Tentang Mimpi dan Mendaki

Posted on December 9, 2013

0



Gunung Semeru (dok klosetide)

Gunung Semeru (dok klosetide)

Mengejar mimpi itu ibarat mendaki gunung, menapaki jalan menanjak, kadang berliku, kadang lurus. Peluh bercucuran. Kaki pegal-pegal. Punggung berasa kayak dibandulin sekarung beras. Capek, tapi asyik. Semua beban itu luruh seketika kaki menginjak dataran paling tinggi, puncak.

Di sana kita bisa nikmatin sunrise atau sunset. Bisa ngopi bareng teman. Sambil sesekali menunjuk awan yang berarak. Berdesakan di tenda sempit. Tidur berselimut kabut dingin. Berbagi kepompong tidur (sleeping bag). Berbagi cerita dan canda di atas permadani awan. Berbagi teguk coklat hangat. Sambil deg-degan menunggu sunrise dari ufuk timur. Hmm..asyik ya.

Mencapai puncak mimpi juga begitu. Harus ngelewatin beribu rintangan. Nyeberangin tujuh samudera. Numpang mandi di tujuh sumur. Makan kembang tujuh rupa. Eh, enggak ding. Bercanda. Hehe.

Pokoknya berat deh ngegapai mimpi itu. Tapi, pahitnya itu bakal keganti sama manisnya mimpi yang mampu kita gapai. Yang lebih penting lagi, jadi ada cerita pas udah sukses. Kita bisa cerita ke anak cucu kita nanti bagaimana getirnya sebuah perjalanan susul mimpi. Simpan lembaran perjalanan pahit itu dalam dompet kita. Biar gampang diingat dan bisa jadi buku cerita buat generasi masa depan. Terlebih, untuk Indonesia tercinta.

So, biar tahu capeknya ngejar mimpi. Maka, mendakilah..

 

Posted in: Expedition