, Tuhan rencana apa yang bakal Engkau turunkan kepada kami. Kasihanilah kami ini yang imut dan kece.

Setelah melewati amukan badai yang ganas, akhirnya kami sampai di Plawangan lagi. Di sini badai udah agak mereda. Udara makin hangat sebab sinar sang surya perlahan muncul dari balik awan. Angin pun mendadak gak dangdut lagi, dia udah beraliran keroncong yang tenang. Syukurlah.

Tapi sebentar kemudian badai datang lagi. Bahkan dengan skala richter yang lebih dahsyat lagi. Sejak kapan badai memakai ukuran richter? Sejak saat ini mungkin. Kami harus segera ke camp. Di sana adalah tempat yang paling aman buat berlindung, selain di ketiak ibu dan Tuhan Yang Maha Esa tentu.

Kami bergegas. Dan Pos 7 kembali dimasuki. Segeralah kami mengademkan sari di dalam camp. Perapian dibuat segera. Air dipanaskan. Dan setelah mendidih kami tidur. Mata udah tinggal 3 watt. Capek serasa meliputi jiwa raga kami. Jika udah seperti ini rencana untuk langsung turun ke bawah diurungkan aja. Menunggu besok pagi dan cuaca kembali tenang dan badai mereda.

Malam tahun baru dilewati dengan mendekam aja di Pos 7. Tiada prosesi bakar kembang api ataupun tiup terompet. Yang ada hanyalah prosesi sederhana, menyalakan api unggun mini. Sedangkan di luar sana badai makin menggila.

Dan kapan badai itu mereda? Sepertinya badai pasti berlalu hanya milik Chrisye seorang.

Oh, tahun baru kelabu. Sudah badai hujan pula. Inilah kebenaran kata peribahasa; Sudah jatuh ketimpa janda.

Posted in: Expedition