Komitmen itu Pahit

Posted on September 7, 2013

0



komitmen (dok. bebas)

komitmen (dok. bebas)

“Kekuatan untuk membuat dan mempertahankan komitmen terhadap diri kita masing-masing adalah syarat utama untuk menjadi diri yang efektif. Pengetahuan, kemampuan, dan keinginan ada di diri kita sendiri.” Stephen R. Covey-7 Habits of Highly Effective People-

Saya telah berkomitmen untuk selalu menjauhi zona nyaman (comfort zone), dalam hal apapun. Mulai dari hal-hal sepele sampai ke hal-hal yang menyangkut hidup dan masa depan. Misalnya saja soal hal remeh seperti mencuci pakaian. Saya mungkin tergolong seorang yang fanatik terhadap pakaian sendiri sehingga tidak memercayakan orang lain (laundry) untuk mencucikan pakaian saya. Setidaknya itu adalah komitmen saya semenjak berusia 18 tahun saat saya masuk bangku kuliah. Sebelum berumur 18 tahun, dan karena masih hidup dengan ortu, hanya ibu lah yang saya percayai untuk mencuci pakaian saya—bahasa yang paling bagus untuk tidak mau dibilang malas mencuci.

Semenjak hidup di perantauan itu praktis urusan cuci mencuci saya kerjakan sendiri. Biarpun sepele ini adalah soal komitmen. Beragam alasan lalu muncul dari saya sendiri. Pertama, saya harus dapat hidup mandiri meskipun untuk sekadar urusan mencuci pakaian. Kedua, pakaian adalah sahabat sejati kita sebab kemana-mana selalu kita pakai, apalagi pakaian dalam (celana dalam, dll.), oleh karenanya saya tidak tega menitipkan sahabat sejati saya kepada orang lain. Ketiga, ongkos cuci mahal (Rp.3000/kg), apalagi buat anak kost—mending buat beli makan atau nambah uang jajan daripada buat nge-laundry. Ketiga, adalah soal komitmen untuk hidup mandiri (mandi dan cuci sendiri).

Contoh yang saya tulis memang sangat remeh temeh. Tapi, yang menjadi poin pentingnya adalah alasan yang ketiga. Secara bahasa komitmen berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Artinya juga adalah apapun yang sudah kita janjikan wajib hukumnya dilaksanakan. Buat saya komitmen itu ada tiga, yakni kepada diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Dan, dari ketiganya yang paling sering dianggap mudah dan sepele adalah komitmen kepada diri sendiri. Ingatlah bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri, dan bukan orang lain. Nah, komitmen atau janji yang kita buat untuk diri kita sendiri itulah yang paling sulit dijalankan. Sebabnya adalah karena tidak ada yang tahu kalau kita melanggarnya. Pun tidak ada sanksi jika tak dijalani. Jika berhasil pun tak ada reward, khan?

Eits. Tunggu dulu! Sederet kemudahan itu justru yang menjadi tantangannya. Tuhan menguji manusia bukan hanya dari kesukaran atau kemiskinan lho. Tapi, juga dari nikmat atau suatu kemudahan. Dan, sesulit-sulitnya ujian adalah ujian kemudahan sebab manusia sering kali lupa dan terlena jika diuji dengan itu. Mencuci sendiri adalah bentuk komitmen saya terhadap diri saya pribadi. Sama sekali tidak terikat dengan orang lain—apalagi pihak laundry. Alasannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Nah, disinilah tantangannya. Apakah jika saya melanggar komitmen, misalnya terbukti nge-laundry, akan ada pihak lain yang tahu dan memberi sanksi? Tentu saja tidak! Tapi, saya jelas malu sama diri saya sendiri.

Entah kenapa saya masih yakin jika kebodohan yang paling hakiki adalah melanggar janji yang dibuat untuk diri sendiri. Kalau Anda ingkar janji dengan sesama manusia, Anda masih bisa minta maaf kepada orang tersebut. Begitu juga kalau Anda ingkar janji kepada Tuhan, Anda bisa langsung minta ampunan-Nya—meski saya tidak mengajarinya. Tapi, jika yang kita ingkari diri sendiri, bagaimana cara kita minta maaf atau ampun? Bagaimana cara diri memaafkan diri sendiri? Emang pernah kita ngobrol sama diri sendiri—kalaupun pernah semoga tidak di tempat publik sebab bisa disangka orang gila. It is not simple, but so complicated, Bro!

Lalu, apa kaitannya komitmen yang sepele itu dengan belajar untuk menjadi orisinal? Begini. Saya sepakat dan meyakini jika hal besar bermula dari hal-hal yang kecil pada mulanya. Borobudur dibangun dengan batu pertama yang berbentuk kotak berdimensi kecil. Batu kedua, ketiga, keempat, dan kesejuta kemudian disusun sehingga menjadi Borobudur seperti yang kita lihat sekarang ini. ternyata kemegahannya bermula dari hal yang sepele, cuma satu batu hitam berdimensi kecil. Nah, begitu juga komitmen. Kalau yang kecil saja dengan gampangnya kita langgar, apa lagi dengan yang besar. Jika dengan diri sendiri saja kita bisa ingkar, apa kabar dengan janji dengan orang lain atau Tuhan.

