Adi, Ayo Main Kasti Lagi!

Posted on September 25, 2013

2



kasti (dok. bebas)

kasti (dok. bebas)

“Adi, ayo main kasti yuk!” seorang anak usia SD berteriak dari luar halaman rumah tetangganya.

“Ayo!” sang bocah itu menghampiri ibunya yang tengah asyik menyirami bunga depan rumah, “Adi main bola dulu ya, Mah.”

Adi dan temannya itu lantas berlari kencang menuju lapangan bola sebelah rumahnya itu. beberapa bocah usia sekolah dasar sudah menunggunya disana. Lengkap dengan peralatan kasti. Sore itu mereka akan bermain kasti.

Kasti adalah permainan olahraga beregu dengan satu tenis dan satu alat pemukul. Dan, sore itu selepas sekolah dan mengaji Adi, Hanif, Arman, Ayu, Bayu, Putri, dan sekelompok lainnya asyik bermain bola pukul. Melihat keriuhan dan keceriaan anak-anak itu bermain sedikit melayangkan ingatan akan masa kecil saya dulu. Ada rasa bangga dan syukur sebab di era milenium seperti sekarang ini permainan lintas generasi tersebut masih bertahan. Setidaknya di kampung halaman saya di pelosok pesisir utara Jawa.

Sudah 20 tahun berselang masa. Namun, keceriaan dan keriuhan permainan kasti itu masih saja nampak sama. Anak-anak di belahan bumi sini masih akrab dengan permainan tradisional, seperti kasti, gobak sodor, dan bentengan. Entahlah di belahan bumi sana, yang sudah mengenal papan pintar berinternet. Dalam hal ini, beruntunglah anak-anak kecil yang melalui masa kecilnya di dunia nyata dengan berlari kesana kemari mengejar bola, menjaga bentengnya, atau menjaga menangkap lawannya. Sebab di dunia sana, anak-anak menghabiskan masa kecilnya dengan hanya bermain game online.

Saya sungguh bahagia dapat sedikit bernostalgia dengan permainan-permainan masa kecil. Setelah lama terkontaminasi oleh bengisnya kota saya kembali melihat kasti, gobak sodor, dan bentengan di pelosok negeri. Kata orang bahagia itu sederhana. Maka, buat saya melihat permainan tradisional asli negeri ini masih lestari itu juga kebahagiaan yang sederhana ditengah gempuran globalisasi. Ternyata melestarikan budaya bangsa dan menjadi orisinal itu juga sederhana kok. Dengan sengaja mengenalkan dan mengajarkan anak-anak kita nanti permainan-permainan tradisional itu juga adalah sebentuk nasionalisme yang bersahaja.

Minimnya ruang ekspresi bagi anak-anak kecil dalam menyalurkan kreativitasnya menjadikan permainan tradisional menjadi tidak populer. Padahal jika para orang tua mau berpikir cerdas, mengajarkan anaknya bermain kasti adalah juga mendidik sang anak untuk mengenal lingkungan, mengajarkan kerja tim, mengenal peluang, memberanikan anak mengambil keputusan, dan berlatih ketangkasan. Sederet manfaat tersebut bisa didapat secara gratis dan tanpa modal sepeser pun. Kuncinya cuma satu, yakni soal kemauan para orang tua dalam mengajarkan permainan tersebut kepada buah hatinya.

Anak bangsa Indonesia adalah mereka yang mengenal permainan asli Indonesia, memahami kebudayaan bangsa, dan mampu melestarikan keragaman dan kekayaan negeri. Bukan hanya mereka yang sekadar hapal butir-butir Pancasila, Pembukaan UUD 45, atau mengerti apa itu Bhineka Tunggal Ika. Tapi, sialnya kita seringkali hanya cukup puas dengan sekadar menghapal bukan mengamal. Menghapal itu baik, tapi mengamalkan jauh lebih powerful. Apa jadinya jika sedari kecil kita sudah diajarkan untuk mengamalkan soal kegotongroyongan atau tepo seliro. Pastilah Indonesia sudah berjaya kini.