Mahasiswa Udik Pergi Piknik

Posted on November 18, 2013

0



Mahasiswa Udik (dok. klosetide)

Mahasiswa Udik (dok. klosetide)

 

Pada suatu malam di sebuah pesanggrahan terjadi kasak-kusuk yang berujung pada ribut-ribut antara tiga makhluk.

“Bedebah kau, Kisanak!”

Terdengar pekik salah seorang di antaranya.

“Ada apa gerangan yang mengusikmu, Kisanak?” Tanya seorang di sampingnya.

“Cecunguk itu mengerjaiku. Berani-beraninya ia.” Dia semakin kalap.

“Tahanlah emosimu. Ini tempat ramai, jangan kau buat keributan di sini.” Saran seorang yang ternyata adalah saudaranya satu perguruan itu.

“Aah.. Usah kau menghalangiku. Ini bukan urusanmu. Minggirlah kau.”

Ciyattt…

Cecunguk yang dimaksud itu adalah seorang pemuda belia. Entah sebab kekesalan macam apa sehingga menyulut emosinya. Dan menantang pemuda belia seusianya yang tengah santai rebahan di kasur empuknya.

“Hai bangun kau, Cecunguk!” Pendekar dari Tanah Toba itu mengusiknya.

Ia cuma bergeming. Hiraukan saja gertakannya. Sambil tangannya memegang bulu ayam asyik bergeli-geli ria mengorek-korek kupingnya. Benar-benar santai seakan tak terjadi apa-apa.

“Bangun kau sebelum aku mengeluarkan jurus andalanku!”

Seperti tak tahan akan ocehannya yang kian tak beraturan, ia pun bangkit dari selonjorannya itu.

“Kenapa kau ribut melulu, Kisanak? Apa kau tak tahu aku sedang asyik berburu harta karun di dalam kupingku ini, hah!” Ujarnya.

“Dasar tak tahu diuntung kau, Kisanak. Baru saja kau berbuat salah, tapi seperti tak terjadi apa-apa.”

“Semuanya memang baik-baik saja. Ada masalah apa sehingga kau seakan kebakaran jenggot, Pendekar Tanah Toba?”

“Kurang asem kau ini,” gertaknya. Pendekar Tanah Toba seakan tak sabar menghunus golok dari sarungnya. Kemudian melanjutkan, “sore tadi kau telah mengotori bak pemandian dengan residu perutmu, bukan?”

“O, rupanya itu penyebabnya. Memangnya kenapa?”

Ia masih tak merasa bersalah dengan kelakuan minusnya itu.

“Hmm. Kau masih bilang kenapa, hah! Jelas-jelas kau bersalah, masih saja mengelak dan merasa tak terjadi apa-apa.”

“Tak ada yang salah dengan itu. Aku membuang kotoranku sesuai keinginanku. Si kuning tak lagi mengambang. Pada tempatnya ia telah terbuang. Dan, itu sah-sah saja. Pendekar lain pun tak bermasalah dengan itu. Lalu, kenapa kau ini protes?”

“Kau memang membuangnya pada tempatnya. Tapi, setelah itu, kau cebok sembarangan. Mengotori sebuah bak. Dan, tahukah kau, jika bak itu aku gunakan untuk berendam setelahnya, hah!”

“Hmm..” ia tetap sinis. Mencibir. Lantas melanjutkan, “itu salahmu, Kisanak. Dengan lugu dan polosnya kau menggunakan bak itu untukmu mandi.”

“Ah, sudahlah. Aku masih sabar menunggumu meminta ampun atas kelakuanmu itu!” Bentaknya.

“Cuih.. Sampai lebaran monyet tiba, kau tak akan pernah mendapatkan kata-kata ampun dariku. Sebab aku tak merasa bersalah secuil pun.” Kilahnya.

“Bedebah! Kau akan merasakan jurus andalanku, Cecunguk.”

“Baiklah, Kisanak. Jika kau menjual, maka aku akan membelinya.”

Kesal. Ia pun menyambut tantangan sang Pendekar Tanah Toba itu. Goloknya pun telah siap di tangan kanannya.

Ciyattt…

Ciyattt…

Hentikan!

Aku tiba tepat waktu.