Menyepelekan perbuatan ingkar adalah jalan menuju pengingkaran selanjutnya. Satu kali kita mengingkari komitmen, maka kedua kali sangat mudah terjadi. Lalu ketiga kali. Keempat kali. Dan seterusnya. Kemudian hal itu akan tumbuh menjadi kebiasaan. Gawat sudah jika sudah menjadi kebiasaan. Dampaknya kita bakal tidak dipercaya oleh orang lain. Orang sudah malas dan distrust karena kebiasaan kita yang ingkar komitmen. Tapi, ini masih mending. Lebih gawat lagi jika kita tidak dipercaya oleh diri kita sendiri. Lah, gimana orang lain mau percaya ke kita, sedangkan kita sendiri gak percaya sama diri sendiri. Ribet, khan?

Back to topic. Bagaimana kaitannya sama belajar orisinal? Begini saudara-saudara. Bangsa kita ini dibangun di atas pondasi komitmen. Komitmen sebagai anak bangsa yang menginginkan merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa lain. Komitmen itu sudah lahir dari jauh-jauh hari. Puncaknya adalah pada saat para pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok. Disana founding fathers tersebut lalu “dipaksa” untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Seperti seiya sekata dengan para pemuda, Bung Karno pun punya komitmen yang sama, yakni tidak ingin berlama-lama dikungkung oleh bangsa asing.

Semuanya berkomitmen. Dan, semuanya melaksanakan komitmen untuk sebuah kemerdekaan. Tepat tanggal 17 Agustus 1945 bait proklamasi dikumandangkan. Indonesia resmi merdeka dan kemerdekaannya itu pun lantas diakui oleh bangsa-bangsa lain. Sebentar. Kita coba flashback. Kita memang tidak mengalami—apalagi generasi 80-an seperti saya. Tapi, kita dapat bayangkan kondisi saat dimana Indonesia belum merdeka. Semua serba tak bebas dan terkekang. Untuk berekspresi tidak semudah seperti sekarang. Apalagi untuk meraih pendidikan. Kayaknya harus keturunan priyayi saja yang mampu sekolah. Tapi, ternyata bangsa ini tidak hanya dibangun oleh anak priyayi lho. Banyak juga diantara mereka yang anak orang biasa dan bahkan tidak sekolah kok.

Segala keterbatasan tersebut tidak lantas menyurutkan semangat nasionalisme. Api semangat dan komitmen untuk mandiri muncul dari tiap orang saat itu, tak peduli beda ras, suku, pendidikan, golongan, tua muda, kaya miskin, buta huruf atau tidak. Pokoknya atas nama bangsa Indonesia. Dan, yang lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa Indonesia dibangun di atas pondasi ketidaksempurnaan alias keterbatasan. Bendera Sang Saka Merah Putih dibuat dari kain seprei dan bekas tenda warung soto, teks proklamasi yang justru dirumuskan di rumah orang Jepang, draf teksnya pun dibuat di atas secarik kertas lusuh yang kemudian dibuang saja ke tempat sampah, Sayuti Melik yang meminjam mesin tik buatan Jerman, sampai pada Bung Karno yang sakit malaria saat membacakan teks proklamasi.

Kekurangan terjadi disana-sini. Namun, deretan keterbatasan tersebut bukan malah melunturkan semangat nasionalisme. Justru, seperti kredo kreativitas, keterbatasan malah memunculkan kreativitas. Para bapak bangsa kita begitu kreatif dalam membangun nusantara yang sebesar ini. Sungguh luar biasa. Tunggu dulu, ada satu hal lagi ternyata yang bakal menuai decak kagum. Bahwa ternyata orang-orang yang terlibat dalam perumusan Indonesia kita adalah para pemuda yang masih berusia belia—meski tidak semuanya. Rata-rata masih berusia produktif. Bung Karno malah belum genap 45 tahun kala itu. Namun, kebeliaan usia ternyata tidak linear dengan semangat dan komitmennya yang begitu besar. Untuk yang satu ini kita bisa bilang, Sempurna!

Lalu, coba kita bandingkan dengan kita-kita yang hidup di zaman ini. Seharusnya kita menjadi generasi penerus bangsa. Tapi, apa yang sudah kita lakukan atau perbuat untuk bangsa ini. Saya pun masih saja merasa malu dengan para founding father dulu. Di usianya yang masih muda bapak-bapak bangsa kita dulu sudah punya pemikiran yang gemilang akan bangsa dan berpikir tentang nasionalisme. Sedangkan, saya masih saja memikirkan soal gadget terbaru lah, fashion ter-update lah, siapa pacar baru Syahrini lah, dan siapa the next seleb pasca Arya Wiguna. Kenapa kita menjadi banal seperti itu?