Cong, Kun, Jo, dan Yul

Posted on December 19, 2013

0



Sumbing II (dok klosetide)

Sumbing II (dok klosetide)

Gunung Sumbing II; 2009

Sumbing untuk kedua kali. Rencana pendakian kali ini adalah Sumbing. Setelah hampir setahun lalu kembali Sumbing didaki. Ada beda di pendakian kali ini. Kali ini Gue gak sendiri. Gue mendaki bareng temen-temen. Dan yang spesial adalah mendaki bareng seseorang. Seseorang itu adalah Om Gue.

Kosongin jadwal minggu depan. Kita ke Sumbing.

Begitulah bunyi pesannya waktu itu. Gue adalah pendaki pendatang baru dalam dunia pergunungan. Sedangkan Om Gue adalah seorang veteran perang. Peran melawan kebodohan dan kemunafikan dunia yang kian merajalela.

Gue pun bersiap dengan persiapan matang. Membawa makanan matang dan minuman matang. Pokoknya semuanya serba matang. Sampe-sampe usia Gue pun gak kerasa udah matang. Gak kerasa Gue udah kepala dua. Masih inget rasanya saat Gue masih sedang lucu-lucunya dan ngegemesin. Ah, usia manusia emang seujung jari jika dibandingkan dengan usia langit dan semesta ini.

OK. Katanya si Om juga mau ajak temen-temennya dari kantornya yang di Jakarta. Gue pun sama. Sama-sama pengin ajak temen Gue. Lalu terpikirlah sebuah nama yang gak asing lagi. Salman. Selain nama masjid di ITB, Salman adalah nama orang. Dia adalah sahabat alam yang ikut naik bareng saat di Slamet. Dan kini dia Gue ajak lagi mendaki Sumbing. Mendaki Sumbing untuk yang kedua kali. Dan bersama Salman untuk kesekian kalinya.

Hingga tiba massa yang telah dijanjikannya. Si Om berangkat dari Jakarta dengan temen-temennya yang Gue sendiri belum kenalan. Dan Gue start dari Bandung dengan seorang kawan yang udah pasti Gue kenal, Salman.

Kami naik kereta lagi. Sepertinya ini udah jadi suratan takdir bahwa Gue emang ditakdirkan banyak naik kereta. Seakan gak ada bosannya Gue naik kereta lagi. Stasiun Kiaracondong menjadi satu-satunya stasiun favorit Gue. Atas jasanya itu Gue berjanji bakal setia dan gak akan melupa.

Berangkat dari Bandung malam hari. Maksudnya biar sampe di Temanggung adalah pagi harinya. Bepergian malam hari lebih gelap daripada pagi hari. Bepergian pagi hari bakal lebih capek jika jalan kaki. Untuk itu kita, Gue dan Salman, memilih bepergian malam hari dengan kereta malam. Biar gak capek sehingga bisa saving energy saat mendaki nanti.

Di dalam kereta malam saat imajinasi Gue melayang setahun silam. Setahun lampau adalah perjalanan seorang diri ke Temanggung. Meskipun pada akhirnya pendakian ditemani oleh seorang Dwiko. Dan jika diinget-inget pendakian kali ini adalah seperti sebuah janji yang tertepati. Sumbing seakan menepati janjinya untuk kembali memanggil Gue. Dia kembali minta disambangi.

Beban skripsi sebentar ditinggalkan. Pengin rasanya ketika balik nanti beban itu hilang. Tapi kayaknya itu gak mungkin. Skripsi bakal beres kalo dikerjain. Jadi gak akan ada gunanya kalo hanya dipikirkan. Sebab dipikirkan doang skripsi pastilah gak akan selesai. Jadi, meskipun ini judulnya adalah refreshing tapi beban pikiran akan keberlangsungan skripsi masih aja menggelayut.

Setahun lalu mendaki Sumbing ada rasa bahagia. Sekarang mendaki Sumbing adalah setengah bahagia setengah resah. Resahnya karena harus meninggalkan persoalan skripsi yang tak berujung. Oh, semoga kalian tahu bahwa satu-satunya beban terberat seorang mahasiswa tingkat akhir bukanlah uang SPP, uang jajan, uang kosan, uang belanja, tapi beban terberat itu adalah skripsi.