Rupanya kedatanganku cukup mengagetkan mereka berdua. Kedua orang itu cepat-cepat menghentikan gerakannya masing-masing. Aku segera melerainya. Tak ingin kejadian lebih parah terjadi. Bisa-bisa bakal kacau keadaan jika kedua makhluk itu, Pendekar Tanah Toba dan Pendekar Batavia, jadi beradu ilmu kedigdayaan.

Maklum saja, mereka berdua sungguh berotot, sungguh kekar bukan main. Apalagi Pendekar Tanah Toba kesohor sebagai seorang yang temperamental sekali. Dan Pendekar Batavia itu pula terkenal susah mengalah pun mengakui salah.

Pertarungan pun urung terjadi. Untungnya.

***

Eits. Bentar dulu. Jangan dulu menduga-duga kalau kisah di atas itu adalah cerita kolosal semacam Brama Kumbara, Arya Kamandanu, Angling Darma, Babad Tanah Leluhur, apalagi Wiro Sableng Si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Sob. Bukan pula cerita ketoprak atau semacam ludruk. Bukan sama sekali. Tapi itu adalah kisah—yang sedikit didramatisasi biar seru dan tak ada aksi adu golok apalagi asah pedang kok, yang terjadi saat kami seangkatan kuliah di Administrasi Negara FISIP Unpad angkatan 2004 pergi piknik ke ibu kota. Sebuah insiden mengenaskan bin menggemparkan hampir berujung baku hantam itu terjadi pas tahun 2005, Sob.

Cerita lengkapnya begini:

Kami seangkatan melancong ke ibu kota dan menginap di salah satu hotel berbintang 7—kayak merek obat sakit kepala sehingga saking berbintangnya bikin kami semua pusing kepala, di bilangan Mangga Dua, Jakarta. Tuh hotel alias penginapannya sebenarnya biasa saja, malahan terkesan mewah buat kami. Terutama buat mahasiswa elit (red: ekonomi sulit) plus udik macam kami-kami ini.

Kalau boleh jujur, menghadapi sebuah penginapan yang kunci kamarnya pake alat kayak kartu ATM, nyalain lampunya bukan pake saklar kayak di kos-kosan, terlebih menghadapi sebuah kloset yang cara pakenya harus duduk bukan jongkok, adalah derita bagi mahasiswa udik seperti kami. Bagi mereka yang memang terbiasa menginap di hotel mewah pasti sudah akrab dengan tetek bengek fasilitas seperti itu. Tapi, buat kami, terutama saya pribadi, deretan kecanggihan itu adalah ketidakbiasaan yang tentunya merepotkan.

Dari 127 manusia seangkatan bisa dihitung jari mereka yang berasal dari golongan mampu yang punya intensitas tinggi menginap di hotel. Paling banter cuma 20% saja. Sisanya, 80%, berasal dari pelosok nusantara sebagai perantau yang melihat bagaimana rupa hotel saja jarang, apalagi menginap dan tidur di dalamnya. Sungguh dapat dibayangkan betapa gaptek-nya kami saat itu, Saudara-saudara.

Diawali dengan pembagian kamar dan pengisinya yang terdiri dari empat makhluk perkamarnya oleh panitia. Saya, Erik, Dani, dan Nazar, mendapatkan kamar yang sama. Pembagian kamar berdasarkan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM), berurutan 1-127. Dan, setelah mendapat kunci dari panitia, kami pun melenggang menuju ke kamar masing-masing. Perjalanan Bandung-Jakarta yang memakan waktu sekira 5 jam lebih membuat badan kami pegal-pegal. Apalagi dengan sapaan hawa ibu kota yang begitu panasnya. Bawaannya pengen selonjoran kaki dan mandi-mandi.

Tapi, gimana caranya buka pintunya ya?

Manusia memang punya banyak sisi, antara benar-benar tahu, pura-pura tahu, atau bahkan sok tahu. Buat para mahasiswa yang katanya kaum intelektual, rasa-rasanya sisi yang terakhir, sok tahu, itu yang kadangkala lebih dominan dari pada sisi yang lainnya. Egoisme intelektual, anti dibilang ndeso, tak jarang malah membawa si mahasiswa ke arah kesesatan pikir dan tindakan. Sehingga berujung pada sebuah aksi katrok alias udik. Coba saja uji validitas dan reliabilitas pengetahuan mereka (mahasiswa) soal hal-hal yang mereka belum ketahui. Pasti saja gengsi mengaku tak tahu dan mending memilih sok tahu. Lebih abik pede dari pada minder. Begitu kredo intelektualitas seorang mahasiswa.

