Nasionalisme Kanak-kanak

Posted on November 1, 2013

0



Nasionalisme Kanak-kanak (dok. Antarafoto)

Nasionalisme Kanak-kanak (dok. Antarafoto)

“Arya, ayo coba nyanyi lagunya Noah yang Separuh Aku,” Perintah seorang ibu kepada anaknya.

“Dan terjadi lagi..kisah lama yang terulang kembali..kau terluka lagi..” Sang anak melanjutkan nyanyiannya sampai selesai.

Arya, seorang anak berusia 4 tahun lantang menyanyikan lagu milik band Noah. Ibunya hapal betul jika anaknya itu hapal diluar kepala lagu tersebut. Entah siapa yang mengajarkan, tapi yang jelas sang anak mampu menghapal lirik lagu dewasa jauh diatas usianya sekarang yang belum genap 4 tahun. Katanya, di rumah ada tumpukan kaset yang selalu Arya minta untuk diputarkan. Nahasnya semua kaset tersebut adalah lagu-lagu dewasa, bukan lagu anak-anak.

Setiap kali sang anak merengek minta diputarkan lagu itu sang ibu tak kuasa menolaknya. Wajar saja Arya hapal. Dan bukan hanya lagu itu saja. Deretan lagu dari band-band baru idola anak muda, termasuk boyband, mampu ia hapal.

Hmm..

Luar biasa. Jujur saya terkesan saat melihatnya bernyanyi. Lebih lagi setelah mendengar penuturan sang ibu bahwa katanya ia hapal puluhan lagu dewasa. Sebabnya adalah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tempat ia sekolah sang guru sering sekali menyuruh anak didiknya itu menyanyikan lagu-lagu dewasa. Saya makin terkesan lagi.

Lalu, apakah ada yang salah?

Jelas banget ada yang salah bahkan kaprah. Bukan pada sang anak kesalahan itu terjadi. Melainkan pada cara orang tua dalam mendidik. Anak adalah perekam yang sungguh menakjubkan. Apa yang diajarkan pasti diserapnya dalam-dalam. Apa yang dicontohkan pasti saja di copy-paste. Makanya, wajar jika Arya mampu dengan cepatnya menghapal puluhan lagu-lagu dewasa itu. Sebab memang diajarkan oleh orang tua dan para gurunya.

Saya lantas menantang Arya untuk menyanyikan lagu-lagu nasional, semisal Tujuh Belas Agustus, Garuda Pancasila, atau Indonesia Raya. Sontak ia kaget.

Malahan bertanya, ‘Lagu apakah itu, Om?’.

Saya pun kaget. Bagaimana mungkin seorang anak kecil lebih hapal lagu dewasa ketimbang lagu nasional. Bukankah seharusnya lagu-lagu nasional itu diajarkan di sekolah semenjak dini. Ah, ternyata masa kecil saya jauh berbeda dengan masa kecil Arya. Dimana internet sudah merajalela sehingga balita pun bisa dengan mudahnya mengakses. Sedangkan dulu, masa kecil saya hanya dihiasi oleh televisi berstasiun TVRI.

Arya kecil menenteng IPAD kemana-mana. Sedangkan tahun 90-an dimana saya melalui masa kanak-kanan hanya ada papan tulis berkapur putih. Masifnya serbuan teknologi dan akselerasi zaman yang begitu cepat menggeser makna nasionalisme. Bagi seorang Sujiwo Tejo nasionalisme kita terkotak-kotak. Nasionalisme hanya berdasarkan pada sekolah, golongan, partai, ras, dan agama. Nasionalisme belum menjadi satu seperti saat kita menyaksikan sepak bola Indonesia vs Malaysia. Kita belum memakai baju nasionalisme atas nama Indonesia.

Boleh saja pemerintah kita gembar-gembor kesana kemari soal penancapan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Tapi, empiris berbicara lain. Mereka yang remaja masih memaknai nasionalisme adalah kotak untuk mencintai sekolah atau kampusnya saja. Dan, yang tua masih saja memahami nasionalisme berdasarkan partainya. Maka, anak-anak hanya memahami nasionalisme sebagai pelajaran PPKN yang harus sekadar dihapal daripada diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sudah seperti ini, maka nasionalisme jelas jauh panggang dari api.