Ah, sudahlah. Ketimbang pusing mikirin skripsi mending bahagia gak mikirin apa-apa. Tapi, katanya berpikir itu bukti eksistensi. Cogito ergo sum. Kamu berpikir maka kamu ada. Berarti kalo gak berpikir gak ada dong. Gak mikir gak eksis dong. Ah, biarin. Eksis itu khan nama grup musik asal Malaysia. Buat apa Gue mikirin Malaysia. Gue khan Indonesia. 100% Indonesia.

Kita sampe mana tadi? O, iya. Kita sampe tujuan kita. Singkat kata singkat cerita. Gue dan Salman nyampe. Temanggung dijelang. Dini hari kita sampe. Tapi, Om Gue belumlah sampe. Sebab dia katanya masih di jalan. Di jalan mana? Entahlah. Gue dan si Om belum juga berkirim kabar berita.

Hingga tiba satu masa kita akhirnya berkirim kabar.

Om udah dmn?

Pesan terkirim.

Di jalan.

Pesan diterima.

O, syukurlah kalo begitu. Si Om udah di jalan katanya. Eh, bentar dulu. Jalan itu khan banyak. Di jalan mana maksudnya? Ah, ketimbang berspekulasi Gue pun bertanya kepadanya, make sure.

Di jalan mana, Om?

Pesan terkirim.

Di jalan mau ke WC dulu. Perut mules.

Pesan diterima.

Oh my gosh. Ternyata masih di jalan dari kamarnya menuju WC. Itu artinya dia masih di Jakarta. Sedangkan Gue udah bermukim di kaki Sumbing. Uh, sialnya hati ini. Berarti Gue harus menunggunya hingga malam hari berikutnya.

Oh, Salman. Sahabat alam yang satu itu memang setia. Setia dengan pasangannya. Di dompetnya ada sebuah foto perempuan. Itu pasti ibunya. Soalnya perempuan itu berkebaya dan berkonde. Salman masih selonjoran dari tadi. Gue ajak dia sarapan dia gak mau. Dia nampak lesu. Jangan-jangan dia gak senang Gue ajak naik ke Sumbing? Gue pun memastikannya dengan bertanya. Oh, ternyata Gue salah menduga. Dia mules katanya. Jadi, diamnya dia itu karena menahan beol.

Sementara Salman melepas hajatnya Gue berkeliling. Gue jalan-jalan naik turun. Bukan gak ada kerjaan Gue berlaku begitu. Tapi, memanfaatkan waktu aja. Demi sebuah pendakian Gue melakukan aklimatisasi. Mencoba menyesuaikan ritme tubuh dan nafas dengan kondisi yang baru.

Selesai itu masih sore. Salman udah keluar dari toilet mini itu. Toilet di sana berbeda dengan di sini. Di sana toilet hanya disekat oleh dinding bambu yang tingginya cuma sekepala orang saat si pemboker sedang duduk. Beruntung bagi mereka yang berpostur menengah ke bawah alias pendek. Tapi, sial bagi mereka yang jangkung. Sebab dia pasti bakal bisa mengobrol dengan tetangga sebelah ketika sedang berjongkok di atas kloset. Malahan mereka bisa main catur bersama meskipun bersebelahan bilik.

Salman berdiri sedangkan Gue berbaring. Menantikan kedatangan rombongan haji dari kloter Jakarta sungguh membosankan. Gue hanya bisa menunggu dengan berbaring buat melepaskan kebosanan. Gue sadar jika mereka pasti dateng malem hari nanti. Entah jam berapa. Dan Gue sadar jika ternyata sadar itu makan tanaman.

Yang dinanti-nantikan pun tiba. Segerombolan anak muda era 90-an datang menjelang. Dari kejauhan mata memandang itu sepertinya mereka. Dandanannya mencirikan bahwa mereka adalah segerombolan pendaki. Gue makin menyipitkan mata. Memastikan jika mereka itu adalah rombongan dari Jakarta. Dan ternyata dari jarak yang semakin dekat kira-kira jarak 20 kilometer, mereka bukanlah rombongan Om Gue dari Jakarta. Ternyata mereka adalah rombongan polisi hutan.