Benar saja. Pas baru banget masuk ke kamar saja kami begitu kesusahan. Tak tahu bagaimana cara membuka pintu.

Bukan sebuah benda yang lazim menurut pandangan awam yang berupa besi panjang dinamai ‘kunci’ yang diberikan. Tapi sebuah benda yang mirip kartu ATM yang diberikan. Hmm. Aneh. Masa iya buka pintu pake kartu gesek duit. Tapi, itu tidak lantas membuat seorang Dani, mahasiswa dari ibu kota, menyerah. Setelah Erik dengan lamanya berpikir keras memutar otak berusaha membuka pintu dan Nazar yang nekat mau menghajar pintu kayu untuk dapat masuk, Dani lantas berinisiatif mengambil alih kendali atas usaha itu.

“Sini.. Sini.. Biar gue aja. Lama bener buka pintu. Dasar gaptek lo pade!”

Dani pun berusaha membuka pintu kamar. Padahal, saya yakin betul kalau dia juga baru lihat kunci kamar dengan bentuk seperti itu. Tapi, karena gak mau dibilang udik, sebab dia satu-satunya yang berasalah dari kota, akhirnya dia pun mengambil alih tugas itu dengan bekal sok tahunya.

Detik terbuang membilang menit. Lima menit sudah Dani berusaha sekuat pikir dan otaknya membobol pintu kamar. Tapi, tak jua terbuka. Usahanya sia-sia. Sikap sok tahunya itu turut mengundang kecurigaan dari seorang penjaga hotel. Seorang lelaki muda sebagai salah satu petugas hotel pun lantas mendatangi kami yang tengah nampak dalam kesusahan.

“Ada apa, Mas? Bisa saya bantu?” Si Mas bertanya.

Dasar Dani si sok tahu, bukan mengakui saja kalau gak tahu caranya buka pintu malah menyalahkan si kunci.

“Iya, Mas. Ini rusak kayaknya kuncinya. Gak tahu pintunya deh macet.” Kilahnya.

“Coba saya yang buka.” Si Mas berinisiatif mengurai ke-soktahu-an kami berempat, terutama si Dani.

Klek.. Klek..

Engsel pintu berhasil dikokang. Dan, terbukalah pintu kamar.

Alhamdulillah..

“Makasih, Mas.”

Semuanya berucap syukur dan berterimakasih atas pertolongannya. Tapi, salah seorang di antara kami berempat berbeda ucapan dengan yang lainnya.

“O. Itu sih memang kuncinya agak lecek, jadinya rada susah ngebukanya.” Dani ngeles kayak tukang bajai.

Kicauannya itu mengundang senyum sinis dari Mas Penjaga Hotel tadi.

“Hmm. Bilang aja katrok, malah nyalahin pintunya lagi.”

Si Mas itu pasti membatin demikian. Kayak dalam sinetron-sinetron stripping di televisi. Untung saja ia masih menghargai profesinya. Kalau tidak, ia pasti udah bilang kayak gitu langsung sebab kepongahan pengunjung hotel itu.

“Makasih ya, Mas. Maaf sudah merepotkan.”

Saya mencoba berterima kasih lagi dan meminta maaf atas kepongahan tadi. Syukur, Si Mas membalas ucapan itu dengan sebuah senyum ramah 4 senti kanan 2 senti kiri 2 senti, gak kecut dan sinis lagi seperti sebelumnya. Ia pun kemudian memberi tahu kami bagaimana cara menyalakan lampu kamar dan mengunci kamar kalau-kalau mau keluar nanti. Biar gak bingung lagi, katanya. Sungguh seorang petugas hotel yang baik.

Ujian pertama pun berlalu sudah. Kini giliran ujian yang kedua. Apakah itu? Inilah cerita yang sesungguhnya. Sebuah kisah mahasiswa udik yang pergi piknik.