“Selamat sore, Pak.” Gue menyapa rombongan bapak-bapak itu.

“Sore, Mas.” Salah satu bapak dalam rombongan itu membalas. Kayaknya bapak itu komandan lapangannya. Soalnya dialah yang jalan paling depan tadi. Kayak lagi mimpin barisan.

“Mau kemana, Pak?” Gue nanya lagi, biar akrab.

“Ah, biasa, Mas. Ngontrol aja.” Si bapak yang kayaknya bapaknya anak-anak itu menjawab lagi.

“Emangnya ada poskamling di atas sana, Pak.”

“Hehe. Pos jaga, Mas. Bukan poskamling.” Si bapak mengoreksi.

Setelah berhenti sejenak di base camp. Rombongan pasukan itu lalu meninggalkan base camp. Pergi lagi ke atas katanya. Menempati kembali pos jaganya buat ngontrol. Ngontrol apaan? Mungkin ngontrol macan, kuda, landak, celeng, atau populasi hantu di atas sana. Entahlah. Yang jelas mengontrol sesuatu yang belum terkontrol.

Sebelum jauh, Gue menghentikan langkah mereka. Gue pengin nanya lagi. Dan ini pertanyaan yang penting.

“Eh, Pak, bentar. Saya boleh nanya?”

“Iya, Mas boleh. Nanya apa ya?” Si bapak yang masih sama kayak tadi menjawabnya. Dia berhenti. Menoleh ke belakang dan membubarkan barisannya. Bubar, grak!

“Kebetulan saya juga lagi riset, Pak. Mau tanya kalo gunung Sumbing berdirinya kapan ya? Mumpung ada bapak-bapak sebagai ahlinya.”

“Hmm.. Kalo boleh tahu riset apa ya?” Si bapak itu malah bertanya. Bukannya menjawab pertanyaan malah mengajukan pertanyaan. Uh, dasar laki-laki.

“Riset skripsi, Pak.”

“O, skripsi. Wah kalo berdirinya kapan bapak juga gak tahu ya.”

“O, ya udah gak apa-apa, Pak kalo gak tahu. Ntar saya Googling aja deh di Yahoo.”

“Iya, Dek. Cari aja di internet.”

“O, iya. Satu lagi boleh, Pak?”

“Apanya, Mas?”

“Nanyanya.”

“O, iya boleh.”

“Kalo Sumbing itu apanya Sindoro ya, Pak? Mereka berdua itu ada hubungan apa ya kok bisa deketen gitu ya?”

“Nah, itu juga bapak gak tahu, Mas. Bapak cuma petugas kehutanan aja. Jadi gak begitu tahu kao asal muasalnya. Hehe.” Si bapak yang tampangnya serem itu ternyata ramah. Dia menampakan giginya yang putih bersih itu. Duh, lucunya si bapak. Coba kalo dia itu cewek. pasti Gue jadiin dia jadi temennya bapak kosan Gue.

“O, ya udah, Pak. Makasih lho, Pak.”

“Kita pamit ya, Mas. Jalan dulu udah malem soalnya.”

Si bapak pun melenggang lagi. Dia menginstruksikan anggotanya untuk bergegas. Katanya udah malem. Tapi, Gue mencegat lagi mereka sebelum jauh pergi.

“Eh, Pak. Maaf mengganggu lagi.” Gue lari menghampiri mereka. Tergopoh-gopoh karena gak pengin ketinggalan kereta,

“Iya, Mas. Ada apa lagi?”

“Hati-hati ya di jalan.”

“Iya??” Si bapak itu menunggu kalimat selanjutnya yang sengaja Gue bikin menggantung itu. Tapi, Gue gak langsung memberikan harapannya itu terkabul lamgsung. Hingga beberapa detik. Biar jadinya kayak kejutan.

“Cuma mau ngucapin hati-hati aja kok di jalan.”

Si bapak pun beneran melanjutkan langkahnya. Kali ini dia bener-bener serius. Mukanya nampak masam. Mungkin dia belum cuci muka. Atau belum makan sehingga mukanya nampak kesal. Entahlah.