Setelah semuanya memasuki kamar, pintu pun ditutup. Aktivitas melepas tas dan barang bawaan menjadi yang pertama dilakukan. Selanjutnya, diserahkan kepada masing-masing orang. Saya, Nazar, dan Erik, menatap layar ilusi berdimensi 17 inci warna-warni. Mencari channel yang pas untuk ditonton di malam hari.

Sementara itu, Dani melenggang terburu-buru saat kami bertiga tengah asyik menatap layar televisi. Ternyata WC yang ditujunya. Dia kayaknya udah gak nahan kebelet pup. Saya juga gak ambil pusing, orang yang pup dia masa iya gue yang ribet.

Waktu pun berlalu cepat. Puas memberondong kloset dengan amunisi kuningnya, Dani pun keluar menuju kasur dan langsung selonjoran di situ. Melihat Dani keluar, Erik bergerak cepat melepas baju dan mengambil handuk. Pengin mandi katanya.

“Bah.. panas kali nya Jakarta ini.” Ujarnya dengan logat Toba-nya yang khas. Sambil mengibas-kibaskan kerah bajunya. Kepanasan. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.

“Mandi nya kau?” Tanya Nazar—yang kebetulan adalah saudara sepupunya, sekampung, seperjuangan, dan sepenanggungan.

“Iya nya. Aku mau mandi nya.” Ia menjawab.

“Ya sudahlah. Mandi sana nya kau.” Saya pun ikut menimpali.

Tak lama Erik pun masuk ke dalam kamar mandi.

Terdengar gemericik air mengucur dari keran masuk ke dalam bath-up. Kayaknya Erik mengisinya buat mandi. Gak pake shower. Dalam waktu yang sama Dani sudah dalam posisi uenak-nya merebahkan badan dan selonjoran diatas kasur busa sambil nonton televisi.

Kita bertiga tak saling ngobrol. Entah karena terlalu asyik nonton televisi atau karena capek, atau juga karena males ngobrol sama Dani. Entahlah.

Tak lama air keran berhenti mengucur. Tanda dari usainya Erik mandi.

Bah.. Segar kali nya. Mandi pake air anget.” Erik berkata sambil menyarungkan handuk putih dalam pinggangnya.

“Wah sudah ganteng nya kau,” Nazar memuji saudara sepupunya itu.

“Bangga kali pasti mamak kau ini di kampung nya.” Saya menimpali.

“Mantap kali mandi pake air anget sambil berendam dalam bath-up nya. Coba lah kau, Kawan.” Suruh Erik kepada kita.

Hmm..

Erik kayaknya belum merasakan keganjilan yang terjadi. Semuanya tampak fine-fine saja di matanya dan hatinya. Tak ada firasat apapun. Marcel kayaknya lupa ngasih tahu ‘Firasat’-nya itu kepada Erik.

Selanjutnya giliran saya yang menyambangi WC. Kebelet pengin beol juga. Inilah tantangan besar buat saya. Menaklukan keangkuhan kloset duduk dikala saya biasa dan familiar dengan kloset jongkok.

Oh my gosh.

Nahas. Tapi, biar bagaimanapun juga ‘si kuning’ harus tetap keluar. Biarkan saja dia mengambang. Perut sudah tak bisa diajak berkompromi. Mulas membelit seisi perut. Ah, kulari ke WC lalu teriakku. Muntahkan saja isinya biar ramai. Biar berderai. Biar mengaduh sampai gaduh. Rasa-rasanya kayak Mbak Dian saking tak bisanya menguasai emosi perut.

Plong sudah. Seluruh isi perut tertumpah sudah dalam lubang berdiameter tak lebih dari 10 cm itu. Tapi, bagaimana dengan ceboknya? Gayung pun enggan bersambut. Sebab memang tak ada gayung di hotel berbintang.

Syukurlah. Di sebelah wastafel tergeletak sebuah gelas yang terlihat sudah pernah dipakai, tidak dalam keadaan telungkup dan telah basah oleh air. Hmm. Tak ada rotan Ram Punjabi. Eh, tak ada gayung gelas pun jadi.