Sepeninggal bapak dan rombongannya itu datang rombongan baru berikutnya. Gue harap itulah rombongan yang dari tadi dinantikan. Sebuah rombongan yang konon katanya dari Jakarta dan di dalamnya ada si Om.

O, bener juga. Si Om dateng bersama kawan-kawannya. Dan sebelum melangkah ke hal-hal yang lebih jauh lagi kita pun berkenalan. Inilah mereka. Ada Mitro, Ramis, Huda, Yoga, dan Agus.

Gue absen dulu satu-satu. Mitro, dia ini adalah Om Gue. Mitro itu karena dia adalah seorang Om, maka dia adalah seorang laki-laki. Mungkin kalo dia cewek namanya bakal jadi Mitra. Dia resmi menjadi seorang Om bagi Gue udah dua puluh tahun lebih lamanya. Dan itu berarti Gue udah jadi ponakannya setelah sekian tahun lamanya. Kita pun akrab dan harmonis sebagai ponakan dan paman.

Ramis. Dia adalah seorang laki-laki juga sama kayak si Om. Rambutnya panjang menjuntai hingga pundak. Tingginya standar cowok. Berapa tinggi standar cowok? Entahlah. Gue gak ngitung soalnya. Kira-kira aja segitu, gak lebih tinggi dari Gue. Selanjutnya ada Huda. Huda ini adalah ponakannya Ramis, ternyata. Hubungan Huda dan Ramis adalah ponakan dan paman. Kayak hubungan Gue dan Om Gue. Bedanya Huda itu ponakannya Ramis. Sedangkan Mitro itu adalah paman buat Gue.

Lalu ada Agus. Agus adalah seorang lelaki. Dia adalah seorang pria yang ternyata juga adalah temen Om Gue. Dia adalah pria asli Tegal. Dan malam itu dia langsung terbang dari Tegal. Agus itu badannya paling tinggi dari kita semua. Soalnya kami emang lebih pendek daripada Agus. Dan terakhir adalah Yoga. Eh, Yoga itu sahabat alam yang ikut mendaki ke Merbabu waktu itu. Gue gak usah jelasin siapa dia. Kalo pengin tahu kalian baca aja cacatnya pendakian ke Merbabu.

Akhirnya kami naik bertujuh. Selain Gue ada, Mitro, Yoga, Agus, Salman, Ramis, dan Huda. Inilah tim laskar pendaki pada Sumbing edisi dua. Sebelum akhirnya tiba tengah malam kami pun bersiap mendaki.

Tepat tengah malam Waktu Indonesia Kaki Sumbing kami mulai melangkah. Kembali menapaki jalanan terjal Sumbing. Kembali berjibaku dengan derasnya keringat yang mengucur sadis.

Ada beda antara Sumbing setahun lalu dengan sekarang. Sumbing setahun lalu didaki pagi hari. Jadi gersangnya sungguh berasa. Capeknya jadi terasa dua kali. Capek karena jalanan yang menanjak dan oleh sengat mentari. Kali ini kami mendaki malem hari. Sehingga bisa menghemat air dalam botol. Keringat yang keluar pun gak sebanyak saat mendaki pagi atau siang hari. Tapi, keduanya punya cerita yang hampir sama. Sama-sama seru dan asyik ternyata.

“Rest, Bro.” Itu suara Om Gue dari belakang. Dia meminta beristirahat. Maklum, usianya udah kepala tiga. Jadi cepet letih. Itu namanya faktor-u, faktor usia. Sebab dia lah yang paling senior, maka Gue selaku leader pendakian dan terlebih sebagai ponakannya pun hanya bisa menurut. Kami pun beristirahat.

Posisi kami beristirahat adalah duduk. Dan itu gak jauh dari base camp. Kami sangat selow berjalan. Sehingga udah semalam ini belumlah juga jauh jarak ditempuh. Cukup lama kami beristirahat di sana. Sehingga itu menyebabkan kemalasan yang sungguh amat sangat. Kaki menjadi manja untuk kembali digerakan.

“Trus gimana?” Salah satu orang bertanya dari balik kegelapan. Karena gelap jadi mukanya pun gak nampak.

“Nge-camp aja di sini. Besok kita lanjutin. Udah malem banget soalnya.” Salah seorang dalam kerumunan lagi-lagi ikut menyumbang saran. Dan itu entah siapa. Siapakah gerangan manusia yang berlindung dibalik jubah kegelapan itu? I don’t know babar blas.

OK. Akhirnya kami nge-camp di sini. Dimana ya? Ya pokoknya di sini ini. gue pun gak begitu jelas dimana posisinya. Yang jelas kami masih duduk. Dan yang lainnya ada yang berdiri dan ada yang berjumpalitan.

Tenda berdiri. Perapian tersulut. Minuman telah teracik. Makanan telah tersaji. Dan kami pun tidur. Soalnya hari udah sangat larut. Dan kami capek banget. Apalagi para rombongan dari Jakarta yang baru dateng malam tadi. Mereka pasti ekstracapek. Itulah salah satu pertimbangan akhirnya kami memutuskan buat nge-camp aja di sini. Menimbun energi untuk esok pagi.

Tenda telah tertutup resletingnya. Perapian udah gak menyala. Tinggal baranya aja. Angin malam kian kencang menggoyang tenda. Aum.. Aum.. Aum.. Suara auman serigala mengintimidasi dari kejauhan. Dan dari luar pun seperti terdengar perbincangan kaum kasat mata.

“Kita isengin aja gimana, Cong.” Ucap makhluk yang memanggil kawannya dengan Cong itu. Inisial dia belum diketahui.

“Iya, isengin aja, Cong. Gue sepakat kata Kun deh.” Sesosok makhluk juga menyepakati usulan Kun. O, ternyata yang tadi ngusulin adalah si Kun. Menyuruh sekaligus menunggu instruksi selanjutnya dari Cong. Cong itu kayaknya komandan mereka.

“Gue juga sepakat usulan Kun dan Jo tadi. Daripada kita gak ada kerjaan mending kita usilin mereka aja yang lagi pada tidur.” Makhluk keempat mengusulkan lagi.

“Ntar dulu. Kita minta pendapat satu lagi. Gimana menurut lo, Yul?” Ini si Cong yang bilang. Bener juga. Dia adalah komandan para kawanan yang masih misterius itu. Dan mereka menunggu respon terakhir dari makhluk yang barusan dipanggil dengan sebutan Yul.

“Gue gak sepakat.” Yul pun berucap. Dia akhirnya membuka kedoknya.

“Kenapa??” Kun, Jo, Cong, serentak berteriak. Bertanya kenapa atas ucapan Yul barusan tadi.

“Pokoknya gak sepakat. Gue takut.” Yul beralasan.

“Kenapa takut?” Tanya Kun.

“Iya, kenapa?” Buta bertanya pula.

“Bukannya kita yang harusnya nakut-nakutin ya?” Cong berujar.

“Iya. Tadinya Gue juga mikir kayak kalian. Tapi, ternyata tampang mereka malah serem-serem. Justru lebih serem dari kita-kita ini. khan gak lucu niatan nakut-nakutin eh malah kitanya yang jadi ditakut-takutin. Iya khan?”

“Hmm.. Bener juga lo, Yul.” Si Cong seperti tersihir dan hampir nurut oleh ucapan si Yul.

“Ah, ngapain juga kita takut. Kita pasti lebih serem dari mereka. Dan gue yakin itu. Iya gak, Kun?” Ini si Jo yang ngomong. Dia meminta respon dari si Kun yang duduk di sampingnya sambil nyisirin rambutnya yang panjang menjuntai menutupi punggungnya itu.

“Iya, bener lo, Jo. Menurut gue juga ngapain musti takut. Takut itu kepada Tuhan. Masa sama manusia aja takut.” Si Kun nampaknya berkoalisi dengan si Jo. Kini tinggal menunggu ACC dari si Cong. Soalnya si Yul gak menyepakati.

Dalam sebuah musyawarah mufakat semuanya wajib menyepakati keputusan. Jika salah satu anggota forum gak sepakat maka itu gak sah. Tapi, jika itu terlalu lama maka bisa diambil voting. Dan suara terbanyaklah yang bakal menang. Tapi. Diskusi nampak masih alot dan belum mau usai.