Prosesi bersih-bersih pun berakhir. Tapi, masih menyisakan tanya dalam benak saya soal siapa yang telah memakai gelas itu. Pasti bukan untuk minum, soalnya dua botol air mineral ukuran 600 ml masih tersegel rapat. So, pasti gelas itu digunakan untuk keperluan lain selain minum. Buat cebok kayaknya. Tapi, sama siapa? Dugaan itu keluar begitu saja.kulayangkan sebuah prediksi yang semoga saja presisi dan bukan hanya sebatas spekulasi. Halah. Stop Vickinisasi!

“Eh, Lo tadi cebok pake gelas ya, Dan?” Dari pada rasa penasaran menggelayut bikin kalut, akhirnya saya memberanikan diri bertanya langsung kepada Dani.

“Iya. Kenapa?” Jawabnya singkat bin santai.

“Kagak apa-apa. Trus Lo tadi cebok dimana?”

Dasar saya yang kurang kerjaan, bukan nanya berapa IPK atau siapa dosen cewek yang lagi dikecengin, ini malah nanya soal cebok. Sial.

“Di bath-up!” jawabnya lugas, cerdas, tangkas, trengginas, sedikit gak waras.

Eh, kok saya malah cemas ya mendengar jawaban si Dani itu.

Jleb…

Seakan pisau menancap di dada dan mengiris-iris jantung hati ini.

Bukankah Erik tadi mandi di bath-up setelahnya?

*&^%$#@*&^

Ya amplop!

Apa jadinya kalau seandainya Erik tahu akan hal ini?

Erik pasti tahu. Wong dia ada di samping Dani yang lagi nonton tv kok. Makanya dia langsung mencak-mencak dan beradu mulut dengannya. Erik melotot tajam ke arah Dani. Menatapnya lekat-lekat. Seperti mau menerkamnya. Mendengus. Mukanya memerah. Bengis. Bak serigala yang mau makan anaknya sendiri. Seperti Bawang Merah yang selalu iri kepada Bawang Bombay. Eh, Bawang Putih.

Bagaimana tidak, dia mandi di tempat sahabatnya itu, Dani, membersihkan sisa-sisa penjajahannya. Dan otomatis si kuning masih mengambang di situ. Mengapung-apung tak tentu arah di bath-up yang tak dibuka penutupnya sehingga air sisa kotorannya tak bisa keluar menuju septik tank.

Damn!

Sahabat sekalian pasti sudah menebak gerangan apa yang bakal terjadi. Cerita alias kisah mirip pendekar yang beradu ilmu kedigdayaan di atas tadi itulah yang terjadi. Untung saja, saya dengan sigapnya melerai mereka berdua sehingga pertarungan sengit urung terjadi.

Alhamdulillah…

Mengingat kejadian itu, jika boleh menyarankan, maka saya akan urun saran, tanpa tendensi apapun, demikian:

Jauhilah sikap dan sifat sok tahu. Sebab itu bakal menjerumuskan manusia kepada kepongahan dan kekufuran yang dalam. Lho kok? Iya, maksudnya sebagian sok tahu adalah dosa, Sob. Plus malu-maluin lagi. Jadi ya dari pada dosa and malu-maluin mending dihindari saja. Atau, bertanyalah sebelum bertanya itu dilarang. Jika memang tak tahu, maka mengaku lah, dan bertanya itu sebaik-baiknya tips dari pada sok tahu. Salam Suster. Eh, Salam Super.

Hindarilah hotel berbintang jika engkau termasuk ke dalam golongan makhluk yang gaptek, sehingga menghindarkanmu ke dalam aksi dan tindakan anarkis. Lihat saja ulah kami yang kesusahan membuka pintu saking high tech-nya tuh pintu. Atau tengok saja kelakuan Dani yang mengotori bath-up dengan si kuning-nya. Menginap sajalah di hotel tak berbintang jika memang takut gagap menerima sajian kemewahan dan kecanggihan fasilitas. Lumayan, bisa irit ongkos juga apalagi buat para backpacker atau treveller yang berkantong cekak.

Dan terakhir, mandilah memakai air yang bersih dan tidak mengandung bahan-bahan lain. Sumpah, gak enak banget mandi pake air yang udah terkontaminasi, apalagi kontaminasi benda asing mirip ‘si kuning’. Kalo gak percaya tanya aja noh sama si Erik. Iya, khan, Rik?[]

 

Posted in: Kloset