“Gue tetep gak sepakat. Oke deh, anggaplah emang kita lebih serem dari tampang mereka yang udah serem. Tapi, terlepas dari semuanya itu, jujur gue sendiri gak tega.” Yul mengemukakan alasannya,

“Apa?”

“Hah, gak tega?”

“Apa lo bilang, Yul? Gak tega? Dimana perikejurigan kita?” Si Cong nampak kesal dengan ucapan terakhir si Yul.

“Iya gak tega. Kasihan.”

“Asal lo tahu ya, Yul. Tugas kita itu ngegoda manusia. Biar mereka ikut kita. Ah, sekarang gini aja deh mendingan. Kita sepakati aja. Kita bakal nakut-nakutin mereka. Kalo lo gak sepakat juga ya udah gak apa-apa. Lo berarti gak sohib sama kita.”

“Iya. Dimana sense of brotherhodd lo, Yul?”

“OK. Gue bakal mutusin. Keputusan ada di tangan gue. Dan gue mutusin buat tetep nakut-nakutin mereka. Sepakat atao gak lo harus ikutin hasil musyawarah ini, Yul.” Si Cong pun akhirnya mengambil keputusan juga. Dan segeralah mereka menjalankan misinya itu. Cong, Kun, Jo, dan Yul bersiap. Memasang tampang seremnya. Mereka seakan gak mau kalah dengan tampang pendaki itu yang konon udah serem itu.

Kukuruyukkk..

Itu suara bunyi alarm hape Gue yang Gue setel jam lima pagi.

Dan mendengar suara kokok ayam itupun keempat kawanan makhluk astral itu lari tunggang langgang.

“Sial! Belum juga beraksi udah pagi aja. Woi, kaburrr..” Si Cong sang komandan pun menginstruksikan kepada anggotanya untuk cabut. Mereka lari tunggang langgang. Untung saja. Jika kokok ayam gak muncul, bisa jadi malam itu bakal berakhir ricuh.

Kami pun bangun. Bersiap melanjutkan perjalanan kembali. Dan melupakan sebuah tragedi yang hampir aja membuat mereka kalang kabut. Tapi, karena mereka gak mengetahui, maka mereka pun tenang-tenang aja. Gue sendiri, sebagai seorang yang tahu perbincangan semalem gak berani menyampaikan kepada mereka. Takutnya jika Gue bocorin cerita itu mereka bakal ketakutan dan gak jadi melanjutkan perjalanan. Mereka pasti bakal minta turun kalo seandainya tahu cerita itu. Dan sampe sekarang Gue tetep tutup mulut. Hampir aja Gue jahit nih mulut pake benang wol dengan motif renda-renda. Tapi, gak jadi ding.

Langkah kembali terlaksana. Hari telah berabjak kian siang. Tapi, kabut tipis masih aja mewarnai hari. Sinar matahari gak begitu puas menyemprot bumi. Sebab tertutup oleh kabut tipis itu. Menjelang puncak kabut makin tebal dan pekat. Warnanya kian coklat. Sepertinya langit mendung. Jika mendung, maka segera turun hujan. Kami pun mengebut. Langkah kaki kami percepat. Puncak pun kian mendekat.

Setelah mengarungi jalanan panjang berliku kami pun sampe juga. Di puncak sana kami berdiri. Gagah dan kokoh sebagai laskar pendaki. Kabut perlahan terusir oleh sinar sang surya. Hujan yang ditakutkan pun urung terjadi. Mendung terhapus oleh embusan angin. Meski begitu, kabut gak sepenuhnya terusir.

Kabut tipis itu masih menjadi nuansa puncak Sumbing siang itu. Di sini kami berpijak. Di bumi tertinggi di Wonosobo kami mengukir nama dan mungkin sejarah. Sebuah cerita kami telah torehkan. Buat mereka nanti yang ditakdirkan oleh Tuhan menjadi anak cucu kita.

Hey, kalian yang masih di sana, ini lho puncak Sumbing yang eksotis itu.

 

Posted in: Expedition